Beranda Ulumul Quran Mengenal Rasm Alquran sebagai Bentuk Resepsi Alquran dan Hadis

Mengenal Rasm Alquran sebagai Bentuk Resepsi Alquran dan Hadis

Dalam lintasan sejarah, rasm Alquran merupakan satu dari sekian banyak bidang yang menjadi perhatian para ulama dari golongan sahabat dan tabi‘in. Rasm, dan bidang lainnya tersebut, bahkan dianggap sebagai embrio kelahiran kajian Living Quran yang belakangan masyhur di kalangan pegiat kajian Alquran.

Nilai aksentuasi Living Quran dalam rasm Alquran sendiri menurut Islah Gusmian, dijelaskan dengan adanya upaya penetapan script Alquran dari masa ke masa. Merujuk pada ulasan Umar Junus, pemertahanan semacam ini muncul dari adanya ‘reaksi aktif’ atas resepsi (penerimaan) suatu karya sastra, yang dalam hal ini adalah Alquran.

Pertanyaannya kemudian adalah bagian manakah dari Alquran yang menjadi basis teks atas resepsi rasm Alquran? Adakah landasan tekstual lainnya yang menjadi basis resepsi rasm? Tulisan singkat ini berupaya menggali landasan teks yang menjadi basis resepsi rasm. Urgensi dari tulisan ini terletak pada penggalian landasan tekstual dari rasm Alquran sebagai embrio kajian Living Qur’an.

Hadis sebagai Basis Teks Resepsi

Saifuddin Zuhri Qudsy dalam artikelnya berjudul Living Hadis: Genealogi, Teori, dan Aplikasi, menjelaskan bahwa salah satu problem penggunaan teori resepsi dalam kajian Living adalah jarak yang begitu jauh antara praktik yang dilakukan suatu komunitas dengan realitas teks yang menjadi basis landasannya.

Dalam banyak kasus, basis praktik ini bahkan sering kali berupa produk resepsi tersendiri. Sehingga praktik Living lebih mirip dikatakan resepsi. Seperti yang terlihat dalam praktik pengamalan kandungan teks fikih yang merupakan produk resepsi atas Alquran dan atau hadis Nabi.

Baca juga: Kritik Sumber Ilmu Rasm Utsmaniy

Nah, dalam masalah rasm, praktik yang terjadi cukup berbeda karena pelaku utama rasm, yang kala itu merupakan para sahabat, mengambil basis teks secara langsung, baik Alquran maupun hadis. Hadis yang dijadikan basis landasan teks juga belum terlembagakan secara formal, sebagaimana dikenal hari ini.

Rekam praktik penulisan wahyu di masa itu sebagaimana dapat disaksikan dalam riwayat al-Suyuthiy dalam Tadrib al-Rawiy, dari Zaid bin Tsabit:

كُنْتُ أَكْتُبُ الْوَحْيَ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَإِذَا فَرَغْتُ قَالَ اقْرَأْ فَأَقْرَؤُهُ فَإِنْ كَانَ فِيْهِ سَقْطٌ أَقَامَهُ

“Dahulu, aku menuliskan wahyu di sisi Nabi Saw. Ketika aku selesai dari menulis, Nabi lantas berkata, “Bacakan (hasil tulisanmu)!” Kemudian aku membacakannya. Jika terdapat kesalahan, Nabi akan membenarkannya.”

Menariknya, penjagaan script Alquran yang menjadi concern dari rasm agaknya lebih terilhami dari sabda-sabda Nabi, atau dengan kata lain adalah hadis. Isyarat penjagaan secara umum terhadap kemurnian Alquran seperti termaktub dalam riwayat Muslim dari Abu Sa‘id al-Khudriy:

لَا تَكْتُبُوْا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian semua menulis dariku (selain Alquran). Barangsiapa menulis dari selain Alquran maka hendaklah ia menghapusnya.”

Baca juga: Kajian Rasm dalam Mushaf Kuno Nusantara

Pemahaman yang mainstream atas riwayat ini memang berkutat pada kekhawatiran terjadinya percampuran dalam teks Alquran. Sehingga, ulasan yang diberikan rata-rata berkisar pada teks hadis yang juga menjadi fokus perhatian para sahabat. Akan tetapi secara spirit, kemurnian Alquran sebagaimana ingin dicapai dari riwayat ini juga mencakup pada aspek script seperti dalam rasm.

Riwayat yang dianggap sebagai basis utama resepsi dalam masalah rasm adalah riwayat yang dinisbatkan kepada Mu‘awiyah, yang berisi petunjuk teknis penulisan. Terlepas dari sahih-tidaknya riwayat tersebut. Karena, menurut Qudsy, selama hadis yang dipergunakan sebagai basis landasan resepsi tidak tergolong maudlu‘ (palsu) maka tetap diperbolehkan.

أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفَ الْقَلَمَ، وَانْصِبِ الْبَاءَ، وَفَرِّقِ السِّيْنَ، وَلَا تُعَوِّر الْمِيْمَ، وَحَسِّن اللهَ، وَمُدَّ الرَّحْمنَ، وَجَوِّدِ الرَّحِيْمَ.

“Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, percantik (tulisan) Allah, panjangkan (tulisan) al-Rahman, dan perindah (tulisan) al-Rahim”

Alquran sebagai Basis Teks Resepsi

Jika menilik pernyataan Gusmian sebelumnya mengenai pemertahanan script Alquran, agaknya Surah Alhijr [15] ayat 9 dapat menjadi basis landasan resepsi dalam rasm. Karena isi dari ayat ini secara implisit menunjukkan adanya perintah (al-khabar bi ma‘na al-amr) penjagaan Alquran yang mencakup aspek skripnya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Namun kenyataannya, dalam beberapa catatan mengenai rasm, ayat 9 dari Surah Alhijr ini hanya dikaitkan dengan proses kodifikasi Alquran di setiap tahapannya. Jarang sekali -atau bahkan tidak ada- yang mengaitkannya secara langsung dengan rasm. Kalau pun ada, penggunaannya lebih sebagai landasan legitimasi ke-tauqifiy-annya yang belakangan berkembang akibat terjadi selisih pendapat mengenai hakikat rasm.

Baca juga: Faktor Terjadinya Inkonsistensi Penggunaan Kaidah Rasm dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur’an di Nusantara

Kebanyakan teks yang sering kali dikutip sebagai motivasi rasm sahabat dalam Alquran adalah petunjuk-petunjuk (irsyadat) Nabi, yang dalam konteks hari ini dipahami sebagai hadis Nabi, baik berupa ucapan (qaul) sebagaimana riwayat Mu‘awiyah sebelumnya atau penetapan (taqrir) terhadap hasil penulisan salah seorang sahabat.

Hal ini, sekali lagi, terlepas dari kontroversi ke-ummiy-an Nabi (baca selengkapnya dalam Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw). Yang jelas, apabila mengacu pakem teori resepsi dalam kajian Living, maka teks sastra apa pun dapat diresepsi dengan melakukan ‘reaksi aktif’, yang dalam hal ini Alquran dan hadis sebagai landasan rasm ‘utsmani dalam penulisan Alquran. Wallahu a‘lam bi al-shawab.[]

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

0
Hari raya Iduladha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban sehingga kadang disebut pula dengan hari raya kurban. Masyarakat muslim yang berkemampuan secara finansial dianjurkan menyisihkan...