Media sosial menjadi ruang kompetisi tak resmi, tempat pencapaian orang lain terasa sebagai tuntutan bagi diri sendiri. Akibatnya, tidak sedikit Gen-Z yang merasa tertinggal, gagal, atau salah jalan, padahal mereka baru memulai hidup. Identitas diri akhirnya dibangun bukan dari proses mengenal diri, melainkan dari perbandingan tanpa henti. Mereka berada di kondisi benturan antara tuntutan sosial yang terlalu cepat dan proses pencarian jati diri yang memang membutuhkan waktu.
Gen-Z, yakni mereka yang lahir pada tahun 1997-2012, adalah generasi yang tumbuh sepenuhnya bersama internet. Mereka mengenal dunia dari layar smartphone yang setiap hari digenggam. Data Alvara Research Center (2024) menunjukkan penetrasi internet pada Gen-Z mencapai 98,6%. Durasi akses sebagian besar antara 4-10 jam per hari.
Pola penggunaan yang intens ini berkelindan dengan kerentanan psikologis. Wenny Yuniaris menyebut bahwa sekitar 70% Gen-Z sering membandingkan hidup mereka dengan orang lain secara online. Hasanuddin Ali dari Alvara Research Center (2025) menemukan bahwa tingkat stres Gen-Z lebih tinggi, terutama terkait masa depan karier, beban pendidikan dan ekspektasi sosial. Kehidupan digital yang serba cepat dan penuh tekanan sosial turut memperparah kondisi ini, dengan fenomena FOMO (Fear Of Missing Out) dan perbandingan sosial di media sosial menjadi pemicu utama.
Baca juga: Self-Love Perspektif Islam: Antara Narsis dan Bersyukur
Perbandingan Sosial yang Mengaburkan Kejelasan Identitas
Media sosial memperlihatkan potongan hidup orang lain yang tampak terarah. Banyak orang terlihat sudah menemukan jalannya. Namun, bagi seseorang yang masih mencari identitas diri, paparan ini dapat mendatangkan rasa tidak percaya diri dan perasaan cemas.
Perbandingan sosial membuat seseorang merasa pilihan hidupnya tidak cukup jelas. Akibatnya, banyak orang kemudian berusaha menyesuaikan diri dengan gambaran ideal media sosial, bukan dari kebutuhan personal dirinya. Hal ini yang kemudian mengaburkan proses pencarian diri yang seharusnya unik dan personal.
Esensi Manusia dalam Al-Quran
Manusia dalam Al-Quran disebut dengan beberapa istilah; basyar, al-insan, an-nas dan bani adam. Dalam penyebutannya dengan istilah basyar, al-insan, dan an-nas, Al-Quran memiliki makna dan maksud yang signifikan di antara ketiga istilah ini.
Kiai Muhammad Tolhah Hasan dalam buku Dinamika Kehidupan Religius memaparkan panjang tentang konsep ini.
Basyar disebut sebanyak 35 kali untuk merepresentasikan manusia sebagai makhluk biologis. Kisah kasmaran Zulaikha kepada Nabi Yusuf dengan ucapannya yang diabadikan oleh Al-Quran:
حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ
“Maha suci Allah, ini bukan basyar, melainkan malaikat yang mulia,” (Q.S yusuf: 31),
Ayat ini menunjukkan bagaimana konteks ayat tidak memandang Nabi Yusuf sebagai sosok nabi dengan moralitas dan intelektualitasnya, tetapi dari fisik dan perawakannya yang tampan.
Sedangkan kata al-insan disebut sebanyak 65 kali dalam Al-Quran. Kata ini menekankan kapasitas manusia sebagai makhluk berpikir, pembawa amanah (khalifah), dan makhluk yang bertanggung jawab atas tindakannya.
Kata an-nas merujuk pada manusia sebagai makhluk sosial, dan paling banyak disebut Al-Quran, yakni sebanyak 240 kali. Misalnya ayat berikut:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti”. (Q.S Al-Hujurat: 13).
Baca juga: Menghadapi “Zulaikha Virtual” dengan Amalan Nabi Yusuf
Self Love dan Perspektif Surah Al-Luqman Ayat 12
Perasaan tertinggal, atau gagal lahir dari tidak ketidakpuasan terhadap diri sendiri yang muncul karena tidak terpenuhinya ideal-ideal hidup. Sedangkan ideal-ideal hidup terbangun dari apa yang dilihat pada diri orang lain. Perbandingan sosial pun tak henti hentinya mendikte diri sendiri. Karena melihat orang lain begitu sukses, begitu hebat disertai perasaan rendah diri, muncul-lah rasa tidak senang terhadap diri sendiri.
Dalam konteks ini konsep “self love” (cinta diri) menjadi relevan sebagai kesadaran untuk pertahanan mental. Fahruddin Faiz Pengasuh Ngaji Filsafat, dalam bukunya Menjaga Kewarasan menjelaskan, self love adalah kebiasaan untuk menerima diri, untuk puas terhadap diri sendiri, dan untuk bangga terhadap diri sendiri.
Beliau juga memaparkan gagasan self love dari Lao Tzu, seorang filosof Tiongkok. Dalam perkataanya “menjadi orang yang sepenuhnya alami itu sangat penting, dan mengasihani diri sendiri bukanlah kesombongan”. Lao Tzu mengajarkan bahwa kita tidak harus menjadi seperti orang lain; kita harus menjadi diri sendiri yang autentik, serta perlu mencintai dan bangga terhadap diri sendiri.
Self love bisa diwujudkan dengan rasa syukur. Inilah yang menjadi titik temu antara self love dengan surah Al-Luqman ayat 12 tentang perintah bersyukur.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ، وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ، وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S Al-Luqman: 12)
Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa hikmah yang dianugerahkan kepada Luqman bukan bersumber dari wahyu, melainkan dari kebijaksanaan memadukan ilmu dan amal—ilmu yang didukung amal, dan amal benar yang didukung ilmu. Atas anugerah inilah Luqman diperintahkan bersyukur. (Shihab, 2021).
Ayat ini berpesan: bersyukurlah kepada Allah, sadari bahwa apa pun yang kita miliki adalah anugerah-Nya. Ketika kita bersyukur, kita menerima diri, puas terhadap hidup, dan mencintai hidup yang dijalani. Man yasykur fainnama yasykuru linafsih.
Baca juga: Mental Illness dalam Kajian Semantik Alquran
Hubungan Hakikat Manusia dengan Self Love
Dari pemaparan tentang esensi manusia dalam Al-Quran, setidaknya dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk biologis, makhluk berakal, makhluk pembawa amanah (khalifah), makhluk yang bertanggung jawab atas yang diperbuat, dan makhluk sosial. Jika dilacak lebih jauh, secara fitrah manusia adalah makhluk, mukarram, dan mukallaf.
Status manusia sebagai makhluk berhubungan dengan self love sebagai bagian dari kesadaran diri. Sadar bahwa diri ini hanyalah ciptaan Tuhan, tidak hadir dengan sendirinya, dan tidak sempurna.
Status sebagai mukarram (makhluk yang dimuliakan, karena memiliki kelebihan berupa akal, amanah, dan kelebihan lain yang tidak dimiliki ciptaan Allah lainnya) berhubungan dengan self love sebagai bagian dari kebanggaan terhadap diri sendiri. Bangga terhadap diri yang berdasar pada martabat kemanusiaan yang diberikan Tuhan.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh Kami muliakan keturunan Adam.”
Status manusia sebagai mukallaf (pembawa amanah, memiliki tanggung jawab, dan makhluk sosial) berhubungan dengan self love sebagai bagian dari kepercayaan terhadap diri sendiri.
Tiga status ini—makhluq, mukarram, mukallaf—menunjukkan bahwa fitrah manusia dalam Al-Qur’an sudah memuat seluruh elemen yang dicari Gen-Z hari ini lewat validasi media sosial: kesadaran diri, kebanggaan diri, dan kepercayaan diri. Ini yang dimaksud penulis sebagai self love Qurani. Bagaimana konsep self love yang dikenalkan Fahruddin Faiz tersebut terintegrasikan pada apa yang dibawa oleh Al-Qur’an.












