Beranda Tokoh Tafsir Nushrat Amin Khanum: Mujtahidah Kontemporer Penulis Tafsir Makhzan al-Irfan

Nushrat Amin Khanum: Mujtahidah Kontemporer Penulis Tafsir Makhzan al-Irfan

Khazanah kajian tafsir Al-Quran terus berkembang seiring perubahan zaman, baik dari objek kajian maupun subjeknya. Dalam literatur sejarah, mayoritas mufasir klasik maupun kontemporer adalah laki-laki. Sangat jarang sekali ditemukan mufasir dari kalangan perempuan. Kalaupun ada, biografi mereka jarang terekspos di beberapa literatur Islam. Salah satu mufasir perempuan kontemporer yang jarang dikenali adalah Nushrat Amin Khanum.

Nushrat Amin memang bukanlah wanita Iran pertama yang menggeluti bidang penafsiran Al-Quran. Namun, Nushrat Amin bisa dibilang sebagai ulama perempuan yang paling berpengaruh pada abad ke-20 di Iran.

Biografi Intelektual Nusrat Amin Khanum

Perempuan yang dikenal dengan nama Hajiyyah Khanum Nushrat Amin Bigum ini dilahirkan pada tahun 1886 di Kota Isfahan, Iran. Ia memiliki banyak nama julukan (laqab), seperti Aminah, al-Aminiyah, Banu Iraniy (iranian lady), dan Umm al-Fadha’il. Ayahnya bernama Sayyid Muhammad Ali, sedangkan ibunya merupakan putri dari Sayyid Mahdi yang dikenal dengan nama Jinab.


Baca Juga: Bint ِِAs-Syathi: Mufasir Perempuan dari Bumi Kinanah


Sejak usia empat tahun, Nushrat Amin telah menempuh pendidikan pertama tentang Al-Qur’an dan bahasa Persia di Maktab Khanah. Pada umur 15 tahun, Nushrat Amin menikah dengan suaminya yang bernama Mirza Aqa. Setelah menikah, perjalanan intelektual Nusrat Amin belum berhenti. Ia melanjutkan belajar secara privat tentang Fikih, Ushul Fikih, Bahasa Arab, ilmu Logika, Hikmah, dan Filsafat dengan Ayatullah Mir Sayyid ‘Ali Najafabadi di rumahnya sendiri.

Selain guru privat tersebut, Nushrat Amin juga banyak berguru ke berbagai ulama ternama, antara lain yaitu Ayatullah Muhammad Kazim Yazdi, Ayatullah Ibrahim Hosseini Shirazi, Ayatullah Muhammad Riza Najafi Isfahani, Ayatullah Abu Qasim Dahkardi, Ayatullah Muhammad Kazim Shirazi, Ayatullah Abdulkarim Qumi, dan Grand Ayatullah Abdulkarim Ha’iri Yazdi.

Dalam al-Nafahat al-Rahmaniyah, dijelaskan bahwa ketika usia 40 tahun, kepakaran Nushrat Amin Khanum terhadap keilmuan Islam semakin sempurna dan telah mencapai derajat tertinggi sebagai sosok yang kompeten melakukan penetapan hukum syari’ah. Untuk mengetahui kemampuanya, Nushrat Amin diuji oleh berbagai pakar Fikih dengan berbagai pertanyaan. Beberapa nama fuqaha yang menguji Nushrat Amin antara lain adalah Ayatullah Abu al-Hasan al-Isfahani, Ayatullah al-Isthihbanatiy, Ayatullah Muhammad Kazim Shirazi, dan Syaikh Abdulkarim al-Hairi. Semua pertanyaan yang diberikan tersebut mampu dijawab Nusrat Amin dengan argumentasi yang kuat dan ilmiah.

Mirjam Kunkler dan Roja Fazaeli menjelaskan dalam tulisanya yang berjudul The Life of Two Mujtahidah: Female Religious Authority in Twentieth-Century Iran, bahwa pada tahun 1930, Ayatullah Muhammad Kazim Hosseini Shirazi dan Grand Ayatullah Abdul Karim Ha’iri Yazdi memberinya penghargaan berupa ijazah yang diberikan kepada Nusrat Amin sebagai ulama perempuan yang telah mencapai derajat Mujtahidah. Kepakaranya dalam pemahaman keilmuan Islam tersebut juga mendapat pujian dari berbagai ulama Syi’ah, seperti Grand Ayatullah Sayyid Husayn Burujirdi, Allamah Muhammad Husayn Thabathaba’i, Ayatullah Murtadha Muthahhari, dan Ayatullah Yusuf Sani’i.

Pada tahun 1965, Nushrat Amin mendirikan sekolah perempuan dengan nama Dabiristan Dukhtaranih Amin atau yang dikenal dengan Maktab Fatimah di Isfahan. Dalam sekolah tersebut diajarkan beberapa pelajaran, seperti bahasa Persia, Arab, Inggris, Fikih, Hikmah, Tafsir, Ushul Fikih, Filsafat, Mantiq, dan Irfan. Dari sekolah tersebut Nusrat Amin berhasil melakukan kaderisasi dengan baik, sehingga muncul ulama-ulama perempuan dari hasil didikanya. Salah satunya adalah Zina al-Sadat Humayuni.

Nushrat Amin wafat pada hari senin, malam pertama bulan Ramadhan 1403 H/13 Juni 1983, ketika usianya sudah mencapai 79 tahun. Ia dimakamkan di kompleks makam keluarga yang berada di Takht Fulad. Pemakaman Nushrat Amin dihadiri oleh para pembesar ulama Iran. Berbagai gubahan syair dan qashidah dibuat oleh para ahli syair untuk mengenang kematian Nusrat Amin Khanum.


Baca Juga: Laleh Bakhtiar dan Penafsiran Al-Quran dengan Hadis


Semasa hidupnya, Nushrat Amin Khanum telah menghasilkan berabagai karya tulisan dalam beberapa bidang keilmuan Islam. Kurang lebih terdapat 13 judul buku telah ia tulis, diantaranya adalah al-Arba’in al-Hasyimiyah, Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq, Hasyiyah Faraid al-Usul, al-Nafahat al-Rahmaniyah fi al-Waridat al-Qalbiyah, Akhlaq Warah Sa’adat Basyar, dan masih banyak lainya. Namun, dari banyaknya karya tersebut, terdapat satu karya tulisnya yang sangat fenomenal yaitu Makhzan al-Irfan.

Sekilas Tafsir Makhzan al-Irfan

Kitab tafsir yang berjudul lengkap Makhzan al-Irfan Dar Tafsir Quran, merupakan tafsir Al-Quran berbahasa Persia karya Nusrat Amin Khanum. Tafsir ini diterbitkan secara berkala dalam bentuk serial volume yang diterbitkan selama hampir dua puluh tahun (1957-1975). Volume pertama dikeluarkan pertama kali pada tahun 1957, dimulai dengan penafsiran dua surah pertama, kemudian melompat langsung ke surah yang lebih pendek yang terletak di akhir urutan Al-Qur’an (Q.S. al-Mulk [67] – Q.S. al-Nas [114]).

Urutan yang demikian tergolong unik, karena normatifnya Mufasir menafsirkan Al-Qur’an secara runut sesuai tartib mushafi. Namun, ternyata urutan model seperti ini juga pernah digunakan oleh seorang Mufasir Persia abad pertengahan yaitu Ya’qub ibn ‘Utsman Kharkhi. Ia juga membuka tafsirnya dengan penjelasan tafsir surah pertama kemudian langsung berpindah ke penafsiran dua juz terakhir dari Al-Qur’an (Q. 67-77, Q. 78-114).

Dalam tulisan yang berjudul “Persian Qur’anic Networks, Modernity and the Writing of ‘an Iranian Lady’, Nushrat Amin Khanum (d. 1983)” karya Travis Zadeh, ia menjelaskan bahwa alasan Nushrat Amin Khanum memilih urutan yang demikian, karena ia takut jika tidak bisa merampungkan penafsiran hingga akhir surah Al-Quran. Hal ini dikarenakan ia memulai proyek penafsiran tesebut di usia yang suduh cukup tua. Selain itu, dua juz terakhir tersebut selain untuk diajarkan juga mudah dihafal. Serta, surah-surah terakhir tersebut sebagian besar diperkirakan turun kepada Nabi Muhammad pada periode awal kenabian. Sehingga bisa dikatakan bahwa tafsir ini sebagian menggunakan tartib nuzuli.


Baca Juga: Jamaluddin al-Qasimi: Sosok Pembaharu Islam Penulis Tafsir Mahasin al-Ta’wil


Tafsir karya Nushrat Amin Khanum ini cenderung bercorak sufi-falsafi. Hal ini dikarenakan ia banyak mengutip dari produk tafsir sufistik seperti Kasyf al-Asrar karya Maybudi, dan Ruh al-Bayan karya Syaikh Ismail al-Burusawi. Selain itu, ia juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat iluminatif Mulla Sadra, sebagaimana tertuang dalam karya Sadra yang berjudul al-Hikmah al-Muta’aliyyah.

Dalam proses penafsirannya, Nushrat Amin Khanum banyak mengacu pada pendapat-pendapat para Mufasir generasi awal, seperti Abdullah ibn Abbas, al-Dahhak, Hasan al-Basri, Muqatil ibn Sulaiman, Muhammad ibn Sa’ib al-Kalbi dan Qatadah. Kemudian, dalam penerjemahan makna kata Al-Quran, ia menggunakan kitab leksikografi Al-Quran karya al-Raghib al-Isfahani yang berjudul al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an.

Selain itu, Nushrat Amin Khanum juga banyak mengutip berbagai pendapat ulama lintas madzhab dalam tafsirnya. Misalnya dari kalangan Syi’ah terdapat nama Muhammad al-Ayyashi, ‘Ali al-Qummi, Tabrizi, Tusi, Abu al-Futuh al-Razi, Fathullah Kashani, Mir Muhammad Karim dan Thabathaba’i. Kemudian, dari kalangan Sunni terdapat nama al-Thabari, al-Baydhawi, dan Tanthawi Jauhari. Wallahu A’lam

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

0
Hari raya Iduladha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban sehingga kadang disebut pula dengan hari raya kurban. Masyarakat muslim yang berkemampuan secara finansial dianjurkan menyisihkan...