Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Tafsir Tarbawi: Inilah Tujuan Pendidikan Islam

Tafsir Tarbawi: Inilah Tujuan Pendidikan Islam

Salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan Islam adalah tujuannya. Kita tahu bahwa pendidikan Islam hari-hari ini mengalami dentuman keras akibat pandemi Covid-19. Pembelajaran daring pun terpaksa dilakukan agar transfer of knowledge kepada peserta didik tetap berjalan optimal. Padahal, ini bukan karakteristik dari pendidikan Islam. Sebab pendidikan Islam mengandaikan satu pertemuan antara guru dan murid sehingga keduanya memiliki ketersambungan (sanad) ilmu. Sungguh pun demikian, mari kita simak firman Allah dalam Q.S. Taha [20]: 2-4,

مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ اِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۙ تَنْزِيْلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْاَرْضَ وَالسَّمٰوٰتِ الْعُلٰى ۗ اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi” (Q.S. Taha [20]: 2-4)

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Belajar Semangat Menuntut Ilmu dari Nabi Musa AS

Tafsir surah Taha ayat 2-5

At-Tabary dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini dengan mengutip riwayat sebagai berikut; kami telah mengabarkan kepada Ibnu Wahab dan Ibnu Zaid bahwa yang dimaksud dengan ma anzalna ‘alaikal qur’ana litasyqa ialah bahwa Allah swt telah menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw beserta sahabat dan pengikutnya agar melainkan sebagai tadzkirah (peringatan) bagi orang yang takut (bertakwa) kepada Allah swt.

Lebih dari itu, para ulama Arab berbeda pendapat terkait penisbatan kata “tadzkirah”. Ulama bahasa dari Basrah berpendapat bahwa tadzkirah merupakan badal dari kata litasyqa, sehingga bermakna tidakkah Kami turunkan Al-Quran melainkan sebagai tadzkirah (peringatan). Berbeda dengan Ulama Basrah, Ulama bahasa Kufah menafsirkan lebih menafsirkan litasyqa ketimbang tadzkirah, dengan tiga term penafsiran, yaitu (1) al-jahd (mengingkari, mendustakan), (2) al-tahqiq (memeriksa, menguji, mempertanyakan), akan tetapi yang tepat adalah takrir (penguatan).

Di samping itu, sebagian ulama memaknainya dengan ‘tidakkah kami menurunkan Al-Quran kepadamu melainkan sebagai peringatan bagi orang yang khusyu’ (bertakwa), bukan untuk kesengsaraan, menderita, dst (li tasyqa)’.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Debat Kompetitif, Metode Efektif dalam Pembelajaran

Senada dengan at-Tabary, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa asbabun nuzul ayat ini yakni Juwaibir telah meriwayatkan dari al-Dhahhak bahwa ketika Allah swt menurunkan Al-Quran ini kepada Nabi saw beserta sahabat dan pengikutnya tidak lain adalah bertujuan agar tidak menjadi susah, alias bahagia hidupnya. Maka turunlah ayat ini sebagai penegasan akan hal tersebut. Karena itu, menurut Ibnu Katsir, melainkan tujuan Al-Quran diturunkan sebagai rahmat sebagaimana lanjutan Surat Taha ayat 3.

Lebih jauh, Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir memaknai ayat 2-3 di atas, Sesungguhnya Allah swt tidak menginginkan risalah-Nya dan turunnya Al-Quran untuk menjadikan menderita atau susah. Makna susah di sini adalah tushibuhu al-masyaqqag wa yasyudduhu al-ta’b (tertimpa kesengsaraan dan keletihan yang berarti). Masih menurut Ibnu Asyur, melainkan Al-Quran diturunkan sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah swt. Dan makna takut ditujukan kepada orang-orang mukmin yang khusyu’ dan senantiasa berdzikir atau mengingat Al-Quran dalam kehidupannya.

Adapun dalam Tafsir Jalalain ditafsiri dengan Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu wahai Muhammad supaya engkau tidak letih dan payah dikarenakan apa yang engkau kerjalan setelah Al-Quran diturunkan, sehingga mengharuskan engkau mendirikan shalat sepanjang malam tanpa berhenti. Artinya, Nabi Muhammad diminta untuk mengistirahakan dirinya dan segala kegundahannya agar Rasul saw tetap bahagia dan Al-Quran menjadi rahmat untuknya.

Baca juga: Hari Guru Sedunia: Inilah 3 Artikel Serial Tafsir Tarbawi Tentang Guru dan Pendidik

Adapun Ibnu Asyur menafsirkan kata yakhsya dengan shihhah al-din (sehat agamanya). Yang  dimaksud sehat secara agamanya ialah kullu man yufakkiru linnajah fil ‘aqibah (setiap orang yang berpikir sebelum bertindak dan berkata agar selamat dari bencana atau akibat keburukan yang tidak tersadari)

Tujuan pendidikan Islam

Ayat di atas menunjukkan bahwa Al-Quran diturunkan bukan untuk membuat manusia menderita, melainkan rahmat dan kebahagiaan untuk seluruh umat manusia, tak terkecuali umat Islam. Sama halnya pendidikan dapat ditafsirkan dalam konteks ini, yaitu tujuan adanya pendidikan Islam adalah untuk mengoptimalkan potensi peserta didik agar menjadi pribadi yang shalih dan akram. Persoalannya, masih ditemui pendidikan Islam yang berbagai pengajarannya masih konservatif dan monoton apa adanya sehingga peserta didik menjadi bosan.

Jika demikian, tentu ini menyalahi tujuan diturunkannya Al-Quran bahwa Al-Quran – termasuk tujuan pendidikan Islam – diturunkan untuk memberi rahmat dan kebahagiaan bagi manusia. Kurikulum 2013 misalnya, paling tidak tujuan pendidikan Islam tergambar dalam empat kompetensi inti (KI), yaitu spiritual (KI-1), sosial (Ki-2), pengetahuan (KI-3) dan keterampilan (KI-4). Semua aspek itu bertujuan untuk mengimplementasikan pesan ayat di atas. Pendek kata, tujuan pendidikan Islam adalah mengasah ketajaman berpikir, bersikap, memperindah akhlak manusia, serta mampu mendekat kepada Allah swt dengan sedekat-dekat-Nya. Wallahu a’lam[]

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...