Beranda blog Halaman 197

Tafsir Surah as-Saff ayat 7-11

0
Tafsir Surah As-Saff
Tafsir Surah As-Saff

Tafsir Surah as-Saff ayat 7-11 ini menceritakan tentang wahyu yang tidak turun selama 40 hari, lalu seorang pemuda Yahudi menyebarkan kabar bahwa Allah telah memutus dakwah Nabi. Hal ini membuat Rasul bersedih hati.  Oleh sebab itu Tafsir Surah as-Saff ayat 7-11 ini merupakan penegasan dari Allah bahwa datangnya Rasulullah adalah untuk mengajarkan agama Islam yang telah ada di dalam Al-Quran dan hadis, dengan adanya Islam maka agama terdahulupun menjadi terhapus.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah As-Saff ayat 4-5


Ayat 7

Allah menyatakan, “Siapakah yang lebih zalim dari orang-orang yang mengada-adakan sesuatu tentang Allah”, seperti mengatakan bahwa Allah mempunyai sekutu dalam mengatur alam ini. Dari ayat ini dipahami bahwa orang yang paling zalim ialah orang yang diajak memeluk agama Allah, agama yang benar dan membawa manusia kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat yaitu Islam, mereka menolak ajakan itu.

Bahkan mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, seperti mendustakan Nabi Muhammad, memandang Al-Qur’an sebagai sihir ciptaan tukang sihir yang bernama Muhammad, dan sebagainya.

Orang-orang yang mengada-adakan kebohongan tentang Allah itu berarti menganiaya diri mereka sendiri, dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang. Orang-orang yang mengerjakan perbuatan itu tidak akan memperoleh taufik dari Allah.

Ayat 8

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa wahyu pernah tidak turun kepada Nabi Muhammad selama empat puluh hari. Maka seorang pemuka Yahudi, yaitu Ka‘ab bin al-Asyraf, meminta kepada orang-orang Yahudi agar bergembira karena Allah telah memadamkan cahaya dakwah Muhammad saw dengan tidak lagi menurunkan wahyu kepadanya. Mendengar ucapan Ka‘ab itu Rasulullah merasa sedih. Berkenaan dengan itu turunlah ayat ini.

Pada ayat ini diterangkan alasan orang-orang yang berbuat kebohongan terhadap Allah. Perbuatan dosa dan ucapan mengada-ada itu bertujuan untuk memadamkan sinar agama Islam yang menerangi manusia yang sedang berada dalam kegelapan.

Perbuatan mereka itu tak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan cahaya matahari yang menyilaukan pemandangan dengan hembusan mulutnya yang tidak berarti apa-apa. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah akan tetap memancarkan sinar agama-Nya ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.

Ayat 9

Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad dengan tugas menyampaikan agama-Nya kepada seluruh manusia. Pokok-pokok agama itu terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis, yang berisi petunjuk untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan munculnya agama Islam, maka agama yang ada sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Agama Islam itu mengungguli agama-agama lain sesuai dengan kehendak Allah, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

Ayat 10-11

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin agar melakukan amal saleh dengan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul -Nya, apakah kamu sekalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bermanfaat dan pasti mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda dan keberuntungan yang kekal atau melepaskan kamu dari api neraka.”

Ungkapan ayat di atas memberikan pengertian bahwa amal saleh dengan pahala yang besar, sama hebatnya dengan perniagaan yang tak pernah merugi karena ia akan masuk surga dan selamat dari api neraka. Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (at-Taubah/9: 111).

Kemudian disebutkan bentuk-bentuk perdagangan yang memberikan keuntungan yang besar itu, yaitu:

  1. Senantiasa beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, adanya hari Kiamat, qadha‘ dan qadar Allah.
  2. Mengerjakan amal saleh semata-mata karena Allah bukan karena ria adalah perwujudan iman seseorang.
  3. Berjihad di jalan Allah. Berjihad ialah segala macam upaya dan usaha yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah. Ada dua macam jihad yang disebut dalam ayat ini yaitu berjihad dengan jiwa raga dan berjihad dengan harta. Berjihad dengan jiwa dan raga ialah berperang melawan musuh-musuh agama yang menginginkan kehancuran Islam dan kaum Muslimin. Berjihad dengan harta yaitu membelanjakan harta benda untuk menegakkan kalimat Allah, seperti untuk biaya berperang, mendirikan masjid, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan kepentingan umum lainnya.

Di samping itu, ada bentuk-bentuk jihad yang lain, yaitu jihad menentang hawa nafsu, mengendalikan diri, berusaha membentuk budi pekerti yang baik pada diri sendiri, menghilangkan rasa iri, dan sebagainya.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa iman dan jihad itu adalah perbuatan yang paling baik akibatnya, baik untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga, harta benda, dan masyarakat, jika manusia itu memahami dengan sebenar-benarnya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah as-Saff ayat 12-14


 

Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 2

0
Tafsir Surah As-Saff
Tafsir Surah As-Saff

Melanjutkan tafsir sebelumnya, Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 2 ini menerangkan tentang tanda-tanda kenabian Rasulullah. Salah satu tanda yang dijelaskan dalam Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 2 ini adalah tidak berlaku sombong, hal ini dibuktikan dengan Nabi Muhammad yang mendapat gelar al-Amin.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah As-Saff ayat 6 part 1


Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 2

Kitab Habakuk 3: 3 menyebutkan:

“Bahwa Allah datang dari teman dan Yang Mahasuci dari pegunungan Paran-Selah. Maka kemuliaan-Nya menudungilah segala langit dan bumi pun adalah penuh dengan pujinya.”; Di sini diterangkan tentang teman dan orang-orang suci dari pegunungan Paran. Yang dimaksud dengan teman di sini adalah Nabi Muhammad, dan Paran adalah Mekah.

Demikian pula Nabi Musa dalam Kitab Ulangan 18: 17-22 telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad saw itu:

“Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa), “Benarlah kata mereka itu (Bani Israil).” Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya (yaitu Nabi dan Bani Israil) yang seperti engkau (Nabi Musa) dan aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia.

Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau dengar segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak pada orang itu. Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Ku-suruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.

Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian, “Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya?”

Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya tidak jadi atau tidak datang, yaitu perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka Nabi itu pun berkata dengan sembarangan, janganlah kamu takut akan dia.”; Dalam ayat-ayat Taurat di atas terdapat petunjuk-petunjuk nubuwwah Nabi Muhammad saw sebagai berikut, “Seorang Nabi di antara segala saudaranya.”

Hal ini menunjukkan bahwa yang akan menjadi nabi itu akan muncul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil sendiri, karena Bani Israil itu keturunan Yakub dan ia adalah anak Ishak. Sedangkan Ishak adalah saudara Ismail. Saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail, dan Nabi Muhammad sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.

Kemudian kalimat “yang seperti engkau” memberi pengertian bahwa nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya nabi yang membawa agama seperti yang dibawa Nabi Musa. Seperti dituliskan bahwa Nabi Muhammad itulah satu-satunya nabi yang membawa syariat yang berlaku juga bagi Bani Israil.

Kemudian dikatakan bahwa Nabi itu “tidak sombong”, “dan tidak akan mati dibunuh.” Muhammad saw seperti dimaklumi bukanlah orang yang sombong, baik sebelum menjadi nabi apalagi setelah menjadi nabi. Sebelum menjadi nabi, ternyata beliau telah disenangi oleh khalayak umum, dan dipercaya oleh orang-orang Quraisy. Hal ini terbukti dengan panggilan beliau al-Amin (kepercayaan). Kalau beliau sombong, tentulah beliau tidak diberi gelar yang sangat terpuji itu dan Nabi Muhammad tidak mati di bunuh.

Umat Nasrani menerapkan kenabian itu kepada Isa, padahal mereka percaya bahwa Isa mati disalib. Hal ini jelas bertentangan dengan ayat kenabian itu sendiri. Sebab nabi itu haruslah tidak mati dibunuh (disalib dan sebagainya).

Banyak lagi petunjuk di dalam Taurat yang menerangkan kenabian Muhammad saw seperti yang diberikan Nabi Yesaya 42: 1-2; Nabi Yermin 31: 31-32, Nabi Daniel 2: 38-45; dan masih banyak lagi yang tidak perlu disebutkan di sini. Demikian pula dalam kitab Injil di mana tentang Muhammad banyak disebut dalam kitab Yahya.

Kemudian diterangkan bahwa nabi dan rasul yang bernama Ahmad itu lahir dengan membawa dalil-dalil yang kuat serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah. Akan tetapi, mereka pun mengingkarinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir. Tentang Nabi Muhammad itu disampaikan oleh semua nabi, dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗ ۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْ ۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَا ۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ  ٨١

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, ”Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.” (Ali ‘Imran/3: 81).

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah as-Saff ayat 7-11


 

Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 1

0
Tafsir Surah As-Saff
Tafsir Surah As-Saff

Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 1 ini mengisahkan tentang keturunan Nabi Ibrahim hingga ke Nabi Muhammad. Dijelaskan dalam Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 1 ini bahwa kedatangan Nabi Muhammad telah dijelaskan dalam kitab Taurat dan Injil.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah As-Saff ayat 4-5


Ayat 6

Allah memerintahkan Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab, kisah keingkaran kaum Isa ketika ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka. Ia juga membenarkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, demikian pula kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ia menyeru kaumnya agar beriman pula kepada rasul yang datang kemudian yang bernama Ahmad (Muhammad saw).

Pada ayat yang lain ditegaskan pula bahwa berita tentang kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah terakhir terdapat pula dalam Kitab Taurat dan Injil. Allah berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (al-A’raf/7: 157)

Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda:

إِنِّى عَبْدُ اللهِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ وَإِنَّ ﺁدَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِيْنَتِهِ وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيْلِ ذَلِكَ دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيْمَ وَبَشَارَةُ عِيْسَى بِيْ وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّيْنَ. (رواه أحمد عن عرباض بن سارية)

Sesungguhnya aku adalah hamba Allah sebagai penutup para nabi. Sesungguhnya Nabi Adam bagaikan batu permata ketika masih berupa tanah liat. Aku akan mengabarkan kepadamu tentang penakwilan ayat tersebut, yaitu doa bapakku Nabi Ibrahim dan kabar gembira dari Nabi Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku dan sekalian ibu para nabi. (Riwayat A¥mad dari ‘Irbadh bin Sariyah).

Dalam kitab Taurat banyak disebutkan isyarat-isyarat kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, seperti Kitab Kejadian 21: 13.

“Maka anak sahayamu itu pun akan terjadikan suatu bangsa, karena itu ia dari benihmu.”

Maksudnya ialah keturunan Hajar, ibu dari Ismail yang kemudian menjadi orang-orang Arab yang mendiami Semenanjung Arabia. Waktu Nabi Ibrahim pergi ke Mesir bersama istrinya, Sarah, beliau dianugerahi oleh Raja Mesir seorang hamba sahaya perempuan, yang bernama Hajar, yang kemudian dijadikannya sebagai istri. Sewaktu Hajar telah melahirkan putranya Ismail, ia diantarkan Ibrahim ke Mekah atas perintah Allah. Di Mekahlah Ismail menjadi besar dan berketurunan. Di antara keturunannya itu bernama Muhammad yang kemudian menjadi nabi dan rasul terakhir.

Kitab Kejadian 21: 18 memerintahkan agar Bani Israil mengikuti dan menyokong Nabi Muhammad, yang akan datang kemudian.

“Bangunlah engkau, angkatlah budak itu, sokonglah dia, karena Aku hendak menjadikan dia suatu bangsa yang besar.”

Demikian pula dengan Kitab Kejadian 17: 20 menyebutkan:

“Maka akan hal Ismail itu pun telah Kululuskan permintaanmu, bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan memberikan dia dan memperbanyak dia amat sangat dua belas orang raja-raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia suatu bangsa yang besar.”


Baca Setelahnya: Tafsir Surah as-Saff ayat 6 part 2


 

Tafsir Surah as-Saff ayat 4-5

0
Tafsir Surah As-Saff
Tafsir Surah As-Saff

Tafsir Surah as-Saff ayat 4-5 mengajarkan umat Islam untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar kaum muslimin. Dengan kesatuan itu maka akan terbentuklah umat Islam yang kokoh, tidak mudah untuk diperpecah dan juga dihancurkan. Untuk menjaga kesatuan tersebut dalam Tafsir Surah as-Saff ayat 4-5, Allah memerintahkan umat Islam untuk merapatkan barisan dalam sholat.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah As-Saff ayat 1-3


Ayat 4

Dalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur dan persatuan yang kokoh. Allah menyukai kaum Muslimin yang demikian. Tidak ada celah-celah perpecahan, walau yang kecil sekali pun, seperti tembok yang kokoh yang tersusun rapat dari batu-batu beton.

Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar mereka menjaga persatuan yang kuat dan persatuan yang kokoh, mempunyai semangat yang tinggi, suka berjuang, dan berkorban. Membentuk dan menjaga persatuan serta kesatuan di kalangan kaum Muslimin berarti menyingkirkan segala sesuatu yang mungkin menimbulkan perpecahan, seperti perbedaan pendapat tentang sesuatu yang sepele dan tidak penting, sifat mementingkan diri sendiri, membangga-banggakan suku dan keturunan, mementingkan golongan, tidak berperikemanusiaan, dan sebagainya.

Oleh karena itulah, dalam membina persatuan dan kesatuan, Allah memperingatkan dan memerintahkan kaum Muslimin menjaga dan mengatur shaf (barisan) dalam salat dengan rapi, bahu-membahu, tidak ada satu pun tempat yang kosong. Tempat yang kosong akan diisi oleh setan, sedangkan setan adalah musuh manusia. Tidak baik jika seseorang salat sendirian di belakang shaf, kecuali dengan menarik ke belakang seorang yang berada dalam shaf yang di depannya. Mengatur barisan dalam salat merupakan latihan mengatur barisan dalam berjihad di jalan Allah.

Ayat 5

Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab tentang Nabi Musa yang menyesali kaumnya, mengapa mereka menentang dan menyakitinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Musa memerintahkan kaumnya berperang agar mereka bisa memasuki kota Baitulmakdis, tetapi kaumnya mengingkari. Allah berfirman:

يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ  ٢١  قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّ فِيْهَا قَوْمًا جَبَّارِيْنَۖ وَاِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَا حَتّٰى يَخْرُجُوْا مِنْهَاۚ فَاِنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا فَاِنَّا دٰخِلُوْنَ  ٢٢

Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi. Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.” (al-Ma’idah/5: 21-22).

Ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin agar selalu bersabar menghadapi sikap orang-orang munafik, yang mengaku dirinya muslim, tetapi di belakang Rasulullah mereka mengingkarinya. Sehubungan dengan itu, Rasulullah pernah bersabda, “Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa yang disakiti kaumnya lebih berat daripada yang terjadi pada diriku ini, tetapi ia tetap sabar.”

Allah melarang kaum Muslimin menyakiti hati Rasulullah Muhammad saw, seperti yang telah dialami oleh Nabi Musa. Dia berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا ۗ   ٦٩

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (al-Ahzab/33: 69).

Setelah orang-orang yang durhaka dan menyakiti hati Nabi Muhammad itu berpaling dan mengingkari kebenaran, sedangkan mereka mengetahui kebenaran itu, Allah pun memalingkan hati mereka dari petunjuk-Nya. Dengan demikian, mereka tidak mungkin lagi mendapat petunjuk. Allah berfirman:

وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ ࣖ   ۔   ١١٠

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. (al-An‘am/6: 110).

Maksud perkataan Allah “memalingkan hati orang-orang kafir” dalam ayat ini ialah membiarkan mereka dalam keadaan sesat. Semakin banyak kesesatan dan kemaksiatan yang mereka perbuat, semakin jauh pula mereka dari petunjuk Allah, sehingga sulit bagi mereka kembali ke jalan yang benar.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan pernyataan-Nya di atas bahwa orang yang telah jauh dari jalan yang benar tidak mungkin lagi memperoleh taufik dan hidayah dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang fasik, sedangkan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah as-Saff ayat 6


 

Tafsir Surah as-Saff ayat 1-3

0
Tafsir Surah As-Saff
Tafsir Surah As-Saff

Tafsir Surah as-Saff ayat 1-3 mengingatkan kaum Muslimin akan kekurangan yang ada pada diri manusia, terdapat dua kelemahan manusia yakni ketidaksesuaian perkataan dengan perbuatan dan tidak menepati janji. Ditegaskan dalam ayat ketiga pada Tafsir Surah as-Saff ayat 1-3 ini bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang tidak menepati perkataannya.


Baca Juga: Fenomena Ghosting dan Pentingnya Memenuhi Janji: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 92


Ayat 1

Segala apa yang di langit dan bumi mengakui bahwa hanyalah Allah yang berhak disembah tidak ada yang lain, Dialah yang menciptakan, menguasai, menjaga kelangsungan hidup, serta menentukan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.

Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, dan semua makhluk tunduk di bawah kehendak-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan tujuan yang Dia kehendaki, serta sesuai pula dengan kegunaannya.

Ayat 2

Setelah Allah menerangkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, ia mengingatkan kaum Muslimin akan kekurangan-kekurangan yang ada pada mereka, yaitu mereka mengatakan suatu perkataan, tetapi mereka tidak merealisasikan atau mengerjakannya. Di antaranya, mereka berkata, “Kami ingin mengerjakan kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah,” tetapi jika datang perintah itu, mereka tidak mengerjakannya.

Ada dua macam kelemahan manusia yang dikemukakan ayat ini, yaitu:

  1. Ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan mereka. Kelemahan ini kelihatannya mudah diperbaiki, tetapi sukar dilaksanakan. Sangat banyak manusia yang pandai berbicara, suka menganjurkan suatu perbuatan baik, dan mengingatkan agar orang lain menjauhi larangan-larangan Allah, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdullah bin Rawahah berkata, “Para mukmin pada masa Rasulullah sebelum jihad diwajibkan berkata, “Seandainya kami mengetahui perbuatan-perbuatan yang disukai Allah, tentu kami akan melaksanakannya.” Maka Rasulullah menyampaikan bahwa perbuatan yang paling disukai Allah ialah beriman kepada-Nya, berjihad menghapuskan kemaksiatan yang dapat merusak iman, dan mengakui kebenaran risalah yang disampaikan Nabi-Nya. Setelah datang perintah jihad, sebagian orang-orang yang beriman merasa berat melakukannya. Maka turunlah ayat ini sebagai celaan akan sikap mereka yang tidak baik itu.
  2. Tidak menepati janji yang telah mereka buat. Suka menepati janji yang telah ditetapkan merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri orang-orang yang beriman. Jika ciri itu tidak dipunyai oleh orang yang mengaku beriman kepada Allah dan rasul-Nya, berarti ia telah menjadi orang munafik.

Rasulullah saw bersabda:

ﺁيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ئْتُمِنَ خَانَ. (رواه البخاري ومسلم)

Tanda orang munafik ada tiga macam: bila berkata, ia berdusta, bila berjanji, ia menyalahi janjinya, dan bila dipercaya, ia berkhianat. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Namun tidak berarti bahwa orang-orang tidak boleh mengatakan kebenaran bila ia sendiri belum mampu melaksanakannya. Mengatakan kebenaran wajib, sedangkan melaksanakannya tergantung kemampuan. Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ   ١٦

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (at-Tagabun/64: 16)

Ayat 3

Allah memperingatkan bahwa sangat besar dosanya orang mengatakan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Hal ini berlaku baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan masyarakat.

Menepati janji merupakan perwujudan iman yang kuat. Budi pekerti yang agung, dan sikap yang berperikemanusiaan pada seseorang, menimbulkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat. Sebaliknya, perbuatan menyalahi janji tanda iman yang lemah, serta tingkah laku yang jelek dan sikap yang tidak berperikemanusiaan, akan menimbulkan saling mencurigai dan dendam di dalam masyarakat. Oleh karena itulah, agama Islam sangat mencela orang yang suka berdusta dan menyalahi janjinya.

Agar sifat tercela itu tidak dipunyai oleh orang-orang beriman, alangkah baiknya jika menepati janji dan berkata benar itu dijadikan tujuan pendidikan yang utama yang diajarkan kepada anak-anak di samping beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan melatih diri mengerjakan berbagai bentuk ibadah yang diwajibkan.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah as-Saff ayat 4-5


 

Problematika Tanda Waqaf dalam Mushaf Al-Quran

0
waqaf dalam mushaf Al-Quran
waqaf dalam mushaf Al-Quran

Apa yang hendak saya tulis di sini berangkat dari pengalaman yang penulis alami ketika mengikuti salah satu majelis ngaji Al-Quran secara daurah di pesantren. Pengalaman yang berkaitan dengan problematika yang muncul dari penerapan tanda waqaf dan tekstualitas mushaf yang masih menjadi pegangan.

Waqaf dalam Al-Quran

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa dalam tradisi pembacaan Al-Quran tidak ada satu pun waqaf yang mengharuskan berhenti. Hal ini sebagaimana dikonfirmasi oleh Ibn al-Jazariy dalam Matn al-Jazariyyah-nya,

وَلَيْسَ فِي الْقُرآنِ مِنْ وَقْفٍ وَجَبْ * وَلَا حَرَامٌ غَيْرَ مَا لَهُ سَبَبْ

“Tiada satu pun waqaf dalam Al-Quran yang wajib. Dan tiada pula satu pun waqaf yang haram, kecuali jika ada sebab tertentu yang mengharuskannya.”

Baca Juga: Mengenal Empat Waqaf dalam Membaca Al-Quran

Hal ini yang kemudian menjadi alasan bagi beberapa pembaca Al-Quran untuk tidak menaati rambu-rambu waqaf dalam mushaf Al-Quran. Apalagi jika rambu-rambu yang tertera ‘hanya’ sebatas anjuran yang tidak mengikat.

Dalam beberapa cetakan mushaf Al-Quran, pembagian tanda waqaf yang digunakan memang berbeda-beda. Dalam internal mushaf cetakan Indonesia saja, hal ini sangat beragam. Apalagi jika menambahkan mushaf cetakan luar negeri, daftar ragamnya akan semakin panjang. Namun sebagai contoh, mari kita ambil standar yang digunakan Mushaf Al-Quran Standar Indonesia.

Pasca dilakukannya beberapa penyempurnaan pada mushaf cetakan 2002, 12 macam tanda waqaf disederhanakan dan distandarkan menjadi hanya 7 macam: م yang berarti waqf lazim atau harus berhenti, لا yang berarti ‘adam al-waqf atau tidak boleh berhenti, ج yang berarti al-waqf ja’iz atau boleh berhenti, قلى yang berarti al-waqf aula atau lebih baik berhenti, صلى yang berarti al-washl aula atau lebih baik tidak berhenti, سكتة yang berarti berhenti sejenak tanpa mengambil nafas, dan tanda titik tiga yang disusun membentuk segitiga yang ditempatkan secara berdampingan atau disebut dengan mu‘anaqah yang berarti berhenti pada salah satu tanda.

Ke-7 tanda waqaf ini, apabila mengikuti kerangka ulasan Ibn al-Jazariy sebelumnya, pada dasarnya tidak bersifat wajib dan mengikat, bahkan termasuk waqaf lazim (ketiadaan hukum wajib berhenti pada waqaf lazim yang mengesankan adanya kontradiksi ini mungkin akan dibicarakan pada tulisan yang lain, insyaAllah).

Dengan kata lain, tidak ada konsekuensi hukum apa pun yang timbul bagi pembaca manakala ia tidak mematuhi tanda waqaf yang ada. Namun hal ini hanya berlaku pada aspek yang berkaitan dengan waqaf saja. Untuk masalah lain, lain lagi ceritanya. Masalah lain ini lah yang penulis maksudkan sebelumnya dengan problematika tanda waqaf dan tekstualitas mushaf Al-Quran.

Baca Juga: Tujuh Tanda Waqaf dalam Mushaf al-Qur’an yang Jarang Diketahui

Problematika Tanda Waqaf: Madd

Salah satu problem yang penulis jumpai berkenaan dengan penerapan tanda waqaf adalah masalah madd atau bacaan panjang. Masalah ini terjadi utamanya pada madd yang melibatkan pertemuan hamzah. Sedikitnya ada dua madd yang penulis dapati menjadi korban dalam masalah ini: madd ja’iz munfashil dan madd shilah thawilah.

Kasus yang menimpa dua madd ini terjadi apabila tanda waqaf al-waqf aula, yang notabenenya tidak wajib, berada diantara pertemuan madd dan hamzah yang jatuh setelahnya. Untuk lebih mudahnya lihat contoh ayat berikut ini,

وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ (الأعراف: 179)

وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ (الأنفال: 34)

contoh waqaf dalam Al-Quran
contoh waqaf dalam Al-Quran

Pada ayat pertama, Mushaf Al-Quran Standar Indonesia menempatkan tanda waqaf ini di antara kata biha dan ula’ika. Oleh karena rekomendasi dari tanda waqaf tersebut adalah berhenti, penulisan tanda madd tidak mengadopsi model madd ja’iz munfashil, dengan satu garis panjang, dan hanya ditulis madd thabi‘iy.

Akibat dari penulisan semacam ini, pembaca yang membaca washl yang kurang teliti atau bahkan kurang memahami konsep madd dalam ilmu tajwid cenderung berpegang pada tekstual mushaf Al-Quran yang ada. Padahal dalam ilmu tajwid, jika ayat pertama ini dibaca washl, hukum bacaannya kembali seperti semula, sebelum ditempatkannya tanda waqaf.

Hal yang sama juga berlaku pada ayat kedua. Bedanya, kasus dalam ayat ini adalah madd shilah. Mushaf Al-Quran Standar Indonesia menempatkan tanda waqafnya di antara kata auliya’ahu dan in. Penulisan tanda madd shilah thawilah dengan satu garis panjang juga tidak dijumpai di sini, mengingat rekomendasi dari tanda waqaf-nya adalah berhenti. Sehingga tanda madd yang ditulis merupakan shilah qashirah.

Penulisan tanda madd ini akan berbeda jika tanda waqaf yang ada adalah al-washl aula. Karena rekomendasi dari tanda waqaf ini adalah tidak berhenti, maka tanda madd ja’iz munfashil atau madd shilah qashirah tetap dimunculkan.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Seputar Aturan Waqaf dalam Surah Al-Fatihah Ketika Salat

Kesimpulan

Dari pengalaman ini penulis setidaknya sadar akan adanya dua hal. Pertama, ada keterbatasan tertentu yang tidak dapat dihindari dari penulisan sebuah teks. Dalam masalah ini, penerapan tanda waqaf dan tanda madd mau tidak mau harus menempuh langkah demikian setelah melakukan penyesuaian dan pertimbangan tertentu. Kedua, perhatian, ketelitian, serta penguasaan disiplin ilmu Al-Quran menjadi sebuah keniscayaan dalam pembacaan Al-Quran. Karena lagi-lagi, tekstualitas mushaf tidak dapat dijadikan sebagai acuan. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Faktor Terjadinya Inkonsistensi Penggunaan Kaidah Rasm dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur’an di Nusantara

0
Kaidah Rasm dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur'an di Nusantara
Kaidah Rasm dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur'an di Nusantara

Penulisan Al-Qur’an di Nusantara diperkirakan telah ada sekurang-kurangnya sekitar akhir abad ke-13 M. Ketika kerajaan Samudra Pasai menjadi kerajaan pertama di Nusantara yang berada di pesisir ujung Pulau Sumatra memeluk Islam secara sah melalui pengislaman sang raja. (“Seni Mushaf di Asia Tenggara”, (Terj. Ali Akbar), Lektur, Vol. 2, No.2, 2004, hlm 123). Sejak awal masa penyalinan mushaf Al-Qur’an di Nusantara, tentu didorong oleh komitmen spirit dakwah yang tinggi, khususnya dalam mengajarkan Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan pada masa itu belum adanya teknologi untuk penggandaan naskah dalam skala besar, semua naskah hanya bisa ditulis dengan tangan.

Sayangnya, tradisi penyalinan mushaf Al-Qur’an di Indonesia pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 dapat dikatakan sebagai masa transisi dalam teknik produksi mushaf Al-Qur’an. Karena pada masa itu, penyalinan mushaf  Al-Qur’an tulis tangan masih berlanjut, akan tetapi pada saat yang sama mulai marak penggunaan teknologi cetak. Salah satu mushaf  Al-Qur’an yang pada saat itu sudah menggunakan teknologi cetak yaitu mushaf Palembang milik keluarga Abdul Azim Amin yang menggunakan teknologi cetak litografi (cetak batu) yang dibelinya dari Singapura dan selesai dicetak pada 20 Agustus 1848 M. (Al-Qur’an Cetak di Indonesia Tinjauan Kronologis Pertengahan Abad ke-19 hingga Awal Abad ke-20. Suhuf, Vol. 5, No. 2, 2012: 233)

Baca juga: Tiga Tipe Istri yang Dijelaskan dalam Surah At-Tahrim Ayat 10-12

Jika dibandingkan dengan tulisan tangan, kehadiran teknologi cetak batu ternyata lebih memudahkan dalam proses penggandaan mushaf Al-Qur’an secara masif serta bisa mempersingkat efisiesi waktu. Namun jumlah produksinya masih tetap terbatas.

 Faktor Inkonsistensi Rasm di Nusantara

Mengutip apa yang sudah dipaparkan oleh Adrika Fithrotul Aini dalam Penggunaan Kaidah Rasm Surat Yasin dalam Naskah Mushaf al-Qur’an Koleksi Pondok Pesantren Tebuireng (Jurnal STUDIA QURANIKA, Vol. 5, No. 1, Juli 2020, hlm 34) tentang beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya ketidakkonsisten penggunaan kaidah rasm dalam manuskrip mushaf Al-Qur’an, diantaranya :

  1. Adanya perbedaan konteks sosial, yang mana pada saat mushaf Al-Quran ditulis, belum ada pedoman yang baku dalam penulisan mushaf Al-Qur’an. Hal ini dapat kita lihat dari rekam sejarah mushaf standar Indonesia baru ada pada abad 20-an. Sedangkan tradisi menulis mushaf Al-Quran terlahir jauh sebelum abad ke 20.
  2. Pada saat itu, tradisi menghafal yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Nusantara. Sehingga penggunaan kaidah nahwu    sharaf tidak terlalu mendapat perhatian lebih pada saat penuangan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Hal inilah yang menjadi sebab eksistensi ilmu rasm belum begitu akrab ditengah masyarakat pada saat itu.

  3. Faktor dari penyalinnya itu sendiri. Hal ini dikarenakan, tipikal rasm yang digunakan tidak dapat terlepas dari siapa yang menyalinnya pada saat itu. Mengutip Lenni Lestari dalam Mushaf Al-Qur’an Nusantara: Perpaduan Islam dan Budaya Lokal, Jurnal At-Tibyan, I No.1 Januari–Juni 2016, hlm.176, bahwa penyalinan juga dilakukan oleh para ulama atau pelajar yang tengah memperdalam ilmu agama di Mekkah, tepatnya Pada abad ke-16 sampai ke-19 M. Mekkah selain berfungsi sebagai tempat menunaikan haji, juga merupakan pusat studi Islam. Yang demikian ini, sangat mungkin terjadi proses transmisi keilmuan, khususnya tentang kajian rasm utsmani yang sudah mulai tersebar luas dan sangat berpengaruh terhadap pemahaman penyalin yang menulis ulang ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan pada hafalannya. Sehingga disinyalir bahwa terjadi adanya percampuran rasm dalam bentuk tulisan tidak dapat dinafikan.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai faktor terjadinya inkonsistensi rasm yang sering ditemukan dalam manuskrip mushaf Al-Qur’an di Nusantara. Munculnya inkonsistensi dalam penggunaan kaidah rasm itu sendiri bukanlah terjadi secara disengaja dan dibuat-buat, melainkan kondisi sosial disekitarnya lah yang sangat berpengaruh terhadap penyalin yang menulis ulang ayat Al-Qur’an tersebut. Wallahu a’lamu bisshowab

Tafsir Surah al-Hasyr ayat 21-24

0
Tafsis Surah al-Hasyr
Tafsis Surah al-Hasyr

Tafsir Surah al-Hasyr ayat 21-24 merupakan peringatan kepada manusia agar menggunakan akal, pikiran dan perasaan yang telah Allah anugerahkan untuk dapat memperoleh petunjuk Allah. Disebutkan Tafsir Surah al-Hasyr ayat 21-24 bahwa Alquran merupakan pedoman kehidupan manusia di muka bumi.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hasyr ayat 21-24


Ayat 21

Dalam ayat ini diterangkan bahwa seandainya gunung-gunung itu diberi akal, pikiran, dan perasaan seperti yang telah dianugerahkan kepada manusia, kemudian diturunkan Al-Qur’an kepadanya, tentulah gunung-gunung itu tunduk kepada Allah, bahkan hancur-lebur karena takut kepada-Nya.

Akan tetapi, Al-Qur’an bukan untuk gunung, melainkan untuk manusia. Sungguh indah metafora ini, membandingkan manusia yang kecil dan lemah, dengan gunung yang begitu besar, tinggi, dan keras. Dikatakan bahwa gunung itu akan tunduk di hadapan wahyu Allah, dan akan hancur karena rasa takut.

Ayat ini merupakan suatu peringatan kepada manusia yang tidak mau menggunakan akal, pikiran, dan perasaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Mereka lebih banyak terpengaruh oleh hawa nafsu dan kesenangan hidup di dunia, sehingga hal itu menutup akal dan pikiran mereka. Karena takut kehilangan pengaruh dan kedudukan, maka mereka tidak akan mau mengikuti kebenaran.

Betapa tingginya nilai Al-Qur’an, sehingga tidak semua makhluk Allah dapat memahami dengan baik maksud dan tujuannya. Untuk memahaminya harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain: ilmu yang memadai, menggunakan akal pikiran, membersihkan hati nuraninya, dan niat yang setulus-tulusnya.

Keadaan sebagian manusia diterangkan dalam firman Allah:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُ ۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُ  ۗوَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ  ٧٤ 

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah/2: 74).

Ayat ini sama pula dengan firman Allah:

وَلَوْ اَنَّ قُرْاٰنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ اَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْاَرْضُ اَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتٰى

Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat diguncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al-Qur’an). (ar-Ra‘d/13: 31).

Kemudian diterangkan bahwa perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam Al-Qur’an itu harus menjadi pelajaran bagi orang yang mau mempergunakan akal, pikiran, dan perasaannya. Dengan demikian, mereka dapat melaksanakan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya.

Ayat 22

Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan menetapkannya sebagai petunjuk bagi manusia, adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Dialah yang berhak disembah, tidak ada yang lain. Segala penyembahan terhadap selain Allah, seperti pohon, batu, patung, matahari, dan sebagainya, adalah perbuatan sesat. Dia Maha Mengetahui segala yang ada, baik yang tampak maupun yang gaib di langit dan di bumi. Dia Maha Pemurah kepada makhluk-Nya, dan Maha Pengasih.

Ayat 23

Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki segala sesuatu yang ada, dan mengurus segalanya menurut yang dikehendaki-Nya. Yang Mahasuci dari segala macam bentuk cacat dan kekurangan. Yang Mahasejahtera, Yang Maha Memelihara keamanan, keseimbangan, dan kelangsungan hidup seluruh makhluk-Nya, Mahaperkasa tidak menganiaya makhluk-Nya, tetapi tuntutan-Nya sangat keras. Dia Mahabesar dan Mahasuci dari segala apa yang dipersekutukan dengan-Nya.

Ayat 24

Allah Pencipta seluruh makhluk-Nya. Dia yang mengadakan seluruh makhluk dari tidak ada kepada ada. Yang membentuk makhluk sesuai dengan tugas dan sifatnya masing-masing. Dia mempunyai sifat-sifat yang indah, nama yang agung yang tidak dipunyai oleh makhluk lain, selain dari Dia. Kepada-Nya bertasbih dan memuji segala yang ada di langit dan di bumi.

Sebenarnya yang penting dalam berdoa adalah keikhlasan hati, kekhusyukan dan ketundukan kepada Allah. Dengan membaca ayat-ayat itu, diharapkan ketiganya muncul, sehingga doa itu diterima Allah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda:

إِنَّ ِللهِ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا، مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafal, menghayati, dan meresapinya, niscaya akan masuk surga. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan menghayati dan meresapinya di sini ialah benar-benar memahami sifat-sifat Allah itu, merasakan keagungan, kebesaran, dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk, dan merasakan kasih sayang-Nya. Hal itu menimbulkan ketundukan, kepatuhan, dan kekhusyukan pada setiap orang yang melakukan ibadah kepada-Nya.

(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah al-Hasyr ayat 17-18

0
Tafsis Surah al-Hasyr
Tafsis Surah al-Hasyr

Tafsir Surah al-Hasyr ayat 17-18 mengisahkan bahwa orang-orang munafik dan Yahudi Bani Nadhir akan dimasukkan ke dalam neraka bersama setan yang telah memperdayai mereka. Diingatkan kembali dalam Tafsir Surah al-Hasyr ayat 17-18 bahwasanya umat Islam haruslah melaksanakan dan menjauhi apa yang telah dilarang Allah SWT.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hasyr ayat 16


Ayat 17

Pada ayat ini diterangkan akibat yang akan dialami oleh orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Nadhir yang telah diperdaya setan. Kedua golongan ini akan dimasukkan ke dalam neraka bersama setan yang menjadi teman mereka. Mereka kekal di dalam neraka. Itulah balasan yang setimpal dengan perbuatan-perbuatan mereka.

Ayat 18

Kepada orang-orang yang beriman diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Termasuk melaksanakan perintah Allah ialah memurnikan ketaatan dan menundukkan diri hanya kepada-Nya, tidak ada sedikit pun unsur syirik di dalamnya, melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, dan mengadakan hubungan baik sesama manusia.

Dalam ayat yang lain diterangkan tanda-tanda orang bertakwa:

لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ   ١٧٧ 

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah/2: 177).

Dalam Al-Qur’an ungkapan kata takwa mempunyai beberapa arti, di antaranya: Pertama, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan diajarkan Rasulullah saw seperti contoh ayat di atas. Kedua, takut melanggar perintah Allah dan memelihara diri dari perbuatan maksiat.

Orang yang bertakwa kepada Allah hendaklah selalu memperhatikan dan meneliti apa yang akan dikerjakan, apakah ada manfaat untuk dirinya di akhirat nanti atau tidak. Tentu yang akan dikerjakannya semua bermanfaat bagi dirinya di akhirat nanti. Di samping itu, hendaklah seseorang selalu memperhitungkan perbuatannya sendiri, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Jika lebih banyak dikerjakan yang dilarang Allah, hendaklah ia berusaha menutupnya dengan amal-amal saleh. Dengan perkataan lain, ayat ini memerintahkan manusia agar selalu mawas diri, memperhitungkan segala yang akan dan telah diperbuatnya sebelum Allah menghitungnya di akhirat nanti.

Suatu peringatan pada akhir ayat ini agar selalu bertakwa kepada Allah, karena Dia mengetahui semua yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang lahir maupun yang batin, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah al-Hasyr ayat 19-20


Tafsir Surah al-Hasyr ayat 19-20

0
Tafsis Surah al-Hasyr
Tafsis Surah al-Hasyr

Tafsir Surah al-Hasyr ayat 19-20 memiliki dua makna, yakni bermakna sikap dan hubungan orang munafik dengan orang-orang Yahudi Bani Nadhir dan makna kedua menceritakan tentang orang-orang yang suka menyesatkan dan keluar dari jalan yang benar.

Selain itu Tafsir Surah al-Hasyr ayat 19-20 ini juga menerangkan bahwa penghuni neraka tidak sama dengan orang munafik Bani Nadhir dan penghuni surga juga tidaklah sama dengan orang Ansar dan Muhajirin.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hasyr ayat 17-18


Ayat 19

Ayat ini dapat berarti khusus dan dapat pula berarti umum. Berarti khusus ialah ayat ini berhubungan dengan orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Nadhir serta sikap dan tindakan mereka terhadap kaum Muslimin pada waktu turunnya ayat ini. Berarti umum ialah semua orang yang suka menyesatkan orang lain dari jalan yang benar dan orang-orang yang mau disesatkan karena teperdaya oleh rayuan dan janji-janji yang muluk-muluk dari orang yang menyesatkan.

Maksudnya, janganlah sekali-kali orang yang beriman seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakannya. Orang yang lupa kepada Allah, seperti orang munafik dan orang Yahudi Bani Nadhir di masa Rasulullah saw, tidak bertakwa kepada-Nya. Mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja, tidak memikirkan kehidupan di akhirat. Mereka disibukkan oleh harta dan anak cucu mereka serta segala yang berhubungan dengan kesenangan duniawi. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ   ٩

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9).

Kemudian diterangkan bahwa jika seseorang lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakannya. Maksud pernyataan ‘Allah melupakan mereka’ ialah Allah tidak menyukai mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan, makin lama mereka makin sesat, sehingga makin jauh dari jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah. Oleh karena itu, di akhirat mereka juga dilupakan Allah, dan Allah tidak menolong dan meringankan beban penderitaan mereka. Akhirnya mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan perbuatan dan tindakan mereka.

Ditegaskan bahwa orang-orang seperti kaum munafik dan Yahudi Bani Nadhir adalah orang-orang yang fasik. Mereka mengetahui mana yang baik (hak) dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang jahat. Namun demikian, mereka tidak melaksanakan yang benar dan baik itu, tetapi malah melaksanakan yang batil dan yang jahat.

Ayat 20

Tidaklah sama penghuni neraka seperti orang-orang munafik dan Bani Nadhir, dengan penghuni surga, seperti kaum Muhajirin dan Ansar. Allah berfirman:

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَوَاۤءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ࣖࣖ  ٢١ 

Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. (al-Jatsiyah/45: 21).

Dan firman-Nya:

اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَالْمُفْسِدِيْنَ فِى الْاَرْضِۖ اَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِيْنَ كَالْفُجَّارِ  ٢٨

Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (Shad/38: 28).

Allah menjelaskan bahwa mereka tidak sama, karena orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga itu adalah mereka yang beruntung, mencapai apa yang diinginkannya. Amal saleh yang mereka kerjakan melebihi perbuatan buruk yang terlanjur mereka kerjakan, sehingga pahala yang mereka terima dapat menutupi dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah al-Hasyr ayat 21-24