Keberpihakan dan Standar Nilai dalam Tafsir Al-Kahfi Ayat 28

0
27

Di tengah dunia yang semakin menilai manusia dari apa yang terlihat, iman sering kali berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Penampilan, status sosial, pengakuan publik, dan citra keberhasilan menjadi ukuran yang diam-diam menentukan siapa yang dianggap layak diikuti dan siapa yang perlahan ditinggalkan. Ada saat ketika ukuran kemuliaan menjadi kabur. Manusia cenderung menoleh pada yang tampak kuat, terpandang, dan berpengaruh, sementara yang sederhana sering luput dari perhatian. Dalam situasi seperti itu, nilai spiritual tidak selalu menjadi pertimbangan utama.

Baca Juga: Peran Nabi Sebagai Agen Sosial (Bagian 2): Gaya Hidup Sederhana

Ayat ini menghadirkan perintah yang menyentuh wilayah paling dalam tentang menahan diri dan menjaga arah pandangan. Perintah itu tidak diarahkan kepada orang biasa, melainkan kepada Nabi Muhammad Saw. Ini menunjukkan bahwa persoalan orientasi nilai bukan sekadar problem masyarakat, tetapi juga bagian dari pendidikan ilahi dalam membangun keteguhan sikap. Yang diuji bukan hanya tindakan, melainkan kecenderungan hati. Melalui ayat ini, Alquran mempertemukan dua poros yang berlawanan yaitu dzikir dan hawa nafsu, ketulusan dan daya tarik dunia. Di antara keduanya, manusia diminta menentukan keberpihakan. Allah Swt berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)

Analisis Kosakata 

Dalam Ruh alMa’ani, Al-Alusi memberikan perhatian yang cukup mendalam pada pilihan lafaz dalam Al-Kahfi [18]: 28. Perintah wasbir nafsaka dipahami sebagai perintah untuk menahan dan mengikat jiwa agar tetap bersama orang-orang yang tulus beribadah. Objek kesabaran yang langsung diarahkan pada nafs menunjukkan bahwa yang dikendalikan bukan situasi luar, melainkan kecenderungan batin. Al-Alusi menyinggung bahwa kesabaran di sini adalah bentuk penguatan komitmen terhadap nilai, meskipun secara sosial mungkin tidak tampak menguntungkan.

Larangan wa la ta’du ‘ainaka ‘anhum juga tidak dipahami secara literal semata. Kata kerja yang berarti “melampaui” atau “melewati” ini, menurut Al-Alusi, mengandung isyarat agar pandangan yang menjadi pintu ketertarikan tidak boleh bergeser kepada gemerlapan dunia. Mata dalam konteks ini menjadi simbol awal dari perubahan arah hati.

Kalimat turidu zinata al-hayati ad-dunya menunjukkan bahwa yang diperingatkan bukanlah dunia itu sendiri, melainkan keinginan terhadap “perhiasannya”. Al-Alusi menegaskan bahwa zinah merujuk pada aspek lahiriah yang tampak indah, tetapi tidak selalu mencerminkan nilai hakiki. Maka, ayat ini berbicara tentang pengendalian kehendak sebelum ia berubah menjadi sikap dan keputusan.

Selanjutnya adalah deskripsi tentang orang yang diikuti aghfalna qalbahu ‘an dzikrina wattaba’a hawahu, ditekankan pada kondisi hati yang lalai. Pusat penyimpangan bukan pada status sosialnya, tetapi pada keterputusan dari dzikir dan dominasi hawa nafsu. Penutup ayat, wa kana amruhu furutha, menurut Al-Alusi kalimat ini mengandung makna melampaui batas atau tersia-sia, menggambarkan hidup yang kehilangan keseimbangan nilai. (Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azim wa al-Sab’ al-Mathani, Juz 15)

Baca Juga: Tren Mengemis di Media Sosial, Simak Penjelasan Mufasir Mengenai Fenomena Ini

Sabab Nuzul Ayat

Al-Kahfi [18]: 28 dijelaskan turun berkaitan dengan kedatangan ‘Uyainah bin Hisn al-Fazari kepada Nabi Saw sebelum ia masuk Islam. Saat itu Nabi sedang bersama para sahabat dari kalangan fakir, termasuk Salman, yang hidup sederhana dan mengenakan pakaian kasar. ‘Uyainah merasa terganggu dengan keadaan mereka dan menganggap keberadaan orang-orang miskin itu menghalangi dirinya dan para pembesar Quraisy untuk mengikuti Nabi. Ia kemudian mengusulkan agar Nabi menjauhkan mereka atau membuat majelis terpisah antara kaum elite dan kaum fakir.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ayat ini juga berkenaan dengan Ahl al-Suffah, yaitu ratusan sahabat fakir yang menetap di Masjid Nabawi dan menghabiskan waktu mereka untuk beribadah tanpa disibukkan oleh urusan dunia. Melalui ayat ini, Allah memerintahkan Nabi untuk tetap membersamai mereka dan tidak memalingkan pandangan kepada kemewahan dunia atau kepada orang-orang yang hatinya lalai dari zikir dan mengikuti hawa nafsu. (Al-Husayn bin Mas‘ud al-Baghawi, Ma‘alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, Juz 3)

Perspektif Tiga Tafsir 

Al-Qurtubi memahami ayat ini sebagai penegasan prinsip keadilan dan standar kemuliaan dalam Islam. Perintah bersabar bersama orang-orang yang berdzikir bukan sekadar ajakan sosial, tetapi pembentukan nilai bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status, kekayaan, atau penampilan, melainkan oleh kedekatan kepada Allah. Larangan memalingkan pandangan menunjukkan agar dakwah tidak bergeser demi “perhiasan dunia”, sedangkan peringatan agar tidak menaati orang yang lalai menegaskan bahwa sumber penyimpangan adalah penyakit hati, kesombongan dan hawa nafsu. Intinya, Islam menolak kompromi nilai demi pengakuan sosial. (Al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Juz 10, hlm. 22–24)

Dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azim, Ibn Katshir menekankan keutamaan majelis dzikir dan kemuliaan orang-orang yang mengingat Allah tanpa memandang latar sosialnya. Perintah “wasbir nafsaka” dipahami secara konkret sebagai duduk bersama ahli dzikir, baik fakir maupun kaya. Larangan berpaling dimaknai sebagai larangan mencari pengganti yang lebih terpandang secara duniawi, sementara peringatan agar tidak menaati orang lalai menunjukkan bahaya kehidupan yang dikuasai hawa nafsu dan kelalaian dari agama. (Ibn Katshir, Tafsir al-Qur’an al-’Azim, Juz 5, hlm. 163–165)

Adapun Az-Zamakhsyari melihat ayat ini sebagai pendidikan batin dan penguatan psikologis. Perintah bersabar dipahami sebagai upaya meneguhkan diri dari dorongan halus untuk mengikuti tuntutan elite. Ia menekankan bahwa yang menjadikan suatu kelompok mulia adalah kemurnian niat mereka yang menghendaki wajah Allah. Larangan memalingkan pandangan berarti mengendalikan kecenderungan batin terhadap daya tarik dunia, sedangkan kelalaian hati dipahami sebagai akibat pilihan sadar manusia dalam mengikuti hawa nafsu. Ayat ini, menurutnya, menegaskan tanggung jawab moral dan kemurnian arah dakwah. (Az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq Ghawamid al-Tanzil, Juz 2, hlm. 714–716)

Baca Juga: Relasi Antara Konsep Sabar dan Gaya Hidup Frugal Living

Relevansi dengan Realita Hari Ini

Apabila ayat ini ditelaah lebih mendalam, Al-Kahfi [18]: 28 sebenarnya tidak sedang mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh kita dekati. Allah sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu tentang bagaimana manusia menjaga arah hatinya ketika dunia menawarkan banyak alasan untuk berpaling. Perintah wasbir nafsaka menunjukkan bahwa masalah terbesar bukan selalu di luar diri, tetapi pada kecenderungan batin yang ingin diakui, ingin terlihat layak, dan ingin berada di sisi yang dianggap “lebih bernilai” oleh manusia. Dalam ayat ini, Allah seakan berkata bahwa kesetiaan pada nilai bukan soal keberanian melawan orang lain, tetapi keberanian menahan diri sendiri.

Larangan untuk tidak memalingkan pandangan juga memberi pemahaman baru bahwa iman bisa tergelincir bukan karena penolakan terang-terangan, melainkan karena ketertarikan yang perlahan. Dunia tidak datang sebagai musuh, tetapi sebagai sesuatu yang tampak pantas untuk diikuti. Allah tidak menyebut dunia sebagai sesuatu yang haram dipandang, namun memperingatkan agar pandangan itu tidak berubah menjadi arah hidup. Dengan kata lain, ayat ini mengajarkan bahwa kehancuran nilai sering kali dimulai bukan dari tindakan besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil dalam hati tentang siapa yang kita kagumi, siapa yang kita ikuti, dan apa yang kita jadikan ukuran keberhasilan.

Melalui Al-Kahfi [18]: 28, Allah tampak ingin membentuk manusia yang tidak mudah berpindah arah hanya karena dunia terlihat lebih mengilap. Al-Kahfi [18]: 28 bukan sekadar perintah untuk bertahan bersama orang-orang saleh, tetapi ajakan untuk membangun kesadaran bahwa kebenaran tidak selalu berada di tempat yang paling menarik perhatian. Bisa jadi, yang paling dekat dengan keridaan Allah justru hadir dalam kesederhanaan yang sering diabaikan. Maka ayat ini bukan hanya relevan untuk Rasulullah pada masanya, tetapi menjadi cermin bagi manusia hari ini bahwa menjaga iman terkadang berarti berani tidak berpaling, meski dunia menawarkan panggung yang lebih menjanjikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini