BerandaKhazanah Al-QuranDaluang, Pegon, dan Tradisi Tafsir: Telaah Manuskrip Tafsīr al-Jalālayn dari Kuningan

Daluang, Pegon, dan Tradisi Tafsir: Telaah Manuskrip Tafsīr al-Jalālayn dari Kuningan

Di tengah arus digital hari ini, manuskrip-manuskrip tua seakan mengingatkan bahwa tradisi tafsir di Nusantara pernah tumbuh akrab di ruang-ruang belajar pesantren. Salah satu contoh yang sangat berharga adalah manuskrip berkode DS 0012 00009 dalam katalog DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia), yang merupakan salinan dari Tafsīr al-Jalālayn karya Jalāl al-Dīn al-Maḥallī dan Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī.

Manuskrip ini tersimpan dalam koleksi pribadi Iim Abdurrohim di Kuningan, Jawa Barat, dan menjadi bagian dari upaya digitalisasi global untuk menyelamatkan warisan tekstual yang terancam punah. Naskah-naskah yang masih terjaga di tengah masyarakat bukan sekadar benda kuno, melainkan jejak hidup dari tradisi keilmuan Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad.


Deskripsi Fisik dan Kondisi Manuskrip

Gambar 1. Kondisi manuskrip Tafsīr al-Jalālayn yang mulai rusak

Dari sisi kodikologi, manuskrip DS 0012 00009 menyajikan sejumlah informasi yang sangat penting. Manuskrip ini ditulis di atas kertas daluang, yaitu media tulis tradisional yang terbuat dari kulit kayu pohon  saeh (Broussonetia papyrifera) yang telah lama digunakan di wilayah Jawa.

Pembuatan kertas tradisional daluang ini dilakukan dengan cara ditumbuk, diperam, dan dijemur di terik matahari; dilakukan dengan Teknik dan menggunakan peralatan yang sederhana. Hal ini mencerminkan konteks produksi lokal yang khas, menunjukkan bahwa manuskrip ini disalin di tanah Jawa, bukan diimpor dari Timur Tengah.

Secara fisik, manuskrip ini berukuran 27,5 × 19 cm, dengan blok teks berukuran 9,5 × 13 cm, dan terdiri dari 427 halaman. Dilengkapi dengan sampul (manuscript cover) dan penjilidan (binding), yang mengindikasikan bahwa ia diperlakukan sebagai sebuah kitab yang dimaksudkan untuk digunakan dan dirawat secara berkelanjutan.

Kondisi manuskrip ini dikategorikan sebagai buruk (poor), sebagaimana terlihat jelas dari foto digitalisasinya. Bagian tepi halaman mengalami kerusakan parah akibat faktor biologis dan waktu; beberapa halaman berlubang, robek, bahkan kehilangan sebagian teksnya.

Hal ini merupakan tantangan umum bagi manuskrip-manuskrip berbahan daluang yang disimpan dalam kondisi tropis lembab di Nusantara, di mana cuaca, serangga, dan kelembaban menjadi ancaman utama kelestarian.

Baca juga: Khazanah Manuskrip Pembelajaran Al-Qur’an di Jawa Barat

Isi dan Analisis Tekstual

Teks yang termuat dalam manuskrip ini adalah Tafsīr al-Jalālayn (تفسير الجلالين) salah satu kitab tafsir Al-Qur’an paling berpengaruh dan paling banyak digunakan di dunia Islam, khususnya di lingkungan pesantren sejak berabad-abad silam.

Kitab ini merupakan karya kolaboratif antara dua ulama besar: Jalāl al-Dīn al-Maḥallī (w. 864 H/1459 M) yang memulai penulisannya dari Q.S. al-Kahfi [18] hingga al-Nās [114] ditambah Q.S. al-Fātihah [1], dan kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (w. 911 H/1505 M)

Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (w. 911 H/1505 M) menyelesaikan bagian kitab Tafsīr al-Jalālayn  dari awal Q.S. al-Baqarah [2] hingga akhir Q.S. al-Isrā’ [17]. Nama “al-Jalālayn” sendiri berarti “dua Jalāl”, merujuk kepada kedua pengarangnya tersebut. Menariknya, manuskrip DS 0012 00009 ini hanya memuat bagian karya al-Suyūṭī, yaitu dari Q.S. al-Baqarah [2] hingga Q.S. al-Isrā’ [17].

Dalam muqaddimahnya, al-Suyūṭī secara eksplisit menyatakan bahwa karyanya merupakan tatimma (penyempurnaan) atas karya al-Maḥallī, sehingga struktur penyajiannya pun mengikuti metode gurunya. Ini menunjukkan kesatuan metodologis di antara keduanya, meskipun ditulis oleh tangan yang berbeda.

Baca juga: Manuscript Culture Naskah Jalalain MAJT 

Aspek Paleografi: Aksara dan Bahasa

Gambar 2. Penggunaan dua aksara dalam manuskrip Tafsīr al-Jalālayn

Salah satu aspek paling signifikan dari manuskrip ini adalah penggunaan dua sistem aksara sekaligus: aksara Arab untuk teks utama tafsir, dan aksara Pegon untuk catatan penjelasan. Aksara Pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa-bahasa Nusantara, khususnya Jawa dan Sunda.

Dalam konteks ini, bahasa yang digunakan untuk catatan antarbaris (interlinear) adalah bahasa Jawa seperti penggunaan kata لن (lan) yang berarti “dan” dalam bahasa Indonesia sementara teks utama berbahasa Arab.

Kehadiran catatan antarbaris dalam bahasa Jawa di setiap halaman merupakan indikator kuat tentang fungsi pedagogis manuskrip ini. Praktik ngalogat adalah ciri khas tradisi pembelajaran kitab kuning di pesantren. Ini menunjukkan bahwa manuskrip ini bukan sekadar objek simpanan, melainkan aktif digunakan dalam proses pembelajaran.

Gambar 3. Catatan marginal dalam manuskrip Tafsīr al-Jalālayn (004 verso)

Selain catatan antarbaris, beberapa halaman juga memuat catatan marginal artinya penyalin atau pembaca aktif memberikan tambahan komentar, penjelasan, atau referensi lain di bagian tepi halaman. Ini mencerminkan tradisi intelektual yang hidup, di mana pembaca tidak hanya menerima teks secara pasif, tetapi juga aktif berdialog dengannya secara tertulis.

Baca juga: Naskah-Naskah Mushaf Makna Antarbaris di Nusantara

Konteks Historis dan Penanggalan

Berdasarkan naskah yang terdigitalisasi oleh DREAMSEA, manuskrip ini diperkirakan disalin pada rentang abad ke-19 (1800–1900 M). Periode ini merupakan masa yang sangat dinamis dalam sejarah Islam di Jawa Barat: era di mana jaringan ulama antara Nusantara dan Haramain (Mekkah-Madinah) semakin intensif, pesantren-pesantren berkembang pesat, dan produksi manuskrip keagamaan dalam jumlah besar tengah berlangsung.

Kuningan, sebagai kota di Jawa Barat, memiliki tradisi Islam yang kuat dan panjang. Keberadaan manuskrip tafsir berkualitas seperti ini di koleksi pribadi seorang tokoh lokal mencerminkan kedalaman tradisi keilmuan Islam di kawasan ini yang kerap luput dari perhatian historiografi arus utama yang lebih banyak berfokus pada Jawa Tengah atau pusat-pusat keagamaan besar.

Penutup

Sebagai salah satu warisan intelektual Islam Nusantara, manuskrip Tafsīr al-Jalālayn DS 0012 00009 menunjukkan kuatnya tradisi keilmuan Islam di Jawa Barat, khususnya dalam lingkungan pesantren. Penggunaan kertas daluang, aksara Pegon, serta adanya catatan antarbaris dan marginal membuktikan bahwa manuskrip ini tidak hanya disimpan, tetapi juga aktif digunakan dalam proses pembelajaran.

Di sisi lain, kondisi fisiknya yang mulai rusak menunjukkan pentingnya upaya pelestarian dan digitalisasi manuskrip Nusantara. Dengan demikian, manuskrip ini bukan hanya bernilai sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai bukti hidup perkembangan tradisi tafsir dan literasi Islam di Nusantara. Wallahu a’lam.

Siti Rosyidah
Siti Rosyidah
Mahasiswi di Universitas Islam Darussalam Ciamis dengan minat kajian di bidang Ilmu Al-Qur’an.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Tafsīr at-Tanwīr, Turāṡ dan Pembaruan Muhammadiyah

Tafsīr at-Tanwīr, Turāṡ dan Pembaruan Muhammadiyah

0
Di tengah hiruk-pikuk wacana keislaman kontemporer, satu pertanyaan klasik terus berulang dengan wajah baru: bagaimana kita harus bersikap terhadap turāṡ, warisan intelektual Islam klasik?...