BerandaTafsir TematikTafsir TarbawiKhazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (5): Metode dan Sumber Penafsiran

Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (5): Metode dan Sumber Penafsiran

Layaknya tafsir-tafsir pada umumnya, Tafsir Tarbawi di Indonesia disusun berdasarkan metode yang dikehendaki oleh penulisnya. Literatur-literatur yang menjadi sumber rujukannya pun cukup beragam. Mulai dari tafsir-tafsir klasik Timur Tengah, tafsir lokal hingga literatur-literatus khusus tentang pendidikan dan ilmu pendidikan Islam. Meneruskan tulisan sebelumnya Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (4): Motivasi dan Sistematika Penulisan, dalam artikel ini saya akan beralih pada pembahasan mengenai metode dan sumber penafsiran yang digunakan oleh para penulis Tafsir Tarbawi di Indonesia.

Kecenderungan Tafsir Tematik

Al-Farmawi dalam al-Bidayah fi Tafsir al-Maudu’i: Dirasah Manhajiyyah Maudu’iyyah menawarkan empat macam metode tafsir; ijmali (global), tahlili (analitik), muqaran (perbandingan), dan maudu’i (tematik). Kalau memakai pemetaan al-Farmawi ini, maka secara garis besar Tafsir Tarbawi di Indonesia menggunakan metode maudu’i (tematik). Metode tafsir maudu’i merupakan salah satu metode tafsir yang berangkat dari pemilihan tema-tema tertentu, lalu mengumpulkan ayat-ayat yang masih memiliki keterkaitan dengan tema yang dipilih.

Menurut analisa Surahman dalam Tafsir Tarbawi di Indonesia, hanya ada tiga karya tafsir yang menggunakan metode tahlili, yaitu Tafsir Ayat-ayat Pendidikan karya Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan: Meretas Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an milik Muh. Anis dan Tafsir Ayat-ayat Pendidikan karya Listiawati. Ada pula yang menggabungkan antara metode tafsir tahlili dan metode tafsir maudu’i, seperti Tafsir Tarbawi: Nilai-nilai Pendidikan dalam Al-Qur’an milik Salman Harun dan Tafsir Tarbawi: Kajian Ayat-ayat Al-Qur’an dengan Tafsir Pendidikan karya Mahyudin.

Baca Juga: Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (1): Embriologi dan Perkembangannya

Lebih lanjut, metode maudu’i yang digunakan para penulis Tafsir Tarbawi tampak berbeda-beda. Ada yang secara ketat mengikuti tawaran metodologis al-Farmawi, dan tidak sedikit juga yang menerapkan metode maudu’i secara longgar seperti Tafsir Ayat-ayat Pendidikan karya Nurwadjah Ahmad dan Tafsir Tarbawi: Mengungkap Pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan milik Ahmad Munir.

Surahman juga memberikan keterangan bahwa selain menggunakan metode tafsir maudu’i (tematik) dan tahlili (analitik) ala al-Farmawi, ada pula beberapa karya yang bahkan cenderung tidak menggunakan metode tafsir. Sehingga karya tersebut lebih tepat disebut karya non-tafsir seperti leteratur-literatur tentang pendidikan Islam pada umumnya. Pengutipan ayat-ayat Al-Quran lebih dititikberatkan sebagai penguat gagasan dan argumentasi yang sedang diuraikan oleh sang mufasir. Sebut saya misalnya Tafsir dan Hadis tentang Pendidikan karya Nanang Gojali dan Tafsir Tarbawi: Pesan-pesan Al-Qur’an tentang Pendidikan milik Kadar M. Yusuf.

Mufasir-mufasir yang secara ketat mengaplikasikan metode tafsir maudu’i perspektif al-Farmawi adalah Akhmad Alim dengan karyanya Tafsir Pendidikan Islam; Aam Abdussalam, Pembelajaran dalam Islam: Konsep Ta’lim dalam Al-Qur’an; Rosidin, Epistemologi Pendidikan Islam: Integrasi al-Tarbiyyah dan al-Ta’lim dalam Al-Qur’an; dan Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an. Bahkan mufasir-mufasir tersebut memberikan penjelasan seputar Tafsir Tarbawi dan bagaimana cara menerapkannya.

Antara bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’y

Meminjam istilah Abd al-Wahhab Fayed, kesahihan sumber merupakan kriteria penting untuk menilai sebuah penafsiran apakah diterima atau tidak. Dalam konteks Tafsir Tarbawi di Indonesia, sumber-sumber penafsiran yang digunakan cukup beragam. Walaupun di antara karya-karya itu menyatakan diri sebagai sebuah karya tafsir (minimal dari judul), tetapi terkadang sumber yang dirujuk bukan hanya Al-Quran, hadis atau kaidah ulum al-Qur’an, melainkan juga merujuk pada teks-teks lain yang relevan (interteks) terutama sekali adalah kutub al-tafasir. Singkat kata, sumber yang digunakan selain dari riwayat (tafsir bi al-ma’tsur) dan akal (tafsir bi al-ra’y), teks-teks lain (interteks) pun cukup dominan.

Akhmad Alim dalam karyanya Tafsir Pendidikan Islam merujuk setidaknya 23 kitab tafsir. Bahkan tafsir-tafsir yang menjadi sumber rujukan pun termasuk tafsir otoritatif seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ruh al-Ma’ani, Tafsir al-Baghawi, Tafsir al-Qurtubi, Tafsir al-Wahidi, Tafsir al-Samarqandi, Tafsir al-Tabari, Tafsir Ibn al-Jauzi, Tafsir al-Syaukani, Tafsir al-Dur al-Mantsur dan masih banyak lagi lainnya. M. Quraish Sihab adalah mufasir lokal yang paling sering dikutip. Selain merujuk pada kitab-kitab tafsir, penulis Tafsir Tarbawi juga mengambil keterangan dari kamus bahasa Arab, seperti al-Munjid fi al-Lughah milik Luis Ma’luf dan Lisan al-Arab milik Ibn Manzur.

Baca Juga: Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (4): Motivasi dan Sistematika Penulisan

Tidak ketinggalan, literatur-literatur khusus tentang ilmu pendidikan juga menjadi sumber rujukan utama. Taruhlah semisal Mahyudin dalam karyanya Tafsir Tarbawi: Kajian Ayat-ayat Al-Qur’an dengan Tafsir Pendidikan yang merujuk Nazariyyat al-Tarbiyyah fi al-Qur’an wa Tathbiquha fi ‘Ahd Rasulillah milik Aminah Ahmad Hasan, Pendidikan dalam Al-Qur’an karya Abd al-Rahman Undirah, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Qur’an milik Syahidin dan Muhammad Sang Pendidik karya Moh. Slamet Untung. Pendapat-pendapat dari para cendekiawan pendidikan pun dikutip, seperti Kuntowijoyo, Ramayulis, Ahmad Malik Ahmad, Jalaluddin, Usman Said dan Abdul Aziz al-Qussy.

Melihat sumber-sumber rujukan di atas, apa yang dilakukan oleh para penulis Tafsir Tarbawi di Indonesia adalah meramu pendapat-pendapat para mufasir sebelumnya untuk kemudian dipadupadankan dengan pendapat para ahli pendidikan Islam. Karena itu, bagi Surahman, tidak berlebihan jika karya-karya Tafsir Tarbawi tersebut tidak perlu diukur secara ketat. Sebab, sesungguhnya apa yang mereka hasilkan bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Wallahu a’lam []

Fawaidur Ramdhani
Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Apa Bedanya Alif dengan Hamzah?

Apa Bedanya Alif dengan Hamzah?

Jika dilihat sekilas, alif dan hamzah tampak serupa. Serupa dalam arti hampir mirip dan sulit untuk dibedakan. Sebagai seorang penuntut ilmu sekaligus pengajar, sering...