BerandaKhazanah Al-QuranHukum Berucap “Aku Lupa Lanjutan Ayat Ini” Pada Hafalan Al-Qur’an

Hukum Berucap “Aku Lupa Lanjutan Ayat Ini” Pada Hafalan Al-Qur’an

Terkadang, untuk mengungkapkan kekesalan kita karena telah lupa pada satu atau dua ayat dari Al-Qur’an yang sebelumnya kita hafal, kita berucap “ah, aku lupa lanjutan ayat ini”. Kita sama sekali tidak merasa perlu mengganti ucapan ini sebab merasa begitulah kenyataannya, dan memang setahu kita ucapan itu tidak bermasalah.

Sebenarnya Nabi Muhammad memberi tahu untuk menghindari ucapan tersebut. Anjuran ini kemudian disikapi para ulama’ dengan menghukumi makruh atau kurang disukai mengucapkan “aku lupa ayat ini” pada hafalan Al-Qur’an. Apa penyebab Nabi mendorong untuk menghindari ucapan tersebut? Lalu ucapan seperti apa yang dibenarkan sebagai ganti ucapan tersebut? Simak penjelasannya berikut ini.

Hukum Berucap “Aku Lupa Ayat Ini”

Imam An-Nawawi di dalam kitab At-Tibyan menyatakan, hukumnya makruh mengucapkan “aku lupa ayat ini”. Hal ini didasarkan hadis sahih yang diriwayatkan dari ‘Abdullah ibn Mas’ud:

« لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّىَ ».

Janganlah salah seorang kalian berucap “aku lupa ayat ini dan ini”. Ia tidaklah melupakan, tapi dibuat lupa (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi di dalam Syarah Muslim tatkala mengomentari hadis di atas menyatakan, larangan mengucapkan “aku lupa ayat ini” tidaklah bersifat haram, tapi makruh tanzih. Dalam artian sebaiknya dijauhi. Hal ini disebabkan ucapan tersebut mengisyaratkan pengakuan adanya kelalaian dari diri sehingga menyebabkan lupa terhadap ayat tertentu. Padahal ada ancaman di dalam Al-Qur’an terhadap para penghafal Al-Qur’an yang lupa pada ayat yang dihafalnya (Syarah Sahih Muslim/3/139).

Baca juga: Hukum Memperdengarkan Al-Quran Kepada Non Muslim: Tafsir Surat At-Taubah Ayat 6

Ibn Hajar di dalam Fathul Bari berkomentar senada dengan yang disampaikan Imam An-Nawawi. Usai menyebutkan sekitar 6 pendapat mengenai makna hadis di atas, beliau lalu menyatakan bahwa pendapat terkuat adalah yang menyatakan bahwa larangan dalam hadis di atas di sebabkan ucapan “aku lupa ayat ini” menunjukkan adanya pengakuan dari diri sendiri, bahwa ia tidak perduli pada hafalan Al-Qur’annya (Fathul Bari/14/251).

Ucapan yang Dibenarkan

Kalau memang ucapan “aku lupa ayat ini” dilarang, lalu apa gantinya untuk mengungkapkan bahwa kita lupa ayat tertentu dari Al-Qur’an? Sebagai ganti “aku lupa ayat ini”, ulama’ menganjurkan ucapan “aku dibuat lupa pada ayat ini” atau “aku melewatkan ayat ini”. Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan dari ‘Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلاً يَقْرَأُ فِى سُورَةٍ بِاللَّيْلِ فَقَالَ « يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِى كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا »

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia berkata: “Rasulullah salallahualaihi wasallam mendengar seorang lelaki membaca sebuah surat di malam hari. Lalu Beliau bersabda: ‘Semoga Allah merahmatinya. Ia telah mengingatkan aku pada ayat ini dan ini, yang aku telah dibuat lupa akannya dari surat ini dan ini’.” (HR. Imam Bukhari).

Di dalam redaksi lain yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah, Nabi Muhammad bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ « يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِى كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أَسْقَطْتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا ».

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia berkata: “Rasulullah salallahualaihi wasallam mendengar seorang lelaki membaca sebuah surat di malam hari. Lalu Beliau bersabda: ‘Semoga Allah merahmatinya. Ia telah mengingatkan aku pada ayat ini dan ini, yang aku telah melewatkannya dari surat ini dan ini’.” (HR. Imam Muslim).

Baca juga: 3 Kriteria Keberuntungan Seseorang dalam Surat Al-Ashr Ayat 1-3

Berbagai uraian di atas mengajarkan kita untuk sebaik mungkin menjaga ucapan. Jangan sampai kita terkena hal buruk sebab ucapan kita sendiri. Meski saat kita melupakan ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an ada unsur kesalahan dari diri kita, tak sepatutnya kita mengucapkan sesuatu yang menunjukkan tanpa rasa malu serta rasa takut kita memberi pengakuan bahwa kita bersalah. Terlebih ada ancaman dari Allah atas kesalahan tersebut. Wallahu a’lam[]

Muhammad Nasif
Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Kepemimpinan Berdasarkan Sila Kelima Pancasila

0
Dalam Pancasila terdapat nilai-nilai yang dapat menginspirasi terkait konsep kepemimpinan yang sesuai dengan semestinya, yakni sila yang kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat  Indonesia”....