Dari Tragedi Menuju Refleksi: Membaca Ulang Surah Az-Zukhruf ayat 13-14

0
13
Dari Tragedi Menuju Refleksi: Membaca Ulang Surah Az-Zukhruf ayat 13-14
Dari Tragedi Menuju Refleksi: Membaca Ulang Surah Az-Zukhruf ayat 13-14

Beberapa hari yang lalu, publik dikejutkan dengan kabar duka berupa kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur. Peristiwa tersebut berawal dari taksi yang berhenti di perlintasan, hingga kemudian tertabrak kereta dan mengganggu jalur lainnya. Akibatnya, kereta Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line yang berisi gerbong wanita. Kejadian ini menyebabkan banyak korban jiwa serta meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah. Sebagai makhluk yang lemah, sudah sepantasnya kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, serta memohon perlindungan dan pertolongan, termasuk saat berkendara. Hal ini sejatinya telah diajarkan dalam Al-Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 13-14:

لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ اِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُوْلُوْا سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ ١٣ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ ١٤

“Agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, Maha Suci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya (13). Sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami” (14). 9Q.S. Az-Zukhruf [43]: 13-14).

Ayat tersebut selama ini dikenal sebagai doa berkendara, yakni dimulai dari potongan ayat (Subḥāna alladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa Innā ilā Rabbinā lamunqalibun).

Baca juga: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 86-89

Interpretasi Surah Az-Zukhruf ayat 13-14

Dalam terjemah ayat tersebut, digunakan diksi “menaiki punggungnya”, yang secara konteks kembali pada ayat sebelumnya, yakni

وَالَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الْفُلْكِ وَالْاَنْعَامِ مَا تَرْكَبُوْنَۙ

“(Dialah) yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan dan menjadikan kapal laut untukmu serta hewan ternak untuk kamu tunggangi.”(Q.S. Az-Zukhruf [43]: 12)

Menurut Ibn ‘Ashur dalam tafsirnya, dhamir pada frasa “punggungnya” tidak hanya merujuk pada hewan ternak (الْاَنْعَامِ), tetapi juga mencakup kapal (الْفُلْكِ). Hal ini merupakan bentuk perluasan makna (taghlib), sehingga maksudnya mencakup sarana transportasi baik hewan maupun kapal (Tafsir al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, hlm. 174).

Namun, meskipun ayat tersebut secara lahiriyah merujuk pada hewan ternak / kapal, sejalan dengan itu Buya Hamka menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa ketika al-Quran diturunkan, kendaraan yang dikenal hanyalah hewan tunggangan dan kapal. Seiring berkembangnya zaman, muncul berbagai bentuk transportasi modern seperti kapal api, kapal motor, kapal udara dan mobil. Hal ini juga serupa dengan kendaraan modern lainnya seperti kereta api. (Tafsir Al-Azhar, Jilid 9, hlm. 6539)

Hamka menegaskan bahwa semua kendaraan, baik yang bernyawa maupun buatan manusia, merupakan karunia Allah. Oleh karena itu, ketika seseorang telah duduk tenang di atasnya, ia tidak boleh lupa bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan. Maka di dalam ayat ini dianjurkan untuk mengucapkan tasbih sebagai bentuk pengakuan akan  kesucian dan kekuasaan-Nya.

Lebih jauh, Hamka juga mengingatkan bahwa hakikatnya kekuasaan atas kendaraan bukan berada pada penumpang, sopir, nahkoda, pilot ataupun yang lainnya. Semua berada di bawah kuasa Tuhan semata. Meskipun semua awas akan tugasnya, tetap ada kekuatan lain yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Tidak sedikit kejadian kendaraan mengalami kerusakan mendadak atau kecelakaan tanpa diduga. Dengan membaca tasbih tersebut, manusia sejatinya sedang menyerahkan diri kepada Allah, mengakui keterbatasannya, serta menyadari bahwa pada akhirnya ia akan kembali kepada-Nya.

Hal ini juga diperkuat oleh Quraisy Shihab dalam tafsirnya, Tafsir al-Misbah. Ia menjelaskan bahwa nikmat kendaraan merupakan sarana yang mengantarkan manusia mencapai tujuan serta membawa berbagai kebutuhan hidupnya. Kesadaran akan nikmat tersebut mendorong manusia untuk bersyukur. Selain itu, Quraish Shihab juga menekankan bahwa manusia hanyalah  khalifah di bumi yang dituntut untuk mengelola alam dengan bijak, sementara pada hakikatnya manusia tidak memiliki kemampuan untuk menundukkan alam. (Tafsir al-Mishbah, Jilid 12, hlm. 546-547).

Di sisi lain, Ibn ‘Ashur juga mengungkapkan bahwa ucapan tasbih dalam ayat tersebut ditutup dengan pengakuan bahwa manusia akan kembali kepada Allah. Bahkan, di dalamnya terdapat isyarat harapan: bahwa sebagaimana Allah mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematian, maka Allah pula yang mampu mengembalikan seorang musafir kepada keluarganya dengan selamat (Tafsir al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, hlm. 175).

Baca juga: Work-Life Balance di Era Digital: Pelajaran dari Surah Al-‘Asr

Refleksi atas Doa

Oleh karena itu, doa berkendara yang diajarkan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan lisan, tetapi mengandung kesadaran utuh akan nikmat, pengakuan atas keterbatasan manusia, serta keyakinan bahwa pada akhirnya manusia akan kembali kepada Allah.

Dengan demikian, peristiwa kecelakaan yang terjadi hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di balik setiap perjalanan, tugas manusia hanyalah berikhtiar, berhati-hati dan berserah diri kepada Allah dengan bertasbih, memuji dan bersyukur kepada-Nya. Pada akhirnya, segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah yang mengatur seluruh perjalanan hidup manusia, Wallahu A’lam. Teruntuk korban yang meninggal dunia, Lahumul Fatihah.

Baca juga: Tafsir Ayat Syifa: Menebar Keselamatan dan Mencegah Kegaduhan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini