Beranda Tafsir Al Quran Tiga Makna Taqwa Yang Digali Imam al-Ghazali Dari Al-Qur’an

Tiga Makna Taqwa Yang Digali Imam al-Ghazali Dari Al-Qur’an

Setiap hari Jum’at sang khatib akan senantiasa meminta kita serta jama’ah jum’at lain, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah. Taqwa tersebut diwujudkan dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah, serta menjahui larangan-larangan-Nya. Namun jarang ada yang menerangkan secara langsung makna sebenarnya dari taqwa. Lalu apa sebenarnya makna takwa? Berikut penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai makna taqwa menurut Al-Qur’an.

Tiga Makna Taqwa Menurut Al-Qur’an

Imam Al-Ghazali di dalam kitab Minhajul ‘Abidin menerangkan panjang lebar mengenai makna serta berbagai hal terkait prilaku taqwa. Salah satu yang ia jelaskan adalah makna taqwa menurut Al-Qur’an. Menurut Imam Al-Ghazali, Al-Qur’an menggunakan kata taqwa untuk tiga makna (Minhajul Abidin Beserta Syarah Sirajuth Thalibin/1/344).

Pertama, taqwa yang bermakna takut serta tunduk. Makna ini dapat ditemukan di dalam firman Allah yang berbunyi:

وَاٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْٓا اَوَّلَ كَافِرٍۢ بِهٖ ۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۖوَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ ٤١

Berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan sebagai pembenar bagi apa yang ada pada kamu (Taurat) dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku (QS. Al-Baqarah [2]41).

Imam Ibn Katsir di dalam tafsirnya menyatakan, perintah untuk bertaqwa di ayat di atas bertujuan memberikan ancaman kepada kaum Bani Israil yang gemar menyembunyikan kebenaran, memperlihatkan kebalikannya, serta menyalahi perintah rasul. Perintah bertaqwa di ayat di atas adalah perintah untuk takut kepada Allah sehingga menjahui larangan Allah yang disebutkan sebelumnya (Tafsir Ibn Katsir/1/244).

Baca juga: Tafsir Surah Al-An’am Ayat 159: Benang Merah Fanatisme Agama Dulu dan Kini

Taqwa dengan makna yang sama disebutkan di dalam firman Allah yang berbunyi:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ࣖ ٢٨١

Waspadalah terhadap suatu hari (kiamat) yang padanya kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya dan mereka tidak dizalimi (QS. Al-Baqarah [2] 281).

Kedua, taqwa yang bermakna mentaati dan beribadah. Makna ini terdapat di dalam firman Allah yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali ‘Imran [3] 102).

Ibn Abbas di dalam tafsirnya yang berjudul Tanwirul Miqbas menyatakan, makna taqwa dalam ayat di atas adalah “taatilah Allah dengan sebenar-benarnya taat”. Imam Mujahid menyatakan, makna dari sebenar-benarnya taqwa adalah mentaati Allah dan tidak mendurhakainya, mengingat Allah serta tidak melalaikan-Nya, serta bersyukur pada Allah dan tidak mengkufuri-Nya (Sirajuth Thalibin/1/346).

Ketiga, taqwa yang bermakna membersihkan hati dari berbagai dosa. Taqwa dengan makna ini dapat ditemukan dalam firman Allah yang berbunyi:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ ٥٢

Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS. An-Nur [24] 52).

Baca juga: Mengenal Sosok Muhammad Irsyad, Mufasir Modernis Asal Madura

Imam Al-Ghazali menyatakan, di dalam ayat di atas, perintah untuk takut pada Allah serta taat kepada-Nya sudah disebutkan sebelum perintah bertaqwa. Maka taqwa disini bermakna selain dari takut serta taat. Kemudian Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makna taqwa di dalam ayat ini adalah membersihkan hati dari berbagai dosa.

Makna taqwa yang pertama dan kedua yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali mungkin pemaknaan kata taqwa yang sudah tidak asing lagi. Namun untuk pemaknaan yang ketiga, mungkin adalah makna yang masih dirasa asing. Namun melihat dasar ayat yang dipakai Imam Al-Ghazali untuk menguatkan pendapatnya, pendapat Imam Al-Ghazali tersebut cukup penting untuk dikaji. Wallahu a’lam bisshowab.

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Jalaluddin Rumi: seni mengatasi patah hati

Jalaluddin Rumi: Seni Mengatasi Patah Hati

0
Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar abad ke-13 dan juga seorang darwis yang namanya sangat terkenal bukan hanya di kalangan umat muslim, namun juga...