BerandaTafsir TahliliTafsir Surah Al-Mu’minun Ayat 26-28

Tafsir Surah Al-Mu’minun Ayat 26-28

Tafsir Surah Al-Mu’minun Ayat 26-28 melanjutkan kisah Nabi Nuh pada tafsir sebelumnya, bahwa keingkaran kaumya sudah diambang batas, Nuh pun berdoa kepada Allah dari sifat buruk kaumnya tersebut. Doapun dikabulkan, Allah memeritahkan Nuh untuk membuat sebuah kapal, yang nantinya akan digunakan oleh Nuh dan pengkutnya yang beriman, sementara mereka yang ingkar akan menerima azab dari Allah Swt.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Mu’minun Ayat 22-25


Ayat 26

Setelah Nuh melihat keingkaran kaumnya yang tidak mau menyadari kesesatan mereka, padahal Nuh cukup lama melaksanakan kewajiban dakwahnya, maka Allah mewahyukan kepadanya bahwa kaumnya tidak akan pernah beriman.

Pengikutnya yaitu orang-orang yang sudah beriman tidak akan bertambah lagi jumlahnya. Nuh kemudian berdoa kepada Tuhan supaya diberi pertolongan, seraya berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.” Doa Nuh itu disebutkan dalam firman Allah:

فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ

Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, ”Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).” (al-Qamar/54: 10).

Dan seperti dalam firman-Nya:

وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا

Dan Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh/71: 26)

Ayat 27

Setelah doa Nuh diperkenankan, maka Allah mewahyukan kepada-nya, agar ia mulai membuat perahu di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya, supaya perahu itu kokoh dan tidak mudah mengalami kerusakan dan supaya Nuh mengetahui teknik pembuatannya, sebab pembuatan sebuah perahu yang besar dan kukuh tentu saja memerlukan keahlian.

Apabila perintah Allah sudah datang untuk membinasakan kaumnya dengan topan yang besar, dan tanda-tandanya sudah tampak, yaitu tannµr tempat membakar roti di bawah tanah sudah mulai memancarkan air, maka Allah menyuruh Nabi Nuh memasukkan ke dalam perahu itu sepasang jantan dan betina dari tiap-tiap jenis binatang.

Dalam perahu dibuat bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling bawah untuk binatang buas seperti singa, harimau, dan sebagainya.

Di tingkat kedua binatang ternak seperti: sapi, kambing, dan sebagainya. Di tingkat ketiga semua jenis burung sepasang-pasang dan di tingkat yang paling atas sekali


Baca Juga : Hidangan Manna dan Salwa dalam Al-Qur’an Beserta Manfaatnya


Nabi Nuh dengan sekalian keluarganya yang selamat, di antaranya tiga orang putranya: Sām, Hām dan Yafis. Adapun putra beliau yang bernama Kan’an termasuk orang yang tenggelam, karena ia tidak mau ikut bersama ayahnya.

Dengan dimasukkannya setiap jenis binatang yang ada pada waktu itu, maka perahu Nuh merupakan kebun binatang yang lengkap.

Semua binatang yang tidak masuk ke dalam perahu dan orang kafir yang tidak mengikuti ajakan Nabi Nuh ditenggelamkan dalam topan besar itu, sesuai dengan ancaman Allah bahwa mereka akan ditimpa azab.

Allah sebelumnya melarang Nuh supaya jangan memberitahukan rencana Allah dan maksud pembuatan perahu kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka semuanya akan ditenggelamkan.

Ayat 28

Allah memerintahkan kepada Nuh, jika ia bersama orang-orang yang beriman telah berada di atas perahu, maka ia harus mengucapkan pujian kepada Allah sebagai rasa syukur atas keselamatan mereka semuanya yang berada dalam perahu itu, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.”

Ayat ini memberi petunjuk bahwa kita tidak boleh merasa gembira dengan turunnya azab kepada orang atau golongan lain, kecuali bila di dalamnya mengandung keselamatan bagi kaum mukminin, terhindarnya mereka dari bahaya kemusnahan, dan tersapu bersihnya dunia dari segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan.

Menurut keterangan Ibnu ‘Abbas ra bahwa yang berada dalam perahu Nuh itu selain semua jenis binatang itu ada 80 orang manusia, yaitu Nuh beserta tiga orang putranya beserta istri-istrinya dan 72 orang mukmin umat Nuh yang setia kepadanya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Mu’minun 29-31


Redaksi
Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

hikmah larangan melembutkan perkataan bagi perempuan

Hikmah Larangan Melembutkan Perkataan bagi Perempuan

0
Larangan melembutkan perkataan bagi perempuan dijelaskan dalam Alquran, surah al-Ahzab ayat 32. Pada ayat ini, juga dijelaskan beberapa kondisi penyebab pelarangan tersebut. Artinya, larangan...