BerandaTafsir TematikTafsir EkologiMenjaga Laut dan Mutiara; Tadabbur Ekologis Q.S. Arrahmān: 22

Menjaga Laut dan Mutiara; Tadabbur Ekologis Q.S. Arrahmān: 22

Cara memahami Alquran hari ini sering bergerak di dua kutub yang saling berjauhan. Di satu sisi, ada pembacaan yang terlalu tekstual hingga ayat hanya dipahami sebagai bacaan ritual tanpa kaitan dengan realitas kehidupan. Di sisi lain, ada pula pembacaan yang terlalu memaksakan sains modern ke dalam Alquran, seakan seluruh ayat harus cocok dengan penemuan ilmiah terbaru. Akibatnya, Alquran kadang kehilangan fungsi utamanya sebagai kitab petunjuk yang menghidupkan kesadaran manusia terhadap diri, alam, dan Tuhan.

Padahal, Alquran tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan ibadah personal. Banyak ayat yang justru mengajak manusia memperhatikan alam sebagai tanda kebesaran Allah. Laut, langit, hujan, tumbuhan, hewan, hingga pergantian malam dan siang disebut berulang kali agar manusia berpikir dan merenung. Dalam konteks inilah, pembacaan multidisipliner menjadi penting bukan untuk memaksakan Alquran menjadi buku sains, melainkan agar pesan etik dan spiritualnya dapat berdialog dengan persoalan dunia modern.

Baca Juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 19-21: Fenomena Pertemuan Dua Lautan

Alquran dan Pesan Alam

Salah satu ayat yang menarik dibaca melalui pendekatan ini adalah firman Allah dalam Q.S. Ar-Rahmān [55]: 22.

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (Q.S. Ar-Rahmān [55]: 22)

Ayat ini berada dalam rangkaian panjang surah ar-Raḥmān yang menjelaskan berbagai nikmat Allah kepada manusia. Setelah menjelaskan tentang dua lautan yang bertemu, Alquran menyebut bahwa dari keduanya keluar lu’lu’ dan marjān.

Mutiara dan Marjan dalam Penafsiran ‘Ulama

Dalam Tafsīr al-Baghawī  dijelaskan bahwa lu’lu’ merupakan mutiara besar, sedangkan marjān dipahami sebagai mutiara-mutiara kecil, meskipun terdapat pula pendapat lain yang memaknai marjān sebagai batu atau manik merah dari laut. Sementara itu, Tafsīr al-Wasīṭ menjelaskan bahwa mutiara dan marjān bukan sekadar benda mati, melainkan bagian dari kehidupan laut yang terbentuk melalui proses alamiah di dalam ekosistem laut.

Marjān digambarkan sebagai organisme laut yang membentuk gugusan karang dengan warna-warna yang indah dan beragam. Dengan demikian, ayat ini tidak hanya menghadirkan gambaran tentang perhiasan bernilai tinggi, tetapi juga mengarahkan perhatian manusia pada kekayaan dan kompleksitas kehidupan laut yang menjadi bagian dari nikmat Allah Swt.

Menariknya, ayat ini tidak menggunakan bentuk kata kerja lampau, tetapi memakai kata يَخْرُجُ (yakhruju) yang berasal dari akar kata خ ر ج (kharaja). Dalam Lisān al-‘Arab karya Ibn Manẓūr dijelaskan bahwa al-khurūj berarti “keluar” dan merupakan lawan dari “masuk” (naqīḍ al-dukhūl) (Ibn Manẓūr, Lisān al-‘Arab, jilid 2, hlm. 249). Sementara itu, al-Rāghib al-Aṣfahānī dalam al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān menjelaskan bahwa kharaja bermakna “muncul atau keluar dari tempat dan keadaannya” (baraza min maqarrihi aw ḥālihi) (al-Aṣfahānī, al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, hlm. 278).

Karena berbentuk fi‘il muḍāri‘, kata yakhruju memberi kesan proses yang sedang dan terus berlangsung, bukan sesuatu yang selesai pada masa lampau. Laut dalam ayat ini seolah digambarkan bukan sebagai ruang mati yang hanya menyimpan mutiara dan marjan, tetapi sebagai ekosistem hidup yang terus memunculkan nikmat dari dalamnya. Dari titik inilah, ayat tersebut dapat dibaca sebagai isyarat ekologis bahwa keberlanjutan hasil laut sangat bergantung pada keberlangsungan dan kesehatan ekosistemnya sendiri.

Ketika ayat dibaca berdampingan dengan ilmu kelautan modern, mutiara dan marjan ternyata bukan sekadar simbol keindahan. Mutiara dihasilkan oleh tiram laut yang hidup pada lingkungan tertentu dengan kondisi air yang relatif stabil dan bersih. Sementara marjān ketika dibaca sebagai karang yang indah ia adalah organisme hidup yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, pencemaran, dan kerusakan ekosistem laut.

Baca Juga: Q.S Arrum (41): Makna Laallahum Yarjiūn sebagai Panggilan Taubat Ekologis

Lembaga kelautan seperti NOAA, Coral reef ecosystems menjelaskan bahwa terumbu karang menopang sebagian besar kehidupan laut dunia. Banyak spesies ikan berkembang dan berlindung di kawasan karang. Namun hari ini, jika kerusakan terumbu karang terus meningkat akibat polusi, penangkapan ikan berlebih, hingga perubahan iklim. Laut yang dahulu menjadi sumber kehidupan perlahan kehilangan kemampuannya untuk “terus memberi”.

Dalam konteks ini, kata yakhruju menjadi terasa sangat relevan. Laut memang dapat terus menghasilkan kekayaan, tetapi keberlanjutan itu tidak berdiri sendiri. Ada tanggung jawab manusia di dalamnya. Jika manusia merusak ekosistem laut, maka proses “keluar”-nya mutiara dan marjan juga ikut terancam.

Tentu perlu ditegaskan bahwa ayat ini bukan ayat sains dalam pengertian teknis. Alquran tidak sedang menjelaskan teori konservasi laut secara ilmiah. Karena itu, pembacaan seperti ini lebih tepat dipahami sebagai tadabbur kontekstual, bukan klaim tafsir ilmiah yang mutlak. Ayat dijadikan titik refleksi untuk membangun kesadaran etik terhadap alam.

Baca Juga: Mensyukuri Eksistensi Laut Bagi Umat Manusia

Hari ini, persoalan lingkungan bukan lagi isu kecil. Laut dipenuhi sampah plastik, terumbu karang rusak, dan eksploitasi sumber daya laut terus meningkat. Ironisnya, manusia tetap menikmati hasil laut sambil perlahan menghancurkan tempat lahirnya hasil tersebut. Dalam situasi seperti ini, Alquran dapat dibaca sebagai pengingat moral bahwa nikmat Allah tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab manusia untuk menjaganya.

Barangkali, mendustakan nikmat Tuhan bukan hanya berarti mengingkari-Nya dengan lisan. Merusak sumber kehidupan sambil terus mengambil manfaat darinya juga dapat menjadi bentuk pengingkaran yang lain. Sebab syukur tidak cukup berhenti pada ucapan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata.

- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU