Penting untuk dicatat bahwasanya para ulama masih memperdebatkan apakah al-Zamakhshari benar-benar menyusun dua versi al-Kashshaf yang berbeda selama masa hidupnya. Perdebatan ini muncul ketika Badr al-Din al-Zarkashi (w. 794/1392) dalam karyanya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, tatkala membahas penafsiran al-Zamakhshari, ia sesekali menyebutkan, “al-Zamakhshari berkata dalam versi lama al-Kashshaf-nya” (qala al-Zamakhshari fi Kashshafihi al-Qadim), sembari secara bersamaan juga beberapa kali menggunakan istilah al-Kashshaf al-Jadid (versi baru) untuk merujuk karya tafsir Al-Qur’an al-Zamakhshari tersebut.
Secara kuantitatif, al-Zarkashi menggunakan nomenklatur “al-Kashshaf al-Qadim” (versi lama/asli) sebanyak 9 kali dan “al-Kashshaf al-Jadid” (versi baru/revisi) sebanyak 151 kali. Pembedaan ini tidak disebutkan oleh sarjana-sarjana setelahnya, kecuali Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911/1505). Dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, ia menyebut term “al-Kashshaf al-Qadim” sebanyak dua kali. Namun penyebutan ini terindikasi atas keterpengaruhan al-Suyuti terhadap temuan al-Zarkashi sebelumnya.
Baca juga: Biografi Al-Zamakhsyari: Sang Kreator Kitab Tafsir Al-Kasysyaf
Menariknya, al-Tahir b. ‘Ashur (w. 1393/1973) dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir menceritakan sebuah kisah dari gurunya, al-‘Allamah al-Wazir Muhammad al-‘Aziz Bu‘atur (w. 1325/1907), mengenai proses penyusunan tafsir al-Kashshaf. Setelah menyelesaikan karya tersebut, konon al-Zamakhshari dengan sengaja meletakkan manuskrip atau draf tafsir al-Kashshaf di dekat Ka’bah selama musim haji untuk mengamati bagaimana para ulama Muslim menanggapi dan merespon karyanya tersebut.
Ia bahkan menantang secara terbuka kepada khalayak umum seraya mengatakan “barangsiapa yang ingin mendebat poin apa pun di dalam karya (tafsir al-Kashshaf), silahkan lakukan!” Namun, al-Zamakhshari pada akhirnya menahan diri untuk melayani dan berdebat dengan para pengkritiknya, karena mereka memprotes tantangan debatnya dan gagal membedakan antara tindakan jidal (berbantah-bantahan) yang dilarang selama proses ibadah haji dengan debat ilmiah mengenai ilmu pengetahuan. Beberapa narasi bahkan melaporkan bahwa akibat intensitas perselisihan inilah yang kemudian menyebabkan al-Zamakhshari membakar manuskrip atau draf awal dari al-Kashshaf.
Kalau kita membaca mukadimah al-Kashshaf, kita akan bisa memahami perdebatan ini secara lebih jelas. Dalam pengantarnya, al-Zamakhshari sendiri menyatakan bahwa selama ia mukim dua tahun di Mekkah, ia tidak menyusun tafsirnya dari nol; melainkan mendasarkannya pada sebuah draf kasar (al-sawad) yang telah ia siapkan sebelum kedatangannya di Mekkah. Disebutkan dengan jelas bahwa ia sebelumnya telah mendiktekan kepada lingkaran murid dan koleganya penjelasan mengenai fawatih al-suwar di awal surat-surat tertentu dan beberapa ayat dari surah al-Baqarah. Draf final, yang ia selesaikan pada tahun 528/1134, ia sebut sebagai salinan otograf (nuskhah al-asl al-ula) dari versi final al-Kashshaf yang diselesaikan selama di Mekkah (umm al-Kashshaf al-haramiyya).
Baca juga: Pertemuan Unik Najmuddin al-Nasafi dengan al-Zamakhsyari
Berbeda dengan draf sebelumnya, versi final al-Kashshaf dirancang lebih pendek daripada draf pertama yang didiktekan karena beberapa alasan. Ia mengadopsi pendekatan yang lebih ringkas dan padat untuk menghindari gaya penulisan dialogis dan pembahasan yang rinci (al-hiwariyyah al-tafsiliyyah) yang sebelumnya justru menyebabkan perdebatan yang luas. Ia merasa bahwa, di satu sisi, melanjutkan metode mendetail seperti itu akan memakan terlalu banyak waktu dan pada akhirnya tidak praktis, mengingat ia memulai proyek tersebut di usia enam puluhan; di sisi lain, ia didorong oleh ambisi untuk menyediakan tafsir seluruh ayat Al-Qur’an, sehingga tidak mungkin proyek tersebut akan cepat selesai jika masih menggunakan metode penulisan pada draf awal. Terakhir, ia juga merasa tertekan oleh ekspektasi lingkaran sarjana di sekitarnya yang menantikan penyelesaian karya tersebut secara cepat karena antusiasme yang begitu besar.
Andrew Lane dalam A Traditional Mu‘tazilite Qur’an Commentary: The Kashshaf of Jar Allah al-Zamakhshari (d. 538/1144) berargumen bahwa draf final versi Mekkah tahun 528 H dari al-Kashshaf perlu diotentikasi, karena ada spekulasi bahwa draf kasar (al-sawad) tersebut mungkin mengandung materi yang ia kecualikan dari versi final, atau sebaliknya, kekurangan materi yang kemudian ia masukkan. Namun demikian, otentikasi yang diberikan dalam catatan penutup gagal membendung penyebaran draf kasar tersebut, yang ternyata terlanjur beredar luas di antara para penyalin al-Kashshaf, sebagaimana dibuktikan oleh temuan al-Zarkashi.
Dhahabiyyah Buruwis dan ‘Abd al-‘Aziz Judi dalam al-Zamakshari bayna Kashshafayhi: Dirasah Muwazanah secara jelas menyatakan bahwa rujukan al-Zarkashi terhadap “al-Kashshaf al-Qadim” kemungkinan besar merujuk pada draf yang didiktekan oleh al-Zamakhshari sebelum tahun 528 H. Penegasan ini didukung oleh fakta bahwa dari sembilan contoh yang dikutip sebagai “al-Kashshaf al-Qadim”, mayoritas terdiri dari interpretasi surah al-Fatihah dan al-Baqarah. Selain itu, meskipun al-Zarkashi menyebutkan tafsir al-Zamakhshari pada ayat-ayat di luar kedua surah tersebut, contoh-contoh ini hanya berfungsi sebagai penjelasan munasabah (koneksi tematik) yang terkait dengan kedua surah awal tersebut. Wallahu a’lam.











