BerandaTafsir TahliliTafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97 mengisahkan tentang perjalanan Nabi Zulkarnain hingga ia tiba menjumpai segolongan umat manusia yang hidupnya tidak di bawah bangunan rumah dan tidak pula dinaungi pohon dari panasnya matahari.

Dikisahkan pula dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97 ini bahwa Nabi Zulkarnain dalam perjalanannya juga berjumpa dengan orang-orang yang tidak mengerti pembicaraan kawan-kawannya apalagi bahasa orang lain.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 81-88


Ayat 89-90

Ayat menjelaskan bahwa Zulkarnain menempuh jalan ke arah Timur. Setelah ia sampai ke pantai Afrika sebelah barat, lalu ia kembali menuju ke arah timur sehingga sampailah ia ke tempat terbitnya matahari di sekitar negeri Tiongkok di mana ia menjumpai segolongan umat manusia yang hidupnya tidak di bawah bangunan rumah dan tidak ada pula pohon-pohon menaunginya dari panasnya matahari.

Mereka langsung mendapat sorotan cahaya matahari karena tidak terlindung oleh atap atau bukit-bukit yang berada di sekitarnya. Mereka pada siang hari berada dalam lubang-lubang di bawah tanah dan baru muncul di atas permukaan bumi setelah matahari terbenam, untuk mencari penghidupannya. Keadaan mereka jauh berbeda sekali dengan penghuni dunia yang lainnya, karena mereka hidupnya masih primitif dan tidak mempunyai bangunan untuk tempat tinggal.

Ayat 91

Selanjutnya perjalanan Zulkarnain itu seperti yang telah diterangkan di atas, sampai ke ujung Barat dan Timur dan telah sampai ke puncak kebesarannya dalam pemerintahannya yang jarang ada bandingannya. Sungguh Kami mengetahui apa saja yang ada padanya dan apa-apa yang diperbuatnya bersama bala tentaranya, walaupun mereka tersebar luas di seluruh permukaan bumi.

Ayat 92

Kemudian dia menempuh suatu jalan lain lagi yaitu jalan antara Masyriq (arah timur) dan Maghrib (arah barat) membelok ke arah utara. Yakni ke arah dua gunung di Armenia dan Ajerbaijan.

Ayat 93

Ketika  dia sampai ke suatu tempat di antara dua buah gunung yang terletak di belakang sungai Jihun di negeri Balkh dekat kota Tirmiz. Dia menjumpai segolongan manusia yang hampir tidak mengerti pembicaraan kawan-kawannya sendiri apalagi bahasa lain, karena bahasa mereka sangat berbeda dengan bahasa-bahasa yang dikenal oleh umat manusia dan taraf kecerdasan mereka pun sangat rendah.


Baca Juga: Mengenal Imran Hosein dan Diskursus Yajuj dan Majuj di Dunia Modern


Ayat 94

Mereka melalui juru bicaranya berkata, “Wahai Zulkarnain sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj oleh sebagian peneliti ditengarai sebagai bangsa Tartar dan Mongol, sangat membuat kerusakan di muka bumi dengan pembunuhan, perampasan dan segala macam keganasan, maka bersedialah kamu menerima sesuatu upah dari kami yang kami kumpulkan dari harta benda kami supaya kamu membuatkan benteng untuk menjaga kami dari serbuan mereka.”

Ayat 95

Zulkarnain menjawab, “Apa-apa yang telah Allah karuniakan kepadaku yaitu ilmu, pengetahuan yang cukup, kerajaan besar, kekuasaan yang luas dan kekayaan yang melimpah ruah itu adalah lebih baik dari pada upah yang kamu sodorkan kepadaku, maka kami ucapkan terima kasih atas segala kebaikanmu itu dan aku hanya memerlukan bantuan kekuatan tenaga manusia dan alat-alat agar aku dapat membuatkan benteng antara kamu dan mereka.

Ayat 96

“Bawalah kepadaku potongan-potongan besi.” Dan setelah mereka membawa potongan-potongan besi itu, lalu Zulkarnain merangkai dan memasang besi-besi itu sehingga tingginya sama rata dengan kedua puncak gunung itu. Lalu ia berkata kepada pekerja-pekerjanya, “Gerakkanlah alat-alat peniup angin untuk menyalakan api dan memanaskan besi-besi itu.”

Sehingga bilamana besi itu telah merah seperti api, maka dia berkata pula, “Sekarang berilah aku tembaga yang mendidih agar kutuangkan ke atas besi yang panas itu,” sehingga lubang-lubangnya tertutup rapat dan terbentuklah sebuah benteng besi yang kokoh dan kuat.

Ayat 97

Dan tatkala Yakjuj dan Makjuj mengadakan penyerbuan ke tempat tersebut, mereka tidak bisa mendakinya karena tingginya yang luar biasa dan mereka tidak bisa pula melubanginya karena keras dan tebal sekali.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 98-100


Redaksi
Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...