BerandaTafsir TematikDalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (6): Surah Al-Ahzab Ayat 56

Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (6): Surah Al-Ahzab Ayat 56

Melanjutkan sekaligus menutup artikel-artikel sebelumnya, kita akan membaca uraian ihtifal Maulid Nabi dalam nushus (teks-teks) al-Quran, kali ini adalah surah al-Ahzab [33]: 56,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Baca Juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (5): Surah Al-Hajj Ayat 77

Perintah Berselawat

Ayat tersebut menunjukkan betapa mulia dan agungnya derajat Nabi Muhammad Saw di sisi Allah. Bagaimana tidak, Allah lah yang pertama berselawat kepada beliau Saw, lalu yang kedua para malaikat-Nya, baru kemudian memerintahkan para mukmin untuk turut berselawat-salam kepada beliau Saw.

Dinukil dari al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibn Asyur menerangkan bahwa selawat yang diperintahkan tak hanya kepada Nabi Muhammad belaka, tetapi juga kepada para isteri dan keluarga beliau Saw. Kita tentu hafal selawat yang setiap hari kita baca di dalam salat. Benar. Selawat Ibrahimiyah. Selawat yang redaksinya dari Nabi Muhammad langsung. Membacanya, kita tak hanya berselawat kepada Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim saja tetapi juga berselawat kepada keluarga mereka.

Dengan berselawat kepada Nabi Muhammad, derajat seorang hamba menjadi dekat dengan para malaikat dan Allah. Hal ini ditunjukkan dengan penyebutan orang-orang mukmin setelah malaikat dan Allah. Kemudian bentuk kalimat ayat tersebut adalah jumlah ismiyah yang memberi faidah menguatkan khabar, yaitu yushalluna (berselawat), dan dibuka oleh lafal Jalalah sebagai pengangungan terhadap perkara yang dikandung ayat tersebut.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Keistimewaan Hari Jumat

Lebih khusus, perintah ini ditegaskan lagi dalam hadis Nabi Muhammad Saw berikut,

أكثروا الصلاة علي يوم الجمعة

“Perbanyaklah selawat kepadaku di hari Jumat.”

Hari Jumat memanglah hari yang istimewa. Banyak faidah yang terdapat di dalamnya. Mengenai hal ini, Ibn al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad fi Hady Khair al-Ibad (1998) menyebutkan, “..(kekhususan) yang kedua adalah sunnahnya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad Saw, siang dan malamnya, berdasar hadis di atas. Rasulullah Saw adalah sayyidul anam, pemimpin manusia dan hari Jumat adalah sayyidul ayam, pemimpin hari, dan berselawat pada hari tersebut memiliki keutamaan yang tidak dimiliki hari yang lain.”

“Hikmah yang lain,” lanjut Ibn al-Qayyim, “adalah semua kebaikan yang didapat oleh umat Muhammad, baik kebaikan dunia maupun akhirat, tak lepas dari perantara beliau Saw. Allah telah mengumpulkan kebaikan dunia-akhirat umat Muhammad pada diri beliau Saw. Maka hanya pada hari Jumat kemulian teragung itu diperoleh. Hari Jumat adalah hari di mana manusia dibangkitkan dari kubur menuju tempat tinggal dan istananya di surga. Ia adalah hari berbekal ketika mereka masuk ke dalam surga. Ia adalah hari raya di dunia dan hari di mana Allah memenuhi permohonan dan hajat-hajat hamabaNya. Doa setiap hamba pada hari itu tak kan ditolak. Ini semua adalah sebab Nabi Muhammad. Barangsiapa bersyukur dan memuji Allah, lalu menunaikan hak beliau Saw, maka hendaklah memperbanyak selawat kepada beliau Saw di hari Jumat, siang maupun malam.”

Dr. Alwi bin Ahmad (2020) menambahkan, pada dasarnya semua perkara adalah mubah. Tetapi niat baik merubahnya dari sebuah kebiasaan yang diperbolehkan menjadi ibadah yang diganjar pahala. Kaidahnya, al-niyyah tuhawwilu al-‘adah ila ibadah, niat dapat merubah perkara adat (kebiasaan) menjadi ibadah.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Berselawat; Hakikat Maulid

Meski tidak diamalkan oleh 3 masa awal (Rasul, Sahabat dan Tabiin), tidak berarti ihtifal Maulid Nabi merupakan perkara bidah apalagi dhalalah. Al-Hafiz al-Sakhawi dalam al-Ajwibah al-Mardhiyah, “dasar perbuatan Maulid tidak dinukil dari satu pun tiga masal awal, tetapi merupakan perkara baru yang memiliki tujuan yang baik dan niat yang ikhlas. Lalu orang-orang Islam baik dari kampung maupun kota, bersama-sama merayakan bulan Maulid Nabi Saw dengan perjamuan yang elok, aneka macam hidangan yang baik, dan mereka menyedekahkan semua di malam-malam bulan Maulid. Mereka menampakkan kebahagaian dan memperbanyak amal kebaikan. Bahkan mereka membaca riwayat hidup Nabi Muhammad Saw di tiap-tiap malam bulan Maulid.”

Pada hakikatnya, tak ada faidah dalam Maulid Nabi kecuali memperbanyak selawat kepada beliau Saw. Sayyid Ahmad Abidin, sebagaimana dinukil Syaikh Yusuf al-Nabhani dalam Jawahir al-Bihar, menyebutkan, “jika tidak ditemukan faidah lain dalam maulid nabi kecuali memperbanyak selawat, maka itu sudah cukup.”

Masih banyak ayat-ayat al-Quran yang menunjukan bolehnya ihtifal Maulid Nabi bagi yang mentadabburinya, misalnya dalam ayat terakhir surah al-Dhuha, tetapi barangkali cukup sampai di sini. Al-Quran adalah semudera luas yang darinya mengalir sungai-sungai. Betapa indahnya syair Imam al-Haddad berikut

ألا إنه البحر المحيط و غيره * من الكتب أنهار تمد من البحر

تدبر معانيه و رتله خاشعا * تفوز من الأسرار بالكنز و الذخر

Ketahuilah, al-Quran adalah samudera nan luas. Kitab-kitab suci selainnya adalah sungai-sungai yang mengalir darinya. Renungilah makna-makna di baliknya. Bacalah dengan sungguh-sungguh. Kamu akan memperoleh asrar yang agung (al-Durr al-Manzhum li Dzawi Al-Fuhum wa Al-‘Uqul)

Semakin manusia paham mengenai al-Quran, sesungguhnya itu tidak seberapa dengan apa yang dititipkan Allah dalam satu ayat al-Quran. Al-Imam Sahl al-Tusturiy menuturkan, “andai seorang hamba diberi seribu pengetahuan dari setiap huruf dalam al-Quran, itu belum sebanding dari ilmu Allah dalam satu ayat. Sebab al-Quran adalah kalam Allah, kalamNya adalah sifatNya. Sebagaimana tak ada habisnya bagi Allah, begitu juga dengan kalamNya. Seberapa Allah bukakan pengetahuan kepada seseorang, sekadar itulah orang mengetahui al-Quran,” (al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum Al-Quran).

Sebagaiman juga firman Allah dalam al-Kahfi [18]: 109,

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

Selamat merayakan Maulid Nabi. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad!

Khoirul Athyabil Anwari
Khoirul Athyabil Anwari
Khoirul Athyabil Anwari, Santri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada kajian keislaman. Bisa disapa di Twitter (@ath_anwari)
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Nasakh Perspektif Mahmud Muhammad Thaha

0
Dalam ranah Ulumul Qur’an, nasakh secara mengandung beberapa makna. Pertama, diartikan sebagai izalatun yakni penghapusan. Pemaknaan ini diambil dengan merujuk pada QS. Alhajj :...