BerandaKhazanah Al-QuranMushaf Al-QuranMemahami Konsep Self Oriented Pada Tafsir Isyari

Memahami Konsep Self Oriented Pada Tafsir Isyari

Dalam klasifikasi yang diberikan Al-Shabuny dalam Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, tafsir isyari  merupakan salah dari sekian metode yang mungkin ditempuh dalam mengungkap makna Al-Qur’an. Menurut Al-Zarqany dalam Manahil al-‘Irfan, metode ini berbeda dari yang lainnya karena lebih menekankan pada aspek makna batin yang didasarkan pada isyarat dan intuisi penafsir atas kedekatannya dengan Pemilik kalam, Allah Swt.

Penekanan aspek batin ini mengesankan bahwa tafsir isyari merupakan bentuk resepsi (penerimaan) tersendiri kelompok sufi, atau mereka yang memiliki concern terhadap dunia tasawuf, atas unsur eksegetik Al-Qur’an. Oleh karenanya, tafsir isyari sebagai bentuk resepsi eksegetis, mau tidak mau mengharuskan langkah-langkah yang telah dijelaskan dalam dunia tasawuf.

Baca juga: Memahami Selisih Pendapat Tentang Rasm Yang Dilematik

Penulis sendiri memahami bahwa langkah-langkah yang dijelaskan dalam dunia tasawuf pada umumnya memiliki kecenderungan self oriented (fokus pada diri sendiri), sebagaimana terlihat dalam ulasan mengenai konsep islah al-nafs (perbaikan diri) atau konsep-konsep lainnya.

Dalam konteks tafsir isyari, self oriented ini sendiri ada pada bagaimana seorang penafsir menempatkan dirinya dihadapan Al-Qur’an sebagai kalam Tuhan. Hal ini seperti yang ditunjukkan Al-Ghazaly dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din-nya, dimana ia menuliskan satu bab khusus berjudul Etika-etika Membaca (tilawah) Al-Qur’an sebagai langkah awal melakukan interpretasi Al-Qur’an.

Dalam sebuah event yang digelar Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang bertajuk Thriving Peaceful Islam in Plural World: Esoteric Interpretation of the Doctrines and Practices for Just Peace pada 27 Oktober 2020, penulis mendapati sebuah pernyataan yang cukup menarik berkaitan dengan self oriented tafsir isyari.

Pernyataan Prof. Dr. Abdul Kadir Riyadi, seorang guru besar tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya, terkait dunia tasawuf yang menurutnya tidak memiliki wacana khusus berkenaan dengan isu-isu sosial (al-musykilah al-ijtima‘iyyah), karena kecenderungan self oriented (dalam bahasa penulis sendiri) yang dimilikinya.

Baca juga: Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia dalam Diskursus Rasm Mushaf Indonesia

Sebuah pernyataan yang lantas mendapat respon yang cukup banyak dan positif dari audiens kala itu. Seperti respon mengenai peran dan kontribusi tafsir isyari dalam membangun perdamaian global, sebagaimana tajuk utama yang diangkat. Respon-respon yang kemudian mengerucut dalam satu wacana diskursus: tantangan penafsiran isyari dalam membangun perdamaian global.

Namun demikian, dari angle yang berbeda penulis justru melihat bahwa self oriented yang dimiliki tafsir isyari sejatinya justru dapat menjadi sebuah proposal yang cukup solutif terhadap perdamaian global.

Hal ini penulis dasarkan pada paparan Manna‘ Khalil dalam tulisannya, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, yang menyebutkan bahwa self oriented ini merupakan basis dalam membangun sebuah peradaban. Sebuah komunitas pembentuk peradaban yang baik adalah mereka yang memiliki nilai kualitas individu yang baik pula. Dan untuk membentuk individu yang baik, langkah dengan orientasi kepada kepribadian adalah keniscayaan.

Baca juga: Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i

Apa yang dinyatakan Manna‘ Khalil ini nampaknya juga mendapat sambutan positif dari ‘Abd al-Rahman al-Sa‘dy dalam Al-Qawa‘id al-Hisan, dimana dalam satu kaidahnya ia mengatakan bahwa self oriented merupakan salah satu langkah Al-Qur’an dalam mendasari setiap khithab atau perintahnya. Self oriented adalah sesuatu yang natural dan mendasar dalam setiap perkembangan peradaban umat manusia.

Berdasarkan pada data-data yang ada, penulis lantas sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tafsir isyari sejatinya memiliki pesan mendalam untuk selalu melakukan perbaikan diri. Kendati orientasi sesungguhnya adalah mendapat petunjuk ilahi melalui kalam-Nya, namun di sisi lain, ia juga dapat menghantarkan pada sebuah keseimbangan sosial yang mengglobal. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Nor Lutfi Fais
Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Mental Illness dalam Kajian Semantik Alquran

0
Mental illness merupakan suatu kondisi yang dapat dialami oleh setiap orang. Hal tersebut dapat tumbuh karena adanya sebab dan latar belakang yang berbeda-beda. Faktor...