Beranda blog Halaman 541

Meneladani Kisah Ashabul Kahfi dalam Al Quran

0
teladan ashabul kahfi
teladan ashabul kahfi

Kisah Ashabul kahfi merupakan kisah yang sangat istimewa yang berisi sekelompok pemuda yang memperjuangkan agama Allah swt tanpa mengenal lelah. Sampai-sampai Allah swt mengabadikannya dalam Al Quran dan terpilih menjadi nama surat yakni Surat al-Kahfi. Allah swt memberikan isyarat kepada kita bahwa kisah ashabul kahfi ini adalah kisah yang patut untuk dijadikan teladan, karena di dalamnya memuat beberapa pelajaran penting untuk diteladani dan diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Allah Swt berfirman dalam Q.S. al-Kahfi [18]: 13,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. (Q.S. al-Kahfi [18]: 13)

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa peristiwa ashabul kahfi ini menceritakan tentang sekelompok pemuda yang lari mengungsi dari kampung halaman mereka demi menghindari seorang raja yang zalim, yang berkuasa pada waktu itu. Kezaliman raja tersebut ditandai dengan perilakunya yang sewenang-wenang, antara lain mengajak untuk kembali kepada ajaran nenek moyang mereka, menyembah berhala, bahkan sampai membunuh siapa saja yang tidak mau tunduk dan patuh kepada perintahnya.

Baca juga: Kisah Teladan Nabi di Bulan Muharram; Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan Paus

Mereka kemudian masuk kedalam sebuah Gua dan tertidur di dalamnya selama tiga ratus tahun. Nah, gua itulah yang secara harfiah dalam bahasa arab disebut dengan al-Kahf, yang selanjutnya menjadi bagian dari nama surah dalam Al-Qur’an.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan beberapa hal yang dapat kita jadikan teladan dari kisah yang terkadung dalam surah Al-Kahfi ini, antara lain;

Pertama, mengucap syukur kepada Allah swt dengan alhamdulillah. Hal ini terkandung dalam Surat al-Kahfi ayat 1. Maka sudah sepantasnya kita sebagai umat muslim bersyukur atas anugerah Allah swt tersebut, yakni dengan selalu mengucapkan syukur alhamdulillăh.

Kedua, solutif dalam permasalahan sebagaimana kandungan ayat 1 bahwa Al Quran merupakan bimbingan yang lurus, dan sempurna, mengatasi dan menjadi tolok ukur kebenaran kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya dengan tujuan untuk memperingatkan kepada siapa saja perihal siksaan yang sangat pedih disisi Allah swt, yang tidak terjangkau atau terlukiskan dengan kata-kata.

Di samping itu juga memberikan berita gembira kepada orang-orang mukmin yang beriman dan selalu mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan ganjaran berupa surga dan segala kenikmatan di dalamnya.

Baca juga: Belajar Metode Demonstrasi Dari Kisah Nabi Khidir Dan Musa

Ketiga, dekatnya tuntunan Al Quran kepada jati diri manusia sebagaimana yang dilukiskan dalam kata hadza pada ayat 6. Ini menunjukkan bahwa Al Quran begitu dekat dengan jiwa manusia.

Keempat, hakikah jiwa manusia adalah suci, luhur dan tinggi serta tidak cenderung pada kehidupan duniawi yang rendah sebagaimana termaktub dalam ayat 7 dan 8. Akan tetapi, Allah swt telah menetapkan bahwa jiwa itu tidak dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaannya yang abadi kecuali dengan akidah yang benar serta amal saleh. Untuk itulah Allah swt membimbing manusia menuju pada kebenaran akidah dan amal saleh serta menempatkannya di bumi sebagai sarana penyucian jiwa untuk waktu tertentu.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Belajar Menjaga Amanah

Kelima, anjuran untuk menghentikan diskusi yang tidak bermutu dan jauh dari bukti yang valid. Hal ini diabadikan dalam ayat 19 pada redaksi perkataan mereka, “.. Tuhan kamu lebih mengetahui…”, suatu ucapan dimana merupakan anjuran untuk menghentikan diskusi mengenai berapa lama waktu mereka berada dalam gua.

Ucapan ini mengandung makna agar tidak menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak terjangkau oleh nalar. Ucapan penghuni gua itu juga menganjurkan agar kita menggunakan energi hanya untuk sesuatu yang penting dan bermanfaat. Karena ucapan diatas disusul dengan usulan agar segera menugaskan salah seorang diantara mereka untuk membeli makanan, karena hal itulah yang terpenting dan bermanfaat untuk saat dan kondisi mereka ketika itu.

Keenam, tidak terlena dengan kenikmatan sesaat. Hal ini ditunjukkan oleh kata wariq pada ayat 19, yaitu uang yang digunakan untuk membeli makanan. Meskipun uang itu memiliki peranan besar dalam terbukanya rahasia mereka, namun masa berlaku uang itu secara periodik.

Baca juga: Tafsir Al Quran dan Keteladanan Nabi

Hal ini mengisyaratkan bahwa betapapun seseorang telah mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan dalam menyembunyikan sesuatu, namun hal-hal yang terjadi diluar dugaan tetap terbuka lebar akibat kelemahan dan kelengahan yang tidak dapat dihindari.

Itulah beberapa hal yang dapat kita petik dari kisah ashabul kahfi ini. Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah dalam Alquran yang apabila direnungi akan mendapatkan pelajaran berharga. Hendaknya para orang tua mengajarkan kisah-kisah yang ada dalam Alquran kepada anak-anaknya, khususnya kebiasaan mendongeng sebelum tidur agar supaya mereka mengenal dan mampu meneladani kisah-kisah tersebut. Semoga kisah ini dapat bermanfaat dalam kehidupan kita.

Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 171

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 171 berbicara tentang larangan ekstrimisme beragama. Dalam ayat ini juga diterangkan tentang larangan menyekutukan Allah Swt. Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 171 populer digunakan sebagai dalil larangan berlebih-lebihan dalam beragama sehingga cenderung mengarah pada sikap kekerasan dan anti dialog.

Dalam Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 171 juga ditekankan tentang keesaan Allah Swt dan seluruh makhluk akan kembali kepada-Nya. Berikut adalah Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 171 yang diambil dari Al-Quran dan Tafsirnya Kementerian Agama RI:


Baca Sebelumnya: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 167 – 170


Ayat 171

Kaum Nasrani sudah melampaui batas dalam beragama dengan menambah-nambah hal-hal yang bukan dari agama, seperti memuja dan mengagung-agungkan nabi mereka, sampai melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah dengan mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya dan dengan mengatakan bahwa Isa itu adalah putra Allah. (al-Ma’idah/5: 77)

Hal ini pulalah yang membawa kaum Nasrani kepada anggapan bahwa Tuhan itu salah satu dari Tuhan yang tiga atau Tuhan itu terdiri dari tiga oknum. Sebagai penolakan atas paham yang salah ini Allah menyatakan bahwa Isa anak Maryam hanyalah utusan Allah kepada hamba-Nya, bukan Tuhan yang disembah sebagai yang dianggap kaum Nasrani.

Isa sendiri menyeru mereka supaya mengesakan Allah, tak ada yang disembah selain Allah, dan Nabi Isa telah melarang pula kaumnya  mempersekutukan Allah dengan  apa pun. Sebagai tambahan atas penegasan tersebut Allah berfirman lagi bahwa Isa itu diciptakan dengan kalimat berupa ucapan “jadilah” (kun), tanpa ada seorang laki-laki pun (bapak) yang menikahi ibunya, dan tanpa air mani yang masuk ke dalam rahim ibunya, seperti terciptanya manusia biasa.

Tatkala Allah mengutus malaikat Jibril kepada Maryam dan memberitahukan bahwa ia adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan berita gembira kepadanya, yaitu dia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Maryam merasa terkejut dan membantah dengan keras, karena ia masih perawan dan tidak pernah bersuami atau disentuh oleh seorang laki-laki. LaIu Jibril membacakan kepadanya firman Allah:

كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

…”Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Ali ‘Imran/3:47)

Demikianlah dengan kata “kun” itu terciptalah Isa dalam kandungan ibunya. Inilah suatu bukti kekuasaan Allah. Bila Dia hendak menciptakan sesuatu cukup dengan ucapan “kun” saja. Hal serupa ini berlaku pula pada penciptaan Adam sebagaimana tersebut pada firman Allah:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah dia (Ali ‘Imran/3:59)

Lalu ditiuplah roh ciptaan Allah ke dalam rahim ibunya dan berkembanglah ia sampai datang masa melahirkan. Sebagaimana kaum Nasrani menduga bahwa yang ditiupkan ke dalam rahim ibunya itu adalah sebagian dari roh Allah dan atas dasar inilah mereka menganggap bahwa Isa adalah putra Allah, karena ia adalah sebagian dari roh-Nya, (Matius 1.18).

Sikap Ahli Kitab yang berlebihan dalam memahami agamanya tidak saja di kalangan Nasrani, tetapi juga tentunya di kalangan orang Yahudi. Sikapnya yang melampaui batas dalam memahami ketentuan agamanya sehingga  mereka sering bersikap dan bertindak begitu ketat dengan menambah-nambahkan ketentuan sendiri, atau sebaliknya sering melanggar ketentuan Taurat dalam syariat Musa, seperti yang dapat kita baca di sana sini dalam Alquran, sampai-sampai mereka mengatakan “Uzair putra Allah” (at-Taubah/9: 30).

Mereka menjadi bangsa yang rasialis, eksklusif, sangat fanatik, menolak semua nabi dan rasul utusan Allah yang bukan Yahudi (Gentile), mereka membunuh para nabi dan menuduh Isa dan ibunya Maryam dengan tuduhan yang keji. Mereka terpecah ke dalam beberapa sekte. Yang menonjol waktu itu adalah golongan konservatif Sadducee yang hanya mengakui lima kitab Musa (Pentateuch), atau golongan Pharisee yang sangat kaku dalam menjalankan hukum tertulis, tetapi mau menerima hukum lisan dan hukum adat Yahudi.

Begitu juga sikap umat Nasrani yang telah melampaui batas dengan mengangkat dan menempatkan Nabi Isa sebagai Yesus yang disamakan dengan Tuhan atau menisbahkannya sebagai putra Tuhan. Mereka telah menyentuh keimanan (akidah) yang pokok sampai melahirkan doktrin Trinitas.

Doktrin ini sudah berkembang dan menjadi pangkal perdebatan para pendeta mereka pada masa lalu, dari abad  ke-2 sampai abad ke-6 Masehi, seperti Marcionisme, Yakobit dan Nestori (Nestorian) yang masih bertahan di Suria atau Maronit yang banyak dianut di Libanon, Paulicianism dan yang lain. Mereka berdebat sekitar kodrat Kristus: Tuhan, anak Tuhan atau satu dari tiga oknum dari Roh Kudus, sampai juga melibatkan ibunya Maria sebagai pujaan.

Kaum Muslimin perlu sekali menyadari sekalipun dalam bentuk lain, jangan sampai terjerumus ke dalam sikap berlebihan dalam menerima ajaran Islam, yang umumnya berkisar dalam soal fikih, di satu pihak mau serba ketat atau di pihak lain yang sebaliknya, mau serba longgar.

Ada di antara mufasir menceritakan mengenai anggapan ini bahwa seorang tabib Nasrani yang mengobati Khalifah Harun ar-Rasyid berdiskusi dengan seorang ulama Islam yaitu Ali bin Husein al-Waqidi al-Marwazi.

Tabib Nasrani itu berkata kepada al-Waqidi bahwa di dalam Kitab (Alquran) terdapat ayat yang membenarkan pendapat dan kepercayaan Nasrani bahwa Isa, adalah sebagian dari Allah, lalu dia membacakan bagian pertama dari ayat 171 ini. Sebagai jawaban atas perkataan tabib itu al-Waqidi membacakan ayat:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (al-Jasiyah/45:13)

Kemudian al-Waqidi berkata “Kalau benar apa yang kamu katakan bahwa kata “min-hu” dalam ayat yang kamu baca itu berarti “sebagian daripada-Nya”, sehingga kamu mengatakan bahwa Isa a.s. adalah sebagian dari Allah pula. Hal ini berarti bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini adalah sebagian pula dari Allah.” Dengan jawaban ini terdiamlah tabib Nasrani itu lalu dia masuk Islam.173

Karena kaum Nasrani telah tersesat dari akidah tauhid yang dibawa oleh para rasul, maka Allah memerintahkan kepada mereka agar kembali kepada akidah yang benar dengan beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan beriman kepada rasul-Nya yang selalu menyeru kepada akidah tauhid dan janganlah mereka mengatakan bahwa ada tiga Tuhan yaitu Bapak, Anak dan Roh Kudus (Rohulkudus), atau mengatakan bahwa Allah itu terdiri dari tiga oknum, masing-masing adalah Tuhan yang sempurna, dan kumpulan dari tiga oknum itulah Tuhan Yang Esa.

Mereka diperintahkan meninggalkan paham yang sesat dan menyesatkan itu, karena meninggalkan paham yang sesat itulah yang baik bagi mereka. Mereka akan menjadi penganut agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan para nabi sebelum dan sesudahnya. Mereka akan menjadi orang yang benar dan tidak akan termasuk golongan orang-orang kafir. Dalam ayat lain Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّآ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ

Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan “Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. (al-Ma’idah/5:73)

Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Kemudian ditegaskan lagi kepada mereka bahwa Allah sajalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Maha bersih dari sifat berbilang atau terbagi-bagi kepada beberapa bagian atau tersusun dari tiga oknum atau bersatu dengan makhluk-makhluk lainnya.

Maha Suci Allah dari hal-hal tersebut dan mustahil Dia mempunyai anak sebagaimana anggapan mereka atau Isa itu adalah Tuhan sebagaimana dikatakan oleh segolongan lain di antara mereka. Allah adalah Maha Esa tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak beristri sebagaimana manusia. Dialah pemilik langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya termasuk Isa as. Allah berfirman:

اِنْ كُلُّ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اِلَّآ اٰتِى الرَّحْمٰنِ عَبْدًا

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih selaku seorang hamba” (Maryam/19:93)

Semua makhluk tanpa kecuali akan menghadap ke hadirat Tuhan Allah sebagai hamba, apapun pangkat dan derajatnya, baik dia malaikat, seorang nabi, seorang yang diciptakan-Nya tanpa bapak dan ibu seperti Nabi Adam atau yang diciptakan-Nya tanpa bapak saja seperti Isa a.s. maupun yang diciptakan dengan perantara bapak dan ibu; semuanya itu adalah hamba-Nya yang mengharapkan karunia dan rahmat-Nya, Allah-lah yang berkuasa sepenuhnya atas mereka dan Allah-lah yang memelihara dan kepada–Nyalah mereka harus menyembah, berdoa dan bertawakal. Akidah tauhid inilah yang dibawa dan disampaikan para nabi dan rasul kepada umatnya termasuk Nabi Isa, dan paham inilah yang dianut oleh para pengikutnya sesuai dengan dakwah dan ajarannya.

Tetapi pengikutnya yang datang kemudian terutama pengikut-pengikut yang dahulunya telah menganut agama-agama yang bermacam-macam tidak dapat melepaskan dirinya dari paham lama yang sesat itu sehingga mereka mencoba dan berusaha dengan sekuat tenaga agar agama Masehi yang mereka anut mempunyai corak yang sama dengan agama-agama nenek moyang mereka dahulu.

Paham Trinitas (menganggap Tuhan adalah tiga) sudah berkembang di Mesir, semenjak lebih kurang 4.000 tahun sebelum Masehi. Di antara mereka ada yang menganggap bahwa tuhan itu ialah dewa Osiris, Isis dan Horus.

Demikian pula di India ajaran Hinduisme mengatakan bahwa Tuhan itu adalah tri tunggal yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Penganut Budisme pun ada yang mengatakan bahwa Budha itu adalah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum.

Juga di Persia terdapat paham Mazdaisme (Zoroaster) yang bercorak dualisme: baik dan jahat, terang dan gelap dengan dewa tertinggi Ahura Mazda (Ormuzd) dan dewa-dewa lain, lawan Ahriman. Akhirnya mereka terbawa hanyut oleh paham trinitas yang beraneka ragam coraknya dan jadilah mereka tersesat dari paham tauhid yang dibawa Nabi Isa dan amat sulitlah bagi mereka untuk meniggalkannya.

Para intelektual dari penganut agama Masehi ini memang merasakan dan mengetahui bahwa paham taslis  (trinitas) ini tidak dapat diterima akal, tetapi mereka tetap mencari-cari alasan untuk membenarkan paham ini. Di antara pendeta mereka ada yang mengatakan, “Dalam hal ini kita harus menyerahkan persoalan ini kepada hal-hal yang gaib yang belum diketahui oleh manusia dan tidak akan dapat diketahuinya, kecuali bila hijab telah berkata untuk itu dan jelaslah pada waktu itu semua yang ada di langit dan di bumi.”

Pendeta Bother pengarang buku al-Usul wal-Furu dari salah seorang juru penerang agama Nasrani berkata mengenai hal ini: “Kita telah mencoba memahaminya dengan lebih jelas yaitu dikala telah terbuka bagi kita tabir rahasia semua apa yang ada di langit dan di bumi.”

Dapat disimpulkan bahwa agama Nasrani benar-benar didasarkan kepada paham tauhid yang murni tetapi para pendetanya mencampurbaurkan dan mengubahnya menjadi agama trinitas yang tidak dapat dipahami oleh akal, karena terpengaruh oleh paham-paham taslis bangsa Yunani dan Romawi yang mereka ambil dari paham-paham keagamaan Mesir lama dan Brahma.


Baca Setelahnya: Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 172 – 174


Tafsir Tarbawi: Lika-Liku dalam Menuntut Ilmu

0
pendidikan Islam
pendidikan Islam

Lika-liku dalam menuntut ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada Allah swt dan menjadi dekat dengan-Nya. Ia pun memperoleh kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang kekal.

Menuntut Ilmu atau mencari ilmu menimbulkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Hal demikianlah setidaknya yang memotivasi ulama kita di Nusantara mengembara ke berbagai negara demi meraih ilmu. Sangking mulianya, ilmu meniscayakan perjalanan panjang yang penuh lika-liku sehingga tidak jarang seseorang yang berputus asa dan gugur di tengah jalan.

Beruntunglah bagi mereka yang telah sampai pada tujuan. Lika-liku dalam menuntut ilmu seperti kekhawatiran akan kekurangan bekal, keamanan, masalah finansial, kecemasan hati inilah sebagaimana yang dilukiskan dalam firman-Nya Q.S. al-Baqarah [2]: 155,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Baqarah [2]: 155)


Baca juga : Ciri Khas Tafsir Era Sahabat Menurut Husein Adz-Dzahabi


Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 155

Allah swt pasti akan menguji hamba-Nya sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir bahwa Dia pasti menimpakan cobaan kepada hamba-hamba-Nya melalui ujian. Adakalanya ujian itu berupa kesenangan dan kenikmatan.

Adapula yang berupa kesengsaraan berupa rasa takut dan rasa lapar, kekurangan harta, meninggalnya kaum kerabat dan teman-teman tercinta, kebun dan lahan pertanian. Serta bisa diartikan usaha yang dimiliki tidak membuahkan keuntungan bahkan gulung tikar.

Sebagian mufassirin menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-khauf adalah takut kepada Allah. Al-ju’u ialah puasa di bulan Ramadhan, naqshul amwal adalah zakat harta benda, al-anfus adalah berbagai macam sakit, dan tsamarat (anak-anak).

Penafsiran serupa juga disampaikan oleh Muhammad ‘Ali as-Shabuny dalam Shafwah al-Tafasir bahwa mereka pasti diuji dengan berbagai ujian di antaranya adalah rasa takut, kelaparan, kekurangan harta benda, meninggalnya sebagian orang yang kita cintai, dan kerugian atas usahanya.

Al-Qurthuby misalnya sebagaimana dikatakan oleh al-Syafi’i bahwa al-khauf adalat takut kepada Allah swt. Kata al-ju’u dimaknai dengan al-maja’ah (kelaparan), al-jadb (kegersangan, ketidaksuburan), dan al-qahth (kekeringan atau paceklik).

Dan redaksi wa basyyiris shabirin bermakna tsawab a’la shabri (pahala atas kesabarannya). Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wa at-Tanwir menambahkan makna wa basyiris shabirin yakni keselamatan, rahmat, petunjuk bagi orang yang bersabar atas ujian-Nya melalui syafaat Rasul saw.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 144: Cinta Tanah Air Itu Fitrah Manusia


Lika-Liku dalam Menuntut Ilmu

Setiap jalan kebaikan meniscayakan pengorbahan dan kesungguhan dalam memperolehnya. Ia tidak diperoleh secara gratisan apalagi dengan cara instan, ia membutuhkan mujahadah (ketekunan diiringi ibadah spiritual) dan istiqamah dalam menjalankannya.

Hal ini dikonfirmasi oleh Allah swt sendiri dalam ayat di atas bahwa Ia pasti akan menguji seseorang dalam konteks ini adalah para penuntut ilmu, ia diuji dengan berbagai cobaan seperti rasa takut, kelaparan, meninggalnya sebagian kerabat yang dicinta, kekurangan harta, usahanya tidak menghasilkn keuntungan.

Ujian pertama, rasa takut. Bagi penuntut ilmu, rasa ini kerap kali menghinggapi. Rasa takut ini tidak bisa diganggu gugat dan bagian dari fitrah manusia. Rasa takut ada membuktikan bahwa manusia butuh perlindungan kepada-Nya sebagai Dzat Pencipta semesta alam.

Ujian kedua, kelaparan. Haus dan lapar adalah satu kesatuan. Bagi penuntut ilmu, haus dan lapar adalah hal yang harus ia terima secara lapang dada. Karena memang demikianlah menuntut ilmu itu. Riyadah (tirakat, baca: puasa atau menahan nafsu, beribadah secara tekun) dan mujahadah (kesungguhan) adalah sebuah keharusan.

Seperti kisah al-Ghazali dalam kitab Tadzkiratul Huffadz, tatkala menuntut ilmu, al-Ghazali menghabiskan waktu selama empat belas tahun untuk pengembaraan pertama. Sementara pengembaraan kedua ia lakoni dari Hijaz (sekitar Makkah) menuju Baghdad, Irak. Episode ini menelan waktu dua puluh tahun usianya (hlm. 630).

Ujian ketiga, kekurangan harta dan jiwa. Menuntut ilmu membutuhkan biaya. Maka harta yang dikeluarkan secara kasat mata berkurang, namun secara esensi sejatinya bertambah. Ilmu adalah investasi jangka panjang. Dengan ilmu engkau bisa meraih segalanya.

Sebagaimana perkataan Imam Syafii yang terkenal, “Barang siapa yang ingin mengingikan dunia adalah dengan ilmu, barang siapa yang menginginkan akhirat adalah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya adalah dengan ilmu”. Tidak dapat dipungkiri terkadang kita juga harus merelakan sebagian teman atau kerabat yang dicinta meninggal dunia di tengah pengembaraan keilmuan.

Demikianlah lika-liku dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, tidak heran apabila Allah swt mengapresiasi dengan meninggikan derajat orang yang berilmu setinggi-tingginya dikarenakan perjuangan, pengorbanan, kesabaran serta kesungguhannya demi memperoleh ilmu yang bermanfaat dan barakah bagi dirinya, keluarganya, lingkungan sekitarnya, agama, bangsa dan negara. Wallahu A’lam.

Makna Insyaallah dan Biidznillah Sama atau Beda? Ini Penjelasannya!

0
makna insyaallah dan biidznillah
makna insyaallah dan biidznillah

Sebagai muslim, kita pasti akrab dengan ucapan kalimat Insyaallah dan Biidznillah. Keduanya sangat unik dan maknanya hampi mirip. Sepintas, dua kalimat itu terlihat memiliki arti sama -kata izin dan hendak memiliki unsur makna yang sama yaitu semuanya akan terjadi apabila kehendakNya telah terjadi. Tapi, secara redaksi dua lafadz itu berbeda. Lantas, sebenarnya makna insyaallah dan biidznillah itu sama atau beda? Berikut ini penjelasannya!

Mengenal Makna Insyaallah

Kalimat Insyaallah yang diawali dengan kata “In” mewarisi sebuah gambaran akan terjadinya sesuatu namun sifatnya belum terjadi atau tidak sering tejadi. Hal ini berbeda dengan kata “Idza”, ia bermakna sesuatu yang bisa untuk terjadi. Ada satu lagi, makna “Law” diartikan sesuatu yang mustahil untuk didapatkan. Baca juga: Tahukah Anda Perbedaan Makna Antara Kata Walid (وَالِدٌ) dan Abu (أَبُوْ) dan Kata Umm (أم) dan Walidah (وَالِدَة)?

Penjelasan tersebut bisa ditemukan dalam beberapa literatur kamus bahasa Arab. Dalam Al Quran, kalimat Insyaallah ditemukan sebanyak empat kali. Surat al-Fath ayat 27 mewakili dari semuanya. Ayat tersebut berbunyi:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبً 

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”

Al-Ustadz Quraish Shihab menjelaskan ketika seseorang berkata In Syaa Allah, ia akan menggambarkan dalam benaknya bahwa ucapannya tidak mustahil terjadi. Pun demikian, ia tidak bisa memastikan terjadi sesuatu karena ia tak berucap dengan kata Idza. Oleh sebab itu, dengan menggunakan kata In, seseorang tak akan kehilangan optimisme. Ia telah menyediakan ruang dalam hatinya untuk menghindari sebuah kekecewaan jika apa yang diinginkan tak terwujud.

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh al-Ustadz Quraish Shihab dalam bukunya mengenai pentingnya mengucap Insyaallah.

Pertama, kalimat Insyaallah diharapkan agar manusia selalu menyadari bahwa kemampuannya terbatas dan tidak ada campur tangan orang lain. Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan namun justru menjadi aral bagi wujudnya apa yang telah direncanakan.

Kedua, ucapan Insyaallah memberi tuntunan agar manusia sadar bahwa segala sesuatu ada dalam kendaliNya. Alasan kedua ini menyadarkan kita untuk berfikir dan berusaha mengaitkan fikiran dan semua rencana atas kehendak Allah. Baca juga: 

Kisah Nabi Musa dan Kalimat Biidznillah

Kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam banyak tertuang dalam beberapa surat dalam Al Quran. Namun, ada dua redaksi ucapan Biidznillah di dalamnya. Ayat tersebut terdapat dalam surat al-Baqarah (2):97 dan 249 yang berbunyi:

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِين 

“katakanlah (Muhammad) barang siapa yang menjadi musuh terhadap Jibril, maka sesungguhnya dia telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu biidznillah (dengan seizin Allah) membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ 

 “Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, mereka berkata “tak ada kesanggupan kami hari ini menghadapi Jalut dan tentaranya”. Orang yang menduga keras bahwa mereka akan bertemu dengan (ganjaran) Allah berkata,”berapa banyak terjadi, golongan yang sedikit akan mengalahkan golongan yang banyak atas izin Allah.””

Dua ayat diatas telah jelas bahwa kalimat Biidznillah berbeda dengan Insyaallah secara makna. Jika kalimat Insyaallah digunakan untuk sesuatu yang memiliki keterlibatan dengan manusia untuk mewujudkannya. Sedangkan kalimat Biidznillah, sama sekali tidak ada keterlibatan dengan siapapun kecuali Allah.

 

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 167-170

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 167

Sesungguhnya orang yang masih tetap dalam kekafiran setelah datang petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan selalu menghalangi orang supaya jangan percaya kepadanya dan kepada Alquran yang diturunkan kepadanya seperti yang selalu dipraktekkan oleh orang-orang Yahudi Medinah dan orang-orang kafir Mekah, telah dinyatakan oleh Allah bahwa mereka itu sesat dari jalan yang benar dan sulit bagi mereka untuk kembali kepada kebenaran.

Memang tepat apa yang diterangkan Allah mengenai orang-orang Yahudi itu, karena mereka sudah seharusnya percaya kepada seruan Nabi Muhammad, apalagi mereka telah mengenal beliau dalam kitab mereka sendiri, tetapi mereka tetap ingkar dan selalu mengadakan kebohongan dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap beliau dan terhadap Alquran yang dibawanya agar manusia jangan beriman.

Di antara tuduhan-tuduhan yang mereka kemukakan itu ialah “Kalau benar Muhammad itu seorang rasul mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah kitab yang lengkap sekaligus sebagaimana kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa?.” Dengan berbohong mereka berkata, “Allah telah menyebutkan dalam Taurat bahwa syariat Nabi Musa tidak akan diganti dan tidak akan dihapus sampai hari Kiamat.”

Seribu satu alasan mereka kemukakan untuk menolak kebenaran kenabian Muhammad dan Alquran, tetapi semua alasan itu hanya dibuat-buat dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Oleh sebab itu amat tepatlah bila mereka dicap oleh Allah sebagai orang yang jauh sekali tersesat dari jalan yang lurus.

Ayat 168-169

Di samping orang Yahudi itu dicap sebagai orang kafir, mereka dicap pula sebagai orang yang zalim. Memang demikianlah halnya orang-orang kafir itu. Mereka zalim terhadap diri sendiri, zalim terhadap kebenaran dan zalim terhadap orang lain. Zalim terhadap diri sendiri karena mereka tetap tidak mau menerima kebenaran, meskipun bukti telah menunjukkan dengan jelas kesesatan mereka.

Dan karena memperturutkan hawa nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kedudukan dan menguasai harta kekayaan, akhirnya mereka sendirilah yang rugi. Zalim terhadap kebenaran karena mereka selalu berusaha menutupinya dan menyembunyikan agar tidak tersebar di kalangan manusia, dan agar mereka sajalah yang benar dan dipuja-puja.

Zalim terhadap orang lain (masyarakat) karena dengan tindakan-tindakan mereka, orang yang seharusnya dapat menikmati kebenaran tetap dalam kesesatan dan terhalang dari merasakan nikmatnya, mereka berusaha mencegah orang yang ingin menyiarkannya kepada orang yang ingin memahami dan menganut agama yang membawa kebenaran.

Orang yang demikian sifatnya dan demikian besar bahayanya bagi masyarakat, sudah sewajarnya mendapat kemurkaan Allah, dan wajar pula bila Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahanam tempat mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Demikianlah keadilan Tuhan dan amat mudah bagi-Nya melaksanakan keadilan itu.

Ayat 170

Pada ayat ini Allah menunjukkan firman-Nya kepada manusia umumnya sesudah menjelaskan pada ayat-ayat yang lalu kebenaran dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dan kebatilan pendirian Ahli Kitab.

Setelah menolak semua hujah dan alasan mereka yang menjelek-jelekkan Nabi dan Alquran yang dibawanya, tibalah saatnya untuk membenarkan yang dibawa oleh Rasul-Nya Muhammad saw, yang kerasulannya tidak saja dikuatkan dengan mukjizat, tetapi telah dibenarkan pula oleh Ahli Kitab, karena terdapat dalam kitab-kitab mereka sendiri bahwa akan datang seorang Rasul yang membenarkan rasul-rasul yang sebelumnya.

Allah memerintahkan supaya manusia beriman kepada-Nya karena itulah yang baik bagi mereka. Ajaran-ajaran yang dibawanyalah yang akan membawa manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (al-Anbiya’/21:107)

Barang siapa yang mematuhi perintah ini dan menjadi seorang mukmin sejati, tentulah ia akan diridai Allah dan dilimpahkan rahmat-Nya dan tentulah ia akan menjadi orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Di dunia ia akan hidup dengan penuh kebahagiaan karena rongga dadanya telah dipenuhi oleh iman, takwa serta tawakal kepada Allah; ia akan dapat merasakan bagaimana manisnya iman.

Di akhirat ia akan dimasukkan ke dalam surga Jannatun Na‘im, ia kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Tetapi bila mereka tidak mematuhi seruan ini dan tetap dalam kekafiran, maka mereka sendirilah yang akan menderita kerugian, tidak dapat merasakan ketenteraman dan kebahagiaan, selalu terombang-ambingkan dalam badai kesesatan dan keraguan, karena tidak mempunyai pegangan dalam mengarungi lautan hidup yang tidak diketahuinya di mana ujung dan pangkalnya.

Bagi Allah sendiri kekafiran seseorang tidaklah merugikan-Nya dan tidak mengurangi keagungan dan kemuliaan-Nya, karena Dialah yang memiliki langit dan bumi, Dialah Yang Mahakuasa menyiksa orang-orang yang kafir, memberi rahmat dan nikmat kepada hamba-Nya.

Dia Maha Mengetahui segala tindak tanduk hamba-Nya dan segala isi hati mereka. Dia Mahabijaksana dalam segala tindakan-Nya, Mahaadil dalam segala pemba-lasan-Nya. Hanya terserah kepada hamba-Nya, apakah ia akan memilih iman yang membawa kepada kebahagiaan yang abadi atau akan memilih kekafiran yang akan membawa kepada penderitaan dan siksaan yang abadi pula.

(Tafsir Kemenag)

Ciri Khas Tafsir Era Sahabat Menurut Husein Adz-Dzahabi

0
Tafsir Era Sahabat
Tafsir Era Sahabat

Tafsir era Sahabat hingga artikel terakhir sudah dijelaskan mulai dari Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, dan Ali bin Abi Thalib. Di awal akan dijelaskan tafsir era sahabat hingga 10 nama. Namun, Husein Adz-Dzahabi ternyata tidak mengulas sampai 10 nama dari kalangan Sahabat.

Setelah menguraikan beberapa nama tersebut, Adz-Dzahabi mendeskripsikan setidaknya ada tujuh poin yang menjadi ciri khas dari tafsir era Sahabat. Apa saja kiranya poin-poin tersebut dan bagaimana penjelasannya? Mari kita urai penjelasan Adz-Dzahabi dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun pada edisi tulisan kali ini.

Baca Juga: Melihat Respon Adz-Dzahabi atas Perdebatan Tafsir Nabi

Pertama, tidak menafsirkan keseluruhan al-Qur’an. Alasan mendasar tentang ketiadaannya produk penafsiran yang utuh di era sahabat ialah level pemahaman. Mengapa? Sebab di era ini, sebagian besar sahabat sudah dapat mengetahui makna dari redaksi ayat-ayat al-Qur’an secara langsung—sebab mereka pada umumnya adalah orang Arab asli.

Adapun jika terdapat redaksi-redaksi yang dianggap sulit maka mereka akan merujuknya langsung pada penjelasan Nabi maupun para sahabat yang memiliki otoritas dalam menafsirkan al-Qur’an. Oleh karena itu, riwayat-riwayat penafsiran yang didapati di era ini merupakan riwayat-riwayat yang memuat penjelasan mengenai redaksi-redaksi ayat yang dianggap susah untuk dipahami saja.

Kedua, sedikitnya perselisahan pandangan terkait penafsiran. Senada dengan alasan kedua ini, disambung oleh alasan ketiga dan keempat yakni kemampuan mereka untuk mengambil maksud dari redaksi secara global melalui pemahaman lughah atau bahasa.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Abbas bahwa makna al-Qur’an terbagi ke dalam empat levelitas makna dan oleh sebab itu umunya sahabat yang merupakan orang Arab asli dapat memahami makna ijmali dari ayat-ayat al-Qur’an serta mereka juga tidak dituntut untuk mendapati tafshil­-nya yang tentunya hanya dilakukan oleh sahabat yang memiliki kapabilitas dalam melakukan itu. Itulah yang meminimalisir adanya perselisihan penafsiran di era ini.

Kelima, jarangnya terdapat aktivitas istinbath hukum fiqh serta belum adanya dominasi pandangan dari madzhab tertentu. Sebagaimana diketahui bahwa di era sahabat belum terbentuk madzhabmadzhab fiqh tertentu yang berupaya melakukan istinbath hukum demi mendapatkan solusi atas suatu masalah yang di alami.

Hal ini juga disebabkan, sebagaimana ciri yang keenam, karena belum adanya pembukuan atas penafsiran-penafsiran yang dilakukan. Ketiadaan pembukuan (tadwin) di era ini menunjukkan belum adanya upaya untuk melakukan pembakuan atas pandangan atau ijtihad tertentu.

Ciri terakhir atau ketujuh ialah penggunaan potongan hadis sebagai tafsir. Akan tetapi penggunaanya belum sistematis sehingga potongan-potongan hadis itu bertebaran di mana-mana. Maka jika tidak mengetahui bahwa itu adalah hadis, seseorang yang membacanya bisa salah sangka dan mengira bahwa itu merupakan bagian dari ayat-ayat al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 164-166

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 164

Ada beberapa rasul yang telah dikisahkan terdahulu oleh Allah kepada Muhammad saw, dan ada pula beberapa rasul yang sengaja tidak  dikisahkan kepadanya, karena umat-umatnya kurang dikenal. Beberapa rasul telah dikisahkan dalam Alquran seperti firman Allah:

وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ  كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ   ٨٤  وَزَكَرِيَّا وَيَحْيٰى وَعِيْسٰى وَاِلْيَاسَۗ  كُلٌّ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَۙ   ٨٥  وَاِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًاۗ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ   ٨٦

(84) Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, (85) dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh, (86) Dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Lut. Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya), (al-A’am/6: 84, 85 dan 86)

Kisah para nabi itu sebagian besar terdapat pada Surah Hµd/11 dan Surah asy-Syu’ara’/26. Rasul-rasul yang tidak dikisahkan itu kurang dikenal umatnya oleh orang Arab dan tidak dikenal pula oleh Ahli Kitab yang berdampingan masa hidupnya dengan mereka.

Hikmah dari mengisahkan nabi-nabi itu ialah untuk mengambil iktibar dan pelajaran, untuk menambah ketabahan hati ketika menghadapi tantangan-tantangan dan permusuhan dan untuk memperkuat kenabian Muhammad, sebagaimana firman Allah:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman. (Hµd/11: 120)

Orang Yahudi beranggapan, bahwa yang diberi wahyu dan pangkat kenabian itu hanya dari golongan mereka saja, padahal beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah telah mengutus beberapa rasul untuk setiap umat sebagai realisasi dari rahmat Allah yang tersebar luas ke seluruh dunia. Firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ”Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut” … (an-Nahl/16: 36)

وَاِنْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ

…Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Fatir/35: 24)

Allah telah berbicara langsung kepada Musa meskipun Allah tidak menampakkan wujud-Nya kepada Nabi Musa ketika menurunkan wahyu kepadanya sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firman-Nya:

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ

Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. … (asy-Syµra/42: 51)

Pembicaraan Allah kepada Musa itu termasuk pembicaraan di belakang tabir, karena beliau hanya mendengar kalam Ilahi dan tidak dapat melihat-Nya.

Ayat 165

Dan Allah telah mengutus para rasul yang sebagian telah dikisahkan dan sebagian lagi tidak, supaya mereka menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar di akhirat dan memberi peringatan kepada orang-orang kafir dan durhaka, bahwa mereka akan mendapat siksa dalam api neraka.

Jika Allah tidak mengutus para rasul kepada manusia, niscaya orang kafir pada hari Kiamat nanti akan menyampaikan hujah atau alasan supaya mereka jangan dipersalahkan atau dituntut sebab belum pernah kedatangan seorang rasul yang memberi peringatan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah:

وَلَوْ اَنَّآ اَهْلَكْنٰهُمْ بِعَذَابٍ مِّنْ قَبْلِهٖ لَقَالُوْا رَبَّنَا لَوْلَآ اَرْسَلْتَ اِلَيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَّذِلَّ وَنَخْزٰى

Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya (Alquran itu diturunkan), tentulah mereka berkata, ”Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?” (Taha/20:134)

Jadi jelas sekali, bahwa hikmah diutusnya para rasul itu ialah untuk membatalkan hujah atau alasan orang kafir nanti pada hari kiamat.

قُلْ فَلِلّٰهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُۚ فَلَوْ شَاۤءَ لَهَدٰىكُمْ اَجْمَعِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), ”Alasan yang kuat hanya pada Allah. Maka kalau Dia menghendaki, niscaya kamu semua mendapat petunjuk.” (al-An’am/6:149).

Allah Mahakuasa, tidak dapat dikalahkan dalam segala urusan yang dikehendaki-Nya, lagi Mahabijaksana dalam segala perbuatannya. Menurut kebijaksanaan-Nya tidak perlu melayani permintaan orang-orang kafir Yahudi untuk menurunkan sebuah kitab dari langit, sebab sudah ada pengalaman dengan Musa. Mereka pernah meminta yang aneh-aneh kepada Musa, dan setelah permintaannya dipenuhi, mereka semakin menampakkan keingkaran dan keserakahannya.

Ayat 166

Walaupun orang Yahudi itu mengingkari kenabian Muhammad saw dan tidak mau menjadi saksi atas kebenarannya, namun Allah yang menjadi saksi atas kebenaran Alquran yang diturunkan kepada  Muhammad.

Allah memperkuat lagi kesaksian-Nya dengan menyatakan bahwa Allah telah menurunkan Alquran dengan ilmu-Nya, yang belum pernah diketahui oleh Nabi Muhammad dan kaum mukminin, dengan rangkaian dan susunan kata-katanya yang indah, bukan prosa, bukan puisi, berisi ilmu dan hikmah yang padat, tidak mungkin ditiru oleh siapa pun, sanggup menghadapi tantangan zaman, kapan saja dan di mana saja, mengandung aspek-aspek ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat, sesuai dengan firman Allah:

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ

…Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab…. (al-An’am/6:38)

Maksudnya dalam Alquran telah ada pokok-pokok ajaran agama, norma-norma, hikmah-hikmah dan tuntunan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat dan kebahagiaan makhluk pada umumnya. Alquran mengandung berita-berita yang gaib tentang masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang.

Barang siapa dengan tekun mempelajari Alquran akan bertambah yakin atas kebenarannya dan sanggup pula menjadi saksi. Para malaikat pun terutama Jibril yang jadi perantara dalam turunnya Alquran itu, ikut menjadi saksi atas kebenarannya. Sebenarnya cukup dengan kesaksian dari Allah, sebab tidak ada yang lebih benar dan terpercaya daripada kesaksian Allah.

(Tafsir Kemenag)

Kesabaran Nabi Ayyub Yang Diceritakan Al-Quran

0
Kesabaran Nabi Ayyub
Kesabaran Nabi Ayyub

Kesabaran Nabi Ayyub adalah salah satu kisah Al-Qur’an yang patut diteladani oleh orang-orang Islam. Karena kisah tersebut mengajarkan mereka tentang bagaimana seharusnya seseorang menghadapi berbagai macam cobaan dari Allah Swt. Bahkan ia disebut-sebut sebagai hamba yang paling baik karena kesabaran, keimanan dan ketakwaan yang dimilikinya. Allah berfirman:

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤

Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah). (QS. Shad [38]: 44)

Al-Qur’an mengisahkan bahwa nabi Ayyub adalah seorang nabi dan rasul Allah yang sangat kaya dan taat beribadah kepada-Nya. Setiap hari ia gunakan untuk mensyukuri nikmat Allah melalui ibadah puasa, sembahyang dan bermunajat kepada-Nya. Ia juga selalu menyedekahkan harta benda yang dimilikinya untuk meraih keridaan dan kecintaan Allah Swt.

Kisah kesabaran nabi Ayyub dapat ditemukan pada dua tempat, yakni QS. Al-Anbiya: 83-84 dan QS. Shad: 41-44. Kedua bagian ayat ini sama-sama bercerita tentang cobaan yang ditimpakan oleh Allah kepada nabi Ayyub untuk menguji keimanan dan ketakwaannya. Cobaan tersebut terdiri dari penyakit, kehilangan harta dan ditinggal sanak saudara (keluarga). Karena ketabahan Ayyub as, Allah lalu mengembalikan semua nikmat yang telah diambil-Nya.

Menurut Umar Sulaiman Al-Asyqor dalam buku Sahih al-Qashash (214), kisah kesabaran nabi Ayyub diceritakan Al-Qur’an selain berfungsi sebagai pelajaran tentang kesabaran bagi umat Islam, kisah tersebut juga bertujuan untuk menghibur orang-orang yang sedang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga maupun harta. Dengan demikian, mereka sadar bahwa semua manusia bahkan seorang nabi juga mengalami cobaan dan musibah.

Baca Juga: Kisah Romantis Khaulah bint Tsa’labah Dibalik Ayat-Ayat Zihar

Iblis terkutuk dan Cobaan Allah bagi Nabi Ayyub

Ketika melihat ketakwaan nabi Ayyub, Iblis merasa tidak senang dan ingin merobohkan ketakwaan tersebut. Kemudian ia meminta kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk mejerumuskannya ke dalam golongan orang-orang sesat dan ingkar. Iblis mengira ibadah yang dilakukan nabi Ayyub hanya karena ia diberikan harta dan nikmat melimpah dari Allah Swt.

Mendengar permintaan Iblis, kemudian Allah memberikan izin untuk menggoda nabi Ayyub. Selain itu, Allah juga menguji Ayyub as dengan menimpakan sakit yang sangat parah dan menjijikkan. Diceritakan bahwa sampai-sampai sekujur tubuh nabi Ayyub dipenuhi dengan ulat-ulat dan tidak tersisa dari seluruh tubuhnya bagian yang sehat kecuali lisan dan hati.

Hari demi hari kekayaan nabi Ayyub semakin menipis lalu habis, anak-anak yang sangat ia sayangi wafat satu demi satu, semua sahabat karib yang dahulu menemaninya perlahan menghilang, bahkan istri yang sangat ia cintai pernah mengacuhkannya karena tidak sanggup menahan bau penyakit yang diderita nabi Ayyub. Meskipun demikian, ia tetap tetap beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Baca Juga: Kisah Teladan Nabi di Bulan Muharram; Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan Paus

Berbagai macam kesusahan dan musibah yang dialami nabi Ayyub tidak membuatnya menjauh dari Allah. Kenyataannya, ia bahkan lebih dekat dan semakin giat untuk beribadah, karena ia menyadari bahwa apa yang menimpa dirinya merupakan cobaan dari Allah swt. Ayyub juga meyakini bahwa Allah tidak akan menimpakan musibah di luar batas kemampuan dirinya.

Salah satu peristiwa yang membuat nabi Ayyub sangat terpukul adalah ketika sahabat karib menyampaikan pendapat pribadi atas musibah yang dialami nabi Ayyub. Menurutnya, Ayyub as telah menanggung derita sekitar 18 tahun lamanya dan Allah belum mengangkat penderitaan tersebut, jangan-jangan itu disebabkan dosa besar yang telah diperbuatnya.

Setelah rekannya mengatakan hal itu, nabi Ayyub lantas menceritakan keadaan dirinya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut. Kemudian Ayyub berdoa kepada Allah, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang maha penyayang di antara semua penyayang. Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.”

Berkat kesabaran nabi Ayyub, kemudian Allah menjawab semua doa-doanya. Allah berfirman:

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ٤٣

(Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. (QS. Shad [38]: 44)

Setelah nabi Ayyub meminum air tersebut, segala penyakit yang ada ditubuhnya menghilang. Ayyub as kembali sehat dan bersemangat seperti sedia kala seakan-akan ia tidak pernah sakit sama sekali. Dikisahkan sampai-sampai istrinya pangling dan tidak mengenali dirinya. Dia tidak mengira bahwa suaminya dapat sembuh dari penyakit dalam waktu sesingkat itu.

Sebagaimana Allah mengembalikan kesehatan dan kekuatan nabi Ayyub, Allah juga menganugerahkan kepadanya harta berlimpah dan anak yang banyak, jauh lebih banyak dibandingkan harta dan anak yang ia miliki sebelum jatuh sakit. Ini adalah ganjaran yang diberikan Allah karena kesabaran nabi Ayyub selama ini menghadapi berbagai cobaan dan ujian. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 261: Keutamaan Sedekah

0
Keutamaan Sedekah
Keutamaan Sedekah

Keutamaan sedekah sering disinggung dalam Alquran. Terkadang Alquran menyampaikannya dengan cara memberi pujian kepada orang yang bersedekah, menjanjikan pahala bagi mereka, memperjelas cara kerja pelipat gandaan balasan harta yang disedekahkan, atau dalam bentuk lainnya seperti etika dalam bersedekah.

Sedekah secara bahasa berarti pemberian sesuatu kepada yang berhak menerimanya di luar kewajiban zakat yang sesuai dengan kemampuan orang yang memberi. Terdapat istilah lain dari sedekah yaitu derma dan donasi, oleh karenanya sebutan untuk pemberi adalah dermawan dan donatur. Dalam ajaran agama Islam, sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat disenangi oleh Allah. Allah berfirman

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunianya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261)

As-Syaukani dengan mengutip pendapat Ibnu Jarir at-Tabari menjelaskan bahwa ayat tersebut bersifat umum cakupannya. Bisa berupa zakat atau nafkah baik yang statusnya wajib atau sunnah. Kemudian, mengenai ‘jalan Allah’ yang dimaksud di sini tidak hanya tertuju pada jihad (berperang) semata, tetapi juga berlaku untuk jami’u abwabil khair (segala macam kebaikan) yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Demikian yang dijelaskan oleh al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma’alimut Tanzil. Maka, setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain sudah bisa dikatakan sebagai pemberian di jalan Allah.

Di ayat tersebut, Allah memperjelas visualisasi kerja harta yang disedekahkan, sehingga harta tersebut kembali ke orang yang bersedekah dengan jumlah yang berlipat ganda. Seperti ini salah satu cara Alquran berkampanye tentang keutamaan sedekah.

Baca Juga: Tiga Makna Metode Matsal Menurut Para Ulama, Empat Model Al Quran dalam Menyampaikan Informasi 

Keutamaan Sedekah

Selain ayat 261 ini, masih banyak lagi ayat yang menunjukkan bagaimana Allah mengajak hamba-Nya untuk senantiasa bersedekah. Dalam surat al-Baqarah saja banyak bertebaran penjelasan terkait hal ini. Berikut poin-poin tentang keutamaan sedekah yang terdapat di dalamnya.

  1. Pujian dari Allah

Orang yang bersedekah dikategorikan sebagai muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Ini sebagaimana yang disebutkan pada surat al-Baqarah ayat 2-3 yang terjemahannya: “Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2) yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka (3)”.

Disebut juga sebagai muhsinin (yang berbuat kebaikan) yang dicintai oleh Allah seperti dalam surat al-Baqarah ayat 195 yang kurang lebih berikut terjemahannya: “dan bersedekahlah kamu di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

  1. Balasan yang Berlipat Ganda

Allah memberi jaminan kepada hamba-Nya yang bersedekah dengan balasan yang berlipat ganda. Orang tersebut tidak akan kekurangan karena sejatinya harta yang ia sedekahkan akan akan datang berkali lipat dari sebelumnya. Hal ini dapat kita temukan di ayat 261 yang kita bahas di awal. Lalu firman-Nya yang lain di surat al-Baqarah ayat 265. Terjemahannya seperti di bawah ini, “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”

  1. Etika Bersedekah

Selain menganalogikan sedekah dengan tanaman yang berbuah, Allah juga menyertakan cara agar sedekah yang diberikan oleh seseorang mendapat pujian serta balasan dari-Nya. Pertama, hindari  mengungkit-ungkit sedekah. Allah berfirman, (artinya): “orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka nafkahkan dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 262).

Firman Allah yang lain, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya dengan riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat lalu menjadi bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

Kedua, memilih pemberian yang baik, seperti firman-Nya (artinya): “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalumenafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memcingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah [2]: 267)

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 264 Tentang Bahaya Riya’

Begitu rincinya Allah menjelaskan sedekah dan keutamaan sedekah. Bahkan, dalam redaksi Alquran yang lain dikatakan bahwa tidaklah seseorang mendapat kebaikan kecuali ia memberikan apa yang ia senangi (QS. Ali Imran [3]: 92). Namun, jika seseorang tidak memiliki sesuatu yang bisa disedekahkan kepada orang lain, maka cukuplah  menjadi pribadi yang disabdakan Nabi berikut ini,

اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang sempurna) adalah seseorang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Az Zumar Ayat 63: Kunci Langit dalam Al Quran

0
kunci langit
kunci langit

Al Quran selalu memiliki uslub (gaya bahasa) yang sangat menarik dan siapapun akan terkagum-kagun dengannya. Demikian pula ketika Al Quran menyebut kunci langit dengan maqalid as-samawat. Namun, kata maqalid jika dipahami secara letterlijk maka akan menimbulkan kerancuan. Karenanya, pada pembahasan ini akan dijelaskan bagaimana makna kunci langit (maqalid as-samawat) yang dikemukakan oleh para mufasir.

لَهٗ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ

Milik-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang yang rugi. (Q.S. az-Zumar [39]: 63)

Kata Maqȃlid adalah bentuk jamak dari kata miqlȃd atau maqlīd, yang berarti memiliki, mengatur, menjaga, dan memelihara. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim mengutip pendapat dari Mujahid. Beliau  mengatakan,

لَهُ مَقَا لِيْدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قال مجاهد: اْلمَقَالِيْدُ هِيَ : اْلمفاتيح بالفارسية و كذا قال قتادة وابن زيد وسفيان بن عيينة وقال السدي : له مقا ليد السماوات والأرض أي : خزائن السماوات و الارض و المعنى على كلا القولين : أن أزمّة الأمور بيده , له الملك و له الحمد , وهو علي كل شيئ قدير

“Maqȃlid artinya kunci-kunci, bahasa asalnya adalah bahasa persia.  As-Sadâ berkata bahwa  yang dimaksud dengan Maqȃlid  (dalam redaksi ayat lahu maqâlîd as-samâwâti wal ‘ardh)  yaitu pembendaharaan  langit dan bumi. Dan makna tersebut mencakup pada keduanya (langit dan bumi). Sesungguhnya kendali semua urusan itu berada pada kekuasaan Allah Swt. Kepada-Nya-lah kerajaan (langit dan bumi) dan segala puji bagi-Nya. Dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu.”

Secara terminologi, para mufassir klasik umumnya mengartikan kata Maqȃlid dengan makna pembendaharaan Allah yang ada pada penciptaan langit dan bumi. Seperti dalam Tafsir al-Muyassar, dijelaskan bahwa pembendaharaan tersebut terkandung rezeki dan rahmat. Sedangkan bila diartikan sebagai kunci dapat bermakna pengaturan Allah terhadap segala yang ada di langit dan dibumi, tidak ada yang terlewat dari-Nya satu makhluk pun.

Sementara Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan maqȃlid  adalah dapat berupa air hujan, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya. Dalam Tafsir Jalalain juga di jelaskan bahwa yang dimaksud dengan maqȃlid adalah kunci pembendaharaan langit dan bumi seperti hujan, tumbuh-tumbuhan, dan selainnya.

Baca juga: Alasan Kenapa Al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab

Dari pemaparan para ulama tafsir diatas, setidaknya kita bisa menemukan pemahaman dimana Allah Swt adalah zat pencipta segala sesuatu yang ada, baik dilangit maupun dibumi. Dia-lah pencipta alam seluruhnya, tak ada sesuatupun yang dapat menciptakan selain Dia.

Ini adalah suatu hakikat kebenaran yang tidak seorangpun dapat mengingkarinya. Tidak ada seorangpun dapat menyatakan bahwa dirinya pencipta alam, karena tak akan diterima akal bahwa seseorang mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk menciptakan jagad raya ini, dan tidak dapat pula diterima akal bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada penciptanya.

Oleh sebab itu, pastilah alam ini diciptakan oleh Zat yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu, itulah Dia Allah Swt. Allah-lah yang mengurus segala yang ada, ilmu-Nya sangat Luas, mencakup semua makhluk-Nya. Dia-lah yang mengendalikan alam sejak dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya.

Dia mengendalikan semua itu sesuai dengan ilmu, hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Tak ada suatu makhluk pun yang ikut campur tangan dalam penciptaan dan pengendalian itu. Inilah yang dapat diterima oleh akal yang sehat dan dapat diterima oleh hati nurani manusia.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl ayat 15-16: Nikmat Allah Bagi Penduduk Bumi

Meskipun demikian, masih banyak orang yang mengingkari hakikat ini dan mengatakan bahwa dialah yang berkuasa, dan dialah Tuhan (sebagaimana fir’aun), atau mengemukakan berbagai macam teori mengenai alam untuk menetapkan bahwa alam jagad raya ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya.

Orang seperti ini adalah orang-orang kafir yang selalu mengingkari bukti-bukti kekuasaan Allah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-An’am ayat 1:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ ەۗ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu. (Q.S. al-An’am [6]: 1)

Ayat ini berkaitan dengan redaksi kedua surah az-Zumar ayat 63, yang menjelaskan bahwa orang-orang kafir kepada ayat-ayat Allah digolongkan ke dalam orang yang merugi, karena pada saat itu masih ada yang mengingkari terhadap penciptaan alam raya ini. Contohnya adalah Raja Fir’aun yang bahkan mengaku sebagai Tuhan.

Baca juga: Nabi Adam dalam Al-Quran: Manusia Pertama dan Tugasnya di Dunia

Dalam kitab-kitab klasik seperti Lubȃb an-Nuqȗl fī Asbabi an-Nuzul, al-Itqân fȋ  ̓Ulûm al-qur’ȃn karya Imam as-Suyȗti, at-Tibyân fȋ ̓Ulûm al-qur’ȃn karya Ali as-Sabuni, Asbȃb an-nuzûl al-qur’ȃn karya al-Wahidi, penulis belum menemukan asbabun nuzul-nya. Yang jelas dalam satu riwayat, Ayat ini dibahas berkenaan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh sahabat Utsman kepada Rasulullah mengenai redaksi ayat,

لَهٗ مَقَالِيْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ

Rasulullah Saw, bersabda diriwayatkan oleh Utsman r.a, bahwa ketika ia menanyakan kepada Rasulullah tentang firman Allah “Hanya bagi Allah, maqalid langit dan bumi” beliau menjawab, “Hai Utsman, engkau menanyakan kepadaku sesuatu yang belum pernah ditanyakan seseorang pun kepadaku sebelumnya. “Maqalid as-samawati wa al-ardh”, ialah ucapan

“Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, aku memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang Awal Yang Akhir, Yang Lahir, Yang Batin, Menghidupkan, Mematikan, sedang Dia tetap hidup  dan tidak mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Barang siapa yang membawa ucapan ini dia akan mendapatkan kebaikan yang ada di langit dan di bumi.

Singkatnya penulis dapat menyimpulkan bahwa makna yang disepakati pada umumnya oleh para mufassir adalah memaknai kata maqȃlid as-samawati (kunci langit) sebagai pembendaharaan yang asalnya muncul dari langit dan bumi yaitu berupa air hujan dan tumbuh-tumbuhan. Sehingga dengan memperhatikan kedua anugerah alam ini, manusia dapat mengerti bahwa hal itu merupakan kunci anugerah Allah dalam kehidupan manusia yang harus benar-benar dimanfaatkan secara maksimal untuk kehidupan di bumi.