Beranda blog Halaman 543

Siapa Saja Mufasir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Mas’ud

0
Abdullah Ibn Mas'ud
Abdullah Ibn Mas'ud credit: tebyan.net

Sekilas Tentang Abdullah Ibn Mas’ud

Nama lengkapnya ialah Abdullah ibn Mas’ud ibn Ghafil. Ia memiliki kunyah Abu Abdirrahman al-Hudzali. Ibunya bernama Ummu Abd bintu Abdud yang berasal dari Hudzail. Sesekali Ibn Mas’ud dinasabkan kepada ibunya sehingga ia pun dipanggil Ibn Ummi Abd.

Dikatakan bahwa ciri fisik dari Ibn Mas’ud ialah berperawakan kurus, pendek, serta memiliki kulit yang pekat. Ibn Mas’ud tergolong dalam orang-orang yang pertama kali masuk Islam (assabiqunal awwalun). Dia juga termasuk orang pertama, setelah Rasulullah, yang membacakan al-Qur’an secara terang-terangan di Mekkah dan memperdengarkannya kepada orang-orang Quraisy.

Saat Abdullah ibn Mas’ud masuk Islam, Rasulullah pun mengajaknya dan ia pun kemudian mengabdi kepada Rasulullah dalam hampir segala hal yang dilakukan Rasul. Ia lah yang mengurusi perlengkapan bersuci Rasul, siwaknya, hingga sandalnya. Layaknya bodyguard, ia pun berjalan di depan Rasul tatkala bepergian serta menutupinya ketika mandi. Ia juga biasa saja masuk ke rumah Rasul dan sampai seorang sahabat yakni Abu Musa al-Asy’ari mengiranya sebagai bagian dari Ahlu Bait.

Sebagai sahabat yang begitu dekat dengan Rasulullah, Ibn Mas’ud telah mengikuti beberapa peristiwa penting bersama Rasulullah. Mulai dari hijrah ke Habasyah, kemudian Madinah, lalu peristiwa perpindahan kiblat, perang Badr, Uhud, Khandaq, kemudian peristiwa Bai’ah Ridwan, serta seluruh peperangan yang diikuti oleh Rasulullah. Setelah wafatnya Rasul pun ia tetap berkontribusi dalam perang Yarmuk. Dikatakan dalam sejarah bahwa Ibn Mas’ud-lah yang berhasil menumpahkan darah Abu Jahal saat perang Badr.

Baca Juga: Siapa Saja Mufassir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Abbas

Begitu besarnya kontribusi Ibn Mas’ud dalam perkembangan Islam, ia pun dipercaya sebagai pengelola Baitul Mal di Kufah pada dua era Khalifah yakni Umar dan Utsman. Sebelum wafat, ia pun meninggalkan Kufah dan mendapati Madinah sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Abdullah Ibn Mas’ud pun wafat di tahun 32 Hijriyah dan umurnya kala itu sekitar 60 tahun.

Level Keilmuan

Ibn Mas’ud merupakan sahabat yang paling menguasai al-Qur’an. Rasulullah pun mewajibkan untuk mendengarkan bacaan Ibn Mas’ud. Rasul bersabda, “barangsiapa yang ingin membaca al-Qur’an sebagaimana waktu diturunkannya, maka hendaklah membaca dengan qira’at Ibn Ummi Abd”.

Dalam riwayat lain bahkan Ibn Mas’ud berkata bahwa tidak ada satu ayat pun yang ia tidak ketahui konteks pewahyuannya. Ini memperlihatkan kedalaman ilmu Ibn Mas’ud dengan makna ayat serta asbabun nuzulnya. Bahkan di akhir riwayat, ia mengatakan bahwa seandainya ada seseorang yang lebih mengetahui darinya, niscaya ia akan mencarinya jika bisa ditempuh dengan menunggang unta. Ini menunjukkan betapa keseriusan Ibn Mas’ud dalam belajar al-Qur’an.

Kedudukan Ibn Mas’ud juga disebutkan dalam sebuah riwayat yang memuat pujian kepadanya. Dikatakan bahwa keseluruhan ilmu dari para sahabat bermuara pada enam orang yaitu Ali, Umar, Abdullah ibn Mas’ud, Ubay ibn Ka’ab, Abu Darda’, serta Zaid ibn Tsabit. Dan dari enam orang tersebut masih bermuara lagi pada dua orang yakni Ali dan Abdullah ibn Mas’ud.

Tatkala Ibn Mas’ud diutus oleh Umar pergi ke Kufah sebagai pejabat pemerintah, Umar pun telah memesani para penduduk Kufah untuk menimba ilmu dan merujuk kepadanya. Benar saja, saat sampai di Kufah Ibn Mas’ud pun dijadikan sebagai pengajar utama Al-Qur’an, Hadis serta Fiqh. Beberapa riwayat itu memperlihatkan betapa tingginya derajat keilmuan Ibn Mas’ud di mata para sahabat.

Hal Menarik Seputar Abdullah Ibn Mas’ud

Hal menarik dalam kisah Ibn Mas’ud adalah tatkala ia mendapati perselisihan dengan Utsman ibn Affan selaku khalifah pada saat itu. Perselisihan mereka perihal kodifikasi al-Qur’an. Utsman pada saat itu memerintahkan agar para sahabat yang memiliki mushaf pribadi agar disetorkan dan dibakar karena akan digantikan dengan mushaf Imam yang sedang digarap. Saat bertemu Ibn Mas’ud, Utsman memintanya agar memberikan mushaf miliknya dan sekaligus mengabarkan mengenai proyek kodifikasi al-Qur’an.

Abdullah ibn Mas’ud pun awalnya menolak sebab ia mengatakan bahwa seluruh bacaan al-Qur’an merupakan bacaan yang telah disetorkan pada Rasulullah dan tidak mungkin ada kesalahan. Selanjutnya ia juga mengomentari pedas pemilihan Zaid ibn Tsabit sebagai ketua panitia penulisan mushaf—sebab ia tidak dipilih. Ia berkomentar bahwa Zaid ibn Tsabit tidaklah lebih cakap darinya dalam keilmuan. Namun, kemudian berkat penjelasan dari Utsman yang menitikberatkan pada upaya menyelesaikan perdebatan umat terkait perbedaan qira’at akhirnya hal ini bisa teratasi. Dalam masalah ini, Ali ibn Abi Thalib pun menekankan bahwa apa yang diusahakan oleh Utsman adalah hal yang baik dan seandainya Utsman tidak mau melakukannya (membakar mushaf milik sahabat) maka ia yang akan melakukannya.

Hal menarik lainnya adalah tatkala bacaan atau qira’at dari Ibn Mas’ud digunakan sebagai penafsiran dalam penetapan hukum. Kasus hukuman potong tangan menjadi salah satu contohnya di mana ayat faqtha’u aidiyahuma ditafsirkan dengan qira’at Ibn Mas’ud yang menyebut faqtha’u aimanahuma. Dari situlah maka hukuman potong tangan ditetapkan dengan mendahulukan memotong tangan kanan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 141-145

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 141

Kaum munafik senantiasa menunggu-nunggu peluang yang baik yang menguntungkan diri mereka. Mereka mencari-cari kesempatan kapan terjadi peristiwa yang menimpa Muslimin. Harapan mereka ialah hancurnya kekuatan Islam dan kemenangan orang-orang kafir.

Hanya saja mereka tidak mau menampakkan sikap yang tegas karena mereka dipengaruhi oleh keragu-raguan yang menyelubungi jiwa mereka. Itulah sebabnya apabila kemenangan diperoleh Muslimin, mereka mengaku bahwa mereka membantu kaum Muslimin, agar memperoleh kesempatan untuk menikmati kemenangan itu.

Sebaliknya apabila kemenangan berada di pihak orang-orang kafir mereka pun mengatakan bahwa mereka berusaha dengan keras untuk membantu mereka dalam menghadapi serangan-serangan kaum Muslimin, dengan maksud agar mereka dapat memperoleh bagian dari kemenangan tersebut.

Jelas bahwa perbuatan orang-orang munafik itu adalah semata-mata untuk memperoleh keuntungan, tetapi tidak mau menanggung resikonya. Dengan demikian mereka ingin mendapatkan keuntungan tanpa berusaha, dan ingin menyelamatkan diri tanpa bersusah payah.

Maka ayat ini menegaskan bahwa Allah akan menentukan pada hari kiamat siapa-siapa di antara mereka yang betul-betul beriman dan melaksanakan perintah Allah dengan ikhlas, dan siapa yang munafik dan pura-pura beriman tetapi di hatinya tersembunyi penyakit nifaq. Allah akan memberikan pahala kepada siapa yang berhak menerimanya, dan juga akan memberikan siksaan kepada siapa yang berhak menerimanya.

Selama kaum Muslimin tetap berpegang kepada agama, melaksanakan apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta berusaha menyiapkan apa yang diperlukan untuk kepentingan agama, niscaya Allah akan menjamin kemenangan mereka, sedikit pun Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memperoleh kemenangan atas orang-orang mukmin.

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُ

”Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat),” (al-Mu’min/40:51)

Ayat 142

Kemudian Allah menjelaskan sikap orang-orang munafik yang selalu membantu tipu daya untuk menghalang-halangi berkembangnya agama Islam. Mereka juga menipu Rasul saw dengan jalan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran.

Kaum munafik telah menipu Allah dengan menipu Rasul-Nya, karena menipu Rasul itu disamakan dengan menipu Allah. Perbuatan mereka menipu Allah dan Rasul-Nya itu adalah perbuatan sesat. Allah Maha Mengetahui apa yang terkandung dalam hati mereka. Oleh sebab itu Allah membalas tipuan mereka seperti yang diterangkan dalam firman-Nya:

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ  ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ

Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali ‘Imran/3:54).

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّآ اَضَاۤءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ

Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (al-Baqarah/2:17)

Tipu daya mereka tidak akan berhasil dan mereka tidak akan mendapat manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah karena sifat-sifat kemunafikannya yang bersemi di dalam dada mereka.

Apabila mereka mendirikan salat, mereka bermalas-malas karena tidak mempunyai keinginan untuk melakukannya, mereka tidak meyakini adanya pahala di akhirat dan tidak merasa takut akan ancaman Allah di hari kemudian. Hal ini disebabkan karena hatinya kosong dari iman yang benar. Mereka ikut melakukan salat hanyalah agar dikatakan Muslim. Sedangkan apabila mereka tidak lagi berada dilingkungan kaum Muslimin, mereka tidak lagi melakukannya.

Pantaslah apabila mereka berlaku demikian karena mereka sebenarnya adalah bersifat ria, ingin agar mereka dianggap mukmin. Mereka tidak melakukan salat terkecuali dalam waktu-waktu tertentu saja, yaitu pada saat-saat mereka berada di hadapan umat Islam.

Ayat 143

Kaum munafik kadang-kadang memihak orang-orang mukmin dan kadang-kadang memihak orang-orang kafir. Sikap mereka memihak itupun tidak dilakukan secara ikhlas, karena mereka hanya menginginkan ketentuan duniawi dan melepaskan diri dari tekanan-tekanan yang akan dijumpainya dari kedua belah pihak.

Barang siapa yang disesatkan dari hidayah Allah, maka tidak ada yang dapat menolong dan tidak ada yang dapat menunjukinya kepada jalan yang benar yang akan melepaskan mereka dari kesesatan.

Ayat 144

Dalam ayat ini ada larangan, agar orang-orang mukmin tidak meminta pertolongan kepada orang kafir yang memusuhi kaum Muslimin, baik dengan meminta pendapat atau berteman dekat dengan mereka, dan tidak boleh memberikan kepercayaan apalagi membocorkan rahasia kepada mereka. Larangan serupa ini terdapat juga dalam firman Allah:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan (siksa) dari-Nya, ….”  (Ali ‘Imran/3:28).

۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. …” (al-Ma’idah/5:51)

Kaum Muslimin diperingatkan agar berhati-hati dalam meminta pertolongan kepada orang kafir yang memusuhi Islam baik dengan niat, ide-ide maupun dengan perbuatan, karena pertolongan yang didapat dari orang-orang kafir itu mungkin akan membahayakan kaum Muslimin sendiri. Allah menanyakan kepada orang-orang mukmin, apakah mereka akan membuat hal-hal yang menyebabkan mereka berhak menerima siksaan yaitu apabila mereka menggunakan orang kafir menjadi penolong mereka?

Ayat 145

Orang-orang munafik diperingatkan, bahwa mereka akan disiksa di neraka pada tingkatan yang paling bawah, karena perbuatan mereka dipandang perbuatan yang paling jahat, di dalam diri mereka bersemi kekafiran dan kemunafikan. Mereka menipu Rasulullah dan orang-orang mukmin. Maka siksaan yang paling pantas bagi mereka ialah neraka yang paling bawah tingkatannya. Mereka tidak akan mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkan ataupun meringankan siksaan yang akan mereka terima.

(Tafsir Kemenag)

Hikmah Puasa Dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183

0
hikmah puasa
hikmah puasa

Hikmah puasa menjadi topik yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam, ini banyak dicari untuk diketahui, karena seperti diketahui, puasa tidak hanya menjadi ibadah wajib tahunan umat Islam, tetapi juga sangat sering dijadikan sebagai amalan sunnah di hari-hari yang istimewa, sebut saja yang paling mendekati adalah hari asyura. Bahkan, banyak disampaikan oleh para ulama bahwa puasa dipilih sebagai alternatif amalan tirakat yang disarankan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan memperlancar hajat atau keperluan seseorang.

Namun demikian sebelum membahas hikmah puasa, kita harus ketahui terlebih dahulu puasa itu sendiri, mulai dari pengertiannya, dasar teologisnya, hukumnya dan macam-macamnya. Puasa -wajib- merupakan satu dari beberapa rukun Islam. Secara definitif, rukun merupakan sesuatu yang pokok yang tidak boleh tidak dilaksanakan. Oleh karenanya manusia sebagai hamba memiliki kewajiban untuk memenuhi rukun tersebut. Pemenuhan dan pelaksanaan kewajiban seperti ini merupakan bingkai yang menjembatani sebuah relationship antara hamba dan Tuhannya.

Seperti hal nya rukun Islam yang lain, dasar perintah puasa sudah ditetapkan dalam Alquran. Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah berfirman

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Sesuai redaksi akhir ayat di atas, tujuan utama perintah ini adalah agar manusia bertakwa. Takwa dalam konteks puasa di sini berarti bentuk ketakutan hamba kepada Allah yang diwujudkan dengan meninggalkan kesenangan perut dan kesenangan di bawah perut. Sebab, keduanya adalah hal yang paling disukai manusia sehingga paling berat untuk ditinggalkan. Selain itu, takwa di sini bisa juga diartikan dengan al-muhafadzoh (menjaga), yakni menjaga puasa karena kedudukannya yang agung.

Perintah wajib berpuasa pada ayat di atas memang hanya berlaku untuk puasa wajib, yaitu puasa di bulan Ramadan. Namun tujuan yang puasa yang tersurat di situ tidak hanya berlaku untuk puasa Ramadan, tetapi juga menjadi tujuan dari puasa sunnah (misal puasa tasu’a, asyura, puasa hari tarwiyah, arafah, senin-kamis dan seterusnya). Di bagian tujuan berpuasa sini kita dapat melihat nilai puasa dan kandungan hikmah puasa.

Baca Juga: Apa Saja Amalan Sunnah 10 Muharram? Berikut Penjelasannya

Puasa dianggap sebagai bentuk nyata kepatuhan seseorang, serta benteng baginya dari segala pelanggaran. Telah disabdakan oleh Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Puasa itu adalah benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah, ‘aku sedang berpuasa’ sebanyak dua kali. Dan demi dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah swt daripada harumnya minyak misk, karena dia meninggalkan makanannya, minumannya dan nafsu syahwatnya karena-Ku (Allah). (HR. Al-Bukhari)

Mengenai tradisi puasa, dikatakan bahwa puasa merupakan ibadah yang juga diperintahkan pada umat-umat terdahulu. Para Ahli Kitab dari Yahudi dan Nasrani menganggap terpuji ibadah puasa dan orang yang berpuasa. Bahkan menurut Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam at-Tafsirul Munir, puasa juga dijalankan oleh kaum pagan serta bangsa Yunani dan Mesir kuno.

Jika ditinjau dari segi fiqih, puasa adalah al-imsak yang berarti menahan diri dari segala hal yang membatalkannya, seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan diawali niat. Bagi para alim ‘allamah (orang yang ahli dalam bidang agama), puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, ada hikmah tersimpan dalam ibadah tersebut. Berikut beberapa hikmah puasa yang dijelaskan oleh Syeikh Wahbah Az-Zuhaili

  1. Melatih diri untuk takut kepada Allah baik dalam keadaan samar maupun terang-terangan. Seseorang yang berpuasa hanya diawasi oleh tuhannya, sehingga ketika ia merasa lapar dan dahaga saat mencium aroma hidangan dan melihat segarnya minuman namun tetap menahan diri, maka ia telah membuktikan rasa takutnya kepada Allah. Ia hanya mengharap pahala dan rida dari-Nya,
  2. Meredam syahwat. Syahwat sifatnya mempengaruhi dan menguasai, maka dengan puasa ia menjadi tenang dan seimbang.
  3. Mengundang kepekaan diri untuk bersimpati dan empati sehingga ia akan mudah berbagi. Saat berpuasa, ia akan merasakan rasa lapar yang dialami oleh orang-orang lemah yang kekurangan pangan.
  4. Memahami arti kesetaraan bahwa statusnya sama dalam melaksanakan kewajiban. Tidak memandang kasta antara kaya dan miskin atau berpangkat dan tidak.
  5. Membiasakan hidup teratur. Berpuasa menjadi pelajaran untuk mendisiplinkan diri melalui waktu yang telah ditetapkan kapan ia harus memulai dan mengakhirinya. Ia juga dianjurkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhiri sahur.
  6. Menyehatkan badan dan mereformasi stamina secara berkala.

Baca Juga: Puasa Asyura: Bentuk Rasa Syukur atas Nikmat Allah

Inilah diantara hikmah puasa baik dari sisi jasmani, rohani, medis, dan sosial. Selain itu, Nabi telah memberi jaminan kebahagian bagi orang yang berpuasa. Sabda Nabi Muhammad saw yang lain, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Rabb-nya.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lam.

Mengenal Corak Tafsir Fiqhi dan Kitab-kitabnya

0
Mengenal Tafsir Fiqhi
Mengenal Tafsir Fiqhi

Mengenal tafsir fiqhi dan kitab-kitabnya penting bagi siapa saja yang hendak mengkaji Al Quran. Al Quran sendiri menurut al-Ghazali dalam al-Mustasfa berisikan sekitar 500 ayat yang berkaitan dengan hukum. Karena itu, tulisan ini akan mengajak pembaca mengenal tafsir Fiqhi dan ragam kitabnya.

Al Quran merupakan sumber utama hukum Islam. Ibn hazm menyatakan, tidak ada satu bab dalam diskursus fikih kecuali memiliki dasar dari al-Kitab dan as-sunnah. Ini menunjukkan bahwa para ulama ahli fikih itu juga dituntut untuk mampu menafsirkan Alquran, khususnya ayatul ahkam (ayat-ayat hukum).

Tafsir fiqhi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai penafsiran atas ayat Al Quran yang berhubungan dengan fikih. Dalam hal ini, biasanya mufassir hanya membahas aspek fiqhiyyah saja dan mengabaikan aspek lain dari ayat Alquran seperti teologi, akhlak dan tasawwuf serta kisah-kisahnya. Baca juga: Ragam Corak Tafsir Al-Quran

Pengkhususan ini di satu sisi dianggap sebagai sebuah kekurangan. Tapi, di sisi lain justru merupakan nilai lebih dari tafsir fiqhi. Dengan hanya membahas aspek fikih, pembahasan dapat lebih mendalam dan komprehensif.

Perkembangan tafsir fiqhi

Tafsir dengan corak fikih secara praktik telah muncul sejak masa Nabi dan sahabat. Para sahabat dahulu senantiasa memperhatikan kandungan hukum ayat sebagaimana yang disinggung dalam hadis berikut:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ قَالَ:إِذَا كُنَّا نَتَعَلَّمُ الْعَشْرَ مِنَ الْقُرْآنِ لَمْ نَتَعَلَّمِ الْعَشْرَ الَّتِي بَعْدَهَا حَتَّى نَتَعَلَّمَ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا وَأَمْرَهَا وَنَهْيَهَا

“Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami, ia berkata: “Ketika mempelajari sepuluh ayat dari Al Quran, kami tidak beranjak ke sepuluh ayat berikutnya kecuali telah paham petunjuk halal, haram, perintah dan larangan ayat””. (HR. Abdurrazzaq no. 6027).

Perbedaan pandangan fikih sebab perbedaan tafsir bahkan telah terjadi di kalangan sahabat. Di antaranya sebagaimana yang diceritakan Az-Zahabi dalam at-Tafsir wa al-Mufassirun, perbedaan pendapat antara Umar dan Ali tentang jangka waktu iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya. Baca juga: Melihat Respon Adz-Dzahabi atas Perdebatan Tafsir Nabi

Menurut Umar, masa iddah perempuan tersebut ialah sampai ia melahirkan. Sementara menurut Ali, iddahnya ialah masa terlama antara waktu melahirkan atau empat bulan sepuluh hari.

Adapun secara tertulis, karya tafsir yang khusus membahas ayat hukum pertama kali dilakukan oleh Muqatil bin Sulaiman al-Khurasani dengan kitabnya yang berjudul Tafsir al-Khamsimi’ah Ayah min al-Qur’an fi al-Amr wa an-Nahy wa al-Halal wa al-Haram.

Mengenal kitab tafsir Fiqhi

Selain tafsir karangan Muqatil bin Sulaiman di atas, terdapat karya-karya lain bertemakan tafsir fiqhi yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara karya-karya tersebut ada yang menafsirkan ayat-ayat ahkam secara tematik. Ada pula yang menafsirkan keseluruhan Al Quran, namun menekankan pembahasannya pada ayat-ayat yang membicarakan hukum. Baca juga: Siapa Saja Mufassir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Abbas

Berikut beberapa kitab tafsir fiqhi yang diklasifikasikan berdasarkan kecenderungan mazhabnya:

  1. Tafsir fiqhi mazhab hanafi

Ahkam al-Qur’an karya Ali al-Qumi (350 H), Ahkam al-Qur’an karya al-Jassas (370 H), Takhlis Ahkam al-Qur’an karya Ibn Siraj al-Qunawi (770 H) dan at-Tafsirat al-Ahmadiyyah fi Bayan al-Ayat ash-Shar’iyyah karya Ahmad bin Abu Sa’id al-Hanafi (1130 H).

  1. Tafsir fiqhi mazhab maliki

Ahkam al-Qur’an karya Ismail bin Ishaq al-Maliki (282 H), Ahkam al-Qur’an karya Abu Bakar bin Muhammad al-Baghdadi (305 H), Ahkam al-Qur’an karya Ibnu al-‘Arabi (543 H) dan al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurtubi (671 H).

  1. Tafsir fiqhi mazhab syafi’i

Ahkam al-Qur’an karya Imam Syafi’i (204 H), Ahkam al-Qur’an karya Ibrahim bin Khalid al-Baghdadi (240 H), al-Qaul al-Wajiz fi Ahkam al-Kitab al-‘Aziz karya Shihabuddin as-Samin (756 H), al-Iklil fi Istibat al-Tanzil karya Jalaluddin as-Suyuti (911 H) dan Hidayah al-Hayran fi Ba’di Ahkam Tata’llaq bi al-Qur’an karya Abdullah bin Muhammad at-Tablawi (1027 H).

  1. Tafsir fiqhi mazhab hanbali

Ahkam al-Qur’an karya Abu Ya’la Muhammad bin al-Farra’ (458 H) dan Ihkam al-Ra’i fi Ahkam al-Ay karya Shamsuddin Muhammad bin Abdurrahman al-Hanbali (776 H).

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 136-140

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 136

Ayat ini menyeru kaum Muslimin agar mereka tetap beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya Muhammad saw, kepada Alquran yang diturunkan kepadanya, dan kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelumnya. Kemudian ayat ini memperingatkan orang-orang yang mengingkari seruan-Nya.

Barang siapa mengingkari Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhirat, ia telah tersesat dari jalan yang benar, yaitu jalan yang akan menyelamatkan mereka dari azab yang pedih dan membawanya kepada kebahagiaan yang abadi.

Iman kepada kitab-kitab Allah dan kepada rasul-rasul-Nya adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tidak boleh beriman kepada sebagian rasul dan kitab saja, tetapi mengingkari bagian yang lain seperti dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Iman serupa ini tidak dipandang benar, karena dipengaruhi oleh hawa nafsu atau hanya mengikuti pendapat-pendapat dan pemimpin-pemimpin saja.

Apabila ada orang yang mengingkari sebagian kitab, atau sebagian rasul, maka hal itu menunjukkan bahwa ia belum meresapi hakikat iman, karena itu imannya tidak dapat dikatakan iman yang benar, bahkan suatu kesesatan yang jauh dari bimbingan hidayah Allah.

Ayat 137

Ada sekelompok orang yang telah menyatakan dirinya beriman, kemudian berbalik menjadi kafir. Sesudah itu beriman kembali, lalu berbalik lagi menjadi kafir dan akhirnya mereka bertambah-tambah kekafirannya hingga saat ajal mereka tiba. Orang-orang yang serupa itu sedikit pun tidak akan mendapat ampunan dari Allah, dan tidak akan mendapat bimbingan untuk memperoleh petunjuk.

Mereka selalu dalam keadaan bimbang dan ragu, pendirian mereka berubah-ubah dari iman ke kafir, dari kafir ke iman, mereka telah kehilangan pegangan. Karenanya mereka tidak dapat lagi memahami hakikat kebenaran dan keutamaan iman.

Oleh sebab itulah sesuai dengan ketentuan Allah, orang yang hatinya bimbang dan ragu tidak akan mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Maka sudah sepantasnyalah apabila mereka jauh dari rahmat Allah, apalagi untuk mendapatkan ampunan-Nya, karena jiwa mereka telah ditutupi noda-noda kekafiran, sehingga tidak lagi dapat melihat cahaya kebenaran.

Sebenarnya tak ada yang dapat menghalang-halangi ampunan dan hidayah Allah yang akan diberikan kepada makhluk-Nya. Hanya saja kehendak Allah itu tidak terlepas dari usaha manusia yang timbul karena ilmu dan amalannya, akan berbekas pada jiwanya. Maka apabila seseorang terus-menerus mengikuti saja sesuatu pendapat tanpa penyelidikan niscaya akalnya tidak mendapat petunjuk. Begitu pula apabila jiwa seseorang telah dikotori dengan kefasikan dan maksiat, maka ia tidak akan mendapat jalan untuk memperoleh ampunan, tanpa bertobat.

وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

“Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk”. (Taha/20:82)

Ampunan Allah dapat menghapuskan noda-noda dosa di dalam jiwa. Apabila seseorang bertobat dan beramal saleh, maka semua kekotoran jiwa dan dosanya akan terkikis habis.

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذَّاكِرِيْنَ

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (Hµd/11:114)

Ayat 138

Orang-orang munafik sangat tercela karena sikap mereka yang selalu berubah-ubah, dan tidak sesuai ucapannya dengan perbuatannya. Pada saat berkumpul dengan orang-orang mukmin, mereka menampakkan keimanannya dan menyembunyikan kekufurannya. Sebaliknya apabila bertemu dengan orang-orang kafir, mereka menampakkan kekafirannya dan menyembunyikan keimanannya. Mereka benar-benar akan mendapat siksaan yang pedih.

Ayat 139

Kemudian diterangkan sifat-sifat mereka yang pantas dicela, yaitu sifat orang-orang munafik, yang sebenarnya bersekongkol dengan orang-orang kafir. Mereka memusuhi orang-orang mukmin, bahkan dalam saat-saat yang penting, mereka membantu orang kafir, karena mereka berkeyakinan bahwa kemenangan akan diperoleh orang kafir.

Sikap mereka dicela, karena harapan mereka akan mendapatkan kekuatan dari orang-orang kafir, tetapi kekuatan itu tidak akan mereka peroleh, sebab kekuatan dan perlindungan pada hakikatnya di tangan Allah. Allah yang memberikan kekuatan dan perlindungan, menurut kehendak-Nya kepada orang yang betul-betul beriman dan mematuhi segala petunjuk-Nya.

Petunjuk Allah disampaikan melalui para rasul dan merekalah yang menjelaskan jalan yang harus ditempuh guna memperoleh petunjuk. Maka kekuatan dan perlindungan Allah, akan dimiliki oleh orang-orang mukmin, apabila mereka tetap berpegang kepada Kitab Allah dan selalu berpedoman pada hidayah-Nya.

Tetapi orang-orang munafik tidak melihat kekuatan dan perlindungan yang gaib, mereka hanya teperdaya oleh kekuatan dan perlindungan lahir yang sifatnya tidak tetap. Mereka pun tidak akan memperoleh apa yang diharapkannya. Berkenaan dengan itu Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا

“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. …” (Fatir/35:10).

وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ࣖ

 …Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (al-Munafiqµn/63:8)

Ayat 140

Orang mukmin dilarang berkumpul atau berada dalam satu majelis dengan kaum munafik yang menghina agama dan hukum-hukumnya, karena kaum munafik itu apabila mendengar ayat-ayat Allah, mereka ingkar dan memperolok-oloknya.

وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖ

 Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. …”  (al-An’am/6:68)

Sebagian Muslimin duduk-duduk bersama orang-orang musyrik yang sedang membicarakan kekafiran, mencela Islam, dan menghina Alquran, sedang Muslimin itu tidak sanggup menyanggah pembicaraan orang-orang musyrik itu, karena mereka dalam keadaan lemah. Maka Allah menyuruh umat Islam berpaling meninggalkan orang-orang musyrik dan melarang duduk bersama mereka.

Demikian pula orang Yahudi berbuat seperti kaum musyrik, yaitu membicarakan kekafiran dan mencela Islam bersama orang-orang musyrik. Orang mukmin dilarang duduk bersama orang-orang Yahudi dan melibatkan diri dalam pembicaraan-pembicaraan yang menghina agama Allah. Mereka disuruh menjauhi, dan masuk kepada pembicaraan lain yang tidak mengandung penghinaan kepada agama.

Apabila kaum Muslimin ikut bersama-sama dengan kaum munafik itu dan tidak mau meninggalkan mereka, maka Allah menganggap mereka bersekongkol dengan orang-orang kafir itu. Itulah sebabnya Allah melarang kaum Muslimin berkumpul dengan orang Yahudi. Apabila larangan yang telah disampaikan kepada mereka itu masih juga dilakukan, niscaya mereka dianggap sama dengan orang-orang kafir.

Barang siapa membenarkan perbuatan yang mungkar, dan diam saja terhadap kemungkaran itu, maka ia dapat disamakan dengan orang yang berbuat dosa. Membantah kemungkaran berarti mencegah tersebarnya perbuatan itu di tengah-tengah masyarakat. Sesudah itu Allah menegaskan ancaman-Nya terhadap orang-orang yang tidak menghiraukan larangan-Nya. Dia akan menyiksa mereka dengan api neraka bersama-sama orang kafir.

(Tafsir Kemenag)

Nabi Adam dalam Al-Quran: Manusia Pertama dan Tugasnya di Dunia

0
Benarkah Nabi Adam AS penghuni pertama?
Benarkah Nabi Adam AS penghuni pertama?

Nabi Adam dalam al-Quran tersebar kisah dan keterangannya melalui beberapa ayat dan surat. Nabi Adam dalam al-Quran diterangkan sebagai manusia pertama yang Allah ciptakan di muka bumi sekaligus manusia pertama yang berperan sebagai nabi dan rasul.

Ia digelari dengan sebutan abu al-basyar (nenek moyang manusia) atau biasa disebut orang-orang barat sebagai father of humanity. Menurut ‘Abd al-Rauf al-Manawi dalam kitabnya Faid al-Qadīr Syarh al-Jāmi’ al-Saqīr (1: 47), nama Adam berasal dari kata adim yang berarti permukaan tanah. Ini menegaskan bahwa Adam as tercipta dari tanah liat kering sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr [15]: 26).

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah (7: 118) menyebutkan bahwa ayat di atas menceritakan tentang penciptaan manusia (Adam) dari tanah lihat kering (shalshalah). Kata ini memiliki makna yang serupa dengan kata al-fakhkhār. Hanya saja kata al-fakhkhār digunakan untuk menyebutkan tanah lihat yang keras akibat dari pembakaran seperti bata dan gerabah, sedangkan kata shalshalah bermakna tanah liat kering yang terbentuk tanpa pembakaran.

Jika dikaitan dengan ayat-ayat lain tentang penciptaan manusia, ayat ini tidaklah mengandung pertentangan. Karena perbedaan istilah yang digunakan masing-masing ayat menunjukkan beberapa tahapan penciptaan manusia sebelum ditiupkan roh Allah swt. Mulai dari pengambilan tanah, lalu tanah itu tercampur air (thīn), kemudian thīn diproses sebagaimana diisyaratkan dalam kalimat hama’in masnūn, lalu dibiarkan dalam jangka tertentu hingga menjadi shalshalah (tanah liat kering).

Thahir Ibn ‘Asyur menyatakan bahwa maqāshid atau tujuan uraian ayat ini adalah sebagai pembuktian kepada manusia betapa Agung dan mengagumkannya Allah. Dia dapat menciptakan manusia yang merupakan tokoh sentral peradaban dunia dengan segala kelebihan dari unsur-unsur menjijikkan dan remeh. Dengan mengetahui Keagungan Allah, manusia diharapkan dapat beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Baca Juga: Peristiwa Taubat Nabi Adam AS. di Bulan Muharram

Dalam buku al-Mirqāt al-Mafātīh Syarh Misykāt al-Masābīh (5: 17) disebutkan bahwa proses penciptaan Adam as, dimasukkan dan dikeluarkannya dari surga oleh Allah Swt terjadi pada hari jum’at. Pemilihan hari tersebut dikarenakan hari jum’at adalah hari terbaik, terutama bagi umat Islam (sayid al-ayyām). Selain itu, penentuan waktu ini mengandung makna filosofis bahwa Adam as adalah makhluk yang mulia sebagaimana kemuliaan hari dirinya diciptakan.

Dalam sebuah hadis Nabi juga diterangkan proses penciptaan Adam. Nabi Muhammad saw bersabda:

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ اٰدَمَ مِنْ قَبْضَةِ مَنْ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ بَنُوْ اٰدَمَ عَلَى قَدْرِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمُ اْلاَحْمَرُ وَاْلاَسْوَدُ وَبَيْنَ ذٰلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالطَّيِّبُ وَالْخَبِيْثُ. (رواه أحمد و مسلم عن عائشة)

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menciptakan Adam dari kepalan tanah yang diambil dari segala macam tanah, maka lahirlah anak Adam menurut kadar tanah itu. Di antara mereka ada yang merah, ada yang hitam, dan ada di antara kedua warna itu. Ada yang mudah, ada yang sukar, ada yang baik, dan ada yang buruk. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Aisyah)

Baca Juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam

Tugas Nabi Adam as dan Keturunannya

Nabi Adam dalam al-Quran dijelaskan pula sebagai “wakil” Allah di muka bumi Adam as tidak hanya mengemban risalah kenabian, tetapi juga membawa nilai-nilai kemanusiaan dan kealaman (al-insāniyyah wa al-‘ālamiyyah). Ia diberi kepercayaan oleh Allah untuk mengelola bumi menggantikan makhluk ciptaan Allah sebelumnya yang disebut ulama tafsir sebagai bangsa jin. Mereka dibinasakan Allah setelah melakukan berbagai macam kerusakan dan pertumpahan darah. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 33:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. QS. Al-Baqarah [2]: 33)

Dalam Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat ini bercerita mengenai penyampaian keputusan Allah kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan manusia (Adam as) di muka bumi sebagai khalifah. Ini dilakukan karena malaikat adalah makhluk yang akan dibebani sekian banyak tugas terkait kehidupan manusia. Sebagian dari mereka ada yang bertugas untuk mencatat amal manusia, ada yang bertugas menjaga, ada yang menjadi pembimbing, ada yang bertugas sebagai pemberi wahyu dan sebagainya.

Ketika mendengar rencana Allah, malaikat bertanya tentang makna penciptaan tersebut. Mereka mengira bahwa “khalifah” ini akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, karena jauh sebelum manusia tercipta terdapat bangsa jin yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi. Ibnu Katsir menuturkan dalam bukunya Qashash al-Anbiyā (1: 5) bahwa pertanyaan malaikat ini semata-mata untuk meminta penjelasan dari Allah, bukan untuk meragukan apalagi menentang-Nya.

Mendengar pertanyaan malaikat, Allah menjawab secara singkat tanpa menyalahkan atau membenarkan pertanyaan mereka karena sebagian anggapan tersebut benar adanya. Allah berfirman: “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Jawaban Allah ini mengandung makna tersirat bahwa anggapan para malaikat yang berkaca pada kasus jin benar adanya, manusia mungkin juga akan melakukan hal serupa di masa mendatang, namun diantara manusia juga terdapat orang-orang yang ketaatan dan ketakwaannya melampaui malaikat.

Manusia sebagai keturunan Adam as memiliki kewajiban untuk meneruskan risalah kenabian, ajaran kemanusiaan dan kealaman. Mereka juga berperan sebagai khalifah, yakni orang beriman yang memiliki wewenang untuk mengelola bumi dan sumber daya di dalamnya secara adil dan bijaksana. Meskipun demikian, bukan berarti manusia berhak berlaku semena-mena dan mengeksploitasi bumi dengan membabi buta. Manusia hanya “wakil” Tuhan dan mereka akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diwakilkan kelak. Wallahu a‘lam.

Agar Terhindar dari Kejahatan? Baca Surah Muawwidzatain

0
terhindar dari kejahatan
terhindar dari kejahatan baca surah muawwidzatain

Islam mengajarkan agar manusia terhindar dari kejahatan, hendaknya membaca surat Muawwidzatain. Surah Muawwidzatatin adalah sebutan bagi surah al-Falaq dan an-Nas karena ditujukan untuk memohon pertolongan atau perlindungan dari kejahatan. Ada yang juga yang menamakannya dengan al-Muqasyqasyatan, yaitu dua surah yang dapat membebaskan diri dari kemunafikan.

Berikut redaksi dua surah Al-Mua’wwidzatain.

Surah Al-Falaq

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (Q.S. al-Falaq [113]: 1-5)

Surah An-Nas

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِۙ اِلٰهِ النَّاسِۙ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (Q.S. al-Nas [114]: 1-6)

Dalam surah al-Falaq di atas. Disinggung mengenai sihir. Sihir adalah bentuk perilaku kejahatan manusia kepada manusia lain dengan bantuan Setan. Kejahatan tukang sihir dalam surah al-Falaq ini diabadikan dalam cerita nukilan dalam hadits.

Sebagaimana Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Dalâ’il al-Nubuwwah dari Kalbi, dari Abu Shaleh, dari Ibnu Abbas, dia berkata,

“suatu ketika Rasulullah Saw, menderita sakit parah. Dua malaikat kemudian mendatangi beliau, yang satu duduk dibagian kepala, dan yang satunya lagi duduk di bagian kaki. Malaikat yang berada dibagian kaki bertanya, “ apa yang terjadi kepadanya?”, dijawab oleh malaikat yang berada dibagian kepala, “ Dia terkena sihir”, ditanya lagi oleh malaikat dibagian kepala, “ siapa yang menyihirnya?”, dijawab lagi oleh malaikat dibagian kepala, “ Labid bin A’sham, seorang Yahudi,” malaikat itu bertanya lagi, “ dimana sihirnya itu disimpan?”, dijawab, “disebuah sumur milik si Fulan, dibawah batu. Hendaklah Muhammad pergi ke sumur itu, keringkan airnya, lalu angkat batunya. Setelah itu, ambillah kotak yang ada dibawahnya dan bakarlah kotak itu.”

Baca juga: Agar Terhindar dari Fitnah Dajjal? Baca Surah Al Kahfi

Di pagi harinya, Rasulullah mengutus Amar bin Yasir serta beberapa orang sahabat untuk pergi ke sumur tersebut, ketika sampai disana, mereka melihat airnya berwarna merah kecoklatan seperti air inai. Mereka kemudian menimba airnya, mengangkat batu yang ada didalamnya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari bawah batu tersebut dan membakarnya. Ternyata didalam kotak itu ada seutas tali yang memiliki sebelas simpul. Kemudian Allah menurunkan kedua surah (al-Muawwidzatain) ini. Dan Rasulullah membacanya. Setiap kali Rasulullah membaca satu ayat, maka terurailah satu simpul.”

Begitupun dalam kitab al-Dalâ’il Abu Nu’aim meriwayatkan dari Jalur Abu Ja’far al-Razi dari Rabi’ bin Anas bin Malik berkata,

“seorang laki-laki Yahudi membuatkan sesuatu terhadap Rasulullah hingga beliau menderita sakit parah. Ketika para sahabat menjenguk, mereka yakin bahwa Rasulullah telah terkena sihir, Malaikat Jibril kemudian turun membawa al-Mu’awwidzatain untuk mengobatinya. Akhirnya, Rasulullah pun sembuh.”

Baca juga: Merasa Diganggu Setan? Amalkan Doa Ayat Kursi

Jadi, jika kita ingin terhindar dari segala bentuk sihir. Maka dianjurkan untuk membaca al-Mu’awwidzatain.

Selanjutnya, dalam surah an-Naas dijelaskan dua sifat yang merupakan sifat setan, yaitu waswâs dan khannâs. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam tafsirnya, kata waswâs bermakna memasukkan gerakan atau suara yang sangat halus kedalam jiwa, hingga tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya kecuali orang yang dimasuki oleh gerakan atau suara tersebut. Seperti setan yang membisikkan hal itu kedalam jiwa manusia.

Sedangkan khannâs dapat berarti bersembunyi. Saat setan berusaha memperdaya, dan mengganggu manusia, dan dia berzikir kepada Allah Swt., maka setan akan akan bersembunyi dan menyingkir setiap nama Allah disebutkan.

Pada ayat terakhir disebutkan minal jinnati wa al-nâas, yakni yang menjadi obyek bisikan setan adalah jin dan manusia. Oleh karenanya setan menjadi sekutu bagi jin dan manusia. Ayat ini menunjukkan permohonan perlindungan kepada Allah agar terhindar dari kejahatan serta dua jenis setan, yaitu setan jin dan setan manusia.

Baca juga: Mengapa Ada Sosok Yang Disamarkan Dalam Al-Quran?

Jelasnya, bahwa Surah al-Falaq mengandung permohonan perlindungan dari kejahatan yang berasal dari luar diri manusia. Sedangkan surah an-Nas mengandung permohonan perlindungan dari kejahatan yang berasal dari dalam diri manusia.

Selain itu Al-Muawwidzatain juga dapat menjadi permohonan perlindungan dari ancaman bencana. Dalam hadits lain dijelaskan,

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ, قَالَ : بَيْنَا أَنَا أَسِيْرُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْجُحْفَةِ , وَ الْأَبْوَاءِ, إِذْ غَشِيَتْنَا رِيْحٌ, وَظُلْمَةٌ شَدِيْدَةٌ, فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ بِأَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ, وَأَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, وَيَقُوْلُ : ( يَا عُقْبَةُ, تَعَوَّذْ بِهِمَا فَمَا تَعَوَّذَ مُتَعَوِّذٌ بِمِثْلِهِمَّا), قَالَ: وَسَمِعْتُهُ يَؤُمُّنَا بِهِمَا فِيْ الصَّلَاةِ

“Dari Uqbah bin Amir r.a dia berkata : ketika aku berjalan bersama Rasulullah Saw antara Juhfan dan Abwa’, tiba-tiba kami diliputi angin dan cuaca yang sangat gelap. Maka Rasulullah Saw memohon perlindungan dengan membaca ‘Qul a’ûdzu birabbi al-falaq dan Qul a’ûdzu birabbi al-nâasi’ , dan kemudian bersabda : “wahai ‘Uqbah, berlindunglah kepada Allah dengan (doa) yang menyerupai keduanya”, uqbah berkata, “ dan aku mendengar beliau mengimami sholat dengan membaca kedua surah itu”

Semoga dengan mengamalkan surah al-Muawwidzatain ini, kehidupan kita senantiasa terlindungi dan terhindar dari segala bentuk ancaman kejahatan baik dari setan, jin, dan manusia ataupun kejahatan yang ditimbulkan dari persekutuan mereka. Dan kita memohon perlindungan agar jangan sampai menjadi bagian dari tipu daya setan untuk menghancurkan ketentraman umat manusia dan ketaatannya kepada Allah swt.

Agar Terhindar dari Fitnah Dajjal? Baca Surah Al Kahfi

0
agar terhindar dari fitnah dajjal
agar terhindar dari fitnah dajjal (seruni.id)

Fitnah Dajjal merupakan fitnah terburuk yang terjadi di akhir zaman. Dajjal sebagaimana diterangkan dalam Lisan al-Arab diambil dari kalimat Dajjala al-Ba’ru idza talâluhu bil qatîran wa ghathâ bihi (seseorang mendajjal unta bila melumurinya dengan aspal dan menutupinya). Karenanya, Islam mengajarkan untuk mengamalkan bacaan surat al-kahfi agar terhindar dari fitnah Dajjal.

Dalam Sunan Abi Daud (Bab Zikru Khuruhu Ad-Dajjal, Juz 2) disebutkan bahwa Dajjal akan datang dengan membawa huru-hara dan menyebarkan syubhat di kalangan orang-orang mu’min. Ia mampu melakukan segala hal yang luar biasa seperti sihir, menghidupkan orang mati, dan lain sebagainya. (Baca juga: Agar Doa Cepat Terkabul? Makanlah Yang Halal)

Mengenai bagaimana ciri-ciri Dajjal, dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, dikatakan

حَدَّثَنَا عَبْدُ الله حَدَّثَنِى اَبِيْ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ أَنَا محمد بن إِسْحَاق عًنْ نَافِعْ عَنِ ابنُ عُمَرُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَالدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ كَأَنَّهَا عُنْبَةُ طَائِفَةُ

“ telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Yazid, telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi Saw, beliau bersabda: Dajjal mempunyai mata yang buta sebelah bagaikan buah anggur yang menonjol”.

Adapun pendapat lain dari para ulama ada yang mengatakan bahwa Dajjal digambarkan sebagai sosok anak adam yang salah satu matanya buta, dan diantara matanya tertulis kafara. Bahkan disebutkan secara lengkap bahwa Dajjal memiliki ciri-ciri fisik bertubuh gemuk, berambut keriting, dan memiliki wajah yang tidak bersinar. (Baca juga: Merasa Diganggu Setan? Amalkan Doa Ayat Kursi)

Rasulullah telah memperingati umatnya untuk berlindung dari fitnah Dajjal. Fitnah Dajjal merupakan sebesar-besarnya fitnah yang akan dihadapi oleh umat muslim saat menjelang hari kiamat datang. Oleh karena itu, Rasulullah telah menjelaskan kepada umatnya mengenai sifat-sifat Dajjal sekaligus berpesan kepada umatnya untuk tidak terjerumus kedalam fitnah yang bersumber dari Dajjal.

Salah satu cara agar terhindar dari fitnah Dajjal adalah dengan membaca surah Al-Kahfi pada malam jum’at. Khususnya pada sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir. Bagi siapa saja yang menghafal sepuluh ayat dari awal surah Al-Kahfi maka Allah akan menjauhkan dia dari fitnah Dajjal dan fitnah manusia, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw,

عَنْ اَبِيْ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حَفِظَ عَشْرَ اٰيَةٍ مِنْ اَوَّلِ سُوْرَةٍ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ (رواه احمد والنساء ومسلم)

“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari permulaan surah Al-Kahfi, maka ia akan terjaga dari fitnahnya Dajjal.”(HR. Imam Ahmad, dan an-Nasâ’i, dan Muslim)

Berikut sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi, seperti yang dimaksud dalam hadits.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ مّٰكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًاۙ وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۖ مَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا وَاِنَّا لَجٰعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًاۗ اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka. Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an). Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya. Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering. Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan? (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Q.S. al-Kahfi [18]: 1-10)

Dalam riwayat lain juga dijelaskan, membaca sepuluh ayat terakhir akan melindungi kita dari bahaya fitnah Dajjal. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ كَمَا أُنْزِلَتْ كَانَتْ لَهُ نُوْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ مَقَامِهِ إِلَى مَكَّةَ وَمَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِهَا ثُمَّ خَرَجَ الدَّجَّالُ لَمْ يُسَلَّطْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang membaca surah Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surah tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat dari tempat tinggalnya hingga ke Mekkah, dan barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Al-Kahfi, kemudian keluar Dajjal, maka Dajjal tidak akan membahayakan dia.”

Dengan mengamalkan sepuluh ayat dari surah Al-Kahfi ini, Semoga kita dan keturunan kita terlindungi dari fitnah Dajjal yang merugikan kehidupan umat manusia.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 133-135

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 133

Apabila Allah berkehendak untuk melenyapkan semua manusia dan seluruh alam ini, sesudah itu menciptakan makhluk dan alam yang lain sebagai ganti untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, maka Allah kuasa melaksanakan kehendak-Nya itu; karena segala apa yang terdapat di langit dan di bumi tunduk di bawah kekuasaan-Nya.

Apabila ada sebagian manusia yang mengingkari nikmat Allah dan membangkang terhadap perintah-perintah-Nya, kemudian mereka dibiarkan terus hidup di dunia ini hingga ajalnya tiba, hal itu menunjukkan bahwa Allah benar-benar tidak memerlukan ketaatan mereka. Apabila mereka tidak diberi balasan secara langsung, bukanlah karena Allah tidak berkuasa untuk membinasakan mereka, tetapi semata-mata karena adanya hikmah dan kemaslahatan yang berguna bagi manusia yang bertakwa. Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۙ    ١٩  وَّمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ  ٢٠

(19) Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar)? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu), (20) dan yang demikian itu tidak sukar bagi Allah. (Ibahim/14:19-20).

هوَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ

… Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini). (Muhammad/47:38).;Ayat ini mengandung ancaman kepada orang-orang musyrik yang selalu menyiksa pikiran dan perasaan Nabi dan menentang seruannya, juga untuk memperingatkan agar orang memperhatikan sunatullah yang menguasai hidup dan mati mereka.

Ayat 134

Ayat ini memberi peringatan kepada orang yang melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, agar menyadari bahwa tujuan hidup mencari kebahagian dunia saja adalah tujuan yang tidak benar dan hasil yang akan diperolehnya adalah rendah sekali, karena hidup di dunia tidak akan kekal. Orang serupa ini adalah orang munafik yang apabila berjumpa dengan orang yang beriman, ia berpura-pura mengaku beriman, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Pahala yang diterima dari Allah adalah lebih tinggi, karena meliputi pahala dunia dan pahala akhirat. Karena itu seharusnyalah Muslimin berjuang untuk mencapai kedua pahala itu secara seimbang, tidak hanya tertarik pada kepentingan dunia saja, yang sifatnya sementara.

Berusaha untuk memperoleh pahala dunia dan pahala akhirat, sebenarnya adalah tujuan yang mudah dilakukan, bukan tujuan yang berada diluar kesanggupan manusia; dan tujuan ini tergambar dalam firman Allah yang merjadi doa orang yang beriman.

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

”… Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (al-Baqarah/2:201)

Agama Islam menuntun pemeluk-pemeluknya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, kedua-duanya merupakan limpahan rahmat dan karunia Allah yang harus dicapai.

Allah Maha Mendengar akan bisikan hati hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui segala urusan mereka. Oleh sebab itu seharusnyalah kaum Muslimin berusaha mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan lisan atau dengan perbuatan. Dengan demikian mereka akan mempunyai jiwa yang bersih dan dapat membatasi diri dalam setiap usahanya dan perjuangannya agar mencapai keridaan Allah dan hidup berbahagia dunia dan akhirat.

Ayat 135

Orang-orang beriman diperintahkan agar menjadi orang yang benar-benar menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Karenanya Allah memerintahkan kepada mereka untuk berlaku adil dalam segala hal, seperti keadilan dalam membagi waktu, menegakkan salat secara tetap dan tepat pada waktunya.

Dalam memberikan kesaksian, Allah memerintahkan agar memberikan kesaksian seperti apa adanya, tidak boleh memutarbalikkan kenyataan. Dalam menimbang barang agar berlaku adil, menimbang dengan tepat, tidak menambah dan tidak mengurangi (al-Mu¯affifin/83: 1-4).

Semua perintah itu jika dilakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya akan menjadikan kebiasaan yang meresap di dalam jiwanya. Keadilan itu harus dilakukan secara menyeluruh di tengah-tengah pergaulan masyarakat, baik yang menjalani itu rakyat biasa ataupun kepala negara, petani atau pedagang, anggota atau kepala rumah tangga.

Jika menjadi saksi, jadilah saksi yang jujur, semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah, tidak memutarbalikkan kenyataan, tidak berat sebelah, meskipun menyangkut dirinya sendiri, ataupun keluarganya. Kesaksian itu hendaklah diberikan sesuai dengan kenyataan baik menguntungkan dirinya sendiri ataupun menguntungkan orang lain, karena pada dasarnya kesaksian itu adalah salah satu jalan pembuktian untuk mencari kebenaran. Oleh sebab itu, kesaksian harus diberikan dengan jujur.

Apabila ada seseorang memberikan kesaksian yang tidak benar, dengan maksud ingin menguntungkan dirinya atau keluarganya, maka cara serupa ini tidaklah dianggap suatu kebaikan, karena memberikan keterangan palsu dengan maksud memberikan pertolongan kepada seseorang, tidak dibenarkan syariat dan bukanlah suatu kebajikan, tetapi pada hakikatnya perbuatan yang demikian itu termasuk membantu kejahatan dan menginjak-injak hak asasi manusia.

Allah menyerukan agar keadilan dan kesaksian itu dilaksanakan secara merata tanpa pandang bulu, baik yang disaksikan itu keluarganya sendiri ataupun orang lain, baik kaya ataupun miskin.

Hendaklah manusia mengetahui bahwa keridaan Allah dan tuntunan syariat-Nya yang harus diutamakan: tidak boleh orang-orang kaya disenangi atau dibela karena kekayaannya atau orang-orang fakir dikasihani karena kefakirannya, sebab jika kekayaan dan kefakiran yang dijadikan dasar pertimbangan dalam memberikan kesaksian, maka pertimbangan serupa itu bukanlah merupakan pertimbangan yang dapat membuahkan keputusan yang benar. Pertimbangan yang benar ialah didasarkan kepada kebenaran dan keridaan Allah semata.

Menegakkan keadilan dan memberikan kesaksian yang benar sangat penting artinya, baik bagi orang-orang yang menjadi saksi ataupun bagi orang-orang yang diberi kesaksian. Itulah sebabnya, menegakkan keadilan atau memberikan persaksian yang benar itu, ditetapkan dan dimasukkan ke dalam rangkaian syariat Allah yang wajib dijalankan.

Sesudah itu Allah melarang kaum Muslimin memperturutkan hawa nafsu, agar mereka tidak menyeleweng dari kebenaran, karena orang yang terbiasa menuruti hawa nafsunya, mudah dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu untuk melakukan tindakan yang tidak adil dan tidak jujur, sehingga mereka tergelincir dari kebenaran.

Apabila mereka memutarbalikkan kenyataan dalam memberikan persaksian, sehingga apa yang disaksikan tidak sesuai dengan kenyataan, atau mereka enggan untuk memberikan kesaksian karena tekanan-tekanan yang mempengaruhi jiwanya, maka mereka harus ingat bahwa Allah mengetahui apa yang terkandung di dalam hati mereka.

(Tafsir Kemenag)

Inilah Enam Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

0
kompetensi kepribadian
kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik. Kompetensi kepribadian ini telah dilukiskan oleh firman-Nya dalam surat an-Nahl ayat 90,

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. an-Nahl [16]: 90)

Tafsir Surat an-Nahl Ayat 90

Abu Ya’la dalam kitab Ma’rifatus Sahabah menjelaskan asbabun nuzul ayat sebagaimana diceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Fath al-Hambali, Yahya bin Muhammad Maula (pelayan) Bani Hasyim. Kemudian al-Hasan bin Daud al-Munkadiri, Umar bin Ali al-Maqdami, Ali bin Abdul Malik bin Umair, dari ayahnya yang mengatakan bahwa, Aksam bin Saifi tiba di tempat Nabi saw biasa keluar.

Maka dia bermaksud mendatangi dan menemui langsung Nabi saw, tetapi kaumnya tidak memperkenankannya. Mereka berkata, “Engkau adalah pemimpin kami, tidaklah pantas bila engkau datang sendiri menghadap kepadanya.” Aksam bin Saifi berkata, “kalau begitu, carilah seseorang yang menjadi perantara utnuk menyampaikan dariku dan seseorang perantara untuk menyampaikan darinya.”

Maka ditugaskanlah dua orang laki-laki, keduanya datang menghadap Nabi saw, dan berkata, “kami berdua adalah utusan Aksam bin Saifi, dia ingin bertanya kepadamu, siapakah kamu dan apakah kedudukanmu?”.

Lantas Nabi saw bersabda, “Aku adalah Muhammad bin Abdullah, adapun kedudukanku adalah Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (utusan Allah).” Kemudian Nabi saw membacakan ayat ini (Q.S. al-Nahl [16]: 90), hingga akhir ayat.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pendidikan Islam

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini berisi perintah untuk berlaku adil yakni bersikap tengah-tengah dan seimbang. Dan Allah swt memerintahkan untuk berbuat kebajikan, seperti yang disebutkan dalam ayat yang lain Q.S. as-Syura [42]: 40 dan Q.S. al-Maidah [5]: 45.

Mufassir kenamaan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib merincikan bahwa ayat tersebut mengandung enam kompetensi kepribadian yang harus dimiliki pendidik,

Berikut 6 Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Berbuat adil (al-‘adl)

Kita diperintahkan untuk bersikap moderat dalam segala hal, baik ideologi maupun tindaka. Al-Baghawy dalam Ma’alim al-Tanzil mengartikan kata al-‘adl dengan al-inshaf (bersikap tengah-tengah), tidak condong ke kanan maupun kiri. Tidak boleh terlalu sempit (al-ifrath), juga dilarang berlebihan (al-tafrith), sedang-sedang saja.

Berbuat baik (Ihsan)

Jika adil merujuk pada makna berprilaku sesuai dengan kadar yang harus dipenuhi dalam kebaikan, maka al-ihsan posisinya adalah menunaikan kewajiban di atas kewajiban. Maksudnya meskipun engkau disakiti oleh seseorang, engkau tetap berbuat baik kepadanya, itulah ihsan.

Muhammad ‘Ali as-Shabuny dalam Shafwah at-Tafasir bahkan mengatakan ihsan itu harus kepada semua orang, tanpa kecuali. Adapun Ibnu Katsir memandang ihsan apabila hatinya lebih baik daripada lahiriahnya.

Al-Baghawy misalnya ihsan didefnisikan dengan ikhlas menjalankan ketauhidan kepadanya. Makna ini sejalan dengan sabda Nabi saw, “al-ihsan an ta’budallah ka-annaka tarahu (beribadah kepada Allah seakan-akan Allah melihatnya)”. Sementara Muqatil memaknai ihsan dengan memberi maaf kepada manusia.

Baca juga: Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

Maka, implementasi ihsan dalam ibadah ialah tidak hanya melaksanakan ibadah.  Baik itu ibadah mahdlah (shalat, zakat, puasa, haji) atau ghairu mahdlah (muamalah, sosial) dengan ala kadarnya atau menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu ia menjalankannya dengan sungguh-sungguh penuh kesadaran bahwa ia membutuhkan Allah swt.

Bagi yang berprofesi PNS, guru, dosen, karyawan misalnya, tidak hanya melaksanakan yang menjadi kewajiban kita, melainkan kita mengerjakannya dengan penuh sungguh-sungguh, penuh dedikasi dan totalitas sehingga hasilnya memuaskan.

Menebar kasih sayang (i-tai dzil qurba)

Kita juga diperintahkan untuk memiliki sikap kasih sayang dan kepedulian sosial terhadap karib kerabat, serta semua makhluk Allah (asy-syaqafah ‘ala khalqillah). Menurut al-Razi, Ibnu Katsir, as-Shabuny, dan al-Baghawy bersepakat bahwa pengejawantahan dari kasih sayang ini banyak macamnya, namun yang paling tinggi dan mulia adalah merajut persaudaraan atau silaturrahim.

Tidak berbuat keji (al-fahsya’)

Ibnu Katsir menafsirkan kata al-fahsya’ sepaket dengan al-munkar yakni tatkala lahiriahnya lebih baik dari hatinya. Artinya tampilan luar lebih bagus ketimbang hatinya. Lalu ia mengerucutkan, al-fahsya’ adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Keharusan Bersikap Sabar Bagi Peserta Didik

Al-Baghawy memaknainya dengan ma qabiha min al-qauli wa al-fi’li (semua perkataan maupun perbuatannya buruk). Sedangkan al-Shabuny menambahkan kata ‘amal (pengamalannya buruk). Bahkan Ibnu ‘Abbas mengartikannya dengan zina.

Kita dilarang menjadi budak hawa nafsu kita, nafsu kebinatangan manusia harus disumbat. Keinginan untuk memperoleh harta, tahta, jabatan, wanita dengan segala cara yang tidak halal harus dihentikan.

Ingin kaya dengan korupsi misalnya, ingin menyalurkan hasrat seksual dengan berzina atau jajan di luar, ingin menghilangkan rasa lapar dan haus dengan menelan pil ekstasi, semua cara-cara itu yang oleh Alquran diistilahkan dengan yanha ‘anil fahsya’ (jauhilah perbuatan keji itu).

Baca juga: Tiga Bentuk Sikap Tawadhu yang Harus Dimiliki oleh Murid

Menjadi budak nafsu amarah (al-munkar)

Munkar menurut Ibnu Katsir adalah segala sesuatu yang ditampakkan dari perkara haram oleh pelakunya. Sedangkan al-Baghawy menerangkan, tidak mengetahui syariat dan sunnah. Adapun ‘Ali as-Shabuny mengatakan segala sesuatu yang mengingkari fitrah manusia.

Di dalam diri manusia terkandung nafsu amarah (al-munkar), artinya kita dilarang untuk mengikutinya. Sebab amarah ini selalu mengajak manusia melakukan keburukan dan menyakiti sesama. Jika kita sedikit lengah saja, maka kita akan dikendalikan olehnya dan hampir dipastikan dilihat oleh orang lain sebagai kemungkaran.

Menjauhkan diri dari sifat bengis (al-Baghy)

Keangkaraan atau kebengisah (al-baghy) menjadi bagian dari hawa nafsu. Termasuk pula sebagai nafsu syaithaniyyah (al-quwwah al-wahmiyyah asy-syaithaniyyah). Nafsu ini menyeret pemiliknya untuk menguasai, menindas, menjatuhkan dan mengalahkan orang lain, serta menampakkan kesombongan atau keangkuhan. Alquran melarang kita untuk bersikap seperti itu.

Enam Kompetensi Kepribadian yang Harus Dimiliki Pendidik

Keenam kompetensi kepribadian di atas harus dimiliki oleh pendidik. Pendidik sebagai pencetak generasi bangsa terlebih dahulu harus memiliki dan menginternalisasikan keenam kompetensi tersebut. Tidak bisa dibayangkan, bila mana masih dijumpai oknum pendidik yang masih melakukan hal-hal keji misalnya mencabuli peserta didiknya yang masih belia, berkata kotor, dan hal sejenisnya, naudzubillahi min dzalik.

Ayat di atas menjadi renungan tidak hanya pendidik saja, melainkan kita bersama untuk senantiasa memperbaiki dan menyempurnakan diri menjadi manusia qurani. Sebab intisari ayat di atas juga menjadi bagian dari kewajiban kita sebagai ‘abd (hamba Allah) dan khalifah  fil ardh (pemimpin di muka bumi).