Beranda Tafsir Tematik Inilah Enam Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Inilah Enam Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Kompetensi kepribadian merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik. Kompetensi kepribadian ini telah dilukiskan oleh firman-Nya dalam surat an-Nahl ayat 90,

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. an-Nahl [16]: 90)

Tafsir Surat an-Nahl Ayat 90

Abu Ya’la dalam kitab Ma’rifatus Sahabah menjelaskan asbabun nuzul ayat sebagaimana diceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Fath al-Hambali, Yahya bin Muhammad Maula (pelayan) Bani Hasyim. Kemudian al-Hasan bin Daud al-Munkadiri, Umar bin Ali al-Maqdami, Ali bin Abdul Malik bin Umair, dari ayahnya yang mengatakan bahwa, Aksam bin Saifi tiba di tempat Nabi saw biasa keluar.

Maka dia bermaksud mendatangi dan menemui langsung Nabi saw, tetapi kaumnya tidak memperkenankannya. Mereka berkata, “Engkau adalah pemimpin kami, tidaklah pantas bila engkau datang sendiri menghadap kepadanya.” Aksam bin Saifi berkata, “kalau begitu, carilah seseorang yang menjadi perantara utnuk menyampaikan dariku dan seseorang perantara untuk menyampaikan darinya.”

Maka ditugaskanlah dua orang laki-laki, keduanya datang menghadap Nabi saw, dan berkata, “kami berdua adalah utusan Aksam bin Saifi, dia ingin bertanya kepadamu, siapakah kamu dan apakah kedudukanmu?”.

Lantas Nabi saw bersabda, “Aku adalah Muhammad bin Abdullah, adapun kedudukanku adalah Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (utusan Allah).” Kemudian Nabi saw membacakan ayat ini (Q.S. al-Nahl [16]: 90), hingga akhir ayat.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pendidikan Islam

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini berisi perintah untuk berlaku adil yakni bersikap tengah-tengah dan seimbang. Dan Allah swt memerintahkan untuk berbuat kebajikan, seperti yang disebutkan dalam ayat yang lain Q.S. as-Syura [42]: 40 dan Q.S. al-Maidah [5]: 45.

Mufassir kenamaan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib merincikan bahwa ayat tersebut mengandung enam kompetensi kepribadian yang harus dimiliki pendidik,

Berikut 6 Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Berbuat adil (al-‘adl)

Kita diperintahkan untuk bersikap moderat dalam segala hal, baik ideologi maupun tindaka. Al-Baghawy dalam Ma’alim al-Tanzil mengartikan kata al-‘adl dengan al-inshaf (bersikap tengah-tengah), tidak condong ke kanan maupun kiri. Tidak boleh terlalu sempit (al-ifrath), juga dilarang berlebihan (al-tafrith), sedang-sedang saja.

Berbuat baik (Ihsan)

Jika adil merujuk pada makna berprilaku sesuai dengan kadar yang harus dipenuhi dalam kebaikan, maka al-ihsan posisinya adalah menunaikan kewajiban di atas kewajiban. Maksudnya meskipun engkau disakiti oleh seseorang, engkau tetap berbuat baik kepadanya, itulah ihsan.

Muhammad ‘Ali as-Shabuny dalam Shafwah at-Tafasir bahkan mengatakan ihsan itu harus kepada semua orang, tanpa kecuali. Adapun Ibnu Katsir memandang ihsan apabila hatinya lebih baik daripada lahiriahnya.

Al-Baghawy misalnya ihsan didefnisikan dengan ikhlas menjalankan ketauhidan kepadanya. Makna ini sejalan dengan sabda Nabi saw, “al-ihsan an ta’budallah ka-annaka tarahu (beribadah kepada Allah seakan-akan Allah melihatnya)”. Sementara Muqatil memaknai ihsan dengan memberi maaf kepada manusia.

Baca juga: Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

Maka, implementasi ihsan dalam ibadah ialah tidak hanya melaksanakan ibadah.  Baik itu ibadah mahdlah (shalat, zakat, puasa, haji) atau ghairu mahdlah (muamalah, sosial) dengan ala kadarnya atau menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu ia menjalankannya dengan sungguh-sungguh penuh kesadaran bahwa ia membutuhkan Allah swt.

Bagi yang berprofesi PNS, guru, dosen, karyawan misalnya, tidak hanya melaksanakan yang menjadi kewajiban kita, melainkan kita mengerjakannya dengan penuh sungguh-sungguh, penuh dedikasi dan totalitas sehingga hasilnya memuaskan.

Menebar kasih sayang (i-tai dzil qurba)

Kita juga diperintahkan untuk memiliki sikap kasih sayang dan kepedulian sosial terhadap karib kerabat, serta semua makhluk Allah (asy-syaqafah ‘ala khalqillah). Menurut al-Razi, Ibnu Katsir, as-Shabuny, dan al-Baghawy bersepakat bahwa pengejawantahan dari kasih sayang ini banyak macamnya, namun yang paling tinggi dan mulia adalah merajut persaudaraan atau silaturrahim.

Tidak berbuat keji (al-fahsya’)

Ibnu Katsir menafsirkan kata al-fahsya’ sepaket dengan al-munkar yakni tatkala lahiriahnya lebih baik dari hatinya. Artinya tampilan luar lebih bagus ketimbang hatinya. Lalu ia mengerucutkan, al-fahsya’ adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Keharusan Bersikap Sabar Bagi Peserta Didik

Al-Baghawy memaknainya dengan ma qabiha min al-qauli wa al-fi’li (semua perkataan maupun perbuatannya buruk). Sedangkan al-Shabuny menambahkan kata ‘amal (pengamalannya buruk). Bahkan Ibnu ‘Abbas mengartikannya dengan zina.

Kita dilarang menjadi budak hawa nafsu kita, nafsu kebinatangan manusia harus disumbat. Keinginan untuk memperoleh harta, tahta, jabatan, wanita dengan segala cara yang tidak halal harus dihentikan.

Ingin kaya dengan korupsi misalnya, ingin menyalurkan hasrat seksual dengan berzina atau jajan di luar, ingin menghilangkan rasa lapar dan haus dengan menelan pil ekstasi, semua cara-cara itu yang oleh Alquran diistilahkan dengan yanha ‘anil fahsya’ (jauhilah perbuatan keji itu).

Baca juga: Tiga Bentuk Sikap Tawadhu yang Harus Dimiliki oleh Murid

Menjadi budak nafsu amarah (al-munkar)

Munkar menurut Ibnu Katsir adalah segala sesuatu yang ditampakkan dari perkara haram oleh pelakunya. Sedangkan al-Baghawy menerangkan, tidak mengetahui syariat dan sunnah. Adapun ‘Ali as-Shabuny mengatakan segala sesuatu yang mengingkari fitrah manusia.

Di dalam diri manusia terkandung nafsu amarah (al-munkar), artinya kita dilarang untuk mengikutinya. Sebab amarah ini selalu mengajak manusia melakukan keburukan dan menyakiti sesama. Jika kita sedikit lengah saja, maka kita akan dikendalikan olehnya dan hampir dipastikan dilihat oleh orang lain sebagai kemungkaran.

Menjauhkan diri dari sifat bengis (al-Baghy)

Keangkaraan atau kebengisah (al-baghy) menjadi bagian dari hawa nafsu. Termasuk pula sebagai nafsu syaithaniyyah (al-quwwah al-wahmiyyah asy-syaithaniyyah). Nafsu ini menyeret pemiliknya untuk menguasai, menindas, menjatuhkan dan mengalahkan orang lain, serta menampakkan kesombongan atau keangkuhan. Alquran melarang kita untuk bersikap seperti itu.

Enam Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Keenam kompetensi kepribadian di atas harus dimiliki oleh pendidik. Pendidik sebagai pencetak generasi bangsa terlebih dahulu harus memiliki dan menginternalisasikan keenam kompetensi tersebut. Tidak bisa dibayangkan, bila mana masih dijumpai oknum pendidik yang masih melakukan hal-hal keji misalnya mencabuli peserta didiknya yang masih belia, berkata kotor, dan hal sejenisnya, naudzubillahi min dzalik.

Ayat di atas menjadi renungan tidak hanya pendidik saja, melainkan kita bersama untuk senantiasa memperbaiki dan menyempurnakan diri menjadi manusia qurani. Sebab intisari ayat di atas juga menjadi bagian dari kewajiban kita sebagai ‘abd (hamba Allah) dan khalifah  fil ardh (pemimpin di muka bumi).

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Ilustrasi stunting

Stunting dan Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 233

0
Surah Al-Baqarah ayat 233 yang berbicara tentang cara merawat dan membesarkan seorang anak tidak hanya terbatas pada hukum menyusui seorang anak, wajib atau sekadar...