Dalam Alquran, Allah mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di berbagai fase kehidupannya. Tulisan ini bukan menganalisis substansi setiap doa, tapi lebih pada pola berdoa beliau untuk dzurriyah yang menarik dikaji.
Jika diperhatikan, tema dzurriyah berkali-kali hadir dalam doa Nabi Ibrahim, meski tidak seluruh doanya berkaitan dengan keturunan. Dalam realita masyarakat sehari-hari, kebanyakan manusia cenderung berdoa hanya untuk diri sendiri atau sampai sebatas keluarga, baik kesehatan, rezeki, kemudahan urusan, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan ini semua karena Alquran dan hadis pun banyak mengajarkan doa yang berisi permohonan pribadi.
Nabi Ibrahim dalam banyak doanya sering sekali melibatkan anak cucu bahkan generasi yang belum lahir. Inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari pola berdoa di mayoritas doa beliau. Tentu ada hikmah yang bisa menjadi khazanah pola berdoa yang bisa diterapkan dalam konteks masa kini.
Baca Juga: Metode Disruptif Nabi Ibrahim dalam Membongkar Status Quo
Ayat-ayat tentang Doa Nabi Ibrahim untuk Dzurriyyah
Berikut beberapa doa nabi Ibrahim yang melibatkan dzurriyyah. Pertama, dalam surah Ash-Shaffat ayat 100.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“ Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”.
Substansi doa Nabi Ibrahim yang visioner ini diteladani para orang tua yang mengharapkan kesalehan anak-anaknya. Sebab anak yang saleh adalah investasi berharga. Hingga pun kematian, doa anak saleh akan terus mengalirkan pahala.
Ssbagaimana Rasulullah saw bersabda: “Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim).
Doa ini dipanjatkan nabi Ibrahim di fase ketika beliau belum memiliki keturunan. Orientasi beliau tidak sekadar meminta dzurriyah atau keturunan, tapi memiliki generasi saleh, generasi yang mengenal Allah. Bukan kaya, tampan, tapi saleh. Allah mengijabahnya dengan dikaruniai Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Bahkan dari garis keturunan beliau lahir banyak nabi.
Kedua, dalam surah Albaqarah ayat 128
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Syaikh Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa ayat ini menjadi petunjuk agar umat Islam berdoa memohon kesalehan untuk diri, keturunan, dan generasi selanjutnya agar Islam dapat berlanjut dan lestari di sepanjang masa.
Oleh karena itu, doa ini tidak sekedar tentang dua orang yang sedang membangun Ka’bah, tetapi ada pandangan Nabi Ibrahim yang melampaui zamannya. Dalam doanya beliau masih sempat memikirkan anak cucu.
Doa ini pun diijabah Allah dengan indah melalui disyariatkannya ibadah haji. Ka’bah yang dibangun menjadi kiblat kaum muslimin. Tak hanya itu, Allah pun mengutus Nabi Muhammad saw sebagai rasul dan merupakan satu garis keturunan dengan nabi Ibrahim alaihissalam.
Doa senada juga terdapat dalam surah Ibrahim ayat 40.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang mendirikan shalat dan juga keturunanku. Ya Tuhanku, terimalah doaku.”
Sebagai orang tua, nabi Ibrahim tidak hanya meminta kebaikan dan ketaatan mendirikan salat hanya untuk dirinya, tapi juga melibatkan anak keturunannya agar dikaruniai kebaikan tersebut.
Baca Juga: Doa Nabi Ibrahim a.s dalam Alquran
Hikmah Pola Berdoa Nabi Ibrahim
Diantara hikmah pola berdoa Nabi Ibrahim adalah bahwa ada doa yang dampaknya baru tampak hasilnya pada beberapa generasi kemudian. Buktinya, buah dari doa Nabi Ibrahim tidak selalu dinikmati oleh nabi Ibrahim sebagai yang memanjatkan doanya secara langsung.
Doa beliau agar Allah mengutus seorang rasul dari kalangan keturunannya (QS. Al-Baqarah: 129), misalnya, baru mencapai puncak pengabulannya dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ beberapa abad kemudian.
Dari sini dapat dipahami bahwa doa tidak semestinya dibatasi pada manfaat yang ingin dirasakan selama hidup. Nabi Ibrahim mengajarkan cara pandang yang visioner dan luas: menanamkan doa untuk generasi mendatang meski hasilnya tidak beliau saksikan.
Hal ini sejalan dengan firman Allah:
وَ كَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا
“Dan keadaan ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Alkahfi ayat 82).
Ayat ini menunjukkan bahwa kesalehan seorang hamba dapat menjadi sebab Allah menjaga anak-anaknya. Al-Qurthubi bahkan menukil pendapat sebagian ulama bahwa manfaat kesalehan tersebut dapat menjangkau keturunan hingga beberapa generasi.
Ayat ini memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kebaikan antargenerasi. Dalam konteks inilah, berulangnya doa Nabi Ibrahim bagi dzurriyah-nya menjadi semakin bermakna. Beliau tidak hanya memohon kebaikan bagi dirinya, tetapi juga memohon agar keturunannya tetap berada di atas tauhid dan ibadah. Bahwa pola doa beliau berorientasi pada keberlangsungan iman lintas generasi. Inilah salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari doa-doa Nabi Ibrahim sebagai pedoman berdoa dalam Alquran.
Nabi Ibrahim tidak meminta agar keturunannya menjadi kaya, berkuasa, atau panjang umur. Yang beliau mohonkan justru adalah agar mereka saleh, tetap menegakkan salat. Hal ini menunjukkan bahwa prioritas terbesar beliau terhadap dzurriyah adalah keberlangsungan iman, bukan semata keberhasilan dunia.
Di sinilah letak jawaban mengapa Nabi Ibrahim berulang kali menyertakan dzurriyah dalam doa-doanya. Beliau menyadari bahwa risalah tauhid tidak berhenti pada satu generasi.
Baca Juga: Keteladanan Nabi Ibrahim Menyikapi Sensitivitas Orang Tua
Seorang mukmin tidak cukup hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Sebagaimana Nabi Ibrahim, beliau menghadirkan anak, cucu, dan generasi setelahnya dalam munajat kepada Allah. Sebab, warisan terbesar yang dapat ditinggalkan bukanlah harta atau kedudukan, melainkan generasi yang tetap beriman, beribadah, dan menjaga tauhid
Wallahu a’lam












