Beranda Ulumul Quran Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw

Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw

Diskusi tentang makna ke-ummiy-an Nabi Saw sejatinya telah banyak dilakukan ulama dan pakar Al-Qur’an. Seperti diskusi imajiner antara ‘Abd al-Hayy al-Farmawy dengan Dr. Nashir al-Din al-Asad yang diabadikan dalam Rasm al-Mushhaf wa Naqthuhu dan Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudlu‘iy. Atau dalam sajian yang lebih sederhana, tulisan dari Muhammad Anas Fakhruddin dalam tafsiralquran.id berjudul ‘Nabiyyil Ummiyyil’, Benarkah Berarti Nabi Tidak Bisa Baca Tulis?

Diskusi yang diangkat pada dasarnya berkutat pada pembahasan makna kata ummiy secara literal berikut perbandingan aplikasinya terhadap diksi-diksi ummiy dalam Al-Qur’an. Sementara arti literal dan yang masyhur di kalangan Arab menunjukkan pada ketiadaan kemampuan baca tulis, aplikasi dalam diksi Al-Qur’an tidak sepenuhnya demikian.

Diksi ummiy yang disebutkan sebanyak enam kali, yakni dalam QS. Al-A‘raf [7]: 157 dan 158, QS. Ali Imran [3]: 20 dan 75, QS. Al-Jumu’ah [62]: 2, serta QS. Al-Baqarah [2]: 78, dimaknai secara beragam. Beberapa diantaranya menerapkan makna literal yang ada. Sedangkan yang lain menggunakan makna takwil yang jauh berbeda.

Baca juga: Al-Qur’an dalam Menjaga Harmonisasi dan Toleransi Antar Umat Beragama

Pangkal permasalahan lahirnya perbedaan pemaknaan ummiy ini boleh jadi terletak pada upaya pengagungan Nabi Saw. dari sifat-sifat yang tidak selayaknya dimiliki. Dalam koridor diskusi ini merupakan ketidakmampuan membaca dan menulis. Meski nyatanya, tidak semua ulama dan pakar Al-Qur’an menganggap negatif keberadaan sifat ini bagi Nabi Saw.

Masalah kemudian merambah pada kelanggengan sifat ummiy Nabi Saw., apakah hingga akhir hayatnya beliau tetap buta huruf atau di penghujung hidupnya beliau mampu membaca dan menulis? Masalah yang juga mengalami perbedaan pendapat di kalangan ulama dan pakar berdasarkan perbedaan argumentasi yang telah disebutkan masing-masing.

Al-Suyuthiy, sebagaimana dinukil Muhammad Anas, agaknya memilih ketidaklanggengan sifat ini mengingat adanya sebuah riwayat yang dinukilnya dari ‘Abdullah bin ‘Utbah. Hal yang sama juga diakui oleh Al-Zarqaniy dalam Manahil al-‘Irfan, bahwa di penghujung hayatnya, Nabi Saw. mampu membaca dan menulis. Berbeda dengan pendapat yang diikuti Al-Qurthuby yang mengafirmasi kelanggengan ke-ummiy-an Nabi Saw.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Ini Perbedaan Wudhu dan Tayamum yang Wajib Diketahui

Riwayat tentang kepiawaian Nabi Saw dalam menulis

Dalam frame diskusi yang sama, tetapi dengan landasan yang cukup berbeda, ilmu rasm memberikan argumentasi ‘segar’ dari yang selama ini sering dijadikan sebagai landasan. Riwayat yang dinisbatkan kepada Mu‘awiyyah, salah satu katib wahyu, dan Anas bin Malik yang berisi dhawuh pengajaran dari Nabi Saw.,

أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفَ الْقَلَمَ، وَانْصِبِ الْبَاءَ، وَفَرِّقِ السِّيْنَ، وَلَا تُعَوِّر الْمِيْمَ، وَحَسِّن اللهَ، وَمُدَّ الرَّحْمنَ، وَجَوِّدِ الرَّحِيْمَ.

“Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, percantik (tulisan) Allah, panjangkan (tulisan) al-rahman, dan perindah (tulisan) al-rahim”

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَعَا رَجُلًا إِلَى الْكِتَابَةِ يَقُوْلُ: أَلِقِ الدَّوَاةَ، وَحَرِّفِ الْقَلَمَ، وَجَوِّدْ بسم الله الرحمن الرحيم: أَقِم الْبَاءَ وَفَرِّج السِّيْن وَافْتَحْ الْمِيْم وَحَسِّن اللهَ وَجَوِّد الرَّحْمن الرَّحِيْم، فَإِنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْل كَتَبَهَا فَجَوَّدَها فَدَخَلَ الجَنَّةَ

“Nabi ketika memanggil salah seorang sahabat untuk menuliskan wahyu berkata: “Tetapkanlah tinta, miringkan (ujung) pena, perindah tulisan bismillahirrahmanirrahim: tegakkan (tinggikan gerigi) huruf ba’, pisahkan (tegaskan gerigi) huruf sin, lubangi huruf mim, percantik (tulisan) Allah, dan perindah (tulisan) al-rahman al-rahim. Karena seorang dari Bani Israil yang menulisnya lantas memperindahnya, ia kemudian masuk surga”

Penelusuran sederhana yang penulis lakukan melalui Al-Mausu‘ah al-Haditsiyyah, menunjukkan bahwa dua riwayat ini, yang disebutkan Al-Qasthalaniy dalam Al-Mawahib al-Ladunniyah dan Ibn Hajar al-‘Asqalaniy dalam Lisan al-Mizan, oleh mayoritas ulama memang dianggap sebagai riwayat yang dla’if. Riwayat kedua bahkan dikatakan bathil.

Baca juga: Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt

Namun demikian, dua riwayat ini dalam kajian ilmu rasm memiliki posisi yang cukup penting mengingat keduanya menjadi landasan ke-tauqifiy­-an rasm ‘utsmaniy. Adanya piwulang langsung dari Nabi Saw. ini menjadi legitimasi penting bahwa hakikat rasm ‘utsmaniy adalah tauqifiy dan bukan ijtihadiy sebagaimana klaim minor dari ulama dan pakar Al-Qur’an.

Sementara itu, berkaitan dengan masalah ke-ummiy-an Nabi Saw., riwayat ini agaknya memberikan takwilan lain, dimana pengajaran Nabi Saw. yang menjelaskan detail teknik kepenulisan menunjukkan adanya pengetahuan Nabi Saw. terhadap disiplin ilmu tulis-menulis. Redaksi semacam harrif al-qalam boleh jadi bahkan mengindikasikan kepiawaian Nabi Saw. dalam menulis.

baca juga; Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt

Hal ini berarti bahwa Nabi Saw. telah memiliki pengetahuan tentang tulis-menulis yang bahkan sejak awal diturunkannya wahyu, bukan menjelang akhir hayatnya, berpijak pada redaksi awal riwayat kedua. Takwilan ini yang barang kali cukup berbeda dari yang selama ini didiskusikan dalam ‘Ulum al-Qur’an. Meskipun Dr. Musa Syahin Lasyin, sebagaimana disebutkan Al-Farmawiy, tetap bersikukuh atas ke-ummiy-an Nabi Saw. mengingat dla‘if-nya riwayat yang dijadikan sebagai landasan.

‘Ala kulli hal, diskusi mengenai ke-ummiy-an Nabi Saw. tetap mengalami perdebatan sengit di dalamnya. Masing-masing pakar dan ulama Al-Qur’an memiliki argumentasi tersendiri yang mendukung pendapatnya. Apa yang telah penulis paparkan sebelumnya setidaknya dapat menghadirkan angle lain dari perdebatan yang ada. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...