Beranda blog Halaman 542

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 160-163

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 160

Bilamana orang-orang Yahudi itu berbuat dosa atau pelanggaran yang berat seperti penyembahan terhadap patung anak sapi, lalu mereka bertobat, maka walaupun tobatnya diterima, namun sebagai akibat dari pelanggaran itu, Allah mengharamkan kepada mereka beberapa makanan yang baik yang dahulunya halal bagi mereka.

Mereka tidak mengakui bahwa makanan-makanan yang baik itu diharamkan sebagai akibat dari dosa-dosanya, bahkan mereka mengatakan, bahwa makanan-makanan itu telah lebih dahulu diharamkan, yaitu sejak Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang datang kemudian; Allah membantah pengakuan mereka dengan firman-Nya:

۞ كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسْرَاۤءِيْلُ عَلٰى نَفْسِهٖ مِنْ قَبْلِ اَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرٰىةُ

Semua makanan itu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan… (Ali ‘Imran/3:93)

وَعَلَى الَّذِيْنَ هَادُوْا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِيْ ظُفُرٍۚ

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan semua (hewan) yang berkuku… (al-An’am/6:146)

Diharamkan makanan yang baik itu kepada Bani Israil (Imamat vii.23; xi 4-6) karena mereka menghalangi manusia dari jalan Allah, dan karena mereka menganjurkan kejahatan dan kemungkaran dan melarang berbuat kebajikan dan menyembunyikan sifat-sifat Nabi Muhammad saw yang terdapat dalam kitab-kitab mereka.

Ayat 161

Diharamkannya sebagian makanan yang baik kepada orang-orang Yahudi juga disebabkan oleh tindakan mereka memakan uang riba yang nyata-nyata telah dilarang Allah dan disebabkan pula oleh perbuatan mereka yang batil seperti memperoleh harta melalui sogokan, penipuan, perampasan dan sebagainya. Terhadap perbuatan-perbuatan yang jahat itu Allah menyediakan siksa yang pedih di akhirat.

Ayat 162

Tidak semua Ahli Kitab mengerjakan keburukan-keburukan tersebut. Ada pula di antara mereka orang yang mendalam ilmunya, dan orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dan yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelumnya. Di antara mereka ada pula yang dengan penuh keyakinan mengikuti ajaran Islam dengan tulus ikhlas.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa ayat ini diturunkan terkait  dengan orang-orang Yahudi yang dengan penuh kesadaran masuk Islam seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya. Mereka rajin salat lima waktu dan menunaikan zakat, beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya tanpa membedakan di antara rasul yang satu dengan rasul yang lain. Mereka itu telah sampai kepada tingkat keimanan dan keislaman yang tinggi dan Allah menjanjikan kepada mereka pahala yang besar di akhirat.

Ayat 163

Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepada Muhammad  seperti memberi wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang diutus kemudian. Wahyu yang diberikan kepada para nabi berbeda dengan pengertian wahyu yang pernah diberikan kepada makhluk lain, karena wahyu itu mempunyai empat pengertian:

  1. Isyarat, seperti dalam Firman Allah:

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا

Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.  (Maryam/19:11)

  1. Ilham, seperti dalam firman Allah:

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِ

Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, ”Susuilah dia (Musa), (al-Qasas/28:7)

  1. Insting (naluri) seperti dalam firman Allah:

وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ”Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (an-Nahl/16:68)

  1. Bisikan halus, seperti dalam firman Allah:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. (al-An’am/6:112)

Wahyu yang dimaksud dalam ayat ini ialah wahyu dalam pengertian yang dikenal dalam istilah agama, yaitu bisikan halus dan pengertian makrifat yang didapati oleh seorang nabi di dalam hatinya dengan penuh keyakinan bahwa pengertian itu datangnya dari Allah, baik langsung maupun memakai perantaraan.

Allah telah mewahyukan Alquran ini kepada Muhammad sebagaimana Allah telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang datang kemudian. Allah tidak pernah menurunkan sebuah kitab dari langit secara terang-terangan disaksikan oleh pancaindra seperti yang dimintakan oleh orang-orang Yahudi kepada  Muhammad, karena wahyu itu adalah semacam pemberitahuan yang datang dengan cepat dan tersembunyi.

Di antara nabi-nabi yang menerima wahyu pertama sekali untuk umatnya ialah Nabi Nuh, karena beliau termasuk Nabi yang tertua setelah Adam, dan karena beliau dipandang sebagai Adam kedua, yang menurunkan umat manusia setelah terjadinya banjir besar (taufan).

Allah telah mewahyukan pula kepada Ibrahim yang diberi julukan Abul-Anbiya’ (bapak para nabi dari sisi tauhid) dan Ismail sebagai nenek moyang orang Arab dan Ishak dan Yakub sebagai nenek moyang Bani Israil (Yahudi). Yang dimaksud dengan Asbat ialah anak Nabi Yakub yang berjumlah 12 orang. Pemakaian kata Asbat di kalangan Bani Israil sama dengan pemakaian kata “kabilah” di kalangan orang-orang Arab turunan Ismail.

Allah telah mewahyukan pula kepada Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman dan telah memberikan Zabur kepada Daud. Menurut Imam Qurtubi, Zabur itu berisi 150 surah yang tidak mengandung hukum–hukum, hanya berisi nasihat-nasihat, hikmah, pujian dan sanjungan kepada Allah.

(Tafsir Kemenag)

Kunci Kemajuan Pendidikan Islam Terletak pada Learning by Doing

0
kunci kemajuan pendidikan islam
kunci kemajuan pendidikan islam (republika)

Kunci kemajuan pendidikan Islam terletak pada learning by doing (belajar sambil melakukan). Learning by doing merupakan sebuah konsep besar (grand theme) yang berada pada pendidikan dengan menekankan belajar sambil mengajar.

Di sini doing saya memaknainya sebagai mengajar. Mengajar tidak melulu verbal (ceramah saja), melainkan non verbal (menulis, meriset, meneliti, mengabdi, keteladanan, pembiasaan, penanaman karakter). Sebab pada hakikatnya goal (tujuan) dalam pendidikan Islam adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka menerapkan learning by doing merupakan keniscayaan.

Kemajuan pendidikan Islam pada masa kekhalifahan ‘Abbasiyah ditandai dengan puncak kemajuan terkait ilmu pengetahuan dan sains, hal ini tidak terlepas dari pembumian konsep learning by doing secara besar-besaran seperti keproduktifan ulama dalam berkarya, pengajaran yang esensial, ulama fokus hanya belajar dan mengajar, dan sebagainya. Hal ini senada dengan firman Allah swt dalam Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5,

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5)

Tafsir Surat al-‘Alaq Ayat 1-5

Surat al-‘Alaq 1-5 merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. Inilah wahyu pertama yang dianugerahkan oleh Allah swt kepada Nabi saw. Menurut penafsiran Ibnu Katsir dikatakan sebagai rahmat dan nikmat tiada tara yang dianugerahkan Allah swt kepada para hamba-hamba-Nya. Sekaligus menandai kebangkitan umat manusia menuju ajaran yang hanif dan ilmiah.

Wahyu ini pula menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Dengan turunnya wahyu ini, berubahlah garis sejarah umat manusia, umat yang dulunya jahiliyah bertransformasi menuju sinar ilmu pengetahuan yang terang benderang. Dan pentransformasian itu diawali dengan iqra’ (bacalah).

Kata Iqra dalam literatur khazanah Islam memiliki beragam makna, menyampaikan, menelaan, membaca, meneliti, mendalami, dan makna-makna lainnya. Iqra yang terdapat dalam ayat 1 dan 3, tidak menyebut objek yang dituju, sehingga mengindikasikan seruan bacaan itu bersifat umum.

Artinya, perintah membaca di sini tentu tak terbatas hanya membaca “lembaran buku”, melainkan juga membaca sekeliling, ciptaan-Nya bahkan dunia. Ayat tersebut memerintahkan kita untuk belajar (learning) kemudian mengamalkannya (doing).

Mengamalkan di sini banyak macamnya, misalnya mengajar pada umumnya, meneliti suatu objek, meriset, mengembangkan penelitian ulama atau tokoh terdahulu sehingga menghasilkan penelitian ilmiah yang mutakhir.

Baca juga: Tafsir QS. al-‘Alaq: Membangun Peradaban dengan Iqra dan Qalam

Yang perlu digarisbawahi, Allah swt tekankan pada redaksi berikutnya bismi rabbika. Ikutilah membaca itu dengan menyebut nama Allah swt. Syaikh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya mengatakan, “dengan kalimat Iqra’ bismi rabbika dan semangatnya sekaan mengatakan bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun tatkala hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala aktivitas di dunia ini, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan semata karena Allah swt.”

Ayat itu seolah ingin menyatakan, “jangan lupakan Aku (Allah swt) sebagai Tuhanmu, Ingatlah semua ini Aku yang menciptakan, kau bisa menikmati, memanfaatkan, meneliti, mengkaji, meriset dan semua itu untuk bekal hidupmu sebagai pelaksana risalah mulia, yakni khalifatullah fil ardh. Tanpa Aku, kamu tak akan bisa melakukan semua itu. Maka, bersyukurlah kamu dan sertakan Aku dalam setiap langkahmu.”


Baca juga: Kisah Romantis Khaulah bint Tsa’labah Dibalik Ayat-Ayat Zihar


Kunci Kemajuan Pendidikan Islam Terletak Pada Learning By Doing

Kunci kemajuan Islam tidak terlepas dengan istilah learning by doing jika kita cermati pada ayat di atas tersirat dalam ayat ke-3, 4, dan 5. Terutama pada redaksi iqra, ‘allama bil qalam dan ‘allamal insana ma lam ya’lam. Ketiga ayat ini mengindikasikan secara serius bahwa belajar sambil mengajar adalah keharusan, yang dalam hal ini saya istilahkan learning by doing.

Kata Iqra’ dalam ayat ke-3 menurut Quraish Shihab, ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Iqra’ pada ayat pertama mengindikasikan perintah untuk membaca diri sendiri (belajar) dan iqra’ dalam ayat ketiga adalah membaca untuk orang lain mengajar.

Bagaimana tidak, Allah swt sebagai Maha Pendidik, Maha Kuasa tentu tidak sulit Dia berfirman kun fayakun, jadilah kamu manusia berilmu, maka jadi. Namun Allah swt ingin meneladankan bahwa Dia tidak segan, tidak malu untuk mengajarkan manusia dengan perantara qalam (pena, media, ayat-ayat-Nya), yang sebelumnya ia tidak memiliki pengetahuan sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Nahl [16]: 78)

Mengajar dalam konteks ini bermakna dua hal, yakni verbal dan non verbal. Mengajar verbal seperti halnya ceramah pada umumnya. Pendidik menjelaskan, kemudian peserta didik mendengarkan. Sedangkan non verbal meliputi hal yang lebih luas seperti menulis, meneliti, meriset, keteladanan, pembiasaan hal-hal positif, penanaman karakter, dan sebagainya.

Sebab sabda Rasul saw, ada dua hal perkara yang dikategorikan sebagai sebaik-baik amalan yakni,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآَنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian ialah yang belajar Alquran dan mengajarkannya. (H.R. Muslim)

Ulama Nusantara kita tatkala berceramah baik di forum ilmiah maupun masyarakat awam sebut saja KH. Bahauddin Nur Salim, kerap di sapa Gus Baha, ulama asal Rembang ini pernah menyampaikan bahwa jalan menuju Allah swt ialah dengan belajar dan mengajar.

أَفْضَلُ الطُّرُقِ اِلَى اللهِ طَرِيْقَةُ التًّعْلِيْمِ وَالتَّعَلُّمِ


Seutama-utama jalan menuju Allah SWT yaitu dengan belajar dan mengajar


Baca juga: Tersimpan di Perpustakaan Rotterdam Belanda, Inilah Mushaf Al Quran Tertua dari Nusantara


Sebab kunci kemajuan pendidikan Islam bisa dengan belajar dan mengajar, ilmu pengetahuan dan sains berkembang sejalan dengan kebutuhan manusia. Sebagaimana kita dahulu sebagai umat Islam pernah mencapai puncak keemasan ilmu pengetahuan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Di mana lahir ilmuwan-ilmuwan Islam yang mendunia, bahkan kontribusinya sampai sekarang masih kita nikmati. Bukankah pesatnya kemajuan peradaban Islam kita dahulu juga tidak terlepas dari kemajuan pendidikan Islam yang menerapkan learning by doing? Maka sudah waktunya learning by doing direvitalisasi kembali sebagai ruh dalam pendidikan Islam, semoga secepatnya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 156-159

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 156

Ayat ini menerangkan bahwa di antara sebab orang Yahudi mendapat kutukan dan kemurkaan  Allah, karena kekafiran mereka terhadap Nabi Isa dan Nabi Muhammad, karena tuduhan mereka terhadap Maryam merupakan kedustaan yang besar bahwa Maryam melakukan zina dengan seorang yang bernama Yusuf an-Najjar, sehingga melahirkan Isa putra Maryam. Tuduhan itu sama sekali tidak benar sebagaimana firman Allah:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ”Jadilah!”  Maka jadilah sesuatu itu. (Ali ‘Imran/3:59)

Demikianlah Allah kuasa menciptakan Isa dari seorang ibu tanpa ayah, Allah membuktikan kekuasaan-Nya menciptakan manusia dengan empat cara:

  1. Menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu.
  2. Menciptakan Hawa dari unsur yang sama dengan Adam.
  3. Menciptakan Isa dari ibu tanpa ayah.
  4. Menciptakan yang lain-lain melalui ayah dan ibu.;Ternyata apa yang dilontarkan orang Yahudi kepada Maryam bahwa Maryam melakukan perzinaan adalah dusta yang amat besar.

… Kedustaan yang besar bahwa Maryam melahirkan anak haram. Bibel membantah tuduhan itu:  … dan menurut anggapan orang, Ia adalah Yusuf, anak Eli…  (Lukas 3. 23), sebab menurut Matius 1. 1-25, bahwa kelahiran Yesus Kristus pada waktu Maria bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Rohulkudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Yusuf suami seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama isterinya, ia bermaksud diam-diam akan menceraikannya. Tetapi dalam mimpinya malaikat Tuhan tampak kepadanya, dan berkata, agar jangan takut  … mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah Rohulkudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, …  (Matius 1. 18-21)

Ayat 157

Ayat ini menerangkan bahwa di antara sebab-sebab orang Yahudi mendapat kutukan dan kemurkaan Allah ialah karena ucapan mereka, bahwa mereka telah membunuh Almasih putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka sebenarnya tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang disalib dan yang dibunuh itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa Almasih bernama Yudas Iskariot, salah seorang dari 12 orang muridnya.

Ayat 158

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Isa itu diangkat atas perintah Allah dengan badan dan rohnya dan akan diturunkan kembali di akhir zaman sebagai pembela umat Islam dan penerus syariat Nabi Muhammad saw pada saat umat Islam berada dalam keadaan lemah setelah datangnya Dajjal. Kejadian ini menunjukkan kekuasaan Allah untuk menyelamatkan Nabi-Nya, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tercantum dalam firman Allah:

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا

(Ingatlah), ketika Allah berfirman, ”Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir…” (Ali ‘Imran/3:55)

Tentang diangkatnya Nabi Isa ke atas langit ada perbedaan pendapat. Menurut jumhur ahli tafsir, diangkat dengan jasmani dan rohaninya, dalam keadaan hidup sebagai suatu mukjizat. Maka Isa a.s. yang diangkat ke langit dengan jasmani dan rohani, sejak diangkat sampai turun kembali ke bumi, sepenuhnya di tangan Allah.

Jika manusia biasa saja, seperti Ashabul Kahfi, bisa tinggal dalam sebuah gua tanpa makan dan minum selama 309 tahun, kiranya tidak perlu dianggap aneh bagi seorang nabi seperti Nabi Isa, untuk tinggal di langit sekian lamanya, karena beliau diberi mukjizat oleh Allah. Pendapat lain mengatakan Nabi Isa diangkat ke langit sesudah wafat lebih dahulu.

Ayat 159

Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, melainkan akan beriman kepada Nabi Isa dengan iman yang sebenarnya sebelum mereka itu mati, yaitu ketika menghadapi sakaratul maut. Orang-orang Yahudi akan beriman, bahwa Nabi Isa itu utusan Allah dan roh yang ditiupkan kepada Maryam dan sebagai makhluk ciptaan Allah.

Orang-orang Nasrani pun akan beriman bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah dan kalimah-Nya, bukan Allah dan bukan pula anak Allah. Keimanan mereka yang sedemikian itu tidak berguna lagi, sebab dinyatakan setelah roh mereka sampai di tenggorokan, setelah mereka melihat tanda-tanda di alam akhirat. Tercantum dalam firman Allah:

يَوْمَ يَأْتِيْ بَعْضُ اٰيٰتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا اِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ اٰمَنَتْ مِنْ قَبْلُ

…Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu… (al-An’am/6:158)

Ada pula sebagian ulama yang menafsirkan ayat ini demikian: tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, melainkan akan beriman kepada Nabi Isa dengan iman yang sebenarnya sebelum Nabi Isa wafat. Beliau akan diturunkan lagi ke dunia dari langit pada akhir zaman untuk memperbaiki nasib umat Islam setelah dirusak oleh Dajjal.

Berdasarkan beberapa hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim dan lain-lain: Nabi Isa akan turun ke dunia, nanti pada akhir zaman. Beliau akan memecahkan salib lambang umat Nasrani, akan memusnahkan babi dan segala kekejian. Setelah itu dunia akan mengalami kesuburan, keamanan dan kesejahteraan yang adil dan merata.

Ketika itu Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani akan beriman semuanya kepada Nabi Isa sebelum wafat, dan setelah wafat beliau dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad di Medinah. Turunnya beliau ke dunia ini adalah untuk menegakkan syariat Muhammad sehingga Nabi Muhammad tetap menjadi saksi atas keimanan atau kekafiran Ahli Kitab, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًا

Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. (an-Nisa’/4:41)

(Tafsir Kemenag)

Siapa Saja Mufasir di Era Sahabat? Edisi Ali Ibn Abi Thalib

0
Ali Ibn Abi Thalib
Ali Ibn Abi Thalib credit: toraseyat.com

Sekilas Tentang Ali Ibn Abi Thalib

Nama lengkapnya ialah Ali ibn Abi Thalib ibn Abdul Muthalib al-Quraisyi al-Hasyimi. Ia adalah seorang anak dari paman Rasulullah, Abu Thalib dan secara silsilah masuk ke dalam ahlu bait Rasulullah. Ibunya bernama Fathimah bintu Asad ibn Hasyim. Karena kedua orang tuanya berasal dari marga yang sama, dikatakan bahwa Ali merupakan anak keturunan Hasyimi pertama yang lahir dari kedua orang tua yang memiliki kesamaan marga.

Ali termasuk dari golongan pertama yang memeluk Islam dan percaya akan kenabian Muhammad. Ia selalu mengiringi Nabi dalam setiap peristiwa penting. Kisahnya yang mengorbankan diri demi hijrahnya Nabi begitu fenomenal. Begitu pun dengan berbagai pertempuran yang diikutinya bersama Rasulullah. Dikatakan bahwa tak ada satupun pertempuran yang ia lewatkan kecuali perang Tabuk. Dalam banyak kesempatan, Ali juga dipercaya oleh Rasulullah sebagai pembawa panji (al-liwa’) dan bahkan Rasulullah bersabda, “sungguh akan kuserahkan al-rayah (panji) kepada seseorang yang telah mendapat futuhat dari Allah, seseorang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, seseorang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”.

Pengulangan kalimat dalam sabda Nabi tersebut menunjukkan penekanan bahwa Nabi benar-benar mempercayakan tugas mulia itu pada sahabat Ali. Rasulullah pun mengatakan bahwa Ali merupakan saudaranya di dunia serta di akhirat. Kedekatan Rasulullah dengan sahabat Ali  semakin bertambah dengan dijadikannya Ali sebagai menantu Nabi setelah menikahi Fathimah Az-Zahra.

Baca Juga: Siapa Saja Mufasir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Mas’ud

Selepas wafatnya Rasulullah, Ali ibn Abi Thalib dipercaya menjadi Khalifah yang menggantikan Khalifah ketiga, Usman ibn Affan. Memegang tampuk kekuasaan selama hampir 5 tahun, Ali sang babul ilmi harus mengakhiri era kekhalifahannya sebab wafat ditangan seorang khawarij, Abdurrahman ibn Muljam. Kala itu usia Ali telah menginjak 60 tahun atau ada juga yang mengatakan 63 tahun. Ia wafat tepat di bulan Ramadhan tahun 40 Hijriyyah.

Level Keilmuan

Ali ibn Abi Thalib dijuluki sebagai bahrul ilmi dan juga babul ilmi sebab kekuatan hujjahnya, ketepatannya dalam beristinbat, kefasihannya dalam berkhutbah dan merangkai syair serta kecerdasan akalnya dalam menghadirkan solusi bagi setiap masalah. Maka tak heran jika banyak sahabat yang mencarinya untuk meminta solusi atas beragam masalah yang ditimpanya.

Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa  Ali juga merupakan sahabat yang mendapatkan doa istimewa dari Nabi selain Ibn Abbas. Doa tersebut berbunyi, “allahumma tsabbit lisanahu wa ihdi qalbahu” (ya Allah tetapkanlah lisannya (Ali) dalam kebenaran dan kebajikan dan karuniailah hatinya petunjuk).

Doa itu menjadi wasilah bagi kematangan dan kebijaksanaan Ali dalam memutuskan suatu perkara. Ia pun menjadi sahabat yang paling dipercaya dalam memutuskan perkara dan memberi fatwa. Kemampuan itu merupakan hasil dari penguasaannya atas al-Qur’an serta pengetahuannya atas makna-makna yang sifatnya asrar atau makna batin. Ibn Abbas pernah berkata bahwa ia hanya mengambil penafsiran al-Qur’an (sahabat) dari Ali ibn Abi Thalib.

Diriwayatkan juga oleh Abu Thufail bahwa Ali pernah berkata di depan para sahabat: “Tanyailah aku! Demi Allah tak ada satu pun pertanyaan yang tidak bisa ku kabarkan jawabannya. Tanyailah aku tentang al-Qur’an! Demi Allah tak ada satupun ayat kecuali aku ketahui tentang konteks pewahyuannya, apakah siang ataukah malam, apakah di dataran ataukah di gunung”.

Ibn Mas’ud juga turut mengakui kealimannya, ia berkata, “sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf (mengenai makna tujuh huruf ini begitu beragam), tidak ada dari ketujuh huruf itu satu huruf saja yang tidak memiliki makna dhahir dan bathin. Dan sungguh Ali ibn Abi Thalib memiliki keduanya”. Dari beberapa riwayat dan keterangan Nabi serta para sahabat kita ketahui bahwa Ali ibn Thalib merupakan sahabat yang memiliki derajat keilmuan yang tinggi dan pantas menjadi rujukan pada masa itu.

Baca Juga: Siapa Saja Mufassir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Abbas

Hal Menarik Seputar Ali Ibn Abi Thalib

Salah satu pembahasan menarik seputar Ali ibn Abi Thalib adalah mengenai riwayat penafsirannya. Dikatakan bahwa riwayat penafsiran Ali menjadi bahan yang diperdebatkan di antara Ulama sehingga mereka pun berusaha untuk mengkaji dan men-tahqiqnya demi mendapatkan riwayat yang shahih.

Adz-Dzahabi berargumen bahwa riwayat penafsiran Ali ibn Abi Thalib yang shahih lebih sedikit daripada yang dipalsukan. Pemalsuan ini sebenarnya melibatkan campur tangan Syi’ah. Ini bisa kita lacak dari adanya krisis politik yang terjadi di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang berujung pada wafatnya dirinya oleh seorang khawarij.

Krisis politik yang telah terjadi itu menyebabkan munculnya dua kelompok yang memiliki keyakinan politis yang berbeda dan saling membenarkan pandangan politisnya. Kedua kelompok itu ialah Syi’ah (kelompok pro Ali) dan Khawarij (kelompok kontra Ali). Pertarungan ideologis-politis kedua kelompok ini juga berpengaruh pada kualitas riwayat yang dibawa oleh keduanya.

Syi’ah sebagai kelompok yang begitu fanatis kepada Ali, mempromosikan dan menguatkan pandangan ideologis-politis kelompoknya dengan banyak bersikap tidak adil dalam meriwayatkan riwayat-riwayat dari Ali. Mereka beranggapan bahwa bersikap berlebihan dalam menyampaikan riwayat yang berkaitan dengan Ali lebih utama daripada menyampaikannya secara ilmiah dan sesuai dengan kadarnya (orisinil). Maka dalam hal ini, para pengkaji al-Qur’an perlu melakukan analisa thuruq al-riwayah secara teliti dalam mengambil penafsiran sahabat terutama yang berasal dari Ali ibn Abi Thalib demi terhindar dari riwayat yang fasid. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 152-155

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 152

Ayat ini menjelaskan perkara iman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dengan tidak membeda-bedakan di antara rasul-rasul itu, terutama kepada Nabi yang terakhir, Muhammad saw.

Allah telah mengutus beberapa rasul sejak dahulu disertai petunjuk yang benar dan menutup rangkaian rasul dengan kedatangan Muhammad yang membawa kitab Alquran sebagai peraturan agama terakhir yang harus ditaati oleh seluruh umat manusia. Bagi orang yang percaya kepada kerasulannya kelak akan disediakan pahala yang besar sesuai dengan keimanan dengan disertai amal saleh.

Allah Maha Pengampun terhadap kesalahan orang yang benar-benar beriman dan Maha Penyayang kepada sekalian hamba-Nya dengan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus dengan perantaraan rasul-rasul-Nya.

Ayat 153

Diriwayatkan oleh Ibnu Jar³r dan Ibnu Juraij bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Kami tidak akan membenarkan ajakanmu, kecuali jika kamu dapat membawakan kepada kami sebuah kitab dari Allah kepada Fulan bahwa engkau adalah utusan Allah, dan Fulan yang lain menyatakan bahwa engkau utusan Allah,” dan begitulah seterusnya mereka menyebut beberapa nama orang-orang tertentu dan pendeta-pendeta Yahudi. Mereka berbuat demikian itu tidak lain hanya semata-mata untuk membangkang kepada Nabi Muhammad.

Orang-orang Yahudi meminta kepada Nabi Muhammad saw supaya diturunkan kepada mereka kitab dari langit yang menyebutkan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Dalam menghadapi persoalan ini, Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk bersabar, jangan  kaget, karena orang-orang Yahudi pernah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka meminta kepada Musa supaya diperlihatkan Allah kepada mereka dengan nyata.

Permintaan yang seperti itu menunjukkan kebodohan, karena mereka menyangka bahwa Allah mempunyai tubuh yang dapat dilihat dengan nyata. Tabiat mereka yang suka mengingkari mukjizat dan tidak membedakan antara mukjizat seorang nabi dengan keanehan dari tukang sihir yang semata-mata untuk dijadikan tontonan, adalah menunjukkan keinginan dan kebodohan mereka, dan bagaimanapun keadaannya,  permintaan mereka itu tidak patut dilayani, karena mereka tetap tidak akan percaya, seperti firman Allah:

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتٰبًا فِيْ قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوْهُ بِاَيْدِيْهِمْ لَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu (Muhammad) tulisan di atas kertas, sehingga mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, ”Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (al-An’am/6:7)

Orang-orang Yahudi yang ingin melihat Allah, disambar petir sampai mati akibat permintaannya yang lancang itu, kemudian mereka dihidupkan kembali. Semestinya mereka berlaku hati-hati agar tidak terperosok dalam suatu kesalahan yang berakibat bencana besar, tetapi mereka membuat berhala berbentuk anak sapi yang mereka sembah bersama-sama.

Padahal sudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata seperti tongkat Nabi Musa yang dapat membelah laut, jika tongkat itu dipukulkan pada batu, maka batu itu memancarkan air sebagai sumber air minum. Banyak lagi mukjizat lain yang membuktikan keesaan Allah.

Allah masih juga memberi ampun kepada mereka tatkala mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Kemudian Allah memberikan kekuasaan kepada Musa a.s. untuk dapat mendudukkan dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar.

Ayat 154

Ayat ini mengungkapkan keburukan perbuatan orang-orang Yahudi, yaitu ketika mereka telah mengingkari perjanjian dengan Allah agar patuh mengamalkan kitab Taurat, maka Allah mengangkat Gunung Sinai  ke atas mereka sehingga kelihatan seperti awan hitam yang akan menimpa diri mereka.

Semula mereka enggan menerima perjanjian itu dengan sepenuh hati. Kemudian Allah memerintahkan pula kepada mereka untuk memasuki pintu gerbang Baitulmakdis, sambil menundukkan kepala dan merendahkan diri sebagai rasa syukur akan nikmat pemberian Allah, serta memohon ampunan atas segala kesalahan mereka pada masa yang lampau.

Kemudian Allah memerintahkan pula kepada mereka supaya jangan melanggar peraturan mengenai hari Sabat seperti larangan menangkap ikan dan sebagainya. Larangan itu mereka langgar, sehingga mereka pada hari Sabat ramai-ramai pergi menangkap ikan dan tidak mau masuk Baitulmakdis. Akibat perbuatan buruk mereka itu, Allah menurunkan siksaan pada mereka seperti  dalam firman Allah:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِـِٕيْنَ

Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, ”Jadilah kamu kera yang hina!” (al-Baqarah/2:65)

Mereka melakukan helah  untuk memasang perangkap pada hari Jumat, dan mengambilnya pada hari Minggu. Allah telah mengambil perjanjian dari mereka, yaitu akan mengamalkan isi kitab Taurat dengan bersungguh-sungguh dan menegakkan hukum-hukum Allah dan tidak akan melanggarnya sedikit pun, dan tidak akan menyembunyikan berita tentang kedatangan Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Jika setelah itu mereka masih melanggar janji, Allah akan menurunkan kepada mereka siksaan yang lebih hebat lagi.

Ayat 155

Ayat ini menerangkan bahwa sebab-sebab turunnya laknat dan kemurkaan Allah kepada orang-orang Yahudi karena mereka melanggar perjanjian yang telah mereka buat, menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal.

Mereka mengingkari ayat-ayat Allah yang menerangkan kebenaran kenabian para nabi dan mereka telah membunuh beberapa orang nabi yang telah diutus untuk memimpin mereka, tanpa alasan yang benar seperti Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, juga karena ucapan mereka yang mengatakan, kami tidak akan menerima kebenaran karena hati kami sudah tertutup.

Sebenarnya bukan hanya tertutup, tetapi Allah telah mengunci mati hati mereka, sebab kekafirannya dan perbuatan mereka yang buruk. Akhirnya mereka tidak termasuk orang yang beriman, kecuali beberapa orang saja seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya.

(Tafsir Kemenag)

Kisah Romantis Khaulah bint Tsa’labah Dibalik Ayat-Ayat Zihar

0
Ayat-Ayat Zihar
Ayat-Ayat Zihar credit: mawdoo3.com

Ayat-ayat zihar seringkali ditelaah oleh ulama tafsir berkenaan dengan isi kandungan hukumnya didasarkan pada konteks sejarah pewahyuan. Padahal jika historisitas QS. Al-Mujadalah [58]: 1-4 dilihat secara mendalam terdapat kisah romantis seorang sahabat perempuan Rasulullah bernama Khaulah bint Tsa’labah yang memperjuangkan cintanya melawan tradisi (zihar) lewat munajat kepada Allah.

Zihar merupakan salah satu tradisi Arab pra Islam yang masih menjadi norma pada masa awal Islam. Zihar secara bahasa berasal dari kata zhahr artinya punggung, yakni menyamakan punggung istri dengan ibu. Secara singkat, zihar dapat dikatakan sebagai perkataan seorang suami yang digunakan untuk menyamakan istri dengan ibunya. Dalam tradisi arab jahiliyah zihar merupakan bentuk talak (perceraian) yang paling tinggi (Tafsir Al-Marāgī [28]: 3).

Zihar adalah tradisi problematis dan diskriminatif, karena perempuan yang telah dizihar statusnya tidak jelas dan terluntang-lantung. Pada masa jahiliyah, zihar dilakukan ketika seorang suami tidak menginginkan bersama istrinya lagi dan ia juga tidak ingin istri tersebut dipersunting orang lain. Ini sangat merendahkan martabat dan kedudukan wanita, karena ia tidak bisa meminta haknya dan di sisi lain ia juga tidak bisa menikah dengan orang lain.

Problematika zihar di atas membentang dari Arab jahiliyah hingga awal kedatangan Islam, tepatnya berakhir ketika ayat-ayat zihar diturunkan, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 226-227, QS. Al-Mujadalah [58]: 2-4 dan Al-Ahzab [33]: 4. Menurut Sayyid Sabiq (Fiqh Sunnah: 620), berdasarkan ayat-ayat zihar ulama sepakat bahwa zihar diharamkan dan suami yang melakukan zihar diwajibkan untuk membayar kafarat agar bisa mencampuri istrinya lagi.


Perjuangan Cinta Khaulah bint Tsa’labah

Diceritakan bahwa suatu ketika Khaulah bertengkar dengan suaminya Aus bin Shamit al-Ansari. Dalam perdebatan tersebut, Aus merasa jengkel dan marah lalu tanpa sengaja menzihar istrinya dengan berkata, “bagiku engkau (dirimu) seperti punggung ibuku”. Setelah mengatakan hal itu, kemudian Aus pergi dari rumah untuk menenangkan pikiran dan melepaskan amarah dengan duduk santai seraya bercengkerama bersama teman-temannya.

Tidak berselang lama, Aus menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan, lalu ia pulang ke rumah untuk meminta maaf dan ingin berkumpul dengan Khaulah. Akan tetapi Khaulah menolak keinginan tersebut, karena ia menyadari dalam agama dan tradisi mereka hal itu tidak diperkenankan. Khalah berkata, “Tidak, jangan! Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan zihar kepadaku, hingga Allah dan rasul-Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.”

Ketaatan terhadap norma agama dan tradisi masyarakat Arab membuat Khaulah menolak secara tegas permintaan suamianya untuk bergaul. Namun sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati ia masih menyimpan cinta mendalam terhadap suami dan ingin hidup bersama seperti sedia kala. Oleh karena itu, ia menemui Rasulullah dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi sekaligus untuk meminta fatwa beliau terkait permasalahan tersebut.

Mendengar cerita Khaulah, Rasulullah sedikit kaget dan bersabda, “kami belum pernah mendapatkan wahyu berkaitan dengan urusan itu.” Karena belum ada wahyu mengenai permasalahan zihar, akhirnya Rasulullah membuat keputusan berdasarkan urf (adat) masyarakat Arab untuk menyelesaikan permasalahan ini sementara sambil menunggu perintah dari Allah. Rasul bersabda, “Aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya (Aus).

Jawaban Rasulullah di atas tidaklah memuaskan hati Khaulah, bahkan diceritakan ia sempat mendebat nabi namun tetap diberi jawaban yang sama. Apa yang dilakukan Khaulah bukan bertujuan untuk mendiskreditkan nabi atau menentang hukum yang telah ditetapkan beliau, akan tetapi didasari oleh keinginan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami dan keinginan untuk mempertahankan kisah romantisnya bersama suami tercinta (Aus).

Dengan hati berat Khulah kembali ke rumah, namun ia masih memegang secercah harapan terhadap penyelesaian masalah yang dialaminya. Ia kemudian mengadukan segala permasalahan kepada Allah, “Masa mudaku telah berlalu, perutku telah keriput, aku sudah tua dan tidak mampu melahirkan anak lagi, sedang suamiku men-ziharku. Ya Allah! aku mengadu kepada-Mu.” Setiap siang dan malam ia senantiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah.

Segala keluh kesah dari Khaulah terkait permasalahan zihar kemudian dijawab tuntas oleh Allah melalui Ayat-ayat zihar dalam QS. Al-Mujadalah [58]: 1-4. Ayat pertama berbunyi:

قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۖوَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Mujadalah [58]: 1)

Baca Juga: Esensi Sujud dan Fungsi Masjid Yang Sebenarnya

Setelah Ayat-ayat zihar turun Rasulullah menjelaskan kepada Khaulah bahwa ia bisa bersama kembali dengan suaminya, asalkan Aus membayar kafarat zihar. Dengan penuh kasih Khaulah menjawab bahwa Aus sama sekali tidak mampu untuk membayar kafarat, baik itu memerdekakan budak, puasa maupun bersedekah kurma kepada 60 orang miskin, karena ia adalah seorang yang lemah lagi miskin.

Mendengar hal itu, Rasulullah berinisiatif untuk membantu membayarkan setengah kafarat Zihar yang dilakukan Aus dengan memberi makan 30 orang miskin. Kemudian Khaulah menunjukkan bentuk kasih sayang kepada Aus dengan membayarkan sisa setengah kafarat-nya. Begitulah perjuangan cinta Khaulah untuk mempertahankan kisah romantis bersama sang suami. Wallahu a‘lam.

Belajar Metode Demonstrasi Dari Kisah Nabi Khidir Dan Musa

0
belajar metode demonstrasi
belajar metode demonstrasi

Metode Demonstrasi merupakan metode pembelajaran dengan cara memperagakan media pembelajaran baik berupa material maupun substansial (Muhibbin Syah). Metode ini menjadi penting karena terdapat aspek visualisasi sehingga memudahkan peserta didik untuk tetap fokus pada proses pembelajaran. Tulisan ini akan mengulas metode itu dari perspektif kisah Nabi Khidir dan Musa.

Kita mungkin masyhur akan ungkapan, “Aku dengar, aku lupa; aku lihat, aku ingat; aku lakukan, aku paham; aku sampaikan, aku pintar”. Sepintas ungkapan ini terlihat remeh, tetapi maknanya mendalam. Terutama pada poin “aku lihat aku ingat”. Inilah titik tekan metode demonstrasi. Baca juga: Belajar Ontologi Filsafat dari Kisah Nabi Ibrahim

Melalui visualisasi alat peraga, peserta didik cepat memahami materi yang disampaikan. Sebagaimana yang dipraktikkan oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa a.s. yang termakstub dalam Q.S. al-Kahfi [18]: 77,

فَانْطَلَقَا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَتَيَآ اَهْلَ قَرْيَةِ ِۨاسْتَطْعَمَآ اَهْلَهَا فَاَبَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَارًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّنْقَضَّ فَاَقَامَهٗ ۗقَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا

“Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya. Tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu” (Q.S. al-Kahfi [18]: 77)

Tafsir Surah al-Kahfi Ayat 77

Dalam konteks pendidikan Islam, ayat ini secara tersirat pentingnya menggunakan metode demonstrasi yang dicontohkan oleh Nabi Khidir dan Nabi Musa a.s. Ayat ini juga menceritakan tentang kisah bergurunya Nabi Musa kepada Nabi Khidir. Selain itu, ayat ini berhubungan erat (munasabah) dengan ayat sebelumnya maupun sesudahnya, yakni Q.S. al-Kahfi [18]: 60-82. Baca juga: Inilah Enam Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Di dalam ayat tersebut terkisah proses pembelajaran yang ditempuh oleh Nabi Musa kepada Nabi Khidir yang sering mengajarkan dengan praktik langsung. Misalnya, melubangi perahu milik nelayan miskin, membunuh anak kecil dengan sebab tertentu, dan menegakkan dinding rumah anak yatim yang tersimpan banyak harta kekayaaan. Di akhir peristiwa itu, lalu Nabi Khidir memberikan klarifikasi atas hal yang dilakukannya.

Jika ditilik lebih dalam, ternyata al-Baghawy dalam Ma’alim al-Tanzil meriwayatkan sebuah hadits riwayat Imam Bukhari sebagai berikut,

“Dari Sa’id bin Jabir, dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas dari Ubay bin Ka’ab. Rasulullah saw bersabda, “Nabi Musa berdiri pada hari di mana orang-orang menyebutkan hingga ketika mata membanjiri dan hati dicuri pergi. hal itu membuat seseorang pria bertanya kepada Nabi Musa: Wahai utusan Allah, apakah di bumi ini terdapat seseorang yang lebih ‘alim daripada engkau?

Jawab Musa, “Tidak”

Kemudian Allah menegurnya sebab tidak menginginkan ilmu kepada Allah. Dikatakan kepada Musa: “ada, (utusan Allah yang lebih pandai yaitu Nabi Khidir).”

Musa bertanya, “Ya Rabb, di mana dia?” Allah menjawab, “di pertemuan dua lautan”.

Musa berkata, “Ya Rabb jadikanlah untukku ilmu yang aku bisa mengetahui dengan Engkau darinya”. Allah menjawab, “Ambillah ikan yang mati sekiranya dapat diberikan ruh” Dalam sebuah riwayat dikatakan, “berbekallah ikan yang digoreng, maka sesungguhnya dia berada saat sekiranya kamu kehilangan ikan tersebut”

Kemudian Nabi Musa mengambil ikan dan memasukannya ke tempat ikan.”

Dari penjelasan hadis di atas dapat diketahui bahwa Allah swt sebagai Sang Khalik memberikan petunjuk-Nya melalui metode demonstrasi. Yaitu mengajar dengan menggunakan alat peraga (meragakan) untuk memperjelas suatu pengertian, atau untuk memperlihatkan bagaimana cara melakukannya.

Sedangkan redaksi yang menggambarkan metode demonstrasi terfokus pada:

فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَارًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّنْقَضَّ فَاَقَامَهٗ ۗ

“…. kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya…”

Ibnu Katsir menafsirkan redaksi tersebut dengan iradah (kehendak) disandarkan kepada dinding. Dalam ayat ini merupakan ungkapan isti’arah (kata pinjaman). Karena sesungguhnya pengertian kehendak hanyalah disandarkan kepada makhluk yang bernyawa berarti kecenderungan. Inqaddha artinya runtuh (roboh).

Adapun lafadz fa-aqamah, Ibnu Katsir dan ‘Ali al-Shabuny memaknainya dengan mengembalikannya ke posisi tegak kembali. Dalam hadis yang terdahulu disebutkan bahwa Nabi Khidir menegakkan dinding itu dengan kedua tangannya. Yaitu dengan mendorongnya sehingga tidak miring lagi; hal ini merupakan peristiewa yang luar biasa.

Pembuktikan lain adanya metode demonstrasi ini disampaikan oleh sabda Nabi saw terkait perintah shalat,:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat.” (H.R. al-Bukhari No. 226)

Hadis ini dengan jelas dan gamblang bahwa Rasulullah saw menunjukkan tata cara salat Rasululah kepada para sahabat. Sehingga para sahabat dipesankan oleh-Nya agar mempraktikkan shalat seperti yang dicontohkan-Nya. Kemudian mereka bisa mengajari keluarganya, sahabatnya, dan seterusnya.

Belajar Metode Demonstrasi Dari Kisah Nabi Khidir dan Musa

Dari kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa di atas serta Rasulullah saw kita dapat memetik pesan bahwa beliau semua pernah mempraktikkan metode demonstrasi. Hal ini guna memperjelas pesan yang dimaksud. Beliau tidak segan untuk mempraktikkannya terlebih dahulu sebelum ditiru oleh umatnya.

Maka hendaknya seorang pendidik menerapkan metode demonstrasi dengan mempertimbangkan segala kondisi yang ada. Hal ini baik untuk melatih kemampuan kognitif dan psikomotorik peserta didik untuk dapat mengingat, memahami materi pembelajaran dalam waktu yang cukup lama. Setidaknya tidak mudah lupa. Baca juga: Tafsir Tarbawi; Mengulik Metode Tanya-Jawab Ala Rasulullah Saw.

Visualisasi pembelajaran dapat dilakukan baik oleh pendidik maupun peserta didik yang diminta mempraktikkan suatu pekerjaan. Metode ini dapat membantu memfokuskan perhatian peserta didik pada proses belajar dan tidak tertuju pada hal-hal lain. Di sisi lain, dapat meminimalisir kesalahan dalam mengambil kesimpulan, dibandingkan hanya melulu membaca buku tanpa dibarengi dengan demonstrasi.

Demikian juga, metode demonstrasi ini akan tidak efektif jika peraga atau media yang digunakan tidak relevan dengan materi atau pemahaman peserta didik. Misal alat peraga tampak minimalis, peraga A materi B, dan sebaliknya. Maka strategi dan desain pembelajaran juga harus link and match dengan metode demonstrasi. Hal-hal seperti ini harus diperhatikan agar metode ini menjadi metode yang tepat dan menjadikan siswa lebih aktif dan paham terhadap materi pembelajaran. Wallahu A’lam.

Esensi Sujud dan Fungsi Masjid Yang Sebenarnya

0
sujud
Ilustrasi sujud dalam salat.

Esensi sujud adalah menundukkan semua keegoisan dan menanggalkan semua hal yang melekat dalam tubuh kita kepada Allah swt. Dalam artian kita menyadari bahwa semua yang kita peroleh kemarin, sekarang, dan esok tak terlepas dari anugerah dan rahmat Allah swt.

Maka esensi sujud ini sangat erat kaitannya dengan masjid, tempat di mana sujud sering dilakukan, khususnya pada saat melaksanakan ibadah sholat. Masjid itu terambil kata bahasa arab yaitu masjidun. Akar katanya adalah sajada-yasjudu-sujud, yang artinya secara bahasa adalah tunduk, patuh, taat, dan penuh penghormatan.

Sedangkan secara syariat adalah meletakkan Dahi, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung kaki ke bumi. Bentuk gerakan lahiriah ini umumnya kita temukan pada saat umat muslim melaksanakan shalat. Sehingga berawal dari sinilah kemudian bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan shalat dinamakan dengan masjid, yang berarti “tempat bersujud”.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 97-98 tentang Hijrah

Di dalam Al Quran, kita sering menjumpai kata sujud melekat pada berbagai arti. Menurut Quraish Shihab, dalam bukunya Wawasan Al-Quran, beliau menjelasakan ada tiga esensi sujud yang bisa kita temukan dalam Al-Qur’an. Yang pertama, sujud dapat diartikan sebagai penghormatan dan pengakuan akan kelebihan pihak lain seperti sujudnya para malaikat kepada nabi Adam a.s sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 34,

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰࣤئِكَةِ اسْجُدُوْالِاٰدَمَ فَسَجَدُوْاࣤ اِلَّآ اِبْلِيْسَ ۗ اٰبٰى وَاسْتَكْبَرَ ۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan (ingatlah)ketika kami berfirman kepada para malaikat, “sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 34)

Yang kedua, sujud dapat berarti kesadaran terhadap kekhilafan serta pengakuan kebenaran yang disampaikan pihak lain, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 70.

فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوْاࣤ اٰمَنَّا بِرَبِّ هٰرُوْنَ وَمُوْسٰى

“Lalu para penyihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, “kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.”(QS. Thaha:70)

Baca juga: Merenungi Tanda-Tanda Kekuasaan Allah di Surat Ar-Rum ayat 20-25

Yang ketiga, sujud berarti mengikuti maupun menyesuaikan diri dengan ketetapan Allah yang berkaitan dengan alam raya ini  yang secara salah kaprah dan populer sering dinamakan hukum-hukum alam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

“Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). (QS. Ar-Rahman:6)

Setelah kita memahami arti sujud, selanjutnya kita perlu mengenal juga bagaimana tempat yang digunakan untuk bersujud, Yakni Masjid. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an

وَّاَنَّ الْمَسْجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا ۖ

“ Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah menyembah  sesuatu pun selain Allah” (QS. Al-Jin:18)

Baca juga: Tafsir Surah An Nisa Ayat 34: Peran Suami Istri dari Pemutlakan hingga Fleksibilitas Kewajiban

 Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Saw. Bersabda,

“telah dijadikan untukku (dan untuk ummatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah).

Dari ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah diatas, kita dapat menangkap makna bahwasanya masjid bukan hanya berarti sebuah bangunan yang digunakan khusus untuk bersuci mengambil air wudhlu dan tempat menunaikan ibadah  sholat, akan tetapi juga berfungsi sebagai sarana terhadap segala aktifitas manusia yang mencerminkan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah swt.

Sementara, Akhir-akhir ini kita banyak melihat fenomena dimana masjid ternyata hanya dijadikan sebagai simbol kekayaan para ta’mirul dan relawan kaya yang berkontribusi banyak dengan masjid tersebut. Karenanya, segala hal yang ditampilkan hanyalah berupa keindahan Arsitektur serta kelebihan material.

Baca juga: Tafsir Surah An Nahl Ayat 97: Tips Meraih Hidup Bahagia

Sementara esensi dari Masjid itu sendiri sedikit demi sedikit tergeser, menyalahi syariat sebagaimana yang telah dicontohkan dalam hadits Nabi Saw juga sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama kita pada zaman dahulu. Penyalahgunaan fungsi masjid ini dijelaskan oleh Allah swt sebagai perilaku yang menggambarkan sifat kaum munafik yang merugikan umat muslim, sebagaimana  dalam firman-Nya

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُ ۗ  وَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَآ اِلَّا الْحُسْنٰى ۗ وَاللهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ.

“ Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecahbelah orang-orang mukmin, serta menunggu (mengamat-amati) kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ( QS. At-Taubah: 107)

Lantas bagaimana fungsi masjid yang sesungguhnya ? Rasulullah Saw, telah mencontohkan hal tersebut dalam kehidupan beliau. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau sempat singgah di sebuah perkampungan yang bernama Quba. Beliau kemudian membangun Masjid untuk pertama kalinya  disana, yang kemudian dinamakan dengan Masjid Quba. Setelah Rasulullah sampai di Madinah, beliau membangun masjid kedua, yang dinamai Masjid Nabawi. Di masjid inilah Rasulullah melaksanakan segala aktivitas yang berkaitan dengan umat muslim.

Baca juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam

Dalam catatan sejarah, Masjid Nabawi banyak difungsikan untuk segala kegiatan Mulai dari sholat, musyawarah urusan Negara, mengajarkan Al-Qur’an dan pendidikan lainnya, tempat penyantunan sosial, tempat Latihan militer, tempat untuk mengobati  para korban perang, bahkan menjadi tempat pertemuan Rasulullah dengan para sahabat dan masyarakat yang ingin mengkonsultasikan perihal masalah hidupnya sehari-hari.

Kalau kita membaca sejarah, Betapa banyak fungsi Masjid yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dimana bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Beda halnya dengan saat ini dimana masjid hanya di peruntukkan khusus untuk ibadah saja. Bagi Jama’ah yang beraktivitas di luar ibadah akan dilarang oleh Ta’mirul masjid tersebut bahkan disebagian tempat ada yang jama’ahnya di usir keluar dari masjid hanya karena Tidur sebentar melepas penat dalam perjalanan.

Semoga dengan penjelasan diatas, kita dapat memakmurkan masjid dan memfungsikannya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Aamiin.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 146-151

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 146

Orang-orang munafik masih diberi kesempatan untuk bertobat selama ajal mereka belum tiba, asal mereka betul-betul menyesali perbuatan mereka atas dasar kesadaran yang keluar dari hati nurani mereka, dan memperbaiki perbuatan mereka dengan melakukan amal saleh dan berpegang teguh pada tuntunan Ilahi.

Dengan kata lain, ancaman Tuhan yang sangat keras itu tidak akan menimpa mereka, apabila mereka bertobat dan menyesali perbuatannya, kemudian melakukan perbuatan-perbuatan sebagai berikut:

  1. Mereka betul-betul berusaha untuk melakukan amal saleh yang dapat menghilangkan noda kemunafikannya dengan selalu bersifat jujur, baik dalam berkata maupun dalam berbuat, dapat dipercaya, memenuhi janji, ikhlas terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan tetap melakukan salat dengan khusyuk serta tekun, baik di hadapan orang maupun pada waktu sendiri-sendiri.
  2. Berpegang teguh kepada ajaran Allah, yaitu meniatkan tobat dan amal saleh kepada keridaan Allah serta berpegang teguh pada Alquran, berakhlak mulia serta berperangai baik sesuai dengan ajaran Alquran, menjalani semua perintah dan menjauhi segala larangan Allah.
  3. Mengikhlaskan diri kepada Allah yaitu memohon pertolongan hanya kepada-Nya, baik pada waktu senang atau dalam keadaan susah.

Apabila mereka melakukan ketentuan-ketentuan tersebut, maka Allah berjanji akan memasukkan mereka ke dalam barisan orang-orang mukmin di hari kiamat, karena mereka telah beriman, dan beramal seperti orang-orang mukmin, bahkan mereka itu akan diberi pahala seperti pahala yang diterima oleh orang-orang mukmin.

Ayat 147

Allah tidak akan menyiksa seseorang secara semena-mena. Allah menyiksa orang-orang munafik, hanyalah karena perbuatan mereka sendiri. Kepada mereka telah diberi akal, panca indera dan perasaan tetapi tidak mereka pergunakan sebagaimana mestinya sehingga mereka tidak mau menerima petunjuk-petunjuk Allah, dan jiwa mereka menjadi kotor serta penyakit kemunafikan bersemi di dalam diri mereka.

Apabila Allah memberikan pahala kepada mereka, sesudah mereka bertobat adalah karena kesadaran dan keikhlasan yang timbul dari hati mereka sendiri, dan telah melakukan amal saleh yang didasarkan kepada iman yang benar. Kemudian Allah menegaskan bahwa Dia Maha Pembalas jasa kepada hamba-Nya yang mau bersyukur dan Maha Mengetahui setiap amal perbuatan yang dilakukannya, dengan memberikan pahala yang tidak terhingga. Allah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim/14:7).

Ayat 148

Allah tidak menyukai hamba-Nya yang melontarkan kata-kata buruk kepada siapa pun. Kata buruk dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara anggota masyarakat dan jika berlarut-larut dapat menjurus kepada pengingkaran hak dan pertumpahan darah, dan dapat pula mempengaruhi orang yang mendengarnya untuk meniru perbuatan itu, terutama bila perbuatan itu dilakukan oleh pemimpin. Allah tidak menyukai sesuatu, berarti Allah tidak meridainya dan tidak memberinya pahala.

Dalam hal ini dikecualikan orang yang dianiaya. Jika seseorang dianiaya, dia diperbolehkan mengadukan orang yang menganiayanya kepada hakim atau kepada orang lain yang dapat memberi pertolongan dalam menghilangkan kezaliman.

Jika seseorang dianiaya lalu ia menyampaikan pengaduan, tentu saja pengaduan itu dengan menyebutkan keburukan-keburukan orang yang menganiayanya. Maka dalam hal ini ada dua kemungkinan. Pertama, orang yang teraniaya melontarkan ucapan-ucapan buruk terhadap seseorang yang menganiayanya.

Hal ini dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian antara kedua belah pihak. Kedua, bila orang yang dianiaya itu mendiamkan saja, maka kezaliman akan tambah memuncak dan keadilan akan lenyap. Karena itu Allah mengizinkan dalam ayat ini bagi orang yang teraniaya melontarkan ucapan dan tuduhan tentang keburukan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang yang menganiaya walaupun akan mengakibatkan kebencian, karena membiarkan penganiayaan adalah lebih buruk akibatnya, sesuai dengan kaidah:

اِرْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ

“Melakukan yang lebih ringan mudaratnya di antara dua kemudaratan.”

Orang yang dianiaya wajib menyampaikan pengaduannya kepada hakim atau lainnya. Seseorang yang zalim jika tidak diambil tindakan yang tegas terhadapnya, kezalimannya akan bertambah luas. Tetapi jika tidak ada maksud untuk menghilangkan kezaliman, seseorang dilarang keras melontarkan ucapan-ucapan yang buruk.

Dalam ayat ini diperingatkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui setiap ucapan yang dikeluarkan oleh orang yang zalim dan orang yang dianiaya, terutama jika mereka melampaui batas sampai melontarkan pengaduan yang dusta atau bersifat menghasut dan mengadu domba.

Ayat 149

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa menyatakan suatu perbuatan baik dengan membeberkannya memang baik, seandainya orang yang melakukan perbuatan itu dapat menjaga diri dari sifat ria serta hatinya penuh dengan keikhlasan dan keimanan, sehingga menjadi teladan bagi orang lain.

Sedangkan mengerjakan kebaikan secara tersembunyi akan lebih memelihara kehormatan fakir miskin. Pemberian maaf yang dilakukan seseorang kepada orang-orang yang telah berbuat salah terhadapnya termasuk perbuatan yang akan mendapat balasan dan pahala dari Allah, sebab Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.

Ayat 150-151

Di antara manusia ada yang beriman kepada Allah dan sebagian rasul-Nya seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani. Orang-orang Yahudi berkata, “Kami percaya hanya kepada Musa, tidak percaya kepada Muhammad.” Dan orang Nasrani berkata, “Kami percaya kepada Musa dan Isa, tetapi tidak percaya kepada Muhammad.” Kepercayaan seperti itu berarti mencampur-adukkan antara iman dan kafir, padahal sesungguhnya iman dan kafir itu adalah dua hal yang sangat bertentangan.

Jika orang Yahudi itu sungguh-sungguh beriman kepada Nabi Musa, tentulah beriman pula kepada Nabi Muhammad saw, demikian pula orang Nasrani, jika mereka sungguh-sungguh beriman kepada Nabi Isa, tentulah mereka beriman kepada Nabi Muhammad saw karena perihal kedatangan Nabi Muhammad saw itu disebut-sebut pula dalam kitab Taurat dan Injil, dan Nabi Muhammad pun membenarkan kitab Taurat dan Injil yang asli yang menjadi pegangan mereka.

Alasan-alasan yang menunjukkan atas kebenaran kenabian Muhammad saw adalah sempurna, karena Nabi Muhammad saw seorang yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis), dibesarkan dalam masyarakat jahiliah, kepadanya diturunkan Alquran yang sempurna, yang menerangkan segala yang benar.

Kedua golongan yang membeda-bedakan kepercayaan terhadap sebagian rasul itu dinyatakan Allah sebagai orang kafir. Terhadap mereka Allah menyediakan siksaan yang menghinakan, azab yang mengandung penghinaan dan penderitaan.

(Tafsir Kemenag)

Rasulullah Pun Pernah Mempraktikan Metode Bandongan

0
metode bandongan
metode bandongan (pp. Babussalam)

Dalam gramatikal Arab, bandongan disebut juga halaqah (metode melingkar/ lingkaran). Metode ini memungkinkan para sahabat membentuk setengah lingkaran dan mengelilingi Rasulullah saw. Di mana Rasul saw. bisa mengawasi dengan cermat sebab jarak keduanya lumayan dekat.

Kedekatan jarak pendidik dan peserta didik juga membangun hubungan emosional mereka lebih dekat. Selain itu, menampilkan bagaimana pendidikan Islam begitu egaliter, termasuk pondok pesantren. Praktik metode ini telah disitir oleh firman-Nya dalam Q.S. al-Mujadalah [58]: 11,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Mujadalah [58]: 11)

Tafsir Surat al-Mujadalah Ayat 11

As- Suyuthi dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul menjelaskan sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan majelis dzikir di mana para sahabat enggan memberikan tempat duduk kepada sahabat yang lain.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Qatadah bahwa apabila ada orang yang baru datang ke majelis Rasul saw, para sahabat enggan memberikan tempat duduknya di dekat Rasul saw. Maka turunlah ayat ini, surat al-Mujadalah ayat 11.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim, dari Muqatil bahwa ayat ini turun pada hari Jumat, tatkala pahlawan Badar datang ke majelis Rasul saw yang penuh sesak, sehingga mereka terpaksa berdiri. Melihat hal itu, lantas Rasul saw menyuruh sahabatnya yang sudah duduk untuk berdiri.

Sedangkan para pahlawan Badr disuruh menempati tempat duduk sahabat yang berdiri tadi. Adapun mereka yang berdiri berpindah tempat, dan merasa tersinggung. Ayat ini turun sebagai perintah kepada orang mukmin untuk menataati Rasul saw dan memberikan kesempatan duduk kepada mukmin lainnya.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 6: Hukum Wudhu Perempuan yang Memakai Kuteks


Penafsiran ini akan berfokus pada konteks metode bandongan yang dalam bahasa Arab disebut juga halaqah (melingkar). Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ulama qiraat ada yang membacanya al-majlis (dalam bentuk tunggal, bukan jamak). Sedangkan Al-Qurthuby menukil Wazir bin Hubaisy dan Ashim membacanya dengan majalis (bentuk jama’).

Di dalam hadits yang diriwayatkan dalam kitab-kitab sunnah disebutkan bahwa Rasulullah saw belum pernah duduk di tempat paling ujung dari suatu majelis, tetapi beliau selalu duduk di tengah-tengah majelis itu.

Sedang, para sahabat duduk di dekatnya sesuai tingkatan mereka. Maka, Abu Bakar as-Shiddiq duduk di sebelah kannya, Umar di sebelah kirinya, sedangkan yang seirng menempati duduk di depan beliau ialah Usman dan Ali, karena keduanya termasuk juru pencatat wahyu.

Dan Nabi saw sendirilah yang memerintahkan keduanya untuk hall tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam H.R. Imam Muslim, melalui hadits al-A’masy, dari Imarah bin Umar, dari Ma’mar, dari Abu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw bersabda,

لِيَلِينِيْ مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْلَامِ والنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Hendaklah orang-orang yang memiliki budi dan akal yang duduk mendampingiku, kemudian orang-orang yang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang sesudah mereka.

Hal ini tiada lain dimaksudkan agar mereka dapat memahami penjelasan beliau saw. Karena itulah, beliau saw memerintahkan kepada mereka yang berada di dekatnya untuk beranjak dari tempat duduknya, dan meminta orang-orang ahli Badar yang baru tiba menduduki tempat sahabat tadi.

Hal semacam ini dimungkinkan terjadi karena mereka kurang menghargai kedudukan ahli Badar atau agar ahli Badar yang baru tiba itu dapat menerima ilmu sebagaimana ilmu yang diterima oleh orang-orang sebelum mereka, atau barangkali untuk mengajarkan kepada mereka bahwa orang-orang yang memiliki keutamaan itu (ahli Badar) harus diprioritaskan berada di depan (dekat dengan Nabi saw).


Baca juga: Alasan Tafsir Jalalain Jadi Tafsir Favorit di Pesantren


Rasulullah Saw Pun Pernah Mempraktikkan Metode Bandongan

Sebagaimana penjelasan penafsiran di atas, Rasul saw pun pernah mempraktikkan metode bandongan. Istilah bandongan sendiri berasal dari bahasa Sunda, ‘ngabandungan’ yang berarti memperhatikan secara seksama atau menyiak. Biasanya istilah bandongan dipadukan dengan sorogan di mana kedua metode ini sudah menjadi entitas yang melekat dalam pembelajaran pesantren.

Dengan metode ini, para santri atau peserta didik akan belajar dengan menyimak secara kolektif. Dalam bahasa Jawa, bandongan juga disebutkan berasal dari kata ‘bandong’, yakni pergi berbondong-bondong. Dikarenakan dilangsungkan dengan peserta dalam jumlah yang relatif besar.

Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia menyatakan metode bandongan merupakan metode utama dalam sistem pengajaran di pesantren. Dalam sistem ini, sekelompok peserta didik (antara 5 sampai dengan 500 murid) mendengarkan seorang pendidik yang membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan mengulang buku-buku Islam dalam bahasa Arab.

Setiap peserta didik memperhatikan bukunya sendiri dan membuat hasyiyah (catatan pinggir secara ringkas) tentang hal-hal yang sulit dipahami. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah, yang secara bahasa diartikan lingkaran murid, atau sekelompok peserta didik yang belajar di bawah bimbingan seorang guru atau pendidik.

Ternyata metode bandongan juga tidak hanya pernah dipraktikkan oleh Rasul saja, akan tetapi dilestarikan oleh para sahabat, sebut saja Umar bin Khattab. Pada masa kekhalifahannya, beliau mengirimkan beberapa qari’ untuk mengajarkan Alquran di wilayah Islam, salah satu yang didelegasikannya adalah Abu Darda’.

Abu Darda’ merupakan salah seorang sahabat bertugas mengajarkan Alquran di Damaskus. Di sana dia membuat halaqah atau bandongan yang sangat masyhur di mana jumlah peserta didiknya mencapai 1600-an lebih, sungguh jumlah yang sangat fantastis bukan.

Metode yang digunakan Abu Darda’ pun dengan membagi peserta didiknya ke dalam 10 kelompok kecil dan menugaskan seorang instruktur pada tiap-tiap kelompok. Lalu ia melakukan inspeksi keliling guna memantau kemajuan peserta didiknya. Bagi mereka yang telah lulus tingkat dasar, dapat mengikuti bimbingan langsung di bawah beliau agar peserta didik merasa lebih terhormat mendapatkan pengajaran langsung dengan sang guru atau pendidik.

Model metode seperti ini juga telah diaplikasikan di berbagai pesantren dengan santri baru terlebih dahulu belajar Alquran atau materi awal dengan para asatidz sebelum belajar langsung dengan Kiai atau Bu Nyai.

Hal ini bertujuan untuk membentuk keefektifan dalam suatu pembelajaran. Sebab santri baru akan lebih baik dan sebaiknya memang mendapat pembelajaran yang relatif cukup lama ketimbang santri lama atau sudah mahir. Wallahu A’lam.