BerandaTafsir TahliliTafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-58

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-58

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-58 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai tantangan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah SWT. Kedua berbicara mengenai kekeliruan besar yang telah dilakukan oleh orang musyrik. Ketiga mengenai ancaman bagi pengingkar hari kiamat.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 54-55


Ayat 56

Sabab nuzul ayat ini ialah sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Mas’µd bahwa ada manusia yang menyembah manusia dan jin. Jin tersebut sebagian masuk Islam, dan sebagian lagi tetap dalam keyakinannya. Maka turunlah ayat ini.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar mengatakan kepada kaum musyrikin Mekah ucapan berikut ini, “Pada saat kamu ditimpa bahaya, seperti kemiskinan dan serangan penyakit, cobalah panggil mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah, apakah tuhan-tuhan itu mampu menghilangkan bahaya yang menimpa kamu?”

Maka dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mereka anggap tuhan itu tidak akan mampu menolak bahaya atau memindahkannya kepada orang lain. Sebab, mereka memang tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukan yang demikian.

Yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan untuk menghilang-kan bahaya itu ialah Pencipta alam semesta ini dan sekaligus Pencipta mereka, yaitu Allah Yang Maha Esa. Oleh karena itu, Allah itulah yang harus disembah.

Ayat 57

Di atas telah disebutkan bahwa kaum musyrik menyembah para malaikat, jin, Nabi Isa, dan ‘Uzair. Mereka menganggapnya sebagai tuhan yang dapat menghilangkan bahaya dan kemudaratan mereka.

Lalu Allah menyebutkan bahwa yang mereka sembah itu sendiri sebenarnya mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jalan itu tidak lain ialah taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Imam at-Tirmizi dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, ia berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، وَمَا الْوَسِيْلَةُ؟ قَالَ: اَلْقُرْبُ مِنَ اللهِ ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الْاٰيَةَ.

Rasulullah saw bersabda, “Mohonkanlah wasilah untukku kepada Allah.” Mereka bertanya, “Apakah wasilah itu? Nabi pun berkata, “Mendekatkan diri kepada Allah.” Kemudian Nabi membaca ayat ini (ayat 57).

Lebih lanjut Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dekat sekalipun, di antara para malaikat, jin, Nabi Isa, dan ‘Uzair, kepada Allah tetap mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan menaati dan menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, apakah mereka layak disembah? Mengapa kamu tidak langsung saja menyembah Allah?

Pada bagian akhir ayat ini, Allah swt menyebutkan bahwa sesungguhnya azab Tuhan adalah hal yang (harus) ditakuti oleh siapa pun, baik para malaikat, para rasul dan nabi-Nya, maupun manusia seluruhnya.


Baca juga: Tafsir Surah Ath-Thur Ayat 21: Orang-Orang Beriman Akan Bersama Anak-Cucunya di Surga


Ayat 58

Allah swt memberikan peringatan kepada kaum musyrikin Mekah yang mengingkari terjadinya hari kebangkitan, hari pembalasan, dan kerasulan Muhammad, bahwa tidak ada suatu negeri pun yang penduduknya durhaka, melainkan dibinasakan keseluruhannya, sebelum hari kiamat datang atau ditimpa bencana yang hebat karena dosa dan keingkaran mereka kepada nabi-nabi yang pernah diutus kepada mereka.

Allah swt berfirman:

وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ اَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهٖ فَحَاسَبْنٰهَا حِسَابًا شَدِيْدًاۙ وَّعَذَّبْنٰهَا عَذَابًا نُّكْرًا   ٨  فَذَاقَتْ وَبَالَ اَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ اَمْرِهَا خُسْرًا   ٩

Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan perhitungan yang ketat, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan (di akhirat). Sehingga mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka, itu adalah kerugian yang besar. (at-Talaq/65: 8-9)

Allah swt menjelaskan bahwa yang demikian itu telah tercantum dalam kitab Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari ‘Ubadah bin Sāmit ia berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا اَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبِ الْمُقَدَّرَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (رواه الترمذي عن عبادة بن الصامت)

Sebenarnya yang diciptakan pertama kali oleh Allah ialah qalam (pena), kemudian Allah swt berfirman pada qalam itu, “Catatlah,” lalu qalam itu berkata, “Apa yang akan saya catat?” Allah swt berfirman, “Catatlah hal-hal yang telah ditentukan, dan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.” (Riwayat Imam at-Tirmizi dari ‘Ubadah bin Sāmit).


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 59


(Tafsir Kemenag)

Redaksi
Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

pandangan imam al-Ghazali tentang musik dan nyanyian

Pandangan Imam al-Ghazali Mengenai Musik dan Nyanyian

0
Akhir-akhir ini, tengah ramai diperbincangkan mengenai halal-haramnya musik. Hal ini bermula dari penjelasan ust. Adi Hidayat mengenai asy-Syu’ara yang dimaknai sebagai para pemusik, yang...