Beranda Ulumul Quran Mengenal Syar’u Man Qablana dalam Al Qur’an

Mengenal Syar’u Man Qablana dalam Al Qur’an

Nabi Muhammad ﷺ adalah sebagai utusan Allah Ta’ala yang membawa risalah wahyu terakhir dan menjadi penutup bagi wahyu yang datang dari utusan terdahulu sebelum beliau diutus. Setiap risalah wahyu utusan Allah Ta’ala beberapa masih berlaku  kepada umat nabi Muhammad ﷺ dan diadopsi, pun juga ada beberapa syariat sebelum beliau di utus yang tidak lagi  dilaksanakan. Risalah sebelum nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai Rasul disebut dengan Syar’u Man Qoblana yang coba penulis uraikan dalam tulisan singkat ini.

Secara terminologi Syar’u Man Qoblana berarti hukum-hukum Allah yang dibawa oleh para Nabi/Rasul sebelum Nabi Muhammad ﷺ dan berlaku untuk umat mereka pada zaman itu (Imam Yazid dalam Analisis Teori Syar’u Man Qablana hlm 370). Setiap rasul atau utusan Allah Ta’ala mempunyai tanggungjawab menyampaikan risalah atau syariat yang   wajib disampaikan kepada para umatnya  sebagaimana firman Allah Ta’ala dalm Qur’an Surah Al Maidah ayat 48:

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Baca Juga: Mengenal Ijma’ Sebagai Sumber Hukum Islam Perspektif Para Mufasir

Dari  ayat diatas dapat difahami setiap rasul atau  utusan Allah Taala  membawa masing-masing  syariat yang berbeda kepada umatnya. Maka dapat berarti bahwa apa yang harus dijalankan umat setiap rasul diantaranya ada yang beda dengan syariat umat sebelumnya dan ada ketentuan syariat yang hampir sama. Sebagaimana pensyariatan puasa bagi umat Nabi Muhammad ﷺ yang termaktub dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 183:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Menurut Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan bahwa yang dimaksud dari عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ (atas orang-orang sebelum kamu) Yakni mereka adalah umat Nabi Musa dan Isa.( Muhammad Sulaiman Al Asyqar Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir hlm 28).

Sedangkan syariat nabi terdahulu (sebelum nabi Muhammad  ﷺ) yang berbeda adalah seperti cara bertaubatnya umat nabi  musa alaihis salam yang dijelasakan dalam Qur’an Surah Al Baqarah ayat 54:

 وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يَٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوٓا۟ إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَٱقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Baca Juga: Mengenal Hukum Wadh’i dan Contohnya dalam Al-Qur’an

Dapat difahami betapa berat nya umat nabi musa dalam bertaubat sedangkan apabila dibandingkan dengan umat nabi muhammad ﷺ. Allah memberikan kemudahan apabila hendak bertaubat atas dosa yang telah diperbuat, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Qur’an Surah An Nisa ayat 110:

وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Demikian penjelasan singkat mengenai Syariat  yang berlaku bagi umat nabi terdahulu  yang terdapat dalam Al Quran. Wallahu a’lam.

Kholid Irfani
Alumni jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Isyari dalam Karya KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi

Tafsir Isyari Lafaz Basmalah Menurut KH. Achmad Asrori al-Ishaqi

0
Sebagai salah satu jenis pendekatan dalam menguak makna Alquran, pendekatan sufistik saat ini semakin banyak digemari oleh para sarjana dan peneliti Alquran. Meskipun pada...