Beranda Tafsir Tahlili Tafsir Surah at-Tahrim ayat 3-5

Tafsir Surah at-Tahrim ayat 3-5

Tafsir Surah at-Tahrim ayat 3-5 melanjuti awal mula Nabi mengharamkan dirinya meminum madu. Diceritakan dalam Tafsir Surah at-Tahrim ayat 3-5 bahwa Rasulullah meminta salah seorang istrinya untuk merahasiakan bahwa ia pernah meminum madu lalu bersumpah untuk tidak akan meminumnya lagi, tetapi atas izin Allah rahasia tersebut terbongkar. Tafsir Surah at-Tahrim ayat 3-5 ini juga berupa peringatan kepada para istri nabi agar tidak menyakiti hatinya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah at-Tahrim ayat 1-2


Ayat 3

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan suatu peristiwa yang terjadi pada diri Nabi saw yaitu ketika beliau meminta kepada Hafshah (salah seorang istrinya) untuk merahasiakan dan tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa beliau pernah meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy, lalu bersumpah tidak akan mengulangi hal itu lagi. Setelah Hafshah menceritakan hal itu kepada ‘Aisyah, Allah lalu memberitahukan kepada Nabi percakapan antara keduanya itu. Nabi saw kemudian memberitahu Hafshah tentang perbuatannya yang telah menyiarkan rahasia beliau.

Ketika itu Hafshah menjadi heran dan bertanya, “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Ia menyangka bahwa ‘Aisyahlah yang memberitahukan, Nabi saw menjawab bahwa yang memberitahukan ialah Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan bisikan, Maha Mengenal apa yang ada di bumi dan apa yang ada di langit, tiada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya. Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ

Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. (‘Ali ‘Imran/3: 5)

Ayat 4

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa jika Hafshah dan ‘Aisyah mau bertobat, dan mengatakan bahwa dirinya telah menyalahi kehendak Nabi saw, keduanya cinta kepada apa yang beliau cintai, dan membenci apa yang beliau benci, berarti keduanya telah cenderung untuk menerima kebaikan.

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Abbas berkata, “Saya senantiasa ingin menanyakan kepada Umar tentang dua istri Nabi saw yang dimaksudkan firman Allah, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah…,” sampai ‘Umar menunaikan ibadah haji dan saya pun menunaikan ibadah haji bersama dia. Ketika ‘Umar dalam perjalanannya mampir untuk berwudu, saya guyur kedua tangannya dan bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Siapakah kedua istri Nabi yang dituju oleh firman Allah, “Jika kamu berdua bertobat kepada Allah ….” ‘Umar lalu menjawab, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas! Kedua istri Nabi saw yang dimaksud itu ialah ‘Aisyah dan Hafshah.

Kalau keduanya (‘Aisyah dan Hafshah) tetap sepakat berbuat apa yang menyakiti hati Nabi saw dengan menyiarkan rahasianya, hal itu tidak akan menyusahkan Nabi, karena Allah-lah pelindungnya, serta membantunya di dalam urusan agama dan semua hal yang dihadapinya. Begitu pula Jibril, orang-orang mukmin yang saleh, dan para malaikat, semuanya turut menolong dan membantunya.

Ayat 5

Diriwayatkan oleh Anas dari ‘Umar bahwa ia berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa sebagian istri-istri Nabi bersikap keras kepada Nabi dan menyakiti hati beliau. Maka saya selidiki hal itu. Saya menasihatinya satu-persatu dan melarangnya menyakiti hati Nabi saw, saya berkata, ‘Jika kalian tetap tidak mau taat maka boleh jadi Allah memberikan kepada Nabi, istri-istri baru yang lebih baik dari kalian.’

Dan setelah saya menemui Zainab, ia berkata, ‘Wahai Ibnu Khaththab! Apakah tidak ada usaha Rasulullah untuk menasihati istri-istrinya? Maka nasihatilah mereka sampai mereka itu tidak diceraikan,’ maka turunlah ayat ini.”

Ayat ini berisi peringatan dari Allah terhadap istri-istri yang menyakiti hati Nabi saw. Jika Nabi menceraikan mereka, boleh jadi Allah menggantinya dengan istri-istri baru yang lebih baik dari mereka, baik keislaman maupun keimanannya, yaitu istri-istri yang tekun beribadah, bertobat kepada Allah, patuh kepada perintah-perintah Rasul.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah at-Tahrim ayat 6-8


Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tirakat dalam menuntut ilmu

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

0
Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan...