Beranda Uncategorized Keterkaitan Al-Quran, Kitab-Kitab Terdahulu dan Keragaman Syariat

Keterkaitan Al-Quran, Kitab-Kitab Terdahulu dan Keragaman Syariat

Keragaman syariat sebenarnya mempunyai keterkaitan dengan Al-Quran dan kitab-kitab terdahulu. Bagaimana tiga hal ini bisa saling berkaitan? Mengenai keragaman syariat, Al-Quran sedari awal telah menyinggung hal tersebut dalam ayatnya, ayat 48 surah Al-Maidah. Keragaman syariat ini ada kaitannya dengan kandungan kitab-kitab terdahulu dan tentunya Al-Quran. Bagaimana penjelasan lengkapnya?

Disebutkan dalam QS. Al-Hujarat [49]: 13 tentang penciptaan manusia yang beragam, mulai dari bermacam suku, bangsa dan yang lainnya. Tujuannya supaya mereka saling menghargai dan mengenal satu sama lain. Jika hal ini dilanjutkan, maka ini juga termasuk keragaman syariat yang dibawa oleh tiap Rasul Allah. Tujuan keragaman ini tiada lain yaitu agar bisa saling mengenal.

Firman Allah yang lain yang lebih spesifik menyinggung tentang keragaman agama yaitu di surah Al-Maidah ayat 48.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah swt turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Q.S. al-Maidah [5]: 48)

Baca Juga: Makna Kebebasan Beragama dan Toleransi dalam Al-Quran

Surah Al-Maidah [5]: 48 ini turun karena ada sebuah kejadian. Ketika itu para ahli kitab meminta keputusan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw memberi keputusan untuk mengembalikan urusan mereka tersebut kepada kitab mereka masing-masing. Kemudian turunlah ayat ini yang mengatakan bahwa segala keputusan harus berdasarkan Al-Quran, termasuk juga untuk para ahli kitab, karena Al-Quran sudah mengakomodir kitab-kitab sebelumnya.

Intisari dari kandungan surat di atas adalah penjelasan bahwa Allah swt menurunkan kitab Allah yang terakhir yang diturunkan kepada penutup para Nabi, yaitu kitab Al-Quran yang diturunkan kepada NabiNya, Muhammad Saw. Sebagai kitab Allah yang terakhir sudah semestinya dapat mengakomodir kekurangan kitab-kitab sebelumnya. Al-Quran adalah penyempurna, Al-Quran juga membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Dalam tulisan Sulaiman Kurdi dkk, yang bertajuk Konsep Taat Kepada Pimpinan (Ulil Amri) di dalam Surah An-Nisa: 59, al-Anfal: 46 dan al-Maidah: 48-49 (Analisis Tafsir Al-Qurthubi, Al-Misbah, dan Ibnu Katsir), dijelaskan tentang kandungan ayat tersebut, yaitu menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan untuk membenarkan segala macam kandungan yang terhimpun dalam kitab pendahulu kepada Nabi sebelumnya.

Baca Juga: Inilah Rambu-Rambu Toleransi Beragama Menurut Al-Quran: Perbedaan Adalah Keniscayaan

Begitu pun dalam Tafsir Ibn Katsir, ayat di atas yang membenarkan eksistensi kitab-kitab terdahulu, di dalam kitab-kitab terdahulu itu juga disampaikan pujian serta penyebutan kitab terakhir yang akan diwahyukan kepada hambaNya yang bernama Muhammad saw. Maka dari itu, hadirnya Al-Quran melalui Muhammad saw, selaras dengan kabar dalam kitab sebelumnya.

Kitab-kitab terdahulu yang dimaksud adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa As., kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud As., lanjut kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa As.

Selain tentang fungsi Al-Quran, Fahruddin Ar-Razi menafsirkan kalam Allah Swt. di atas sebagai petunjuk bahwa manusia oleh Allah tidak diciptakan dan dihimpun dalam satu syariat, tapi Allah Swt, melalui para utusan dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka memunculkan beragam bagai aturan.

At-Thabari menjelaskan, kitab Taurat membawa syariat sendiri, kitab Injil mengandung syariat sendiri, Injil juga begitu, dan Al-Quran juga sama. Inilah kemudian kaitan antara berbagai kitab dan perbedaan syariat dan aturan tadi. Namun demikian, menurut At-Thabari, agamanya tetap satu, yaitu tauhid, mengesakan Allah.

Dengan demikian, Al-Quran mengakui eksistensi kitab terdahulu dan menghargai keragaman syariat yang dibawa oleh berbagai kitab dan umat tersebut. Allah sudah membekali manusia dengan akal pikiran yang dengannya diharapkan dapat memilih dan memilah antara yang baik dan buruk dari berbagai syariat tersebut.

Sesuai dengan redaksi ayat, kita manusia dipersilahkan untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan, karena melakukan kebaikan itu tidak harus lahir dari kesamaan keyakinan dan aturan, diharapkan setiap penganut kitab dan aturan tersebut dapat hidup berdampingan, aman, harmoni, damai, sejahtera, membumikan kasih sayang Allah Swt. dan tidak keluar dari koridor ketetapan Allah Swt. Wallahu a’lam

Ali Mursyid Azisi
Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

0
Islam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian penampilan. Ini ditunjukkan dengan disyariatkannya kesunnahan memotong kuku. Aktivitas memotong kuku, meski tampak remeh, memperoleh perhatian dalam...