BerandaTafsir TematikTeladan Cinta Kasih Nabi Muhammad Kepada Sesama dan Alam Semesta

Teladan Cinta Kasih Nabi Muhammad Kepada Sesama dan Alam Semesta

Sosok Nabi Muhammad tercatat di dalam al-Quran sebagai teladan yang baik (QS. Al-Azhab [33]: 21). Tak dapat dipungkiri, sejarah hidupnya adalah kumpulan catatan keteladanan bagi umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya.

Penobatan sebagai teladan yang baik tersebut pada dasarnya tak bisa lepas dari pengakuan Allah bahwa Nabi Muhammad adalah figur yang berbudi pekerti agung (QS. Al-Qalam [68]: 4). Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menyebut pujian tersebut sebagai pujian yang paling tinggi yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, dan jarang diberikan kepada Rasul lain (Tafsir Al-Azhar, Jilid 10, 7567).

Di sisi lain, Husein Ja’far menyebutkan bahwa budi pekerti atau akhlak tersebut merupakan manifestasi dari rahmatnya atas semesta, sebagaimana menjadi misi utama diutusnya Nabi oleh Allah di muka bumi ini (Husein Ja’far, 2018, 20). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).

Menyikapi ayat tersebut, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, mencoba menegaskan bahwa rahmat yang dimaksud bukan hanya terkait kedatangannya dengan membawa ajaran, namun lebih dari itu, sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan oleh Allah Swt. (Tafsir Al-Misbah, Jilid 8, 519).

Baca juga: Ketika Allah Menyeru Rasulullah di dalam Al-Qur’an

Kisah-Kisah Cinta Kasih Nabi Kepada Para Sahabatnya

Berkat kerahmatannya yang menyeluruh tersebut, dalam banyak kisah kehidupannya, kita menemui bahwa akhlaknya menjalar kepada siapapun tanpa batas dan sekat apapun, tanpa mengenal strata ekonomi, usia, kesukuan, bahkan agama.

Maka tak heran kita mendengar kisahnya begitu menghargai budak berkulit hitam, Bilal bin Rabah yang sangat dikucilkan di masyarakat Arab ketika itu. Besarnya kebaikan dan ketulusan Nabi itu barangkali dapat kita ukur dari betapa bersedihnya Bilal ketika Nabi Wafat. Ia bahkan masih terus mengingat Nabi ketika telah berusia 60 tahun dan merasakan dekatnya maut. Ia berkata kepada Istrinya;

“Besok aku akan bertemu orang yang sangat aku cintai. Aku sudah menunggu pertemuan ini bertahun-tahun lamanya. Nabi telah mengubah hidupku, mengangkat derajatku dari seorang budak menjadi Muslim pengikutnya. Alangkah indahnya pertemuan itu” (Husein Ja’far, 2018, 21-22).

Baca juga: Tafsir At-Taubah 128: Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

Dalam cerita lain, kita mungkin pernah mendengar kisah Nabi bersama anak kecil yang menangis sendirian. Ia begitu sedih karena ayahnya gugur dalam sebuah peperangan dan ibunya menikah lagi, sedangkan ia tak menerima warisannya, hingga membuatnya telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika itu hari ‘Ied dan ia melihat anak seusianya bermain yang sontak membuatnya makin bersedih.

Kepada anak kecil itu, Nabi dengan penuh kasih berkata: “Apakah kau mau aku jadi ayahmu dan Aisyah jadi ibumu?” tawaran itu diterima anak kecil tersebut dengan hati berbunga. Nabi pun seketika menggandeng tangannya dan membawanya pulang (Husein Ja’far, 2018, 23).

Akhlak Nabi juga melingkupi mereka yang berbeda dengannya. Misalnya ketika lewat di depannya jenazah yang merupakan non-muslim yang baik (ahlu dzimmah). Terhadap jenazah tersebut, Nabi berdiri sebagai bentuk penghormatan. Dan bahkan setelah diberitahu bahwa jenazah tersebut adalah orang Yahudi, yang notabene begitu memusuhi dakwah Nabi. Nabi Lalu menjawab pernyataan tersebut, “Bukankah ia juga manusia?” (Husein Ja’far, 2018, 24). Kisah ini mengisyaratkan keluhuran akhlaknya, yang bahkan sangat menghormati mereka yang berbeda, sekalipun ia telah meninggal dunia.

Baca juga: Kisah Perhatian Nabi Muhammad Terhadap Anak Yatim Terutama di Hari Raya

Rahmat Bagi Semesta Alam, Teladan Bagi Semua

Tak sebatas itu, pemilihan frasa “semesta alam”, sudah tentu digunakan bukan sebagai pemanis atau untuk melebih-lebihkan saja, melainkan benar-benar demikian adanya. Karena faktanya, Nabi Muhammad tak hanya berakhlak kepada manusia, melainkan kepada sesama makhluk Tuhan lainnya, termasuk hewan.

Misalnya ketika suatu saat Nabi menegur beberapa orang yang sedang berbincang-bincang dan duduk di atas hewannya masing-masing. Nabi berkata, “Naikilah mereka dengan baik dan biarlah hewan tersebut beristirahat melepas lelah dengan baik-baik. Jangan menjadikan punggungnya sebagai kursi ketika kalian sedang berbicara” (Husein Ja’far, 2018, 25).

Wacana cinta kasih ini nampaknya perlu kembali didengungkan sedemikian rupa, di tengah berkembangnya wacana yang menunjukkan bahwa Islam identik dengan kekerasan, dan Nabi Muhammad adalah Nabi yang suka perang. Wacana ini bahkan beredar dan barangkali dianggap wajar oleh umat Islam sendiri. Sebut saja dalam buku-buku sejarah Islam yang membincangkan persoalan kenabian pada sekolah dasar, kisah-kisah peperangan nampaknya dijadikan sebagai kisah yang paling menonjol dalam masa kenabian.

Padahal, mengutip tulisan Haidar Bagir, beberapa peneliti menyebutkan bahwa  seluruh perang Nabi memakan waktu total 800 hari, itu pun termasuk hari-hari persiapan atau ekspedisi-ekspedisi yang tak berujung peperangan. Jika tanpa keduanya, maka jumlah total perangnya Nabi hanyalah 80 hari.

Sedangkan karier kenabian Muhammad kira-kira adalah 23 tahun, yang berarti sama dengan 8.000 hari, maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya kisah peperangan Nabi hanyalah 10% dari kisah kenabian, atau bahkan 1% jika tidak mengikutkan hari-hari persiapan dan ekspedisi-ekspedisi yang tak berujung peperangan. (Haidar Bagir, Mencegah Radikalisme dari Keluarga). Sehingga 90% atau 99% sisa kehidupan Nabi dihabiskan untuk menebar cinta kasih bagi alam semesta.

Sejalan dengan pernyataan di atas, Husein Ja’far dalam hal ini juga menyebut bahwa jika dirangkum, maka keteladanan Nabi Muhammad adalah keteladanan cinta-kasih. Oleh karenanya, dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad saw 1443 H, tugas kita, selain meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad, adalah menerapkan teladan cinta-kasihnya kepada sesama dan alam semesta juga tentunya. Shallu ‘alan Nabi

Baca juga: Surah Al-Anbiya Ayat 107: Misi Nabi Muhammad saw Menebar Rahmat

Agus Rahman Setiawan
Agus Rahman Setiawan
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

hikmah larangan melembutkan perkataan bagi perempuan

Hikmah Larangan Melembutkan Perkataan bagi Perempuan

0
Larangan melembutkan perkataan bagi perempuan dijelaskan dalam Alquran, surah al-Ahzab ayat 32. Pada ayat ini, juga dijelaskan beberapa kondisi penyebab pelarangan tersebut. Artinya, larangan...