Beranda blog Halaman 196

Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 17-19

0
Tafsir Surat Adz-Dzariyat
Tafsir Surat Adz-Dzariyat

Pada Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 17-19 ini berkaitan dengan penafsiran sebelumnya yakni ayat 15-16. Dalam Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 17-19 menjelaskan secara rinci bagaimana dan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa sehingga mendapat balasan surga. Diantara amalan yang dilakukan oleh orang bertakwa yang dijelaskan dalam Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 17-19 ini yaitu, mengisi waktu malamnya dengan sholat Tahajjud, memohon ampun pada waktu sahur, serta mengelurakan harta mereka dengan zakat dan infaq. Tidak hanya itu, orang bertakwa juga memandang tanda-tanda kuasa Alllah yang bertebaran di muka bumi ini dengan hati nuraninya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 9-16


Ayat 17-18

Ayat ini menerangkan tentang sifat-sifat orang yang takwa, yaitu sedikit sekali tidur pada waktu malam karena mengisi waktu dengan salat Tahajud. Mereka dalam melakukan ibadah tahajudnya merasa tenang dan penuh dengan kerinduan, dan dalam munajatnya kepada Allah sengaja memilih waktu yang sunyi dari gangguan makhluk lain seperti dua orang pengantin baru dalam menumpahkan isi hati kepada kesayangannya, tentu memilih tempat dan waktu yang nyaman dan aman, bebas dari gangguan siapa pun.

Mereka ingat bahwa hidup berkumpul dengan keluarga dan yang lainnya tidak dapat berlangsung selama-lamanya. Bila telah tiba ajal, pasti berpisah, masuk ke dalam kubur, masing-masing sendirian saja. Oleh karena itu, sebelum tiba waktu perpisahan, mereka merasa sangat perlu mengadakan hubungan khidmat dan mahabbah dengan Tuhan Yang Mahakuasa, satu-satunya penguasa yang dapat memenuhi segala harapan.

Di akhir-akhir malam (pada waktu sahur) mereka memohon ampun kepada Allah. Sengaja dipilihnya waktu sahur itu oleh karena kebanyakan orang sedang tidur nyenyak, keadaan sunyi dari segala kesibukan sehingga mudah menjalin hubungan dengan Tuhannya.


Baca Juga: Keutamaan Shalat Tahajud, Tafsir Surat Al-Isra Ayat 79


Ayat 19

Ayat ini menjelaskan bahwa di samping mereka melaksanakan salat wajib dan sunah, mereka juga selalu mengeluarkan infaq fi sabilillah dengan mengeluarkan zakat wajib atau sumbangan derma atau sokongan sukarela karena mereka memandang bahwa pada harta-harta mereka itu ada hak fakir miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta bagian karena merasa malu untuk meminta.

Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis dari Abµ Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw pernah menerangkan siapa saja yang tergolong orang miskin, dengan sabdanya:

لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ الَّذِيْ تَرُدُّهُ التَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ وَاْلأَكْلَةُ وَاْلأَكْلَتَانِ قِيْلَ فَمَنِ الْمِسْكِيْنُ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَيْسَ لَهُ مَا يُغْنِيْهِ وَلاَ يُعْلَمُ مَكَانُهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ فَذٰلِكَ الْمَحْرُوْمُ. (رواه ابن جرير عن أبو هريرة)

Bukanlah orang miskin itu yang tidak diberi sebiji dan dua biji kurma atau sesuap dan dua suap makanan. Beliau ditanya, “(Jika demikian) siapakah yang dinamakan miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mempunyai apa yang diperlukan dan tidak dikenal tempatnya sehingga tidak diberikan sedekah kepadanya. Itulah orang yang mahrµm tidak dapat bagian.” (Riwayat Ibnu Jar³r dari Abµ Hurairah);Di dalam Al-Qur’an terdapat tiga kelompok ayat yang selalu berdampingan, tidak dapat dipisahkan, yaitu perintah untuk salat dan mengeluarkan zakat, perintah agar taat kepada Allah dan rasul-Nya, dan perintah untuk bersyukur kepada Allah dan kedua ibu-bapak.

Setelah Allah menerangkan sifat-sifat orang yang bertakwa, maka Allah menjelaskan bahwa mereka itu melihat dengan hati nurani tanda-tanda kekuasaan Allah pada alam kosmos, pada alam semesta yang melintang di sekelilingnya, di bumi dan di langit sehingga memiliki ketenangan jiwa, sebagai tanda seorang yang sudah makrifah kepada Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Adz-Dzariyat Ayat 20-23


Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 9-16

0
Tafsir Surat Adz-Dzariyat
Tafsir Surat Adz-Dzariyat

Secara keseluruhan pada Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 9-16 ini menjelaskan tentang konseksuensi dari orang-orang musyrik dan kafir, orang-orang yang berdusta, serta balasan terbaik yang diberikan oleh Allah terhadap orang-orang yang bertakwa. Pelajaran yang dapat diambil dari Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 9-16 bahwa setiap perbuatan ada balasan yang setimpal dari Allah swt.


Baca Sebelumnnya: Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 5-8


Ayat 9

Ayat ini menegaskan bahwa dalam keadaan berbeda pendapat, orang musyrik tersebut semakin dijauhkan dan dipalingkan dari rasul dan Al-Qur’an sehingga mereka menjadi tambah sesat.

Ayat 10-11

Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang banyak berdusta dikutuk oleh Allah. Mereka termasuk golongan orang-orang yang sangat jahil, yang berkecimpung dalam kegelapan dan kesesatan, juga terbenam dalam kebodohan dan kelalaian yang sangat menyedihkan.

Ayat 12

Ayat ini mengungkapkan ketika orang musyrik itu mencemoohkan dengan bertanya kepada Nabi saw, “Kapankah datangnya hari pembalasan itu?”

Ayat 12-13

Ayat ini mengungkapkan bahwa hari pembalasan itu ialah hari ketika orang-orang kafir diazab dengan azab yang sangat pedih di atas api neraka. Sesungguhnya orang-orang musyrik itu jika mempunyai hamba sahaya yang bekerja sebagai buruh harian tentu akan memeriksa pekerjaan mereka sebelum mereka diberi upah. Mereka memeriksa, bertanya dan meneliti hasil pekerjaan buruh-buruh mereka. Apakah tidak dipikirkan oleh mereka tentang pengabdian sekalian manusia kepada Allah yang telah melimpahkan segala macam kenikmatan kepadanya, mulai dari penciptaan langit dan bumi dan segala isinya sampai kepada pemenuhan segala hajat kebutuhan manusia seperti sandang, pangan, perumahan, jaminan hari tua, dan sebagainya.

Apakah patut Allah membiarkan mereka hidup berfoya-foya saja, padahal Allah tidak menciptakan manusia secara sia-sia, bahkan pasti akan mengadakan hari kebangkitan dan hari pembalasan? Oleh karena mereka tenggelam dalam arus kebodohan dan kelalaian, maka hal-hal yang sangat masuk akal dan nyata itu dibiarkan lewat begitu saja tanpa kesungguhan dan perhatian, dan barulah mereka sadar ketika mereka diazab di dalam api neraka.


Baca Juga: Hakikat Penciptaan Manusia dalam Surah al-Dzariyat ayat 56


Ayat 14

Di samping azab yang amat pedih, mereka juga menderita azab rohani ketika para malaikat berkata, “Rasakanlah azabmu ini yang dahulu pada waktu di dunia selalu kamu minta agar disegerakan.”

Ayat 15-16

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya berada di dalam taman-taman surga yang mengalir di bawahnya air yang jernih dan murni, sangat menyenangkan, sangat nyaman, di luar perkiraan dan bayangan yang tergores dalam hati dan terpandang oleh mata; terlebih-lebih karena mereka tetap abadi di dalamnya, tidak akan keluar lagi, tetap berada dalam keridaan Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Pahala yang demikian itu ada kaitannya dengan amal perbuatan mereka ketika di dunia yaitu mereka mengambil segala pemberian yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka itu, karena sesungguhnya mereka ketika berada di dunia selalu mengerjakan amal kebajikan, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia dengan tujuan semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 17-19


Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 5-8

0
Tafsir Surat Adz-Dzariyat
Tafsir Surat Adz-Dzariyat

Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 5-8 berisi penegasan tentang janji Allah akan hari kiamat hingga hari perhitungan nanti, serta penjelasan tentang langit yang mempunyai jalan-jalan. Pada Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 5-8 ini dipaparkan secara ilmiah melalui teori fisika bagaimana langit yang begitu jauh jaraknya dengan bumi, tetapi bisa dilalui hanya satu hari. Seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah dalam perjalanan Isra’ Mikraj. Selain itu, Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 5-8 ini menjelaskan tentang isi sumpah pada ayat 8 terkait selisih pendapat tentang Rasulullah saw. dan Alquran.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 1-4


Ayat 5-6

Pada ayat 5-6 ini menegaskan tentang isi sumpah tersebut: ‘Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu seperti hari kebangkitan, pembalasan, hisab pada hari kiamat semuanya itu pasti akan terjadi. Dan bahwa sesungguhnya hari pembalasan bagi setiap pasti terjadi’.

Ayat 7

Dalam ayat ini Allah bersumpah: Demi langit yang mempunyai garis edar (orbit) tempat beredarnya bintang-bintang dan planet-planet. Menurut Quraish Shihab, kata al-Hubuk dapat berarti yang indah dan baik atau yang teratur. Dapat pula dipahami sebagai bentuk jamak dari habikah atau Hibak, yakni jalan, seperti jalan-jalan yang terlihat di atas air apabila ditimpa hembusan angin.

Dalam teori fisika relativitas umum, dikenal mengenai mekanisme pemendekan jarak yang sangat jauh menjadi hanya beberapa meter saja. Einstein menyebutnya sebagai jembatan (bridge) dan saat ini para ilmuwan menyebutnya sebagai wormhole (lubang cacing). Wormhole ini merupakan jalan pintas yang menghubungkan dua tempat di jagad raya ini. Sebagai gambaran, kita ingin bepergian ke suatu galaksi yang letaknya 100 juta tahun cahaya dari bumi (jika 1 tahun cahaya = 9,46 x 1012 km, maka galaksi tersebut jaraknya dari bumi sekitar 9,46×1018 km, atau 9,46 juta-juta-juta km!). Tidak terbayangkan kapan kita sampai ke galaksi tersebut. Andaikata ada pesawat ulang-alik yang memiliki kecepatan mendekati kecepatan cahaya saja kita memerlukan waktu 100 juta tahun! Namun apabila kita menggunakan jalan pintas wormhole, kita akan sampai di galaksi hari ini. Perlu dicatat bahwa ini merupakan konsekuensi dari pemendekan jarak yang terjadi dalam wormhole.

Dengan demikian bisa jadi, al-Hubuk berupa sebuah jalan seperti yang digambarkan oleh para ahli fisika, wormhole, sebuah jalan khusus yang diberikan Allah kepada para malaikat dan hamba-hamba-Nya yang terpilih. Perjalanan Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mikraj, boleh jadi melewati mekanisme pemendekan jarak sehingga jarak yang demikian jauhnya ditempuh Rasulullah hanya dalam bilangan jam.


Baca Juga: Menguak Sisi Sains Skenario Perjalanan Isra Mikraj dalam Al-Quran


Ayat 8

Ayat ini menegaskan tentang isi sumpah tersebut, bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat tentang Muhammad saw dan Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang menganggap Muhammad saw sebagai tukang syair, ada pula yang menuduhnya sebagai seorang tukang sihir atau gila, dan terhadap Al-Qur’an ada yang menuduh sebagai kitab dongengan purbakala, kitab sihir atau pantun. Perbedaan pendapat yang sangat mencolok itu menjadi bukti yang nyata tentang rusaknya alam pikiran mereka yang penuh dengan syirik.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 9-16


Aspek Pertama Membentuk Pribadi Manusia Unggul: Ilmu Pengetahuan

0
Manusia Unggul
Manusia Unggul

Islam menginginkan agar umatnya menjadi manusia unggul dalam semua aspek, baik aspek-aspek keduniaan maupun aspek ukhrawi. Ada beberapa ciri pribadi muslim yang unggul yang telah digambarkan oleh Allah dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan oleh Rasulullah di dalam hadisnya. Di antaranya ciri itu adalah اتقاكم (manusia yang paling bertakwa), أرفعهم درجة عند الله (manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah), أحسن عملا (manusia yang paling baik amalnya), أحسنهم خلقا (manusia yang paling baik akhlaknya), dan أنفعهم للناس (manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia).

Pembangunan pribadi-pribadi itu harus diarahkan untuk mencapai keunggulan menjadi manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah, yang paling bertakwa, yang paling baik akhlaknya, dan yang paling bermanfaat bagi manusia, maka pembangunannya harus dilakukan untuk menjadi manusia unggul: 1) yang memiliki ilmu dan kecerdasan, 2) yang mampu mengamalkan ilmunya dengan amal dan karya-karya terbaik 3) yang mampu menjaga hubungan yang baik dengan sesama mahluk, mampu menjaga hubungan yang baik dengan lingkungannya, dan 4) mampu menjaga hubungan yang baik dengan pencipta-Nya, Allah swt.

Jadikanlah diri Anda menjadi manusia unggul, maka jadikanlah dirimu menjadi manusia yang unggul dengan ilmu pengetahuan, yang unggul dalam beramal, yang unggul dalam menjaga hubungan dengan sesama, hubungan dengan sesama makhluk, dan unggul menjaga hubungan dengan Allah Swt. jika Anda ingin menjadi manusia yang terbaik, baik di mata manusia maupun di mata Allah swt, maka raihlah keunggulan-keunggulan itu.

Baca Juga: Mengingat Allah Swt dengan Muhasabah dalam Al-Quran dan Hadis

Aspek pertama yang harus dibangun dalam pembangunan manusia yang unggul adalah aspek ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan kecerdasan adalah modal yang pertama dan paling utama yang harus dimiliki oleh setiap pribadi. Setip manusia adalah pribadi yang diberi kedudukan yang paling tinggi sebagai khalifah Allah di bumi, yang harus mengolah bumi ini sesuai dengan tuntunan-Nya. Untuk mengolah bumi yang diamanatkan oleh Allah itu, maka setiap manusia harus memiliki ilmu/pengetahuan dan kecerdasan. Ilmu menjadi syarat yang sangat penting yang harus dipenuhi oleh setiap manusia.

Tidakkah kita ingat, ketika Adam a.s. telah diciptakan oleh Allah sebagai khalifah Allah yang pertama di bumi, hal yang pertama dan paling utama yang dianugerahkan Allah kepadanya adalah ilmu pengetahuan. Ini bekal yang paling pertama yang harus dimiliki oleh Adam agar Adam dapat menjalani kehidupan dunia ini dengan baik dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah itu dengan baik. Allah telah menggambarkan hal ini dalam QS. Al-Baqarah [2]: 31:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”

Rasulullah saw. menerangkan di dalam hadisnya tentang kelebihan dan keutamaan orang yang berilmu: “Dari Abu al-Darda’ dia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Para malaikat akan membukakan sayapnya karena keridaan terhadap apa yang dilakukan oleh orang yang mencari ilmu. Pencari ilmu akan dimintakan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan bumi, hingga ikan-ikan yang ada di dasar laut. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan bulan purnama atas semua bintang di langit. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang telah mendapatkannya, maka dia telah mendapatkan suatu bahagian yang paling baik.” (HR. Ibn Abi Syaibah).

Baca Juga: Berinfak di Jalan Allah Swt dan Balasan yang Didapatkan

Ilmu yang kalian dapatkan hari ini adalah mudal yanga amat berharga untuk kehidupanmmu di hari hari esok dan hari-hari selanjutnya. Ilmu akan mencerahkan masa depanmu, dan menjadi sarana mengantarkanmu kepada kebahadiaan dan kesejahteraan. Jika engkau tidak memiliki ilmu pada hari ini berarti engkau tidak memiliki sesuatu yang berharga bagi masa depanmu. Masa depanmu akan kabur dan tidak jelas karena engkau tidak memiliki ilmu. Karena itu, tuntutlah ilmu di mana pun dan kapanmu agar masa depanmu bersinar.

Tafsir Surah An-Nur Ayat 26: Tentang Jodoh Sebagai Cerminan Diri

0
Jodoh
Jodoh

Jodoh menjadi sebuah perkara yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah Swt. Ada banyak orang yang menjalin hubungan tetapi pada akhirnya justru kandas ditengah jalan. Ada pula orang berharap kriteria jodoh yang bermacam-macam, ingin yang tampan, cantik, baik, dan lain-lain tetapi pada akhirnya mendapat jodoh yang bertolak belakang.

Namun terlepas dari berbagai ekspektasi tentang jodoh yang diidam-idamkan, sejatinya diri kita sendiri yang menjadi gambaran. Lalu bagaimana sesungguhnya Al-Qur’an menjelaskan tentang jodoh sebagai gambaran diri? Allah Swt. berfirman sebagai berikut.

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِۚ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur [24]: 26)

Tafsir QS. An-Nur [24]: 26

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan bahwa: “Wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Begitu pula sebaliknya, wanita yang baik hanya layak untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik.

Baca Juga: Semua Manusia itu Sama, Lantas Kenapa Ada Kafaah dalam Pernikahan? Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 13

Perkataan ini merupakan konsekuensi lazim yang harus ada, sebagaimana berlaku pada Aisyah yang dijadikan Allah sebagai istri Rasulullah. Ia merupakan wanita yang baik sehingga pantas untuk Allah sandingkan dengan Rasulullah. Sekiranya Aisyah tidak baik, tentu secara syar’i dan kauni tidak pantas menjadi istri Rasulullah.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa menurut satu pendapat, ayat ini sama dengan firman Allah, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur [24]: 3)

Wanita-wanita yang keji adalah para pezina, wanita-wanita yang baik adalah wanita yang memelihara kesucian diri. Demikian pula dengan laki-laki yang baik dan perempuan yang baik. Pendapat ini menyatakan bahwa kebanyakan orang akan dipasangkan dengan yang hampir mirip dengannya.

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menambahkan bahwa yang dimaksud dalam kata khabisat dan thoyyibat dalam ayat tersebut orang perempuan. Kebiasaan yang terjadi adalah orang-orang yang bejat, nakal, dan amoral biasanya menikah dengan orang yang bejat, nakal, dan amoral juga. Orang yang baik-baik, biasanya menikahi orang yang baik-baik juga.

Bisa juga, kata khabitsat dalam ayat di atas maksudnya adalah perkataan yang buruk, yaitu qadzf yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang berperan dalam kasus al-Ifk. Oleh karena itu, maknanya yaitu, ucapan-ucapan keji dari perkataan para pihak yang berperan dalam kasus al-Ifk untuk para laki-laki yang keji, nakal, bejat, dan amoral, dan sebaliknya. Ucapan-ucapan yang baik dari perkataan orang-orang yang mengingkari dan menolak al-Ifk (berita bohong dan tuduhan palsu) tersebut adalah milik para laki-laki yang baik-baih dan sebaliknya.

Secara khusus asbabun nuzul ayat di atas memang berkaitan dengan keadaan Siti Aisyah yang mendapat tuduhan keji yang tersiar bahwa Aisyah ra sudah berlaku mesum dengan Sufyan bin Muatthal. Tuduhan tersebut disebarkan oleh orang-orang munafik yang ingin menjatuhkan Rasulullah Saw.

Maka turunlah ayat ini sebagai bantahan bahwa Siti Aisyah diciptakan sebagai wanita yang baik-baik dan diperuntukkan untuk laki-laki terbaik yaitu Rasulullah. Sehingga sangat tidak masuk akal jika beliau melakukan perbuatan keji tersebut.

Jodoh adalah Cerminan Diri

Ungkapan “jodoh adalah cerminan” diri nampaknya sangat masuk akal. Sejumlah penelitian juga menyebutkan bahwa manusia normalnya tertarik terhadap sesuatu yang sudah familiar dan hal ini juga berlaku dalam urusan asmara. Paparan berulang terhadap suatu karakteristik dalam diri seseorang yang membangkitkan perasaan familiar akan membuat ketertarikan terhadap orang itu semakin besar.

Misalnya seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan pecandu narkoba, maka ia juga akan cenderung bersama dengan orang lain yang sesama pecandu. Bukan karena orang itu selalu menganggapnya menarik, tetapi karena alam bawah sadar menganggap perilaku seorang pecandu sudah tidak asing lagi.

Melalui ilustrasi tersebut terlihat bahwa ketika seseorang mempunyai kebiasaan yang sama maka besar kemungkinan orang tersebut akan bersama tidak terkecuali dalam persoalan jodoh. Artinya adalah peluang terbesar seseorang akan berjodoh dengan orang yang memiliki hobi atau kegemaran serta kebiasaan yang sama pula.

Baca Juga: Surah Ar-Rum Ayat 21: Sebenarnya, Apa Makna Pasangan dalam Rumah Tangga?

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas bahwa perempuan yang baik akan diperuntukkan untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Laksana Sayyidah Aisyah yang disandingkan dengan Rasulullah menunjukkan beliau adalah wanita yang baik dan terhormat sehingga pantas menjadi istri (jodoh) Rasulullah.

Penutup

Demikian Allah gambarkan dalam ayat di atas terkait dengan gambaran jodoh yang akan didapatkan masing-masing orang. Setiap manusia akan dipasangkan dengan manusia lain yang mencerminkan dirinya sendiri. Namun sekali lagi bahwa jodoh adalah “rahasia Allah” yang tidak diketahui oleh sesiapa pun. Bisa saja Allah menjodohkan lelaki yang baik dengan wanita yang kurang baik atau sebaliknya dengan tujuan saling melengkapi dan memperbaiki satu sama lain.

Hanya saja secara logis dapat dianalogikan bahwa seseorang akan lebih tertarik dengan orang yang satu frekuensi atau kebiasaan yang sama. Dengan kata lain bahwa ketika seseorang mempunyai kebiasaan yang baik tentu orang yang didekatinya atau ditargetkannya menjadi pasangan adalah yang hampir bahkan sama dengan kebiasaan dirinya, begitu pula sebaliknya. Wallahu A’lam.

Matahari dan Bulan Sebagai Penunjuk Waktu Ibadah dalam Al Quran

0
Matahari dan Bulan
Matahari dan Bulan

Fenomena yang terjadi di alam semesta disebut sebagai ayat-ayat kauniyah. Yang dimaksud ayat kauniyah adalah fenomena alam sebagai makhluk ciptaan Allah, dan mempertegas  bahwa Allah yang mengatur semua makhluk-Nya. Sebagai contoh adalah peredaran matahari dan bulan.

Manusia akan dituntut untuk berpikir apabila dapat memahami ayat kauniyah ini dan mampu menemukan suatu gagasan yang masuk akal guna menepis asumsi yang salah (mitos) terhadap suatu peristiwa alam yang terjadi. Di dalam Al-Quran juga terdapat ayat yang memberikan isyarat fenomena alam sebagaimana terdapat dalam surat Ar-Rahman ayat 5:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.”

Dalam Tafsir Al-Wajiz dijelaskan bahwa Matahari dan Bulan beredar dengan perhitungan rinci yang teratur, sehingga keduanya menunjukkan perhitungan bulan dan tahun (Wahbah az-Zuhaili, Al Wajiz, 532)

Baca Juga: Hoax Makin Marak di Medsos, Ini Kiat-Kiat Menghindarinya dari Al-Quran

Dalam ayat lain seperti terdapat dalam Surat Yunus ayat 5 juga diterangkan peristiwa yang berhubungan dengan matahari dan bulan

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

Dijelaskan dalam Tafsir Jalalain tentang sifat sinar dari matahari bahwa kata ضِيَاءً berarti sinar kemuliaan atau dalam tafsir al – Mukhtashar dijelakan bahwa ضِيَاءً berarti cahaya yang keluar dari sesuatu itu sendiri atau dari dalam benda itu sendiri. (Tafsir al-jalalain 850)

Hal ini menunjukan bahwa matahari merupakan benda langit yang menghasilkan cahayanya sendiri. Selain itu dari ayat di atas juga memberi pemahaman bahwa salah satu fungsi matahari dan bulan adalah untuk mengetahui perhitungan waktu, dimana waktu merupakan sesuatu yang penting untuk diketahui  bagi umat islam  sebagai salah satu indikator syarat dalam menjalankan ibadah sebagaimana diterangkan dalam Al Quran surat al isra ayat 78

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

Ayat di atas menerangkan bahwa matahari digunakan sebagai tanda masuk waktu untuk melaksanakan shalat. Wahbah Zuhaili  dalam Tafsir al-Wajiz  menerangkan ayat diatas sebagai berikut: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Wahbah az-Zuhaili, Al Wajiz 291).

Selain matahari yang digunakan sebagai penunjuk waktu, dalam ayat lain Allah Swt juga menjelaskan fungsi bulan sebagai penunjuk waktu terdapat dalam Al-Quran Surah Al Baqarah 189:

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ ٱلْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا۟ ٱلْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا۟ ٱلْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَٰبِهَا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumahrumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialahkebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintupintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Baca Juga: Jaminan Dipermudah Mempelajari Al-Qur’an: Tafsir Surah Al-Qomar Ayat 17

M, Quraish Shihab memberikan penafsiran ayat diatas: kata “Ahillah” jamak dari “hilal”pada permulaannya tampak kecil tipis kemudian terus bertambah hingga dengan cahaya. Lalu kembali sebagaimana semula, maka keadaanya tidak seperti matahari yang terlihat penuh satu lingkaran. “mawaqit” jamak dari kata”miqat”yang artinya pertanda waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah waktu bercocok tanam, berdagang, iddah bagi perempuan, waktu berpuasa dan berbuka mereka, serta kapan waktu melakukan ibadah haji. (M, Quraish Shihab Tafsir Al Misbah, 417).

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Allah Swt yang telah mengatur peredaran matahari dan bulan selain untuk keseimbangan alam juga digunakan sebagai penunjuk waktu umat islam dalam melaksanakan ibadah. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 1-4

0
Tafsir Surat Adz-Dzariyat
Tafsir Surat Adz-Dzariyat

Tafsir Surat Adz-Dzariyat ayat 1-4 ini menjelaskan tentang makna surat-surat yang diawali dengan sumpah. Biasanya surat-surat yang diawali dengan sumpah dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur yakni ketauhidan, kerasulan, dan kebangkitan. Hikmah lain adanya sumpah tersebut yaitu untuk menarik perhatian orang Arab pada saat itu. Mereka hanya mengindahkan sumpah-sumpah yang serius. Karena Alquran saat itu turun di wilayah Arab, sehingga sangat memperhatikan adat kebiasaan orang-orang sekitar sana.

Selain itu, dalam Tafsir Surat Adz-Dzariyat ayat 1-4 ini juga dijelaskan tentang definisi angin dan pergerakan udara secara ilmiah. Bagaimana pergerakan angin bisa menjadi manfaat atau bahkan sebaliknya dapat menimbulkaan kerusakan.


Baca Juga: Surah al-Maidah 89: Sumpah Palsu dan Kafarat Ausath Al-Tha’am


Ayat 1-4

Surat Adz-Dzariyat dimulai dengan sumpah Allah swt bahwa semua yang diancamkan itu pasti akan berlaku dan bahwa balasan terhadap segala perbuatan pasti akan terbukti. Dalam Surat yang sebelumnya, dikisahkan kebinasaan beberapa umat yang terdahulu secara umum dan dalam Surat Adz-Dzariyat ini diberikan perinciannya.

Surat-Surat yang pada permulaannya ada sumpah dengan huruf-huruf hijaiah (faw±ti¥us-suwar) biasanya dimaksudkan untuk memperkuat salah satu dari tiga unsur, yaitu ketauhidan, kerasulan dan kebangkitan. Dalam Surat-Surat yang dimaksudkan untuk memperkuat ketauhidan, biasanya digunakan sumpah dengan benda-benda yang tidak bergerak, dan untuk memperkuat keimanan tentang hari kebangkitan digunakan sumpah dengan benda-benda yang bergerak karena kebangkitan itu mengandung pengumpulan dan pemisahan yang lebih pantas dikaitkan dengan benda-benda yang bergerak.

Orang Arab sangat takut akan sumpah palsu karena akibat yang sangat buruk dan terkutuk. Oleh karena itu, setiap sumpah yang serius oleh mereka sangat diperhatikan, terlebih jika yang bersumpah itu adalah Allah swt.

Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah, “Demi angin kencang yang menerbangkan debu dengan tiupannya yang sangat kuat dan dahsyat. Dan dengan awan yang gumpalannya mengandung banyak air hujan. Dan kapal-kapal yang berlayar hilir-mudik di lautan dengan mudah. Dan dengan para malaikat yang membagi-bagi segala urusan yang dipikulkan kepada mereka seperti mengatur perjalanan planet dan bintang-bintang, soal menurunkan air hujan, membagi rezeki, dan sebagainya.”


Baca Juga: Mengenal Enam Fungsi Angin dalam Al-Quran Perspektif Tafsir Ilmi


Ayat di atas mengajak kita untuk berpikir tentang angin. Angin adalah massa udara yang bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Penyebab adanya perbedaan tekanan ini adalah perbedaan suhu. Pada keadaan volume yang tetap, kenaikan suhu udara akan menaikkan tekanannya. Tetapi pada kenyataannya di dalam kenaikan suhu udara pada suatu tempat akan menyebabkan pemuaian volume udara dan pengaliran udara ke atas, sehingga kerapatan udara di tempat itu akan berkurang dan akan diisi oleh massa udara dari tempat lain yang lebih dingin. Jadi pada dasarnya pergerakan udara ini dikendalikan oleh energi yang ditimbulkan oleh perbedaan suhu di tempat-tempat berlainan di permukaan bumi. Dengan pergerakannya, angin juga berperan sebagai radiator penyeimbang suhu udara. Tanpa adanya angin, suhu di daerah gurun akan jauh lebih panas daripada yang didapati sekarang, demikian pula di daerah dingin akan sangat membekukan.

Energi pergerakan angin yang memadai dapat memberikan banyak manfaat kepada manusia, seperti untuk pelayaran, memutar kincir untuk pembangkit energi. Di luar kendali manusia angin berperan penting dalam penyerbukan bunga-bunga menjadi buah dan menerbangkan biji-bijian serta spora untuk penyebaran tumbuhan.

Fenomena lain yang terjadi adalah terciptanya gelombang di lautan. Pergerakan udara dapat pula terjadi dengan energi yang demikian besar sehingga menimbulkan bencana dan kerugian, misalnya dalam bentuk badai dan topan. Dengan angin Allah bersumpah pada ayat berikutnya (adz-Dzariyat/51 ayat 4): Dan yang membagi-bagi urusan. Dengan adanya angin, demikian banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang diakibatkan hembusannya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surat Adz-Dzariyat Ayat 5-8


Tipe-Tipe Suami Dalam Al-Quran

0
tipe-tipe suami dalam Al-Quran
tipe-tipe suami dalam Al-Quran

Tidak hanya istri yang harus berbuat baik, suami pun juga semestinya harus berbuat demikian. Ia berkewajiban untuk menafkahi dan memperlakukan istrinya dengan baik. Selain itu, seorang suami juga semestinya taat pada setiap perintah Allah dan mengajak serta membimbing istrinya untuk melakukan hal yang sama. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa terkadang ada suami yang justru berbuat sebaliknya. Mereka memperlakukan istrinya dengan tidak manusiawi dan memaksa istri mereka melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah Allah Swt. Lalu, bagaimana sebenarnya Al-Qur’an menggambarkan tentang tipe-tipe suami?

Terkait hal itu, Allah Swt. menerangkan beberapa contoh tipe suami yang terdapat dalam Al-Quran.

Baca Juga: Kesalingan dan Kesetaraan Relasi Suami-Istri dalam Maqashid Al-Quran

Pertama, tipe suami yang kejam seperti Fir’aun. Allah Swt. berfirman:

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Terjemah: “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahrim [66]: 11)

Al-Qurthubi menjelaskan ayat di atas tentang Asiyah, istri dari Fir’aun yang menjadi perumpamaan bagi orang-orang beriman. Ia disiksa oleh Fir’aun dengan sangat keras karena diketahui beriman kepada Allah Swt.

Ibnu Jarir mengatakan istri Fir’aun disiksa dengan cara dipanggang di bawah panasnya terik matahari. Ketika Fir’aun beranjak pergi meninggalkannya, malaikat meneduhinya dengan sayap-sayap mereka, dan ia melihat rumah tempat tinggalnya di surga.

Melalui ayat tersebut tergambar sifat Fir’aun sebagai suami yang sangat kejam terhadap istrinya sendiri karena beriman kepada Allah yang enggan menyembah dirinya (Fir’aun) sebagai Tuhan.

Tipe suami seperti Fir’aun ini mereka memaksa istrinya untuk berbuat hal-hal yang dilarang oleh Allah hanya untuk menyenangkan diri mereka sebagai suami. Dan ketika sang istri tidak menuruti, maka ia akan bersikap kasar bahkan kejam ke istrinya. Sikap egois yang sangat ditonjolkan akan merongrong keutuhan hubungan suami dan istri itu sendiri. Maka tipe suami seperti ini sejatinya tidak boleh dipertahankan dan istri harus pergi meninggalkannya.

Baca Juga: Pesan untuk Suami-Istri dalam Berumah Tangga pada Surah Al- Baqarah ayat 233

Kedua, tipe suami yang mengajak istrinya maksiat seperti Abu Lahab. Allah Swt. berfirman:

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ

Terjemah: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab [111]: 1-5)

Al-Qurthubi menjelaskan ayat tersebut tentang kisah Abu Lahab dan istrinya yang selalu berusaha menentang dakwahnya Rasulullah Saw. Abu Lahab dan istrinya dinyatakan akan kekal di dalam neraka karena sifat kufur mereka. Begitu pula saat kematian mereka berdua yang sangat tragis dimana sang istri mati karena talinya sendiri dan sang suami mati karena terserang wabah penyakit yang mengerikan.

Melalui ayat tersebut Allah Swt. memperlihatkan potret suami istri yang bekerja sama dalam keburukan. Seorang suami yang semestinya membimbing istri menjadi lebih baik, justru malah mengajak bekerja sama dalam menghancurkan orang lain.

Suami seperti Abu Lahab bukan figur yang dapat dijadikan panutan, sebab sejatinya peran suami adalah membimbing ke arah jalan yang benar. Namun ketika suami justru mengajak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah maka ia layaknya seperti Abu Lahab yang bekerja sama dengan istrinya dalam keburukan.

Baca Juga: Surat Al-Baqarah Ayat 187: Isyarat Relasi Kesetaraan Antara Suami dan Istri

Ketiga, tipe suami yang tegar dan ikhlas seperti Nabi Ibrahim. Allah Swt. berfirman:

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

Terjemah: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 37)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim berdoa untuk anak dan istrinya yang ditinggalkan di lembah gersang. Ia meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah.

Padahal lebih dari 80 tahun Nabi Ibrahim menantikan kehadiran keturunan, tapi ketika ia hadir di pangkuannya saat keputusasaan memenuhi rongga dadanya, ia justru membawa anaknya ke lembah itu. Seakan-akan ia hanya datang menitip mereka kepada alam. Namun demikian, mereka tunduk pada perintah Allah dan meyakini kebenaran janji-Nya. Sehingga Nabi Ibrahim ikhlas melepaskan anak dan istrinya. Selain Nabi Ibrahim, Nabi Zakariya juga masuk dalm figur suami yang ketiga ini. Ia bersama istrinya saling menguatkan dalam mengarungi kehidupan, terlihat dalam kisah dan doa Nabi Zakariya ketika berdoa agar diberi keturunan.

Tipe suami seperti ini yang semestinya dijaga, suami yang rela berkorban untuk agama, keluarga, dan orang-orang yang disayangi walaupun dirinya sendiri harus menahan luka yang begitu dalam. Namun pengorbanan yang dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah Swt. untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang lebih kekal.

Penutup

Demikian beberapa tipe suami yang digambarkan dalam Al-Quran. Selain tiga tipe di atas, sebenarnya masih banyak terdapat tipe-tipe suami yang lain yang tergambar di dalam Al-Qur’an. Namun dari tiga tipe tersebut di atas, setidaknya dapat menjadi bahan introspeksi dan renungan bagi para suami untuk terus memperbaiki diri guna memberi kebahagiaan dan kedamaian kepada keluarga tercinta khususnya kepada istri. Wallahu A’lam.

Empat Macam Larangan Seksualitas dalam Al-Quran

0
Seksualitas dalam Al-Quran
Seksualitas dalam Al-Quran

Salah satu tuntunan hidup yang tidak luput dari bimbingan Al-Quran adalah seksualitas. Seksualitas secara leksikal merupakan sesuatu yang berkenaan dengan jenis kelamin (sex) dan hubungan antara lawan jenis, seperti senggama, birahi dan sejenisnya. Hubungan tersebut merupakan sebuah naluri kodrati yang melekat dalam diri manusia (Shihab, 1996: 190). Oleh karena itu, Islam—melalui Al-Quran—memandang bahwa pengetahuan mengenai seksualitas adalah suatu yang penting dan memiliki peran yang signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia serta pembangunan karakter anak bangsa, sehingga masyarakat yang tercipta merupakan manifestasi masyarakat yang berpengetahuan positif tentang seksualitas.

Banyak term-term seksualitas dalam Al-Quran baik secara eksplisit maupun implisit. Misalnya tentang syahwat (Q.S. 3: 14; 4: 27), aurat (Q.S. 22: 31), alat kelamin (Q.S. 7: 20, 22, 26; 21: 91), sperma (Q.S. 75: 37), dan hubungan seksual (Q.S. 4: 19; 2: 222, 223). Term-term tersebut dijelaskan melalui retorika Al-Qur`an yang menganjurkan, mengingatkan, memerintah, dan juga melarang. Oleh karena itu selain anjuran tentang seksualitas, larangan tentangnya pun merupakan suatu hal yang penting untuk dipahami, sehingga naluri seksualitas manusia secara sadar digunakan sesuai tuntunan dan tidak disalahgunakan (misuse).

Baca Juga: Memahami Makna Seksualitas Perempuan Melalui Kisah Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Quran

Empat larangan seksualitas dalam Al-Quran

Syahdan, dalam tulisan ini penulis merasa penting untuk menelaah larangan-larangan (don’t) atau peringatan (disclaimer) Al-Quran  mengenai seksualitas. Ajaran Al-Quran yang mengandung makna “larangan” terhadap seksualitas setidaknya ada dalam empat hal. Pertama, larangan menuruti syahwat secara eksploitatif sehingga melupakan Tuhan. Larangan tersebut terkandung dalam Q.S. An-Nisa [4]: 27, yakni:

وَاللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوٰتِ اَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا ٢٧

“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).”

Rangkaian firman ini mulai dari ayat 24 sampai ayat 27 merupakan penjelasan Al-Quran mengenai (hubungan) seks yang halal melalui pernikahan (Al-Zuhaili, 2013: 52). Syeikh Abdurrahman Ishaq dalam Lubab al-Tafsir min Ibn Katsir (2003: 279) menjelaskan bahwa ayat ini merupakan janji Allah untuk menerima taubat manusia karena mengikuti syariat-Nya, sementara para pemuja setan dari golongan Yahudi, Nasrani, dan para pezina menggoda dengan syahwat seksual agar manusia berpaling dari kebenaran.

Al-Zuhaili (2013: 53) menambahkan komentar bahwa penerimaan taubat yang dimaksud adalah bagi mereka yang sempat melakukan dosa karena mengikuti nafsyu syahwat dengan menikahi ibu, saudara perempuan, dan perempuan lain yang diharamkan sebagaimana orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Syahdan, ayat ini secara umum dapat dimaknai sebagai larangan berpaling dari ajaran agama atas dorongan syahwat seksualitas.

Kedua, larangan melakukan seks yang menyimpang. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-a’raf [7]: 81, yakni:

 اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ ٨

“Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.”

Ayat ini menurut Ibn Katsir (2003: 415) menjelaskan tentang perilaku penyimpangan seksual pertama yang dilakukan oleh manusia, yakni oleh kaum Sadum. Mereka melakukan hubungan seksual antara pria sesama jenis (homoseksual), sehingga perilaku tersebut dikatakan sebagai perbuatan bodoh (jahl) dan melampaui batas (israf) karena telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya (dzalim).

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah (2005: 161) memberikan komentar yang cukup menggelitik. Menurutnya, Nabi Daud tidak Allah perintahkan untuk mengajak kepada tauhid, melainkan beliau secara khusus diutus untuk meluruskan keburukan (fahisyah). Hal ini terlihat pada penekanan frasa “innakum lata`tuna” yang secara semantik sederajat syariat ketuhanan dan tauhid, karena keduanya adalah fitrah. Quraish Shihab menganggap bahwa perilaku homoseksual adalah pelanggaran fitrah yang tidak dapat dapat dibenarkan dalam kondisi apapun. Artinya, perilaku homoseksual kaum Sadum tersebut melampaui batas (israf) fitrah kemanusiaan.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Larangan atas Kekerasan Seksual dalam Surah An-Nur Ayat 33

Ketiga, larangan mendekati zina. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Isra [17]: 32, yakni:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Ayat ini menurut Ibnu Katsir (2005: 72) merupakan larangan mendekati zina dan hal-hal yang mendorong perbuatan zina. Zina sendiri menurut Al-Shabuni dalam Rawai’ al-Bayan (1980: 8) dan Al-Nawawi dalam Syarah Muhadzdzab (tt.: 4) merupakan persetubuhan (jima’) yang dilakukan laki-laki dan perempuan tanpa ikatan suami-isteri. Sementara hal yang mendorong zina misalnya seperti khalwat, menonton pornografi, dan pergaulan bebas (Fatih, 2020: 13-14).

Selain itu, Al-Zuhaili juga memberi komentar bahwa larangan zina dalam ayat tersebut karena zina merupakan perbuatan israf yang sangat keji (fahisyah), sangat dibenci (maqtan), dan jalan yang buruk (sa`a sabila). Al-Zuhaili melanjutkan bahwa keharaman zina tersebut karena dapat merusak nasab dan menghinakan derajat manusia yang tidak ada bedanya dengan hewan.

Keempat, larangan melakukan hubungan seksual dengan cara dan kondisi yang tidak dikehendaki, yakni dengan cara yang ma’ruf  dan kondisi (perempuan) yang suci. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 222, yakni:

 وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ…..  ٢٢٢

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu…”

Baca Juga: Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth

Ayat tersebut menurut Ibnu Katsir (2005: 430) merupakan larangan untuk melakukan hubungan seksual berupa jima’ pada kemaluan wanita yang sedang haid. Sementara pada sesuatu selain kemaluannya, mayoritas ulama membolehkannya.

Selain itu, ayat tersebut juga mengandung penjelasan bahwa ketika wanita selesai haid maka diperbolehkan untuk menggaulinya (al-ityan) atau melakukan jima’ (Al-Zuhaili, 2013: 519). Frasa “fa`tuuhunna min haytsu amarakumullah” menurut Al-Zuhaili (2013: 520) bermakna bahwa cara berhubungan seksual yang ma’ruf sesuai ajaran Islam adalah dengan melakukan penetrasi hanya pada bagian vagina yang merupakan tempat reproduksi.

Demikian, setidaknya empat hal mengenai seksualitas dalam Al-Quran itulah yang setidaknya harus dipahami oleh manusia—muslim khususnya, karena pada dasarnya seluruh ajaran yang ada di dalam Al-Quran adalah demi kemaslahatan. Artinya, baik itu perintah ataupun larangan keduanya sama-sama mengandung hikmat at-tasyri’ yang dijamin kebaikannya. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah as-Saff ayat 12-14

0
Tafsir Surah As-Saff
Tafsir Surah As-Saff

Tafsir Surah as-Saff ayat 12-14 ini menceritakan kemenangan yang akan diperoleh oleh Rasulullah dan kaum Muslimin yang dapat mengalahkan negeri musuh dalam waktu yang dekat, sehingga agama Islam akan tersebar diseluruh penjuru negeri. Sebagai penutup, Tafsir Surah as-Saff ayat 12-14 ini mengingatkan umat Islam untuk saling menolong.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah As-Saff ayat 7-11


Ayat 12

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim dan dinyatakan sahih dari ‘Abdullah bin Salam bahwa ketika para sahabat Rasulullah sedang duduk-duduk santai sambil berbincang-bincang, di antara mereka ada yang berkata, “Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih dicintai Allah pasti kami akan mengerjakannya,” maka turunlah ayat ini.

Jika manusia beriman, mengakui kebenaran Rasulullah saw dan berjihad di jalan-Nya, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Seakan-akan dosa itu tidak pernah diperbuatnya atau menjauhkannya dari perbuatan dosa itu. Allah juga menyediakan tempat bagi mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tempat di dalam surga adalah tempat yang paling indah, dan paling menyenangkan hati orang yang berada di dalamnya.

Ayat 13

Dalam ayat ini diterangkan kemenangan dan keuntungan yang akan diperoleh oleh Rasulullah dan kaum Muslimin di dunia, yaitu mereka akan dapat mengalahkan musuh-musuh mereka, menaklukkan beberapa negeri dalam waktu yang dekat, memberikan kedudukan yang baik bagi kaum Muslimin, serta kekuatan iman dan fisik. Dengan demikian, mereka berkuasa di Timur dan Barat, dan agama Islam tersebar di seluruh dunia.

Ayat ini termasuk ayat yang menerangkan kemukjizatan, yaitu menerangkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hal ini dipercayai betul oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, sehingga menumbuhkan kekuatan dan semangat yang hebat di kalangan kaum Muslimin. Dalam sejarah terlihat dan terbukti bahwa dalam waktu yang sangat singkat agama Islam telah dianut oleh sebagian penduduk dunia, sejak dari ujung barat Afrika sampai ujung timur Indonesia, dari Maroko ke Merauke, dan dari Asia Tengah di utara sampai ke Afrika di selatan.

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin mengenai keuntungan yang akan mereka peroleh dari perdagangan itu di dunia dengan keuntungan-keuntungan dan di akhirat berupa surga. Penggunaan kata perniagaan dalam ayat ini sebagai perumpamaan karena masyarakat Arab pada saat itu hidup dari perniagaan dan perdagangan.

Ayat 14

Allah memerintahkan kaum Muslimin agar menjadi penolong-penolong agama Allah, menyebarluaskan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya sehingga tidak ada yang mengalahkannya, dengan beriman dan berjihad. Hal yang sama pernah dilakukan sahabat-sahabat terdekat Nabi Isa yang berkata kepada mereka, “Siapakah penolong agama Allah?” Mereka menjawab, “Kamilah penolong-penolong agama Allah.”

Ketika Nabi Isa menyampaikan risalahnya kepada Bani Israil dengan bantuan sahabat-sahabat setianya, sebagian Bani Israil itu ada yang memperkenankan seruannya, sedang yang lain ada yang mengingkari dan menolaknya. Mereka yang menolak itu menuduh Isa sebagai seorang anak zina, yang dilahirkan karena perzinaan ibunya Maryam dengan seorang laki-laki, dan ada pula yang mengatakan bahwa Isa itu putra Allah, kekasih-Nya, dan sebagainya.

Dalam menghadapi orang-orang yang mengingkari seruan Nabi Isa itu serta mengada-adakan kebohongan tentangnya, maka Allah menguatkan hati orang-orang yang beriman dari mereka, sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh itu. Firman Allah:

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ   ٥١ 

 Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat). (Gafir/40: 51)

(Tafsir Kemenag)