Beranda Tafsir Tematik Kritik Ignaz Goldzhiher Terhadap al-Tafsir bi al-Ma’tsur

Kritik Ignaz Goldzhiher Terhadap al-Tafsir bi al-Ma’tsur

Al-Tafsir bi al-Ma’tsur merupakan manhaj (metode) penafsiran yang menitikberatkan riwayat sebagai sumbernya. Model penafsiran ini banyak melahirkan tokoh besar, seperti Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H), al-Baghawi (w. 516 H), Ibn Katsir (w. 774 H), Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) dan lain-lain. Penafsiran ini merujuk kepada riwayat-riwayat yang bersumber dari nabi Muhammad, perkataan para sahabat dan generasi setelahnya (baca : tabi’in). Lebih dari itu, ada juga yang berpendapat bahwa sumber penafsiran dengan model ini terkadang merujuk kepada riwayat-riwayat yang bersumber dari cerita bani Israil yang kemudian dikenal sebagai Israilliyyat (lihat, Muhammad Abu Syahbah, al-Israilliyyat wa al-Mawdhu’at fi Kutub al-Tafsir, 2008).

Salah satu sarjana Barat yang bernama Ignaz Goldziher adalah salah satu tokoh yang bisa dibilang sebagai tokoh yang mempunyai konsentrasi di bidang keislaman, terutama kajian terhadap sumber primer ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan al-Sunnah. Ia merupakan seorang sarjana Barat yang lahir di Hongaria pada tahun 1850. Pendidikannya dimulai dari Universitas Budapest yang kemudian dilanjutkannya di kota Berlin, Jerman pada tahun 1869. Setelah menempuh pendidikannya di Berlin, ia kemudian melanjutkan karir intelektualnya di Rusia, tepatnya di universitas Lipetsk. Di universitas Lipetsk inilah, Goldziher kemudian diangkat menjadi dosen tetap dan mengampu mata kuliah kajian keislaman (lihat, Abdurrahman Badawy, Mausu’ah al-Mustasyriqin, 1993).

Baca juga: Pemeliharaan Al-Quran dari Zaman Nabi Hingga Masa Kini

Kritik Goldziher Terhadap al-Tafsir bi al-Ma’tsur

Menjadi dosen yang mengampu kajian keislaman, menjadikannya semakin nyaman dengan kajian yang ia tekuni. Akhirnya, ia membuat sebuah karya yang akhirnya diterjemahkan kedalam bahasa Arab yang kemudian beralih nama menjadi Madzahib al-Tafsir al-Islami. Buku ini boleh dikata sebagai magnum opus nya. Sebab, buku ini banyak dijadikan sebagai bahan rujukan, utamanya bagi para sarjana yang mempunyai konsentrasi dalam bidang ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Tafsirnya.

Dalam bukunya itu, Goldziher berbicara panjang lebar mengenai model-model penafsiran al-Qur’an yang berkembang dikalangan para cendekiawan Muslim. Salah satu yang menjadi sorotannya adalah al-Tafsir bi al-Ma’tsur yang dinilai sebagai tafsir yang mempunyai beberapa permasalahan : Pertama, Goldziher menyatakan, bahwa al-Tafsir bi al-Ma’tsur merupakan tafsir yang tidak mempunyai cantholan (sumber) epistemologis yang jelas.

Bagaimana tidak, menurut Goldziher tafsir model ini lebih gemar mencantumkan dongeng daripada pendekatan kajian keislaman seperti fikih dan beberapa masalah keagamaan lainnya. Meski demikian, Goldziher menilai langkah ini sebagai langkah yang bisa dimaklumi. Lantaran, Al-Qur’an tidak menjelaskan kisah-kisah kenabian secara detail dan rinci sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Injil.

Baca juga: Citra Nabi Muhammad dalam Al-Quran Perspektif Tarif Khalidi (1)

Kedua, para mufassir yang menafsirkan Al-Qur’an dengan model ini, dinilai Goldziher banyak meriwayatkan kisah-kisah dari kelompok yang terlalu berlebihan dan gemar mengkhayal manakala sedang mengisahkan suatu riwayat. Goldziher kemudian menguatkan pendapat ini dengan sebuah tafsiran yang dinukil dari Muqatil ibn Sulaiman (w. 150 H).

وَاِنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوْهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ اَوْ مُعَذِّبُوْهَا عَذَابًا شَدِيْدًاۗ كَانَ ذٰلِكَ فىِ الْكِتٰبِ مَسْطُوْرًا

Artinya :

Tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), kecuali Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami siksa (penduduk)-nya dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuz) (QS. Al-Isra’ : 58).

Mengutip dari Muqatil ibn Sulaiman, Goldziher mengatakan bahwa kata قَرْيَةٍ yang bermakna (negeri) ini merujuk kepada suatu daerah yang bernama Konstantinopel. Pernyataan ini semakin menguatkan temuan Goldziher yang menduga bahwa para mufassir yang menggunakan cara bi al-ma’tsur ini gemar melakukan kutipan riwayat yang terkesan mengkhayal (lihat, Ignaz Goldziher, Madzahib al-Tafsir al-Islami, 1944).

Kritik Terhadap Pandangan Goldziher

Adapun pandangan yang diajukan oleh Goldziher juga mempunyai kelemahan yang akan penulis uraikan dalam sesi ini. Argumen pertama yang menyatakan bahwa al-Tafsir bi al-Ma’tsur tidak memiliki cantholan epistemologis yang jelas, tidaklah benar. Sebab, para sarjana al-Qur’an seperti Muhammad Abu Syahbah menyatakan, sumber epistemologis al-Tafsir bi al-Ma’tsur ada 4, yakni al-Qur’an, al-Sunnah, ijtihad sahabat dan ijtihad tabi’in (lihat, Muhammad Abu Syahbah, al-Israilliyyat wa al-Mawdhu’at fi Kutub al-Tafsir, 2008).

Sedangkan, argumen kedua yang mengutip penafsiran Muqatil ibn Sulaiman ternyata tidak kompatibel sebagaimana yang ada di dalam kitab tafsir karya Muqatil ibn Sulaiman yang dikenal dengan Tafsir Muqatil ibn Sulaiman. Setelah membuka kitab tafsir tersebut, penulis justru menemukan penafsiran Muqatil yang sama sekali berbeda dengan apa yang dikutip oleh Goldziher. Muqatil tidak menyebut secara jelas nama Konstantinopel ketika menafsirkan kata قَرْيَةٍ. Bahkan, Muqatil mencampakkan penafsiran mengenai kata قَرْيَةٍ dan hanya menyebutkan negeri yang buruk dan negeri yang baik dengan tanpa menyebutkan nama Konstantinopel didalamnya (lihat, Muqatil ibn Sulaiman, Tafsir Muqatil ibn Sulaiman, 2002).

Baca juga: Hukum Iqlab dalam Nun Mati dan Tanwin Beserta Contohnya

Tidak bisa dipungkiri, bahwa model penafsiran dengan menggunakan riwayat (al-Tafsir bi al-Ma’tsur) telah mencetak tokoh-tokoh besar, seperti al-Thabari, Ibn Katsir, Jalaluddin al-Suyuthi dan lain-lain. Meski demikian, model penafsiran ini ternyata juga memiliki kelemahan, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Goldziher. Pun dengan Goldziher. Sebagai seorang sarjana yang mempunyai konsentrasi dalam bidang al-Qur’an dan al-Sunnah. Ternyata kritik-kritiknya juga terkadang lemah dan perlu dilakukan telaah yang lebih mendalam guna mendapatkan hasil yang lebih presisi. Wallahu a’lam[].          

Rahmat Yusuf Aditama
Santri Ponpes “Merah Putih” dan UIN Sunan Kalijaga Minat kajian : Sejarah Peradaban Islam, Tafsir, Tasawuf, Filsafat
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...