Konsep yang selama ini ditautkan kepada rasul adalah sosok yang menerima wahyu (risalah) dari Allah berisi syariat tertentu. Rasul dibedakan dari nabi dengan adanya kewajiban menyampaikan (tabligh) risalah yang diterimanya kepada umatnya. Sementara nabi, mereka tidak berkewajiban menyampaikan apa pun kecuali atas kenabiannya.
Berbeda dengan penjelasan sebelumnya, Kiai Soleh Darat mengajukan konsep tersendiri mengenai rasul. Konsep ini ia jelaskan dalam tafsirnya atas Surah Al-Baqarah [2] ayat 129 melalui pendekatan isyari. Menarik untuk membahas konsep Kiai Soleh ini karena ide atau pengertiannya menjadi fondasi atas konsep normatif rasul yang selama ini dipahami.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Tafsir Faidl al-Rahman Kiai Sholeh Darat
Dwifungsi Rasul
Al-Tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhailiy merangkaikan tafsir ayat 129 dari Surah Al-Baqarah [2] dengan dua ayat sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan Al-Qur’an dan Terjemahannya edisi penyempurnaan tahun 2019 terbitan Kementerian Agama dengan judul Pembangunan Ka‘bah dan Doa Nabi Ibrahim agar Allah Mengutus Nabi Muhammad.
{رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [البقرة: 129]
“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Satu hal yang menurut penulis penting untuk dicermati, sebagaimana fokus tulisan ini, adalah penggunaan diksi rasul (rasulan). Dalam konteks rangkaian ayat ini, signifikansinya terletak pada penyebutan rasul-rasul terdahulu pada proses pembangunan Ka‘bah, yakni Ibrahim a.s dan Isma‘il a.s berikut relasinya dengan fungsi Ka‘bah serta diutusnya Muhammad saw. sebagai rasul akhir zaman.
Pada rangkaian ayat yang secara eksplisit berisi doa-doa Ibrahim dan Ismail ini, rasul setidaknya memiliki dua fungsi utama, yakni sosok yang mengajarkan pengetahuan dan mempraktikkan pengetahuan yang telah ia ajarkan. Pada ayat 129, fungsi pengajaran direpresentasikan oleh tilawah al-ayat, ta‘lim al-kitab, dan al-hikmah. Sedangkan fungsi kedua direpresentasikan oleh tazkiyah (wa yuzakkihim).
Baca Juga: R.A Kartini Sosok Penggerak Lahirnya Kitab Tafsir Faid ar-Rahman Karya Kyai Soleh Darat
Warid al-Haq
Berbeda dengan penjelasan tafsir normatif sebelumnya, Kiai Soleh Darat mengartikan diksi rasul sebagai warid al-haq. Rasul sendiri menurut Kiai Soleh memiliki dua makna yang berbeda tergantung pada perspektif yang digunakan. Makna lahir adalah sosok yang menerima wahyu dari Allah, yang dalam bahasa Kiai Soleh, “manungsa awha Allah bisyar‘in”. Dan makna batin yang disebut dengan warid al-haq.
Pada penjelasannya lebih lanjut, warid al-haq merupakan penentu seseorang akan dapat menerima ajaran rasul lahir atau tidak. Cahaya penerang yang menjadi esensinya menentukan ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ hati seseorang. Tatkala padam cahaya terangnya, padam (mati) pula hati seseorang. Dan hati yang padam akan tidak dapat menerima ajaran dari rasul lahir.
Penjelasan ini didasarkan pada ayat 80 dari Surah An-Naml dan ayat 70 dari Surah Yasin
{إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى } [النمل: 80]
“Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang yang mati.”
{لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا} [يس: 70]
“Agar dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya).”
Diksi al-mawta pada ayat pertama dipahami sebagai hati yang mati. Sedangkan diksi hayyan pada ayat kedua dipahami sebagai hati yang hidup, seperti halnya digunakan dalam Alquran dan Terjemahannya.
Makna al-isyari ayat ini menurut Kiai Soleh adalah permohonan turunnya waridah dan anwar al-haq. Keduanya dapat menghidupkan hati umat manusia hingga mampu membangkitkan dakwah Islam lewat penjelasannya atas asrar al-kitab (rahasia-rahasia Alquran), hikmah, dan mau’idzah al-hasanah melalui lisan al-anwar, sebagaimana diisyaratkan oleh Surah Al-Baqarah ayat 269,
{وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا} [البقرة: 269]
“Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.”
Gambaran peristiwa atas turunnya warid al-haq menurut Kiai Soleh adalah peristiwa masuk Islamnya ‘Abdullah bin Salam. Selepas masuk Islam, ia mengajak dua orang saudaranya, Muhajir dan Salamah, untuk bersama-sama memeluk agama Islam. Dari ajakan ini, hanya Salamah seorang yang ikut masuk Islam. Sementara Muhajir masih tetap pada kekafirannya.
Baca Juga: Konsep Awal Tafsir Isyari Kiai Sholeh Darat (Bag. 2)
Catatan Akhir
Konsep rasul batin Kiai Soleh menekankan pentingnya ‘kehidupan’ hati sebagai fondasi penerimaan ajaran rasul lahir yang termaktub dalam kitab Alquran. Kehadiran rasul batin juga sangat penting dalam proses dakwah Islam sebagaimana dipraktikkan oleh ‘Abdullah bin Salam. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya menggapai warid al-haq? Wallahu a‘lam bi al-shawab. []


![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-218x150.jpg)











![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-100x70.jpg)


![Merevolusi Martabat Perempuan: Pesan QS. An-Nisa’ [4]: 19](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3-1888568577-100x70.webp)