BerandaTafsir TematikReinkarnasi Tradisi Tabaruj Jahiliah di Era Modern

Reinkarnasi Tradisi Tabaruj Jahiliah di Era Modern

Ada banyak adat dan kebiasaan buruk berkaitan dengan persoalan perempuan di zaman jahiliah, salah satunya adalah tradisi tabaruj. Tabaruj yaitu menampilkan kecantikan wajah, keelokan bentuk tubuh, dan kemewahan busana yang tujuannya untuk menarik perhatian dan mengharapkan pujian dari orang lain.

Kecenderungan untuk memperindah diri yang berlebihan itu juga mengejawantah pada diri wanita dan laki-laki masa kini, bahkan tak sedikit dari mereka yang mengelurkan biaya fantastis untuk hal tersebut. Apalagi dengan hadirnya media sosial semakin mempermudah untuk mendapatkan validasi dari orang lain, terutama lawan jenis. Fenomena tabaruj jahiliah menjadi topik penting yang dibahas dalam Alquran. Salah satunya dalam Q.S. Al-Azhab ayat 33 berikut.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Menggunakan Benda Berhiaskan Emas dan Perak

Wahbah az-Zuhaili menafsirkan tabaruj sebagai menampilkan perhiasan dan bagian-bagian yang menarik dari tubuh semisal dada dan leher (Tafsir al-Munir, juz 9, h. 331). Kata tabarruj jahiliah disifati dengan al-ula, yakni masa lampau. Terdapat berbagai penafsiran tentang “masa lalu” tersebut. Menurut Quraish Shihab, yang lebih tepat adalah masa sebelum datangnya Islam. Di lain sisi, jika ada “jahiliah yang lalu” mengisyaratkan adanya “jahiliah kemudian”, yaitu masa setelah Rasulullah (Tafsir al-Misbah, h. 466).

Memahami Tabaruj Konteks Sejarah Masa Jahiliah

Tabaruj jahiliah mencangkup hal-hal yang menimbulkan syahwat kepada lawan jenis. Istilah jahiliah merujuk kepada perilaku yang belum mengenal norma atau akhlak. Menurut Fazlur Rahman, pada masa itu perempuan ditempatkan sebagai pemuas nafsu belaka, maka akhirnya perempuan mengaktualisasikan dirinya sebagaimana yang diinginkan masyarakat, sehingga melakukan tabaruj. Di sisi lain, tindakan ini pada akhirnya akan membuat penindasan kepada perempuan menjadi tidak berkesudahan, sebab tabaruj sesungguhnya bukan solusi untuk menunjukkan eksistensi diri di tengah masyarakat yang demikian.

Larangan tabaruj sesungguhnya memberikan makna tersembunyi bahwa Allah melarang para perempuan untuk berbuat tidak wajar kepada lawan jenisnya, karena kedua jenis kelamin ini setara, seyogianya keduanya sama-sama bersikap wajar terlebih di ranah sosial. Selain itu, larangan tabaruj ini juga mengajarkan baik laki-laki dan perempuan untuk mengenakan pakaian yang sederhana dan menjaga kehormatannya. Alquran juga menegaskan bahwa manusia yang derajatnya tinggi di sisi Allah sesungguhnya adalah manusia yang bertakwa kepadaNya.

Kontekstualisasi Tabaruj di Zaman Sekarang

Tingkah laku jahiliah dahulu terjadi kembali pada zaman modern ini. Bahkan dikatakan perilaku jahiliah pada era modern ini lebih buruk daripada kejahilan masyarakat Arab 14 abad yang lalu. Sebab, perilaku tersebut saat ini dapat disaksikan oleh penonton dari seluruh dunia, dibandingkan pada zaman dahulu yang skalanya jauh lebih kecil. Menariknya perbuatan tabaruj yang tadinya adalah keterpaksaan, di zaman ini menjadi kesenangan bagi pelaku. Hal itu dikarenakan seseorang mendapat perlakuan yang menyenangkan dari lawan jenis dan merasa senang sebagai tontonan serta idola. Perubahan ini yang menjadi titik berlakunya eksploitasi lebih besar khususnya bagi wanita yang bahkan dilakukan dengan berbagai cara.

Di lain sisi dapat terlihat banyak fenomena yang dialami kaum muslimin. Di antaranya sangat senang bertaklid pada hal-hal yang buruk, seperti sekarang ini menjamur budaya ikut-ikutan meniru orang Barat. Salah satunya penggunaan busana sebagaimana gaya berpakaian orang-orang Barat yang cenderung memperlihatkan aurat kepada khalayak umum. Hal tersebut sangat berbeda dengan budaya dan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama Islam, padahal itu menimbulkan dampak negatif bagi dirinya dan orang lain.

Baca juga: Dinamika Sahabat Perempuan Generasi Awal Islam

Islam sangat menekankan pentingnya penghormatan kepada manusia dan itu terlihat dari ajarannya yang sangat akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu nilai tersebut adalah kesetaraan. Semua manusia dipandang sama, berasal dari Yang Satu; dan yang membedakan adalah kualitas takwanya.

Dari penjelasan ayat di atas, tabaruj memang lebih menyoroti perempuan untuk tidak melakukan perilaku sebagaimana tabaruj jahiliah terdahulu. Maksud dari ayat tersebut yaitu untuk menjaga kemuliaan wanita. Meskipun begitu pesan ayat tersebut universal sehingga konteks ayat ini tidak hanya ditujukan kepada kaum perempuan di zaman sekarang, tetapi larangan tabaruj adalah juga tanggung jawab laki-laki. Jadi keduanya perlu mengambil peran.

Memang solusi untuk tabaruj ini tidak bisa instan, tetapi membutuhkan usaha besar supaya menghindarkan diri dari perilaku tabaruj. Akan lebih baik jika pengajaran dilakukan sejak dini dan sejak dalam pikiran alam bawah sadar. Dengan membangun mental yang sehat, juga pendidikan terhadap anak-anak akan menjadikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang memahami tubuhnya sendiri secara biologis dan psikologis sehingga tindakan tabaruj dapat terhindarkan.

Baca juga: Nasib Tragis Perempuan di Masa Arab Jahiliah

Selain itu, laki-laki dan perempuan dewasa hendakanya menjadikan Rasulullah dan ulama shalihin sebagai idol, khususnya dalam tren fashion; tidak berlebihan dalam berpakaian supaya tidak menimbulkan perhatian publik dan yang pasti juga tidak bertujuan untuk ria.

Tidak kalah penting, menjaga pandangan (ghadd al-bashr), yang tidak hanya sebatas ketika melihat bukan mahram yang dijumpai secara face to face. Namun, menundukkan pandangan pada era medsos dapat dilakukan dengan cara menghindari tontonan atau unggahan foto dan video yang tidak baik. Hal-hal seperti itu seharusnya dilakukan dan ditanamkan kesadaran pada jiwa setiap muslim, sebab tabaruj akan mengakibatkan berkurang atau bahkan hilangnya rasa malu, kehormatan, dan muruah sebagai seorang manusia. Wallahu a’lam. []

Rasyida Rifaati Husna
Rasyida Rifaati Husna
Khadimul ilmi di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...