Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ayat Syifa: Menebar Keselamatan dan Mencegah Kegaduhan

Tafsir Ayat Syifa: Menebar Keselamatan dan Mencegah Kegaduhan

Setiap manusia pasti mencari keselamatan dan tidak menginginkan kegaduhan. Keselamatan adalah ujung tombak tujuan kehidupan manusia. Di akhir doa, biasanya kita mendawamkan, “rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabban nar” (Ya Allah berikanlah keselamatan dan anugerahkanlah kebaikan kepada kami di dunia dan akhirat, serta jauhkanlah kami dari api neraka). Ini adalah puncak tertinggi dari doa manusia adalah memohon keselamatan, dan berikut ini ayat yang mengurai tentang memohon keselataman dan mencegah kegaduhan.

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan kegaduhan apalagi bencana atau musibah. Karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa syifa. Syifa di sini bermakna menebar keselamatan, kedamaian, persatuan, dan kemanaman serta mencegah kegaduhan sebagaimana disitir dalam firman-Nya di bawah ini,

قَاتِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَيْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِيْنَۙ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (Q.S. al-Taubah [9]: 14)

Baca juga: Pandangan Imam Al-Ghazaly terhadap Tafsir Isyari dalam Ihya Ulumuddin

Tafsir Surat at-Taubah Ayat 14

Penafsiran ini difokuskan pada redaksi wa yasyfi shudura qaumin mu’minina guna mengungkap makna syifa di dalamnya. Sebagaimana pembahasan terdahulu, syifa memiliki makna yang amat beragam. Syifa diartikan sebagai penyembuh bagi orang sakit baik sakit akal, jiwa, pola pikir hingga sakit fisik. Selain itu, syifa juga bermakna petunjuk bagi orang beriman dan penyembuh kebodohan, keraguan dan kebimbangan.

Konteks asbabun nuzul ayat di atas ialah peperangan antara kaum musyirikin dengan kaum mukmin. Tak pelak, Allah swt pun memerintahkan untuk jihad terhadap mereka (kaum musyrikin). Di satu sisi Allah swt menjadikan hina mereka (musyrikin), pada sisi yang lain Dia menghilangkan kegundahan yang menyelimuti orang mukmin akibat pengkhianatan kaum musyrikin sebagaimana disampaikan dalam Tafsir Kemenag.

Ikrimah mengatakan bahwa dalam satu riwayat, bahwa yang dimaksud qaumin mu’minin di atas adalah suku Khuza’ah sebagaimana dituturkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sementara, Ibnu Abbas berpendapat adalah Suku Yaman dan Saba’ yang telah masuk Islam di mana mereka pernah mendapat siksaan dari kaum musyirikin Mekah. Tafsiran Ibnu Abbas ini kemudian diamini oleh al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib,

وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ ,وقد ذكرنا أن خزاعة أسلموا، فأعانت قريش بني بكر عليهم حتى نكلوا بهم، فشفى الله صدورهم من بني بكر، ومن المعلوم أن من طال تأذيه من خصمه، ثم مكنه الله منه على أحسن الوجوه فإنه يعظم سروره به، ويصير ذلك سبباً لقوة النفس، وثبات العزيمة

“Sebagaimana disebutkan bahwa suku Khuza’ah mengirim utusan untuk sowan kepada Rasul saw perihal penderitaan mereka, maka Rasul saw menyampaikan syifa berupa salam dan kabar gembira guna menggembirakan hati mereka (Bani Bakr) dan menghilangkan kesedihannya. Allah swt menghinakan mereka (kaum musyirikin) dan menempatkan kaum mukmin dengan sangat baik, memberi kesabaran untuk menguatkan hati mereka dan semakin memperteguh keimanannya”

Hal ini senada juga disampaikan Al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf, bahwa yang dimaksud syifa ialah fa-aslamu (menyampaikan salam). Ia menambahkan, أبشروا فإن الفرج قريب (kabarkanlah berita gembira kepada orang mukmin bahwa keberuntungan sangatlah dekat baginya).

Baca juga: Pengertian Kata Tawaduk dan Konteksnya dalam Surah al-Furqan Ayat 63

Lebih jauh, al-Biqa’i dalam Nadzm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, lebih menitikberatkan pada penguatan teologis atau keimanan, yaitu rasikhina fil ‘ilm. Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan rasikhina dengan mengutip riwayat sebagai berikut,

ن أبـي الدرداء وأبـي أمامة، قالا: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم من الراسخ فـي العلـم؟ قال: ” مَنْ بَرَّتْ يَـمِينُهُ، وَصَدَقَ لِسَانُهُ، وَاسْتَقَامَ بِهِ قَلْبُهُ، وَعَفَّ بَطْنُهُ، فَذَلِكَ الرَّاسِخُ فِـي العِلْـمِ

Dari Abi Darda’ dan Abi Umamah, mereka berdua bertanya kepada Rasulullah saw perihal rasikhun fil ‘ilm? Lantas Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi sumpahnya, benar perkataannya, istiqamah hatinya dalam ketaatan dan memelihara syahwat perutnya dengan baik. Mereka itulah rasikhuna fil ‘ilmi”.

Tidak jauh berbeda, penafsiran bernuansa kebangsaan disitir Ibnu Atiyyah dalam Tafsir al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz, ia menafsirkan redaksi wa yasyfi shudura qaumin mu’minina dengan segala perkataan yang mempererat persatuan kaum mukminin sehingga mampu membentengi dari tipu daya muslihat kaum kafir. Itulah makna syifa bagi mereka.

Menebar Keselamatan dan Mencegah Kegaduhan

Secara tersirat ayat di atas sesungguhnya memerintahkan kepada umat Islam untuk senantiasa menebar keselamatan dan mencegah kegaduhan. Hal ini terlukiskan dari sabda Nabi saw, “Maka tebarkanlah salam (keselamatan) dan kabar gembira guna menentramkan hati mereka sehingga hilang kesedihannya”.

Keselamatan bagi manusia adalah keniscayaan. Bagaimana tidak, tanpa keselamatan dan keamanan, manusia tidak dapat melakukan aktifitasnya dengan baik. Namun di era kekinian utamanya ruang digital (medsos) kita, tampaknya persentase keselamatan dan keamanan anjlok dibanding kegaduhan. Hampir tiap hari kita selalu menemukan suatu informasi yang membuat kita was-was. Padahal Islam mencegah kegaduhan dan mengajarkan untuk menebarkan salam (keselamatan).

Baca juga: Tafsir Ahkam: Kebolehan Memakan Makanan Haram dalam Situasi Darurat

Karena itu, di era digital dan wabah Covid-19 seakan menjadi warning bagi kita semua agar gemar menebar keselamatan dibanding kegaduhan. Mau jadi apa generasi kita kelak jika para pendahulunya mewariskan kegaduhan ketimbang keselamatan. Makna keselamatan tentu dapat dikontekstualisasi dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula dengan kegaduhan. Semakin banyak masyarakat kita menebar keselamatan, makin aman dan tentram bangsa Indonesia. Namun sebaliknya, semakin gencar menabur kegaduhan, memprovokasi, melontarkan hoax dan bibit-bibit perpecahan, maka tunggulah kehancurannya.

‘Ala kulli hal, semoga bangsa Indonesia senantiasa menjadi suri tauladan dalam hal menebar keselamatan dan meminimalisir kegaduhan, serta dalam naungan ridha dan rahmat-Nya. Aamiin. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...