Membaca Tartil dan Urgensinya dalam Tadarus Al-Qur’an Ramadan

0
34
Membaca Tartil dan Urgensinya dalam Tadarus Al-Qur’an Ramadan

Kini kita kembali memasuki bulan Ramadan, berbagai penjuru kampung hingga kota, surau-surau dan masjid-masjid kembali semarak dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Budaya tadarus pun kembali hidup dan menjadi denyut spiritual masyarakat. Kendati demikian, praktik tadarus yang berlangsung sering kali lebih menekankan pada kuantitas bacaan, sehingga aspek pembacaan Al-Quran secara tartil justru kerap terabaikan.

Secara bahasa, kata ini berasal dari akar darasa (دَرَسَ) yang berarti “belajar”, lalu berubah ke pola tafā‘ala menjadi tadārasa (تدارس) yang menunjukkan makna timbal balik atau saling. Dalam prakteknya, tadarus adalah aktivitas membaca dan memahami Al-Quran secara bersama dan diulang-ulang (Aḥmad Mukhtār ʻUmar, Mu‘jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu‘āṣirah).

Baca juga: Menilik Akar Tradisi Tadarus Al-Quran dalam Al-Quran dan Hadis

Aktivitas ini tidak hanya terbatas pada pembacaan secara lisan, tetapi juga mencakup penyimak yang harus siaga mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Karena itu, tadarus bukan sekadar membaca, melainkan aktivitas kolektif yang melibatkan pengulangan, pemahaman, dan saling menyimak agar bacaan semakin kuat dan makna semakin mendalam.

Namun demikian, semangat tadarus yang begitu meriah kerap tidak diiringi dengan perhatian terhadap kualitas bacaan, khususnya dalam aspek tartil dan ketepatan tajwid. Padahal, Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya membaca secara perlahan, jelas, dan teratur sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Muzzammil [73] ayat 4:

وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ٤

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.”

Ayat ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar kuantitas atau kecepatan khatam, melainkan menghadirkan ketelitian dalam makhraj, hukum tajwid, serta penghayatan makna. Tanpa tartil, tadarus berisiko kehilangan ruhnya sebagai proses pembelajaran dan pendalaman, lalu berubah menjadi rutinitas seremonial yang miskin refleksi dan pemaknaan.

Secara bahasa, tartīl berarti menyusun dan melafalkan perkataan dengan baik, jelas, serta tidak tergesa-gesa. Dalam konteks bacaan, tartil dimaknai sebagai membaca dengan perlahan (tarassul), penuh kejelasan, dan tanpa sikap berlebihan (Ibn mandzur, lisan al-‘arab).

Baca juga: Inilah Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Tartil

Adapun dalam istilah ilmu tajwid, tartil adalah membaca Al-Qur’an dengan penuh ketenangan dan kehati-hatian, disertai perenungan makna serta penerapan kaidah tajwid secara tepat, seperti memberikan setiap huruf haknya dari segi makhraj dan sifat, memanjangkan yang harus dipanjangkan, memendekkan yang harus dipendekkan, serta menipiskan dan menebalkan huruf sesuai ketentuan (Jalal al-Din as-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an).

Oleh karena itu, semarak tadarus yang menghiasi masjid dan surau selama Ramadan seyogianya diiringi dengan kesadaran untuk memperbaiki kualitas bacaan. Ramadan memang mendorong umat Islam untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, tetapi peningkatan tersebut tidak semestinya berhenti pada aspek kuantitas semata, seperti target khatam atau banyaknya juz yang dibaca, melainkan juga harus menyentuh kualitas bacaan.

Membaca Al-Qur’an bukan hanya soal keberanian bersuara atau cepatnya menyelesaikan satu bagian, melainkan tentang ketepatan makhraj, penerapan tajwid dan kesungguhan hati dalam melafalkannya. Terlebih lagi bagi mereka yang menggunakan pengeras suara ketika tadarus, tanggung jawabnya menjadi lebih besar, karena bacaan tersebut didengar oleh banyak orang dan berpotensi menjadi contoh. Kesalahan yang terus-menerus diperdengarkan bukan saja mengurangi kekhusyukan, tetapi juga dapat menormalisasi kekeliruan dalam membaca Al-Qur’an.

Baca juga: Prinsip Dasar Ilmu Tajwid

Di sisi lain, para tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan para ustaz memiliki peran strategis dalam membimbing umat agar lebih memperhatikan kualitas bacaan Al-Qur’an. Program pelatihan tajwid, pembinaan rutin, dan pendampingan bagi jamaah perlu dihidupkan kembali sebagai bagian dari edukasi keagamaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, tadarus tidak hanya menjadi tradisi tahunan yang meriah, tetapi juga momentum peningkatan literasi Al-Qur’an secara serius dan terarah. Pada akhirnya, kemuliaan Ramadan akan semakin terasa apabila lantunan ayat-ayat suci tidak hanya banyak jumlahnya, tetapi juga benar bacaannya, tartil pelafalannya, serta mendalam penghayatannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini