Puasa, Pengendalian Diri, dan Empati dalam Pembentukan Karakter

0
13

Pengendalian diri dan empati jarang disebut dalam satu napas. Yang pertama terasa seperti urusan ke dalam diri, yang kedua urusan ke luar. Tetapi Alquran tampaknya tidak memisahkan keduanya. Seseorang yang tidak bisa mengelola dirinya sendiri sulit hadir secara penuh untuk orang lain, dan seseorang yang tidak pernah merasakan apa yang dirasakan orang lain sulit termotivasi untuk mengendalikan diri demi kebaikan bersama. Puasa Ramadan adalah tempat di mana keduanya dilatih dalam satu praktik yang sama sebagai sarana pembentukan karakter diri.

Baca Juga: Menjadi Sehat dengan Berpuasa di Bulan Ramadan

Puasa dalam Ekosistem Karakter

Allah Swt. berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: “Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab [33]: 35).

Perhatikan redaksi ayat yang menyebut al-sha’imin wa al-sha’imat, orang-orang yang berpuasa laki-laki dan perempuan, sebagai salah satu dari sepuluh pasang karakter yang Allah siapkan ampunan dan pahala besar baginya. Ayat ini turun, menurut riwayat dari Umm Salamah, setelah ia bertanya kepada Nabi Saw. mengapa perempuan tidak disebut dalam Alquran sebagaimana laki-laki disebut. Tidak lama kemudian Nabi Saw. berdiri di mimbar dan membacakan ayat ini (Ibnu Katsîr, 1998, hlm. 373). Ayat itu turun sebagai jawaban yang inklusif, menyebut laki-laki dan perempuan bersama dalam setiap karakter yang disebutkan.

Yang menarik adalah posisi puasa dalam daftar itu. Ia hadir berdampingan dengan kejujuran, kesabaran, kekhusyukan, sedekah, dan penjagaan kehormatan. Al-Maraghi membaca puasa dalam daftar ini sebagai sebaik-baik sarana untuk mematahkan syahwat, mengutip sabda Nabi Saw: “al-sawm zakat al-badan”, puasa adalah zakat tubuh, yang membersihkannya dari kotoran secara alami maupun syar’i (Al-Marâghî, 1946, hlm. 22). Puasa, dalam kerangka ayat ini, bukan berdiri sendiri sebagai ritual yang terpisah. Ia adalah bagian dari satu ekosistem karakter yang saling menopang dan saling membentuk.

Pengendalian diri yang dilatih oleh puasa, dengan demikian, merembet jauh melampaui urusan makan dan minum. Ia menyentuh lisan yang dijaga dari kata-kata yang melukai, mata yang tidak dibiarkan menelusuri apa yang merusak, hati yang tidak dibiarkan penuh dengan iri dan dengki, dan tangan yang tidak diangkat kecuali untuk kebaikan.

Baca Juga: Puasa sebagai Cerminan Rasa Syukur

Ketika Puasa Tidak Cukup Hanya Menahan Lapar

Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dan dicatat dalam Shahih al-Bukhari menyatakan dengan tegas: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari, No. 1903). Hadis ini sering dikutip tetapi jarang direnungkan implikasinya secara penuh.

Al-Baydawi dalam Tuhfat al-Abrar menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh syariat dengan mewajibkan puasa bukan semata lapar dan hausnya, melainkan apa yang mengikutinya: mematahkan syahwat, memadamkan bara kemarahan, dan menundukkan nafsu amarah kepada nafsu yang tenang. Jika tidak ada satu pun dari itu yang terjadi, dan seseorang tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan haus semata, maka Allah tidak menghiraukan puasanya (Al-Bayḍāwī, 2012, hlm. 497).

Demikian Ibn Battal dalam syarahnya atas Shahih Bukhari turut menegaskan bahwa hadis ini bukan perintah untuk meninggalkan puasa ketika seseorang tidak mampu meninggalkan dusta. Ia adalah peringatan keras: bahwa puasa yang tidak disertai penjagaan lisan dan perilaku telah ternoda dan terancam tidak diterima. Al-Muhallab, salah satu ulama yang dikutip Ibn Battal, menyatakan bahwa menahan diri dari perkataan buruk dan dusta adalah hukum puasa sebagaimana menahan diri dari makan dan minum (Ibn Baṭṭāl, 2003, hlm. 23).

Sementara studi sains kontemporer, dari sisi yang berbeda, memotret sebagian dari dinamika ini. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang berpuasa dengan motivasi religius yang kuat mengalami pengalaman yang secara kualitatif berbeda dari mereka yang menjalani kondisi fisik serupa tanpa konteks makna (Wang & Wu, 2022, hlm. 3–4). Kondisi fisik yang sama menghasilkan pengalaman yang berbeda tergantung pada apa yang seseorang bawa ke dalamnya. Artinya, aktivitas puasa yang dijalani hanya sebagai tuntutan sosial atau kebiasaan tahunan menghasilkan sesuatu yang berbeda dari puasa yang dijalani dengan kesadaran penuh tentang apa yang sedang dibentuk.

Empati yang Lahir dari Tubuh

Rasa lapar yang dipilih menciptakan sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh ceramah atau bacaan, yaitu pengalaman langsung di dalam tubuh. Seseorang yang berpuasa tahu dari dalam dirinya sendiri bagaimana rasanya lapar berjam-jam, bagaimana konsentrasi mulai buyar di siang hari, bagaimana iritabilitas bisa naik tanpa diminta, bagaimana waktu terasa lebih berat ketika perut kosong. Dari pengalaman itu, pemahaman tentang kondisi orang lain yang lapar bukan lagi abstrak.

Penelitian di Indonesia menemukan bahwa puasa yang disertai praktik kedermawanan seperti infak dan sedekah secara terukur memperkuat rasa memiliki, toleransi, dan harmoni sosial dalam komunitas Muslim, dengan kedermawanan berperan sebagai jembatan antara kesadaran kolektif dan ikatan sosial yang lebih kuat (Shalihin & Sholihin, 2022, hlm. 9–10). Pengalaman lapar yang berulang, jika disertai kesadaran, menumbuhkan dorongan berbagi yang bukan lagi sekadar kewajiban melainkan respons yang lahir dari pemahaman.

Firman-Nya dalam QS. Al-Insan: 8–9 menggambarkan orang-orang yang memberi makan meski mereka sendiri menginginkan makanan itu, wa yut’imuna al-ta’ama ‘ala hubbihi miskinan wa yatiman wa asira (dan mereka berkata: kami memberi makan hanya karena Allah, tidak mengharapkan balasan maupun terima kasih). Ibn Ashur menjelaskan bahwa frasa ‘ala hubbihi berarti mereka memberi dalam keadaan mereka sendiri membutuhkan makanan itu. Kata ‘ala di sini bermakna ma’a, bersama dengan, artinya mereka memberi sambil mencintai makanan itu dan tetap membutuhkannya (Ibnu ’Âsyûr, 1981, hlm. 384). Kemurahan hati yang digambarkan di sini bukan lahir dari kelimpahan. Ia lahir dari jiwa yang sudah belajar bahwa kebutuhan orang miskin di hadapannya, kerentanan anak yatim yang menunggu, dan kerapuhan orang yang tidak berdaya bisa lebih mendesak dari keinginannya sendiri.

Baca Juga: Mengurai Maqashid Puasa sebagai Sarana Pendidikan Karakter

Penutup

Pengendalian diri dan empati adalah dua sisi dari satu pembentukan yang sama. Manusia yang berhasil mengelola nafsunya sendiri adalah manusia yang lebih bebas untuk memperhatikan orang lain. Empati tentu bisa tumbuh di luar Ramadan, dari pengalaman kehilangan, dari kedekatan dengan yang menderita, dari perjalanan yang membuka mata. Tetapi Ramadan menyediakan sesuatu yang langka: momentum kolektif, terstruktur, dan berulang setiap tahun, di mana seluruh komunitas sedang menjalani pengalaman yang sama dalam waktu yang sama. Sains mulai mengukur sebagian dari dampak sosial itu. Alquran sudah lebih dahulu merumuskan arahnya. Dan adalah bijak jika momentum yang sudah dirancang sedemikian rupa itu tidak hanya dijalani sebagai rutinitas, melainkan sungguh-sungguh dihayati sebagai kesempatan pembentukan karakter diri yang tidak datang setiap hari. Wallahu a’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini