Beranda Tafsir Tematik Ragam Fenomena Kezaliman Terhadap Diri Sendiri dalam al-Qur’an

Ragam Fenomena Kezaliman Terhadap Diri Sendiri dalam al-Qur’an

Ada beberapa bentuk kezaliman terhadap diri sendiri yang digambarkan oleh al-Qur’an. Fenomena zalim terhadap diri sendiri tersebut begitu khas dengan frasa ظلم dan نفس. Melalui pelacakan dengan menggunakan kedua frasa ini, penulis menemukan beberapa contoh kasus yang dapat dikategorikan sebagai tindakan merugikan/ zalim terhadap diri sendiri. Kemudian melakukan filter dengan mengambil secara spesifik beberapa kasus yang mengandung ekspresi penyesalan berupa doa di dalamnya.

Q.S. al-A’raf (7): 23

Fenomena pertama ditemukan pada Q.S. al-A’raf (7): 23:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Ayat ini mengisahkan doa yang dipanjatkan oleh Adam As. dan Hawa sebagai pernyataan penyesalan yang telah mereka perbuat. Dalam Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Tabari, dikisahkan bahwa penyesalan ini terjadi akibat ketidaktaatan mereka terhadap perintah Tuhan untuk tidak mendekati salah satu pohon terlarang di surga. Hal ini diakibatkan oleh keduanya yang tak mampu menahan godaan Iblis yang menjerumuskan mereka.

Baca Juga: Bagaimana Relasi Gender dalam Keluarga Dibangun: Perspektif Tafsir Feminis

Maka dalam kasus Adam as. dan Hawa ini, yang menjadi bentuk kezaliman terhadap diri sendiri ialah berupa ketidakmampuan melawan hawa nafsu yang berujung pada tindakan ketidaktaatan kepada Allah. Namun dalam kehidupan saat ini representasi kasus sebagaimana pada tipologi pertama ini, tidak mungkin dijumpai. Oleh sebab itu, filosofi terjadinya kejadian ini yang menjadi tolak ukurnya yaitu ketidaktaatan yang disebabkan oleh ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Jadi bentuk kasus yang terjadi mungkin berbeda namun secara filosofis memiliki pola sebab-akibat yang sama.

Poin menarik dalam mengkaji ayat ini ialah bahwa doa ini merupakan doa yang diajarkan langsung oleh Allah kepada Adam As. sebagai apresiasi atas penyesalannya atas perbuatan yang telah dilakukan. Maka jika merasa telah melakukan tindakan zalim terhadap diri sendiri, ayat ini dapat dijadikan sebagai wasilah dalam bertobat.

Q.S. al-Naml: 44

قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Pada kasus kedua ini ada kisah menarik yang perlu diketahui. Ratu Balqis yang terkenal sebagai pemegang tahta tertinggi di kerajaan Saba’ berniat diislamkan oleh Sulaiman As. Beberapa cara dilakukan oleh Sulaiman dalam upaya mewujudkan niatannya tersebut. Sebab Saba’ adalah negeri yang makmur namun masih menyembah matahari dan merasa cukup angkuh akan kemegahan kerajaannya.

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa ayat ini kemudian menjadi saksi bahwa salah satu upaya Sulaiman As. berhasil meluluhkan Ratu Balqis. Upaya yang dilakukan oleh Sulaiman As. kala itu ialah mendirikan sebuah istana yang megah dan tak tertandingi keindahannya tatkala ia mengetahui bahwa Balqis akan mengunjungi negerinya. Maka saat sesampainya Balqis ke istana Sulaiman As. ia begitu terpukau dengan interior yang nampak di depan matanya, terutama pada lantai yang terlihat seperti sungai namun sebenarnya berupa kristal tembus pandang.

Melihat kemegahan yang tak tertandingi itu, Balqis pun mengakui bahwa istananya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan oleh istana Sulaiman As. Ia pun luluh dan keangkuhannya pun sirna, lalu ia pun mau menerima penjelasan Sulaiman As. mengenai ajaran tauhid yang benar dan menyatakan bahwa dirinya akan tunduk kepada Allah berkat Sulaiman As.  Dalam Tafsir Kemenag juga dijelaskan bahwa alasannya selama ini menolak ialah kekhawatirannya akan dikucilkan oleh masyarakat kerajaannya (Q.S. al-Naml: 43).

Maka dari uraian penafsiran tersebut didapati bahwa bentuk kezaliman terhadap diri sendiri yang dirasakan oleh Balqis ialah berupa keangkuhannya yang berimbas pada ketidakinginannya untuk mendengarkan ajaran yang benar. Hal itulah yang membuatnya sangat susah keluar dari kekafiran, setelah akhirnya berhasil disadarkan oleh Sulaiman As.

Q.S. al-Qashash: 16

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat menceritakan tragedi pembunuhan yang dilakukan Nabi Musa As. terhadap seorang Qibti. Tragedi itu terjadi tatkala Musa ingin menolong kawannya dari pem-bully-an seorang Qibti yang merupakan salah satu utusan Fir’aun. Musa pun memukulnya hingga tewas dan kemudian ia pun begitu menyesali perbuatannya sehingga ia pun memanjatkan doa sebagai bentuk pertaubatannya.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Munafiqun Ayat 1-4: Sifat dan Perilaku Orang Munafik

Dalam Tafsir al-Munir karya Wahbah Zuhaili dituliskan bahwa Musa As. juga mengutarakan bahwa suatu kezaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain hakikatnya merupakan bentuk kezaliman pada diri sendiri. Maka doa ini juga seakan memberikan pesan bahwa tindakan kezaliman apapun kepada orang lain haruslah dijauhi sebab apabila dilakukan maka sejatinya tindakan itu juga merusak diri sendiri.

Dari ketiga kasus dalam al-Qur’an yang telah diuraikan di atas didapati bahwa ada tiga tipologi bentuk kezaliman terhadap diri sendiri. Ketiga tipologi tersebut ialah 1) ketidaktaatan terhadap perintah Tuhan akibat tidak mampu mengendalikan hawa nafsu; 2) kekafiran yang disebabkan oleh keangkuhan dalam menerima kebenaran; 3) menzalimi orang lain.

Ketiga tipologi tersebut memperlihat bahwa Islam merupakan ajaran yang seimbang. Islam tidak menginginkan umatnya menzalimi dirinya sendiri baik dengan merusak hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Sebab keduanya merupakan elemen terpenting yang harus dijaga dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

0
Salah satu diksi yang sering digunakan Alquran untuk menyampaikan informasi adalah diksi tanya jawab. Dalam kajian asbabunnuzul, disebutkan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi...