Beranda Ulumul Quran Makna Tujuh Huruf (Sab’atu Ahruf) dalam Qiraat Al-Quran Menurut Ibn Qutaibah

Makna Tujuh Huruf (Sab’atu Ahruf) dalam Qiraat Al-Quran Menurut Ibn Qutaibah

Barangkali, salah satu tema yang debatable dalam khazanah Ulumul Quran adalah soal hadis tentang Al-Quran dibaca dengan ‘tujuh huruf’  yang—salah satunya—diriwayatkan oleh Ubai bin Ka’b sebagai berikut;

 عن أُبَّي بن كَعْب قال: قال لِي رَسُولُ الله صَلّى الله عليه و سلم: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْأَنَ عَلَى حَرْفٍ واحدٍ، فقُلْتُ: رَبِّ خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي، فَأَمَرَنِي، فَقَالَ: إِقْرَأْهُ عَلَى حَرْفَيْنِ، فَقُلْتُ: رَبِّ خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي. فَأَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَهُ عَلَى سَبْعَة أَحْرُفٍ مِنْ سَبْعَةِ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ. كُلُّهَا شَافٌ كَافٌ.

“Dari Ubai bin Ka’b, ia berkata; “Rasulullah Saw berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar membaca al-Quran dengan satu huruf.’ Lalu aku berkata; ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku.’ Kemudian Allah memerintahkan kepadaku, ‘Bacalah dengan dua huruf.’ Maka aku pun berkata lagi, ‘Wahai Tuhanku, ringankanlah umatku.’ Maka Allah pun memerintahkanku, ‘Bacalah dengan tujuh huruf dari tujuh pintu surga. Semuanya obat penawar nan memadai.”

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna tujuh huruf  tersebut dengan perbedaan yang beragam. Ibn Hayyan, sebagaimana dikutip al-Qattan dalam Mabahits (2013) menyebutkan setidaknya ada tiga puluh lima pendapat. Berbeda dengan  Ibn Hayyan, al-Suyuthi dalam al-Itqan (2008) menyebutkan, bahkan tidak kurang dari empat puluh pendapat. Dan salah satunya adalah pendapat Abu Muhammad Abdillah bin Qutaibah, atau yang masyhur kita sebut Ibn Qutaibah.

Baca Juga: Empat Ragam Pendapat Tentang Sab’atu Ahruf, Begini Penjelasannya

Makna Tujuh Huruf Menurut Ibn Qutaibah

Ibn Qutaibah dalam Ta’wil Musykil al-Quran (1973), dinukil juga oleh al-Jazari dalam al-Nasyr fi al-Qiraat al-Asyr, atau bisa juga kita baca dalam Atsar al-Qira’at al-Qur’aniyah fi al-Dars al-Nahwiy (1978) karya Dr. ‘Afif Dimashqiya yang disajikan secara lebih sistematis, menyebutkan penjelasan atas makna tujuh huruf sebagai berikut;

Pertama, adanya perbedaan dalam i’rab (deklinasi) kata, atau perbedaan harakat yang tidak merubah maknanya seperti dalam surah Hud [11]: 78;

قَالَ يٰقَوْمِ هٰٓؤُلَاۤءِ بَنَاتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْۗ

Dalam qiraat di atas lafal (أطهر) dibaca rafa’ (nominatif); ath-haru dan dalam qiraat lain dibaca nashab (akusatif); ath-hara. Lalu contoh lain dalam surah Saba`[34]: 17;

ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِمَا كَفَرُوْاۗ وَهَلْ نُجٰزِيْٓ اِلَّا الْكَفُوْرَ

Dalam qiraat di atas, kita membaca (نجازى ) dengan fi’il mudhari’ ma’lum; nujazi dengan fa’il mustatir “na (nahnu). Maka kata (الكفور) dibaca nashab; al-kafura sebagai maf’ul bih dari fi’il nujazi. Sementara dalam qiraat lain, kata (نجازي) dibaca yujaza (يجازى) dengan mabni majhul, dan kata (الكفور) dibaca rafa’ sebagai naibul fa’il; al-kafuru. Selain dua contoh di atas, Ibn Qutaibah juga mencontohkan dalam surah al-Nisa`: 37;

ۨالَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ

Qiraat pertama membaca kata (البخل) dengan di-dhammah huruf ba’; bukhl. Sementara qiraat lain membaca fathah pada huruf ba’ dan kha`; bakhal, yang keduanya—bukhl dan bakhal—sama-sama memiliki makna kikir.

Kedua, perbedaan i’rab (deklinasi) pada kata dan harakat bina`-nya. Perbedaan ini merubah makna tetapi dengan redaksi tulisan yang sama. Misalnya dalam surah Saba`[34]: 19;

فَقَالُوْا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ اَسْفَارِنَا وَظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَ وَمَزَّقْنٰهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Penjelasannya, qiraat di atas dibaca dengan me-nashab-kan lafal (ربنا) sebagai munada; rabbana, lalu lafal (باعد) dibaca sebagai fi’il amr; ba’id. Sementara qiraat lain, kata (ربنا) dibaca rafa’ sebagai mubtada’; rabbuna dan kata (باعد) dibaca sebagai fi’il madhi; ba’ada sekaligus menjadi khabar dari mubtada’ yang berbentuk khabar jumlah.

Baca Juga: Variasi Qiraat Al-Quran dan Contohnya dalam Surat Al-Fatihah Ayat 4

Ketiga, perbedaan dalam huruf suatu kata, bentuk dan  i’rabnya sama, namun merubah makna. Misalnya dalam surah al-Baqarah [1]: 259;

وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ

“…dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).”

Qiraat di atas membaca (ننشزها) dengan nunsyizuha. Namun qiraat lain mengganti kata nunsyizuha menjadi (ننشرها) nunsyiruha, yang secara makna berubah dari arti menyusunnya menjadi menyebarkannya.

Keempat, perbedaan kata—namun mirip, dan tidak merubah makna seperti dalam surah al-Waqiah [56]: 29,

وَّطَلْحٍ مَّنْضُوْدٍۙ

“Pohon pisang yang (buahnya) bersusun-susun.”

Pada qiraat lain, redaksi (طلح) diganti dengan (طلع). I’rabnya sama, bentuk wazannya sama, hanya satu huruf yang membedakan dan memiliki arti yang sama; pohon pisang.

Kelima, perbedaan dalam suatu kata, bentuknya berubah namun maknanya tetap sama. Seperti dalam surah Yasin [36]: 29,

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خٰمِدُوْنَ

“(Azab mereka) itu cukup dengan satu teriakan saja. Maka, seketika itu mereka mati.”

Dalam qiraat lain, kata (صيحة) berubah menjadi (زقية) yang sama-sama memiliki makna teriakan. Contoh lain juga disebutkan, yakni dalam surah al-Qari’ah [101]: 5, dengan merubah kata (العهن) menjadi (الصوف).

Baca Juga: Mabadi’ Asyrah: Sepuluh Dasar Ilmu Qiraat yang Perlu Diketahui

Keenam, perbedaan taqdim (pendahuluan) dan ta`khir (pengakhiran) seperti dicontohkan dalam surah Qaf [50]: 19

وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗ

Dalam qiraat di atas, kata (الموت) disebutkan dahulu sebelum kata (الحق). Namun, Dr. ‘Afif Dimashqiya menyebut ada qiraat lain yang dinisbatkan pada Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq, kata (الحق) disebut terlebih dahulu, baru setelahnya kata (الموت) menjadi;

و جاءت سكرة  الحق بالموت

Terakhir—ketujuh, perbedaan ziyadah (penambahan) dan nuqshan (pengurangan) seperti dalam surah Taha []: 15,

اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى

Dalam qiraat lain yang dinisbatkan kepada Ubay bin Ka’b, ayat tersebut berbunyi sebagai berikut—dengan ziyadah seperti dalam tanda kurung;

اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا (مِنْ نَفْسِي فَكَيْفَ أُظْهِرُكُمْ عَلَيْهَا) لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى

Akhiran, terlepas dari banyaknya pendapat tentang makna tujuh huruf, satu hal yang perlu kita sadari adalah, bahwa betapa welasnya Allah dan Nabi Muhammad Saw kepada kita, sehingga kita tak perlu kesulitan membaca al-Quran dalam satu ragam. Sebab, dengan jamaknya ragam qiraat, kita dapat membaca al-Quran sesuai dengan lahjah dan kapasitas lisan kita masing-masing, yang berbeda di tiap-tiap wilayah di muka bumi. Wallahu a’lam.

Khoirul Athyabil Anwari
Khoirul Athyabil Anwari, Santri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada kajian keislaman. Bisa disapa di Twitter (@ath_anwari)
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...