Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Dakwah Rasulullah itu Menyampaikan Kebenaran dengan Cara...

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Dakwah Rasulullah itu Menyampaikan Kebenaran dengan Cara yang Benar Pula

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk mengungkap apa yang bisa dicontoh dari dakwah Rasulullah. Karena beliau adalah teladan yang paling baik untuk kita contoh dalam menyikapi kehidupan. Allah Swt berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. ( QS. Al-Ahzab [33]:21)

Ada banyak hal yang bisa kita contoh dari kehidupan Rasulullah, salah satunya adalah bagaimana sikap beliau dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran di tengah-tengah keburukan akhlak umat manusia. Dakwah untuk perubahan yang beliau lakukan di masyarakat jauh dari unsur-unsur kekerasan. Hal ini banyak diungkap dalam sejarah-sejarah Islam.

Dalam suatu riwayat pernah diceritakan, ketika Rasulullah Saw duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datang seorang pendeta yang bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos shaf para sahabat. Sesampainya di depan ia langsung menarik kerah baju Rasulullah dengan keras lantas disusul dengan kata-kata kasar menuntut Rasulullah untuk membayar hutang beliau.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Seketika Umar bin Khattab langsung berdiri menghunus pedang. Melihat sikap Umar yang sudah marah, Rasulullah menegur seraya berkata “bukan dengan perilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih hutang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar hutang dengan baik.”

Mendengar perkataan Rasulullah tersebut, pendeta Yahudi itu berkata, ‘Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih hutang. Aku sengaja datang untuk menguji Akhlakmu. Aku telah membaca sifat-sifatmu dalam kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh karena itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang muslim yang miskin”.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana kelembutan sikap Nabi ketika menghadapi kekerasan sikap orang Yahudi, sehingga hatinya tersentuh dan mengakui kebenaran Islam. Seperti inilah contoh dakwah Rasulullah yang seharusnya kita terapkan di zaman milenial, yakni menyerukan kebenaran tidak harus dengan menggunakan kata-kata kasar. Bahkan jika kita perhatikan kisah dalam Al-Quran, kepada seorang Fir’aun pun Allah Swt menyeru kepada Nabi Musa dan Nabi Harun a.s untuk menghadapinya dengan kata-kata dan ucapan yang lemah lembut. Allah Swt berfirman,

اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. (QS. Taha:43-44)

Baca Juga: Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

Sikap ini diajarkan pula oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, seperti dalam firman-Nya

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)

Kedua ayat di atas menerangkan bagaimana sikap seorang pemimpin ketika melihat masyarakatnya melakukan suatu kesalahan. Di sisi lain juga merespon bagaimana seharusnya masyarakat bersikap ketika melihat seorang pemimpin melakukan kesalahan. Itulah dakwah Rasulullah.

Contoh lain yaitu dalam menyuarakan aspirasi atau kritikan kepada pemerintah, misal mahasiswa Indonesia yang dikenal dengan aksi demo. Aksi demonstrasi di Indonesia sering berujung dengan tindakan kekerasan antara aparat keamanan dan mahasiswa saling pukul memukul, bahkan sampai merenggut nyawa.

Padahal, aksi demo sebenarnya dilakukan untuk mengkritik kesalahan yang dibuat dalam aturan pemerintah untuk kemudian dapat dikoreksi demi kemaslahatan masyarakat luas. Namun, karena sikap  kasar, permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik  menjadi tambah pelik dan menyebabkan pertengkaran antara kedua belah pihak.

Baca Juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

Oleh karena itu, dari pribadi Rasulullah kita bisa meniru bahwa kesalahan yang diperbuat tidak harus disikapi dengan kekerasan. Sebaliknya, Rasulullah mengajak orang yang melakukan kesalahan  dengan bermusyawarah, dan merundingkan jalan keluar dari masalah itu dengan lemah lembut. Seperti demikian itulah dakwah Rasulullah. Jika sikap seperti ini dapat kita contoh, bukan tidak mungkin kehidupan dalam konteks sosial Indonesia yang sangat beragam dapat hidup berdampingan dengan aman.

Persoalan yang muncul adalah tidak semua orang mampu mencontoh sikap dan dakwah Rasulullah. Kebanyakan dari mereka yang mengaku  menjalankan sunnah beliau, pun masih juga menyampaikan dakwah kebenaran dengan cara yang kasar. Hal ini tentu sudah bertolak belakang dengan bagaimana sikap Rasulullah seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran.

Dan pada kesimpulannya, kita bisa menentukan sendiri cara yang akan ditempuh dalam berdakwah dan menyelesaikan masalah, bersikap keras dan tegang, atau lembut dan tenang. Tentunya sebagai pribadi yang terpelajar, kita tahu mana yang terbaik.

Wallahu A’lam

Harfin
Mahasiswa Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, aktif di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...