Tafsir Surah Al-Qasas ayat 35-40 mengisahkan tentang kesombongan Fir’aun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Tafsir Surah Al-Qasas ayat 35-40 juga menjelaskan bahwa Allah mengazab Fir’aun dan pasukannya di dunia maupun di akhirat.
Selengkapnya Tafsir Surah Al-Qasas ayat 35-40
Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 29-34
Ayat 35
Allah mengabulkan permintaan Musa dan berjanji mengangkat Harun menjadi rasul dan pendampingnya (wazir). Allah juga menenteramkan hatinya yang selalu diliputi kekhawatiran karena beratnya beban yang dipikulkan kepadanya. Allah menjanjikan bahwa Dia akan memberikan kepada Musa dan saudaranya kekuatan yang tak dapat dikalahkan oleh kekuatan apa pun di dunia apalagi kekuatan Firâaun yang sangat terbatas.
Dengan hati yang aman dan tenteram, Musa kembali ke tempat istrinya yang ditinggalkannya. Dia menceritakan kepadanya semua kejadian yang dialaminya, yaitu dia telah diangkat Allah menjadi rasul. Mendengar cerita Musa, hati istrinya menjadi tenteram. Musa lalu berangkat bersama keluarganya menuju Mesir didorong oleh cita-cita yang suci yaitu menyampaikan risalah Allah kepada Firâaun dan Bani Israil. Di Mesir, Harun telah bersiap-siap untuk memikul risalah itu dan membantu saudaranya.
Ayat 36
Musa lalu datang kepada Firâaun dan kaumnya untuk menyeru mereka kepada agama tauhid dengan memberikan bukti-bukti yang nyata dan keterangan yang kuat dan jelas. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi mereka menolak kebenaran yang dikemukakannya.
Akan tetapi, serta merta mereka menolak apa yang diucapkan oleh Musa. Ketika mereka telah terpojok dan tidak dapat lagi membantah kebenaran yang dibawanya, mereka lalu menuduh semua itu hanya sihir belaka dan mereka tidak pernah mendengar apa yang diucapkan Musa dari nenek moyang mereka.
Demikianlah sikap orang-orang kafir terhadap rasul-rasul yang menyeru kepada agama yang benar seperti tersebut dalam firman-Nya:
ÙÙŰ°Ù°ÙÙÙÙ Ù ÙŰ§Ù Ű§ÙŰȘÙÙ Ű§ÙÙÙ۰ÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ ÙÙŰšÙÙÙÙÙÙ Ù Ù ÙÙÙÙ Ű±ÙÙŰłÙÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙۧ ÙÙۧÙÙÙÙۧ ŰłÙۧŰÙŰ±Ù Ű§ÙÙÙ Ù ÙŰŹÙÙÙÙÙÙÙ
Demikianlah setiap kali seorang rasul yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka (kaumnya) pasti mengatakan, âDia itu pesihir atau orang gila.â (adz-Dzariyat/51: 52).
Ayat 37
Tuduhan Firâaun dan kaumnya bahwa bukti-bukti yang dikemukakan Musa hanya sihir belaka dijawabnya dengan tenang dan tidak keluar dari adab dan sopan santun berdebat, tanpa menuduh lawannya bahwa mereka telah sesat. Musa mengatakan kepada mereka bahwa Tuhannya yang lebih mengetahui siapa sebenarnya yang membawa petunjuk dari Allah dan siapa sebenarnya yang beruntung yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.
Di balik itu, dalam hatinya ia yakin sepenuhnya dialah yang benar, dialah orang yang beruntung dan siapa yang menentang kebenaran yang dibawanya pasti akan merugi dan menyesal. Jawaban ini sama dengan jawaban yang diberikan oleh Nabi Muhammad kepada kaum musyrikin yang menentangnya, seperti tersebut dalam firman Allah:
ÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ ÙÙÙ۱ÙŰČÙÙÙÙÙÙ Ù Ù ÙÙÙÙ Ű§ÙŰłÙÙÙ Ù°ÙÙ°ŰȘÙ ÙÙۧÙÙۧÙ۱Ù۶ÙÛ ÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙ°ÙÙ ÛÙÙۧÙÙÙÙŰ§Ù Ű§ÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙۧÙÙÙ Ù ÙÙŰčÙÙÙ°Ù ÙÙŰŻÙÙ Ű§ÙÙÙ ÙÙÙÙ Ű¶ÙÙÙ°ÙÙ Ù ÙÙŰšÙÙÙÙÙ
Katakanlah (Muhammad), âSiapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?â Katakanlah, âAllah,â dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’/34: 24)
Walaupun demikian, Musa tetap menegaskan bahwa orang zalim tidak akan memperoleh kemenangan. Ini adalah sebagai isyarat kepada Firâaun dan kaumnya bahwa mereka tidak akan menang. Mereka pasti akan kalah dan hancur karena mereka adalah orang-orang yang sombong dan aniaya.
Ayat 38
Ayat ini menerangkan bahwa setelah kehabisan alasan dan dalil untuk membantah keterangan Musa dan bukti-bukti yang dikemukakannya, Firâaun memerintahkan kepada kaumnya supaya jangan percaya kepada berita dusta yang dikemukakan Musa. Selama ini tidak ada seorang pun yang berani mendakwahkan bahwa ada Tuhan selain dia.
Semenjak dahulu selama Mesir diperintah oleh Firâaun, yang silih berganti, tak seorang pun yang mengingkari bahwa Firâaun adalah tuhan-tuhan yang berkuasa di muka bumi. Mata hati rakyat dikelabui dengan dongeng dan khurafat yang menyatakan bahwa manusia harus tunduk kepada kekuasaan Firâaun.
Dia selalu melakukan tindakan yang kejam dan bengis terhadap orang yang berani mengingkari kekuasaannya sebagai tuhan dengan menyiksa dan memenjarakan bahkan membunuhnya. Hal ini disebutkan dalam firman Allah:
ÙÙŰÙŰŽÙŰ±Ù ÙÙÙÙŰ§ŰŻÙ°ÙÛ ÙąÙŁ ÙÙÙÙۧÙÙ Ű§ÙÙÙŰ§Û Ű±ÙŰšÙÙÙÙÙ Ù Ű§ÙÙۧÙŰčÙÙÙ°ÙÛ ÙąÙ€
Kemudian dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru (memanggil kaumnya). (Seraya) berkata, âAkulah tuhanmu yang paling tinggi.â (an-Naziâat/79: 23-24)
Firman Allah:
ÙÙۧÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙ Ű§ŰȘÙÙŰźÙ۰ÙŰȘÙ Ű§ÙÙÙ°ÙÙۧ ŰșÙÙÙ۱ÙÙÙ ÙÙۧÙŰŹÙŰčÙÙÙÙÙÙÙÙ Ù ÙÙÙ Ű§ÙÙÙ ÙŰłÙŰŹÙÙÙÙÙÙÙÙÙ
Dia (Firâaun) berkata, âSungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara.â (asy-Syuâara’/26: 29)
Imam Fakhruddin ar-Razi berpendapat bahwa Firâaun mendakwahkan dirinya sebagai tuhan maksudnya bukan dia yang menciptakan langit, bumi, lautan, gunung-gunung, dan manusia seluruhnya karena hal itu tidak akan dapat diterima oleh akal. Maksudnya adalah supaya orang memperhambakan diri kepadanya. Dia hanya menolak adanya tuhan yang harus dipatuhi dan di sembah selain dia.
Lalu Firâaun memerintahkan kepada wazirnya, Haman, supaya menyalakan api yang besar untuk membuat batu bata yang banyak dan mendirikan bangunan yang tinggi supaya dia dapat naik ke langit melihat Tuhan yang didakwahkan Musa. Firâaun lalu menegaskan bahwa Musa adalah pembohong besar. Senada dengan ini, Allah berfirman:
ÙÙÙÙۧÙÙ ÙÙ۱ÙŰčÙÙÙÙÙ ÙÙ°ÙÙŰ§Ù Ù°ÙÙ Ű§ŰšÙÙÙ ÙÙÙÙ Ű”Ù۱ÙŰÙۧ ÙÙÙŰčÙÙÙÙÙÙÙ Ű§ÙŰšÙÙÙŰșÙ Ű§ÙÙۧÙŰłÙŰšÙۧۚÙÛ ÙŁÙŠ ۧÙŰłÙŰšÙŰ§ŰšÙ Ű§ÙŰłÙÙÙ Ù°ÙÙ°ŰȘÙ ÙÙۧÙŰ·ÙÙÙÙŰčÙ Ű§ÙÙÙ°ÙÙ Ű§ÙÙÙ°ÙÙ Ù ÙÙÙŰłÙ°Ù ÙÙۧÙÙÙÙÙÙ ÙÙۧÙŰžÙÙÙÙÙÙ ÙÙۧ۰ÙŰšÙۧ ÛÙÙÙÙŰ°Ù°ÙÙÙÙ ŰČÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙ۱ÙŰčÙÙÙÙÙ ŰłÙÙÙÛ€ŰĄÙ ŰčÙÙ ÙÙÙÙÙ ÙÙŰ”ÙŰŻÙÙ ŰčÙÙÙ Ű§ÙŰłÙÙŰšÙÙÙÙÙ ÛÙÙÙ Ùۧ ÙÙÙÙŰŻÙ ÙÙ۱ÙŰčÙÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙۧ ÙÙÙÙ ŰȘÙŰšÙŰ§ŰšÙ àŁ ÙŁÙ§
Dan Firâaun berkata, âWahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.â Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Firâaun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Firâaun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (al-Mu’min/40: 36-37)
Ayat 39
Tafsir Surah Al-Qasas ayat 35-40 khususnya pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Firâaun dan tentaranya sangat sombong dan takabur. Firâaun menganggap dan mengaku hanya dialah penguasa yang mutlak di muka bumi. Siapa saja yang menantangnya dianggap salah dan durhaka. Kalau dikatakan kepadanya ada Tuhan yang lebih besar daripada kekuasaannya, Firâaun menjadi kalap, dan tak dapat lagi menguasai dirinya, seperti memerintahkan dengan segera membuat suatu hal yang mustahil, seperti membuat bangunan setinggi langit agar dia dapat berhadapan dengan Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa.
Firâaun dan kaumnya mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tidak akan diperhitungkan apa yang telah dikerjakan selama hidup di dunia, dan tidak ada yang akan menyiksa bila mereka melakukan kezaliman dan kekejaman. Memang demikianlah kepercayaan mereka karena pengaruh kesombongan dan ketakaburan itu. Mereka membuat piramida yang besar untuk kuburan mereka yang diisi dengan perabot yang lengkap dan serba mewah serta pakaian dan perhiasan yang indah-indah, untuk dinikmati sesudah mati.
Karena kesombongan dan ketakaburan itu, Allah mengazab mereka di dunia dan akhirat. Di dunia Firâaun ditenggelamkan bersama tentaranya ke dalam lautan, dan di akhirat mereka akan disiksa dalam neraka.
Demikianlah nasib yang telah ditetapkan Allah bagi orang yang takabur dan sombong, berbuat zalim dan aniaya terhadap Allah dan sesamanya. Sebenarnya kelanjutan kisah Firâaun bisa ditemukan pada surah-surah lain dalam Al-Qur’an seperti Surah al-Aâraf, Yunus, Taha, dan sebagainya.
Akan tetapi, Allah hendak menegaskan di sini bagaimana nasib orang-orang yang durhaka yang tidak lagi mempergunakan akal dan pikirannya sehingga tertutuplah hatinya untuk menerima kebenaran dari mana pun datangnya, sehingga dia menjadi sombong dan takabur. Hal itu layak menjadi perhatian dan pelajaran bagi seluruh manusia.
(Tafsir Kemenag)
Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47

![Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam: Analisis Q.S. An-NisÄ [4]: 58 Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/03/Screenshot-2026-03-08-at-15.10.40-218x150.png)












![Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam: Analisis Q.S. An-NisÄ [4]: 58 Amanah Sebagai Fondasi Kepemimpinan Islam](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/03/Screenshot-2026-03-08-at-15.10.40-100x70.png)


