Beranda blog Halaman 544

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 129-132

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 129

Aisyah r.a. berkata:

;كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ بَيْنَ نِسَائِهِ فَيَعْدِلُ ثُمَّ يَقُوْلُ : اَللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِى فِيْمَا اَمْلِكُ فَلاَ تَلُمْنِى فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَاَمْلِكُ

(رواه احمد واهل السنن)

Adalah Rasulullah saw membagi giliran antara istri-istrinya, ia berlaku adil, dan berdoa, ‘Ya Allah, inilah penggiliranku sesuai dengan kemampuaku, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau kuasai, tetapi aku tidak menguasai.’ (Riwayat Ahmad dan penyusun Kitab-kitab Sunan)

Berdasarkan sebab turun ayat ini, maka yang dimaksud dengan berlaku adil dalam ayat ini ialah berlaku adil dalam hal membagi waktu untuk masing-masing istrinya, Rasulullah saw telah berusaha sekuat tenaga agar beliau dapat berlaku adil di antara mereka. Maka ditetapkanlah giliran hari, pemberian nafkah dan perlakuan yang sama di antara istri-istrinya.

Sekalipun demikian, beliau merasa bahwa beliau tidak dapat membagi waktu dan kecintaannya dengan adil di antara istri-istrinya. Beliau lebih mencintai ‘Aisyah r.a. daripada istri-istrinya yang lain. Tetapi Aisyah memang punya kelebihan dari istri-istri Nabi yang lain, antara lain ialah kecerdasannya, sehingga ia dipercayai oleh Nabi untuk mengajarkan hukum agama kepada kaum perempuan.

Hal ini dilakukan sampai Rasulullah wafat dan banyak sahabat, terutama kalangan perempuan sering bertanya kepada Aisyah mengenai hukum atau hadis. Sungguhpun begitu, beliau merasa berdosa dan mohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun. Dengan turunnya ayat ini hati Rasulullah saw menjadi tenteram, karena tidak dibebani dengan kewajiban yang tidak sanggup beliau mengerjakannya.

Dari keterangan di atas dipahami bahwa manusia tidak dapat menguasai hatinya sendiri, hanyalah Allah yang menguasainya. Karena itu sekalipun manusia telah bertekad akan berlaku adil terhadap istri-istrinya, namun ia tidak dapat membagi waktu dan cintanya antara istri-istrinya secara adil.

Keadilan yang dituntut dari seorang suami terhadap istri-istrinya ialah keadilan yang dapat dilakukannya, seperti adil dalam menetapkan hari dan giliran antara istri-istrinya, adil dalam memberi nafkah, adil dalam bergaul dan sebagainya.

Allah memperingatkan, kepada para suami karena tidak dapat membagi cintanya di antara istri-istrinya dengan adil, janganlah terlalu cenderung kepada salah seorang istri, sehingga istri yang lain hidup terkatung-katung, hidup merana, hidup dalam keadaan antara terikat dalam perkawinan dengan tidak terikat lagi, dan sebagainya.

Jika para suami selalu berusaha mendamaikan dan menenteramkan para istri dan memelihara hak-hak istrinya, Allah mengampuni dan memaafkan dosanya yang disebabkan oleh terlalu cenderung hatinya kepada salah seorang istrinya, Allah Maha Pengasih kepada hamba-Nya. Ayat ini merupakan pelajaran bagi orang yang melakukan perkawinan semata-mata untuk melampiaskan hawa nafsunya saja dan orang yang punya istri lebih dari satu orang.

Ayat 130

Jika suami istri bercerai karena keduanya atau salah seorang tidak dapat melaksanakan hukum-hukum Allah, seperti tidak dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya sekalipun telah diusahakannya, kehidupan mereka telah hambar tidak ada rasa cinta dan kasih sayang lagi, perkawinan mereka telah dihinggapi penyakit yang parah yang tidak ada obatnya, maka Allah membolehkan mencari jalan keluar dari kesulitan itu, dengan cara yang baik dan kalau gagal juga boleh diambil tindakan terakhir yaitu bercerai.

Walaupun demikian, sekalipun perceraian itu adalah suatu perbuatan yang halal, tetapi tetap dibenci Allah. Dengan perceraian itu mungkin terbuka bagi mereka lembaran baru dalam kehidupan, umpamanya dengan mendapat jodoh yang baru yang lebih sesuai dan serasi serta diberkahi dengan limpahan karunia Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas Karunia-Nya dan Mahabijaksana.

Ayat 131

Apa saja yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah. Dialah yang menciptakan dan Dia pula yang mengurus. Dalam mengurus makhluk-makhluk-Nya, Allah menciptakan hukum secara mutlak, dan semuanya tunduk di bawah hukum itu.

Orang yang benar-benar memahami hukum-hukum Allah yang berlaku umum terhadap bumi, langit dan semua isinya serta memahami pula hukum yang mengatur kehidupan makhluk-Nya, akan mengetahui betapa besar limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada semua makhluk-Nya.

Oleh sebab itulah kepada setiap hamba diperintahkan agar bertakwa kepada-Nya, seperti telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu, yang telah diberi Al-Kitab seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani. Serta kepada orang-orang yang melaksanakan ketakwaan dengan tunduk dan patuh kepada-Nya dan menjalankan syariat-Nya. Dengan tunduk dan patuh kepada-Nya dan dengan menegakkan syariat-Nya manusia akan berjiwa yang bersih dan dapat mewujudkan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Jika mereka mengingkari nikmat Allah yang tak terhingga besarnya, maka keingkaran dan pembangkangan itu sedikit pun tidak akan mengurangi kekuasaan Allah terhadap segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.

Sebaliknya apabila mereka bersyukur, maka syukur mereka itu sedikit pun tidak akan menambah kekuasaan-Nya. Perintah bertakwa itu adalah semata-mata untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk kepentingan Allah. Allah Mahakaya, tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya dan Maha Terpuji, tidak memerlukan pujian siapa pun untuk menambah kesempurnaan-Nya. Allah berfirman:

وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ

…Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka… (al-Isra’/17:44).

Ayat 132

Kemudian dalam ayat ini dipertegas bahwa kepunyaan Allah-lah apa saja yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia berkuasa untuk mengatur secara mutlak dan berkuasa mewujudkan atau melenyapkan, berkuasa untuk menghidupkan dan mematikan menurut kehendak-Nya. Karena itu cukuplah Allah menjadi pemelihara dan Dialah yang mengurus dan menentukan urusan hamba-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Tarbawi: Pendidikan Pertama Berasal dari Pendidikan Keluarga

0
pendidikan keluarga
pendidikan keluarga (sudut pendidikan)

Pendidikan keluarga (family education) memegang peranan sentral dalam membentuk kepribadian manusia. Yaitu pendidikan pertama berasal dari pendidikan keluarga. Di dalam keluarga pula, manusia mengalami pengalaman pertamanya seperti kebahagiaan, kesedihan, berkomunikasi, dan sentuhan kasih sayang. Era pandemi Covid-19, tampaknya sudah saatnya kita melembagakan pendidikan keluarga (family education).

Peran serta orang tua sangat dibutuhkan dalam mengantar putra-putrinya menuju manusia seutuhnya, bukan manusia-manusiaan. Karenanya sangat tepat bila dikatakan bahwa pendidikan keluarga adalah pondasi dasar menuju pendidikan selanjutnya. Perintah melembagakan pendidikan keluarga ini telah dilukiskan dalam firman-Nya surat at-Tahrim [66]: 6,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. at-Tahrim [66]: 6)

Tafsir Surat at-Tahrim Ayat 6

Pada pembahasan ini saya akan memfokuskan pada redaksi kunci yakni quu anfusakum wa ahlikum naaran sebagai basis pendidikan keluarga. Para ulama tafsir menafsirkan redaksi ini sangat beragam, namun pada intinya mereka menekankan betapa pentingnya pendidikan keluarga.

Ibnu Katsir misalnya memaknai redaksi ini dengan ajakan untuk mendidik dan mengajari keluarga. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa taatilah Allah swt dan hindari perbuatan yang dapat memicu murka-Nya, serta perintahkanlah keluargamu untuk berdzikir, niscaya Allah akan menyelamatkanmu dan keluargamu dari api neraka.

Sedangkan al-Baghawy dalam Ma’alim at-Tanzil menjelaskan dengan menukil dari perkataan ‘Atha bin Ibnu ‘Abbas, jauhilah larangan Allah dan amalkan segala yang diperintahkan-Nya. Wa ahlikum naaran ia memaknainya bahwa kerjakanlah kebaikan, jauhilah keburukan, kerjakan yang menjadi perintah-Nya dengan penuh tata krama dan bertakwalah sehingga kamu terselematkan dari api neraka.

Baca juga: Dua Bentuk Apresiasi dalam Pendidikan Islam

Adapun al-Qurthuby lebih merincikan lagi bahwa perintah itu tidak hanya menjaga dirimu saja, tapi juga menjaga keluarga termasuk menjaga perbuatan dari hal-hal buruk, menjaga perkataan dan perbuatan yang dapat mengusik dan menyinggung perasaan orang lain. Mengutip perkataan al-Qusyairi bahwa tatkala turunnya ayat di atas, Umar bertanya kepada Rasulullah saw, “Rasul, kami menjaga diri sendiri. Lantas bagaimana kami menjaga mereka?”. Nabi menjawab,

تَنْهَوْنَهُمْ عَمَّا نَهَاكُمُ اللهُ وَتَأْمُرُوْنَهُمْ بِمَا أَمَرَ اللهُ

“Laranglah mereka dari hal yang dilarang oleh Allah, dan perintahkan mereka dengan sesuatu yang Allah perintahkan.”

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Spirit Integrasi-Interkoneksi Keilmuan dalam Pendidikan Islam

Begitu pula at-Thabary, memaknainya dengan kerjakanlah sesuatu yang merupakan bagian dari rumpun amal kebaikan dan jauhilah keburukan, serta taatilah Allah swt. Sebagaimana penafsiran yang dijelaskan dalam Rawa’i al-Bayan,

قِيْلَ فِيْ التَّفْسِيْرِ أَيْ أَدَّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

“dikatakan di dalam kitab tafsir bahwa yang dimaksud (quu anfusakum wa ahlikum naaran) adalah didik dan ajarilah mereka.”

 Mufassir kenamaan dari kalangan Tabi’in, Mujahid menyampaikan bahwa perintah untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka berkelindan dengan perintah bertakwa kepada Allah swt beserta perintah kepada keluarganya pula.

Penafsiran serupa juga diutarakan oleh ‘Ali al-Shabuny dalam Shafwah at-Tafasir bahwa,

أَيْ يَامَنْ صَدَقْتُمْ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَأَسْلَمْتُمْ وُجُوْهَكُمُ للهُ، اِحْفَظُوْا أَنْفُسَكُمْ وَصُوْنُوْا أَزْوَاجَكُمْ وَأَوْلَادَكُمْ، مِنُ نَارٍ حَامِيَةٍ مُسْتَعِرَةٍ، وَذَلِكَ بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ وَفِعْلَ الطَّاعَاتِ، وَبِتَأْدِيْبِهِمْ وَتَعْلِيْمِهِمْ

“Wahai seseorang, benarkanlah Allah dan Rasul-Nya sehingga keselamatan tetap kepadamu di sisi Allah, jagalah dirimu dan tolonglah istri dan serta anak-anakmu, dari api neraka hamiyah, demikian pula tinggalkan maksiat dan berbuat ketaatan, didiklah mereka dengan adab dan berilah pengajaran kepada mereka.”

Pendidikan Pertama Berasal dari Pendidikan Keluarga

Kehidupan keluarga dianalogikan sebagai satu bangunan, maka ia harus didirikan di atas satu pondasi yang kokoh dengan material bahan bangunan serta perekat yang kokoh pula. Keluarga adalah satuan terkecil dari suatu negara. Bangsa yang baik ditopang oleh keberlangsungan keluarga yang baik pula.

Keluarga juga menjadi ujung tombak garda terdepan dalam membentuk dan menempa karakter kepribadian seorang manusia. Karakter seorang anak yang berasal dari keluarga harmonis, tentu berbeda dengan anak yang berasal dari keluarga broken home. Maka, peran ayah dan ibu atau suami dan istri mutlak diperlukan, keduanya tidak boleh mengunggulkan ego satu sama lain, melainkan harus kerjasama untuk membina rumah tangga yang harmonis sesuai tuntunan agama Islam.

Dari ayah ibu, seorang anak mempelajari sifat-sifat mulia seperti kebahagiaan, kasih sayang, kepedulian terhadap sesama, rasa tanggungjawab, dan sebagainya. Kepincangan dalam memina keluarga, menyebabkan kepincangan pula terhadap anak-anak.

Baca juga: Asma Putri Abu Bakar, Sahabat dan Mufassir Perempuan yang Berjasa Dalam Hijrah Nabi

Maka tidak heran jika kita masih menemui fenomena peserta didik yang berbuat tidak senonoh, bertindak asusila, depresi, mood swing, terjerat kasus narkoba, pemerkosaan hingga berujung pada pembunuhan, itu semua adalah imbas dari ketidakoptimalan fungsi keluarga, meskipun tidak menafikan faktor lain seperti lingkungan.

Sebagaimana pesan ayat di atas bahwa didik dan ajarilah keluargamu (istri, dan anak-anak) untuk selalu bertakwa kepadanya dengan mengajarkan shalat, sedekah, membaca Alquran, dan perbuatan kebaikan lainnya agar kamu dan keluargamu terhindar dan terselamatkan dari api neraka.

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka saat mereka berusia sepuluh tahun, pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (H.R. Abu Daud)

Bukankah Alquran mengabadikan doa Nabi Ibrahim agar menjadi bahan refleksi kita dalam membina kehidupan rumah tangga, rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata ‘ayun waj’alna lil muttaqina imaman (Ya rabb, anugerahkanlah kepada kami istri dan anak-anak kami sebagai penyenang dan penyejuk hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertakwa).

Demikianlah, betapa besar peranan pendidikan keluarga dalam membentuk kepribadian manusia yang akram dan shalih, dan betapa keberhasilan kita secara personal atau kolektif, baik pribadi atau sebagai bangsa, di dunia atau akhirat kelak, ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membina keluarga masing-masing. Wallahu A’lam.

Mengenal Al-Quran Berwajah Puisi Karya H.B. Jassin

0
Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin
Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin

H.B. Jassin mencatatkan namanya dalam list tokoh pengkaji Alquran di Indonesia. Karya yang membuatnya terkenal dan kontroversial itu berjudul Al-Quran Berwajah Puisi setelah edisi sebelumnya berjudul Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia. Seperti apa model Alquran yang ‘berbeda’ itu, dan apa saja hal-hal yang mengitari penyusunannya? Mari kita kenali melalui tulisan ini.

Kita mengenal Tafsir al-Misbah karya Prof. Quraish Shihab sebagai Tafsir yang bercorak adabi ijtima’i, dan tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Mustafa yang terkombinasi dari corak fiqih, sosial-masyarakat dan sufi. Selain dua kitab tafsir karya orang Indonesia tersebut, terdapat terobosan baru tafsir al-Qur’an -lebih tepatnya terjemah Alquran- oleh seorang sastrawan Indonesia yang mendapat julukan “Empu Sastra Indonesia” yakni Hans Bague Jassin, atau dikenal dengan H.B. Jassin.

Baca Juga: Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (1)

Sedari kecil H.B. Jassin gemar membaca buku-buku yang dimiliki ayahnya sehingga membawanya mengenal M.A Duisterhof orang Belanda sekaligus kepala sekolah Jassin belajar. Riwayat pendidikan beliau bermula dari menamatkan sekolah di Gouverment H.I.S Gorontalo pada tahun 1932, kemudian melanjutkan ke H.B.S Medan dan lulus pada tahun 1939. Di Medan beliau banyak berkenalan dengan seniman-seniman, diantaranya adalah Chairil Anwar dan Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan yang begitu terkenal dan terkenang hingga sekarang.

Pada tahun 1957 H.B. Jassin kembali menyelesaikan pendidikannya di Universitas Indonesia fakultas Sastra. Ia menekuni bidang sastra dengan memproduktifkan waktunya untuk menulis berbagai hal terutama dalam bidang kritik sosial. Tidak aneh jika akhirnya beliau memperoleh julukan Empu Sastra Indonesia dan almamaternya memberikan beliau gelar Doctor Honoris Causa.

Tentang belajar Alquran, H.B. Jassin berguru ke ayah dan neneknya. Sedang untuk bahasa Arab, ia mengakui tidak pernah mempelajari Bahasa Arab secara intensif, beliau hanya belajar saat menjadi mahasiswa di fakultas Sastra. Di tempat ini pula ia juga belajar terjemah Alquran sekaligus menerjemahkannya di samping juga belajar tulisan Arab melayu.

Pada 12 Maret 1962, Arsiti, istri H.B. Jassin dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Selama tujuh malam digelar pembacaan Alquran sampai kahatam di rumahnya.  Selama sepuluh tahun hingga ia mulai menulis terjemahan Alqurannya, ia tidak pernah lepas dari membaca Alquran dan merasa menemukan banyak hikmah dari rutinitasnya itu.

Pada 7 oktober 1972 H.B Jassin mulai menerjemahkan Alquran secara mandiri. Terjemahan secara puitis yang ia garap itu terinspirasi dari terjemahan Abdullah Yusuf Ali, The Holy Quran yang ia peroleh dari temannya, Haji Kasim Mansur pada tahun 1969. Terjemahan Alquran tersebut diberi judul Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia. Pada tahun 1974 edisi pertama karya terjemahan ini terbit.

Baca Juga: Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (2)

Namun, sayang sekali terjemahan Alquran model puisi ini menuai kontroversi. Bagi muslim Indonesia yang pro memandang Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia ini sebagai suatu karya yang patut diapresiasi karena telah memberikan sumbangsih kepada khazanah keislaman di Indonesia. Sedangkan pihak yang kontra memandang karya H.B Jassin tersebut merupakan sesuatu yang bid’ah dan dianggap mempermainkan agama. Lalu pada tahun 1993 H.B Jassin hadir dengan karyanya “Al-Qur’an Berwajah Puisi” yang merupakan perbaikan dari Al-Qur’an Bacaan Mulia.

Sebelum mengetahui model Al-Qur’an Berwajah Puisi muslim Indonesia pada saat itu telah terjebak pada isu Alquran yang dipuisikan, sehingga muncullah prasangka yang tidak sehat. Seperti K.H Hassan Basri, Ketua MUI yang menolak diterbitkannya Al-Qur’an Berwajah Puisi karena dianggapnya mempermainkan kitab suci Al-Qur’an, begitu juga dengan K.H Ma’ruf Amin yang beralasan bahwa penulisan Alquran merupakan petunjuk langsung dari Tuhan (Tauqifi).

Berbeda dengan yang lainnya BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid justru memberi dukungan penuh terhadap idenya Jassin menyusun Al-Qur’an Berwajah Puisi bahkan B.J Habibie memberikan sumbangan dana pribadinya sebesar 150 juta. Lalu apa keistimewaan dari Al-Qur’an Berwajah Puisi ini? Untuk menjawabnya kita perlu mengetahui sistematikanya, baik dari segi penulisan maupun modelnya, karena terjemahan ini berbeda dengan yang lainnya.

  1. B Jassin menyertakan teks Arab pada terjemahannya yang disusun berdampingan, teks Arab ditempatkan di sebelah kanan, dan terjemahannya di sebelah kiri. Model ini juga digunakan oleh terjemahan standar Indonesia sebelumnya, hanya saja pembedanya versi H.B Jassin untuk teks Arab maupun terjemahannya disusun simetris dengan pola rata tengah yang mengikuti pola penulisan pada puisi.
  2. Pada mushaf standar Indonesia, dalam satu ruang halaman terdiri dari 18 baris, sedangkan pada mushaf Al-Qur’an Berwajah Puisi menggunakan banyak bidang halaman. Sebab penulisan setiap baris bukan ditentukan bidang ruang di setiap halaman, tetapi ditentukan oleh isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis.
  3. Tidak ada harakat sukun untuk huruf waw dan ya’ yang berfungsi sebagai pemanjang bunyi u dan i. Untuk hal ini Jassin mengikuti mushaf al-Qur’an yang diterbitkan Arab.
  4. Dalam segi penulisan, Al-Qur’an Berwajah Puisi ditulis dengan khath berdasarkan kaidah nahwiyyah sharfiyyah. Sedangkan mushaf standar Indonesia pada kasus tertentu masih mengikuti mushaf standar Arab
Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin
Alquran Berwajah Puisi H.B. Jassin

Sedang model puitisasi terjemahan Alquran, bisa dilihat dalam contoh berikut: surat ke-26 (asy-Syu’araa) ayat 36 yang mengisahkan Fir’aun meminta pertimbangan kepada para pembesarnya apa yang harus dilakukan untuk melawan Musa:
“Mereka menjawab: Suruhlah tunggu (Musa) dan saudaranya, dan kirim ke kota-kota para bentara.”
Menurut Jassin, terjemahan ayat tersebut akan terasa lebih bertenaga dan penuh ancaman jika baris terakhir disusun ulang sebagai berikut:
“Dan kirim para bentara ke kota-kota.”

Contoh lain yang menurutnya akan menimbulkan penghayatan estetis yang lebih dalam secara audiovisual adalah perbedaan pilihan kata dari terjemahan Alquran pada umumnya. Ia mengambil contoh surat ke-61 (ash-Shaff) ayat 2:

“Mengapa kamu tidak mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?

bisa dipuitisasi dengan

‘Mengapa kamu katakan apa yang tiada kamu lakukan?”

Baca Juga: Menilik Asal Mula dan Proses Berkembangnya Kajian Al-Quran di Indonesia (3)

Terlepas dari kontroversi yang ada, al-Qur’an Berwajah Puisi telah memberi sumbangsih besar terhadap khazanah tafsir abad modern ini, khususnya perkembangan tafsir di Indonesia.

Wallahu A’lam

Mengapa Ada Sosok Yang Disamarkan Dalam Al-Quran?

0
Sosok yang disamarkan dalam al-quran
Sosok yang disamarkan dalam al-quran

Salah satu gaya dakwah al-Quran adalah menyebutkan sebuah peristiwa dan menyamarkan pelaku peristiwa tersebut. Tak jarang al-Quran menyebutkan kata  ganti seperti “orang-orang” ataupun kata ganti individu sebagai pelaku peristiwa tanpa menjelaskan nama atau profil yang dimaksud. Siapakah sosok yang disamarkan dalam al-Quran? Mengapa al-Quran menyamarkan sosok mereka?

Salah satu contoh keberadaan sosok yang disamarkan dalam al-Quran adalah:

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ

jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, Maka Sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.(Q.S. At-Tahrim [66], 4).

Ayat ini menyinggung tentang sosok dua orang yang saling bekerja sama menyusahkan Nabi Muhammad. Tidak ada nama yang disebutkan, dan tidak ada sedikit profil dari keduanya yang disinggung. Para pengkaji al-Quran tentunya merasa penasaran tentang detail peristiwa tersebut dan mengapa al-Qur’an enggan dengan jelas menyebutkan nama mereka berdua.

Baca Juga: Tersimpan di Perpustakaan Rotterdam Belanda, Inilah Mushaf Al Quran Tertua dari Nusantara

Kajian Tentang Sosok Yang Disamarkan Dalam Al-Quran

Ulama’ ahli al-Qur’an menamai kajian yang secara khusus menelusuri sosok yang disamarkan dalam al-Quran dengan nama Ilmu Mubhamat Al-Qur’an. Hanif ibn Hasan dalam catatan tahqiqnya terhadap kitab Tafsir Mubhamat Al-Qur’an karya Imam Muhammad Al-Balansi mendefinisikan Mubhamat sebagai tiap kata di dalam al-Qur’an yang menyinggung suatu sosok, namun oleh Allah tidak disebutkan secara jelas namanya. (Tafsir Mubhamat Al-Qur’an /1/34)

Entah yang tak jelas namanya itu adalah nabi, kekasih Allah dan selainnya. Entah itu dari jenis manusia, malaikat, jin, kota, bintang, pohon atau hayawan yang memiliki nama atau jumlah tak terhingga. Atau bisa berupa suatu waktu yang tak dijelaskan serta tempat yang tak dikenal.

Ulama’ yang cukup awal menyusun karya tentang kajian ini adalah Abul Qasim As-Suhaili (508-581 H) yang menyusun kitab berjudul At-Ta’rif Wal I’lam Bima Ubhima Fil Qur’an Minal Asma’ Wal A’lam. Setelah itu, Abu ‘Abdullah Ibn ‘Askar (w. 636 H) menyusun kitab berjudul At-Takmil Wal Itmam li Kitabi At-Ta’rif Wal I’lam.

Selain keduanya, ada cukup banyak ulama’ yang menyusun karya yang secara khusus membahas ilmu tersebut. Salah satunya Imam As-Suyuthi yang menyusun karya berjudul Mufhimatul Aq’ran Fi Mubhamatil Qur’an.

Sumber Pelacakan Dan Tujuan Penyamaran

Sumber pelacakan profil dari sosok yang disamarkan adalah al-Qur’an, hadis serta atsar sahabat dan tabi’in. Imam As-Suyuthi menyatakan bahwa sumber pelacakan dalam Ilmu Mubhamat adalah dalil naqli atau keterangan nabi Muhammad sendiri, keterangan sahabat yang mengambil dari nabi, atau tabi’in yang mengambil dari sahabat. Imam as-Suyuthi menutup kemungkinan sumber pelacakan dari penalaran belaka. (Mufhimatul Aq’ran/8)

Sedang tujuan disamarkannya sosok-sosok tersebut disinyalir para ulama’ disebabkan salah satu dari 7 kemungkinan. Berikut rincian 7 kemungkinan tersebut beserta contohnya:

  1. Sudah di jelaskan di ayat lain. Di dalam ayat di bawah ini disebutkan tentang “orang-orang” yang masih samar jati diri mereka. Tapi, di surat an-Nisa ayat 69 sudah ada keterangan siapa sebenarnya mereka.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah [1], 7).

  1. Dianggap sudah diketahui sebab masyhur. Di dalam ayat di bawah ini di singgung tentang sosok istri Nabi Adam. Diungkapkan secara samar sebab sudah banyak yang tahu bahwa istri Nabi Adam adalah Siti Hawa.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini.(Q.S. Al-Baqarah [2], 35).

  1. Sengaja ditutupi sebagai bentuk dakwah yang halus pada sosok yang disamarkan. Hal ini sebagaimana cara dakwah Nabi Muhammad yang saat menunjukkan ketidak setujuan terhadap prilaku seseorang, Nabi enggan menyebut orang itu secara jelas. Contoh bagian ini adalah ayat berikut yang menyinggung suatu kaum yang samar siapa mereka:

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ

Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan Setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? (Q.S. An-Nisa’ [4], 44).

  1. Tidak ada manfaat dalam menyebutkannya. Hal ini sebagaimana kisah-kisah dalam al-Qur’an yang lebih bermanfaat mengambil hikmah dari kisah tersebut, bukannya mencari siapa pelakunya. Contoh bagian ini adalah ayat berikut yang menyinggung sesosok orang:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا

Atau Apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. (Q.S. Al-Baqarah [2], 259).

  1. Bertujuan agar difahami bahwa hukum yang dikenakan pada sosok tersebut juga berlaku pada orang lain (berlaku secara umum). Contoh bagian ini adalah ayat berikut yang menyinggung sesosok orang:

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. (Q.S. An-Nisa’ [4], 100).

  1. Tidak menyebutkan nama secara langsung sebagai bentuk penghormatan. Ini sebagaimana sahabat Abu Bakar yang disinggung sebagai “temannya” dalam ayat di bawah ini. Sebutan “temannya” adalah bentuk penghormatan sebab berarti Abu Bakar diakui sebagai teman Nabi Muhammad.

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (Q.S. At-Taubah [9], 40).

  1. Menunjukkan betapa hinanya sosok yang disamarkan. Ini seperti sesosok yang disebut sebagai pembenci Nabi Muhammad. Posisinya yang hinanya membuat ia tak pantas untuk dijelaskan.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ (٣)

Sesungguhnya orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Q.S. al-Kautsar [108], 3).

Tiga Keutamaan Membaca Surah Al-Waqiah

0
tiga keutamaan surah al-waqiah
tiga keutamaan surah al-waqiah (alislam.id)

Banyak sekali keutamaan yang terkandung dalam Surah al-Waqiah. Bahkan Imam Nawawi dalam At-Tibyan fĭ Adabi Hamalat al-Qur’an menjelaskan mengenai keutamaan membaca beberapa surat pilihan salah satunya adalah surah al-Waqiah. Surah al-Waqiah merupakan surah ke-56, terdiri dari 96 ayat, tergolong surah Makkiyah. Secara spesifik tiga keutamaan membaca surah al-Waqiah sebagai berikut.

Mencegah Kemiskinan dan Mendatangkan Kekayaan

Dalam sebuah hadits dikatakan

وَاَخْرَجَ اِبْنُ مَرْدَوِيَّه عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, عَن رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلمَ قَالَ: ( سُوْرَةُ الْوَاقِعَةِ سُوْرَةَ الْغَنِيِّ فَاَقْرَأُوهَا وَعَلِّمُوْهَا اَوْلَادَكُمْ

“ dan diriwayatkan Ibnu Murdawiyyah dari Anas r.a, dari Rasulullah Saw bersabda: surah Al-Waqiah adalah surah kaya maka bacalah dan ajarkanlah kepada anak-anakmu”

Dan dalam riwayat yang lain juga dijelaskan

اَخْرَجَ اَبُوْ عَبِيْدَة (فِيْ فَضَائِلِ الْقُرْآنِ) وَالْحَارِثُ بْنُ اَبِيْ اُسَامَة وَ اَبُوْ يَعْلَى (فِيْ مُسْنَدُهُ) وَ اِبْنُ مَرْدَوِيَّه (فِيْ تَفْسِيْرُهُ) وَالْبَيْهَقِيْ (فِيْ شُعْبُ الْاِيْمَانِ) عَنْ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةَ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةً

Diriwayatkan dari Abu ‘Abidah (dalam Fadhâ’il al-qur’ân) dan Harits bin Abi Usâmah dan Abu Ya’la (dalam musnadnya) dan Ibnu Mardawiyyah (dalam tafsirnya) dan Baihaqi (dalam Syu’bul iman) dari Ibnu Mas’ud r.a berkata: saya mendengar Rasulullah Saw, bersabda: barangsiapa membaca Surah Al-Waqiah setiap malam maka dia tidak akan ditimpa kepapaan.

Sejalan dengan riwayat di atas, Dalam salah satu kisah diceritakan ketika Ibnu Mas’ud akan meninggal dunia, ia ditanya oleh kerabatnya, “mengapa engkau tinggalkan putera-puteramu dalam keadaan miskin?” Ibnu Mas’ud kemudian menjawab, “ Aku tidak meninggalkan putera-puteraku dalam keadaan miskin, sebab aku telah meninggalkan kepada mereka sebuah kekayaan, dan itu adalah surah Al-Waqi’ah.” (Baca juga: Keutamaan Mendengarkan Bacaan Al Quran)

Cerita dari riwayat hadits diatas menjadi sandaran yang cukup dijadikan alasan bahwa ketika kita membaca surah Al-Waqi’ah. Insya Allah, akan terhindar dari kemiskinan dan rezekinya akan dipermudah. Sehingga menjadi asbab untuk mendatangkan kekayaan dalam kehidupan. Kekayaan itu dapat berupa kekayaan secara material maupun non-material.

Sebagaimana dijelaskan oleh Shonhaji Abdusshomad, pengasuh pondok pesantren al-Hidayah II, Pasuruan (penelitian Living Qur’an Farah Lu’luil M dan Ahmad Zainuddin, Univ Yudharta Pasuruan), beliau mengatakan

“surah Al-Waqi’ah itu banyak fadhilahnya dikitab-kitab baik dikitab ta’lim itu pada bab fĭma yajibu Rizqa. Surah Al-Waqi’ah mendatangkan rizki baik rizki dzohir maupun batin. Maksudnya rizki dzohir yaitu berupa material yang berkecukupan, maksudnya rizki batin yaitu ketenangan jiwa, membentuk karakter yang berakhlaq…” (Baca juga: Keutamaan Surat Yasin Dalam Tradisi Masyarakat Muslim Indonesia)

Mempermudah Segala Urusan dan Hajat Kehidupan

Tentunya dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak masalah dan rintangan yang mempersulit segala hal yang kita upayakan. Dengan mengamalkan surah Al-Waqiah, bisa jadi segala urusan kita akan dipermudah oleh Allah Swt. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ja’far r.a dalam kitabnya Khazinatul Asrar Kubra. Beliau menjelaskan,

“Barangsiapa yang membaca surah Al-Waqiah diwaktu pagi ketika ia keluar dari rumahnya untuk bekerja ataupun untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Maka Allah Swt akan mempermudah rezekinya dan menyampaikan hajatnya. Dan barang siapa yang membaca surah Al-Waqiah pada waktu pagi dan sore hari, maka ia tidak akan kelaparan dan kehausan, dan tidak akan takut terhadap orang yang akan memfitnah karena fitnahnya akan kembali pada orang tersebut.”

Menstabilkan Kesehatan Jasmani dan Rohani

Salah satu keutamaan membaca Al-Qur’an adalah berguna untuk kesehatan. Surah Al-Waqiah adalah bagian dari surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an. Sehingga, membaca surah Al-Waqiah dapat menjadi sarana yang diniatkan untuk menstabilkan kesehatan kita. (Baca juga: Inilah Tiga Mukjizat Al-Quran)

Hal ini Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah Swt pada surah Al-Isra ayat 82,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءُ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

“ Dan kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian”

Itulah tiga keutamaan yang bisa menjadi sandaran kita untuk mendawamkan membaca surah al-Waqiah. Dengan disertai niat yang tulus dan ikhas semoga segala apa yang kita maksudkan ketika membaca surah al-Waqiah akan dikabulkan oleh Allah swt. Amin.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 127-128

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 127

Sejarah telah melukiskan bahwa orang-orang Arab jahiliah pada masa turunnya ayat ini memandang rendah kedudukan perempuan, orang yang lemah dan anak yatim, seakan-akan mereka adalah makhluk yang tidak ada artinya, tidak dapat memiliki sesuatu pun, bahkan mereka sendiri boleh dimiliki dan diperjualbelikan sebagaimana memiliki dan memperjualbelikan barang.

Turunnya ayat-ayat pertama sampai dengan ayat 36 Surah An-Nisa’ yang memerintahkan agar menjaga hak-hak orang tersebut, mengagetkan orang-orang Arab, karena perintah itu tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan adat kebiasaan mereka. Karena itu timbullah di dalam pikiran mereka bermacam-macam pertanyaan, dan mereka ingin agar Allah segera menurunkan ayat-ayat Alquran untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul itu.

Karena itu turunlah ayat 127 sampai dengan ayat 130 untuk mejelaskan lagi hak-hak perempuan, orang yang lemah dan anak yatim yang telah diterangkan pada permulaan Surah ini sehingga terjawablah pertanyaan yang timbul di dalam pikiran orang-orang Arab jahiliah itu.

Para sahabat meminta fatwa kepada Rasulullah saw tentang perempuan, yaitu tentang hak mereka baik yang berhubungan dengan harta, hak mereka sebagai manusia, maupun hak mereka di dalam rumah tangga. Maka ayat ini menjelaskan kepada mereka tentang perempuan-perempuan itu dan menjelaskan hukum-hukum yang tersebut dalam ayat-ayat yang telah diturunkan sebelum ini.

Menurut kebiasaan Arab jahiliah, seorang wali berkuasa atas anak yatim yang berada di bawah asuhan dan pemeliharaannya, serta berkuasa pula atas hartanya, seakan-akan harta itu telah menjadi miliknya. Jika anak yatim itu cantik, dinikahinya, sehingga dengan demikian harta anak yatim itu dapat dikuasainya, dan keinginan nafsunya dapat terpenuhi. Sebaliknya jika anak yatim itu tidak cantik dan ia tidak ingin menikahinya maka dihalang-halanginya nikah dengan laki-laki lain, agar harta anak yatim itu tidak lepas dari tangannya.

Demikian pula halnya orang yang lemah yang mempunyai bagian harta pusaka yang berada di bawah perwalian seseorang. Menurut adat kebiasaan Arab jahiliah, hanyalah orang laki-laki yang telah dewasa dan telah sanggup ikut pergi berperang yang berhak mendapat bagian warisan.

Sedang anak-anak yang belum dewasa dan orang-orang yang lemah, baik laki-laki maupun perempuan tidak berhak walaupun yang meninggal itu adalah ayah kandungnya. Yang berhak atas pusaka itu adalah walinya. Bahkan jika seorang perempuan kematian suami dan suaminya mempunyai seorang anak laki-laki yang telah dewasa, maka perempuan janda itu termasuk bagian warisan yang diperoleh putra suaminya. Karena itu janda tersebut dapat dicampuri atau dijadikan istri oleh anak tirinya.

Allah memperingatkan kaum Muslimin agar menjauhkan diri dari kebiasaan Arab jahiliah itu, hendaklah selalu berlaku adil terhadap perempuan, anak yatim dan orang yang lemah. Berikanlah kepada mereka harta dan haknya, seperti hak memilih jodoh selama yang dipilihnya itu sesuai dengan ketentuan agama dan dapat membahagiakan mereka di dunia dan di akhirat, dan bergaullah dengan mereka secara baik, baik sebagai seorang istri maupun sebagai anggota masyarakat.

Allah memerintahkan agar berbuat baik kepada anak yatim. Setiap kebaikan yang dilakukan terhadap mereka pasti diketahui Allah, dan pasti akan diberikan balasan dengan pahala yang berlipat ganda. Sebaliknya Allah swt mengetahui pula setiap kejahatan yang dilakukan terhadap anak yatim dan Allah akan membalasnya dengan azab yang pedih.

Di samping memberikan harta dan hak kepada anak yatim dan orang yang lemah, hendaklah kaum Muslimin berbuat kebajikan kepada anak yatim. Disamping memberikan kepada mereka hak dan hartanya, berikan pulalah kepada mereka pemberian-pemberian yang lain dan peliharalah mereka dengan baik seperti memelihara anak sendiri.

Ayat 128

Ayat ini menerangkan sikap yang harus diambil oleh seorang istri bila ia melihat sikap nusyuz dari suaminya, seperti tidak melaksanakan kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana mestinya, tidak memberi nafkah, tidak menggauli dengan baik, berkurang rasa cinta dan kasih sayangnya dan sebagainya. Hal ini mungkin ditimbulkan oleh kedua belah pihak atau disebabkan oleh salah satu pihak saja.

Jika demikian halnya, maka hendaklah istri mengadakan musyawarah dengan suaminya, mengadakan pendekatan, perdamaian di samping berusaha mengembalikan cinta dan kasih sayang suaminya yang telah mulai pudar. Dalam hal ini tidak berdosa jika istri bersikap mengalah kepada suaminya, seperti bersedia beberapa haknya dikurangi dan sebagainya.

Usaha mengadakan perdamaian yang dilakukan istri, bukanlah berarti bahwa istri harus bersedia merelakan sebagian haknya yang tidak dipenuhi oleh suaminya, tetapi untuk memperlihatkan kepada suaminya keikhlasan hatinya, sehingga dengan demikian suami ingat kembali kepada kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah. Allah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۖ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ 

… Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. … (al-Baqarah/2:228)

Damai dalam kehidupan keluarga menjadi tujuan agama dalam mensyariatkan pernikahan. Karena itu hendaklah Muslimin menjauhkan segala macam kemungkinan yang dapat menghilangkan suasana damai dalam keluarga. Hilangnya suasana damai dalam keluarga membuka kemungkinan terjadinya perceraian yang dibenci Allah.

Kikir termasuk tabiat manusia. Sikap kikir timbul karena manusia mementingkan dirinya sendiri, kurang memperhatikan orang lain, walaupun orang lain itu adalah istrinya sendiri atau suaminya. Karena itu waspadalah terhadap sikap kikir. Hendaklah masing-masing pihak baik suami atau istri bersedia beberapa haknya dikurangi untuk menciptakan suasana damai di dalam keluarga.

Jika suami berbuat kebaikan dengan menggauli istrinya dengan baik kembali, memupuk rasa cinta dan kasih sayang, melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya. Maka Allah mengetahuinya dan memberi balasan yang berlipat ganda.

(Tafsir Kemenag)

 

 

Tiga Makna Metode Matsal Menurut Para Ulama

0
Matsal Al Quran
Matsal Al Quran

Di antara keunikan Al Quran dalam menyampaikan pesan-pesan kehidupan, salah satunya menggunakan metode matsal (perumpamaan). Matsal menjadi salah satu gaya bahasa Alquran yang menggugah nalar manusia agar selalu berfikir secara jernih dan tepat. Tulisan ini akan mengungkap tiga makna metode matsal menurut para ulama.

Metode matsal sendiri ternyata telah memunculkan tafsir beragam di kalangan ulama atas pemaknaan matsal. Al-Suyuthi misalnya dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran membagi matsal menjadi dua bagian, yaitu amtsal al-musharrahah dan amtsal al-kaminah. Baca juga:Tiga Pendapat Status Urutan Surat dalam Al Quran

Sedangkan Manna’ al-Qathan dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Quran dan Muhammad Bakar Ismail dalam Dirasat fi ‘Ulum al-Quran membagi matsal menjadi tiga macam, yaitu al-Musharrahah atau al-Qiyasiah, al-Kaminah dan al-Mursalah. Di mana penjelasan Manna al-Qathan dan Bakar Ismail akan diulas dalam tulisan ini.

Amtsal al-Musharrahah

Amtsal al-Musharrahah atau al-Qiyasiah adalah perumpamaan yang di dalamnya menggunakan lafal matsal. Atau bisa juga sesuatu yang menunjukkan kepada pengertian lafal tersebut, tasybih dengan menggunakan huruf kaf. matsal semacam ini banyak dijumpai dalam Alquran. Di antaranya Q.S. al-Baqarah [2]: 17 dan 19

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّآ اَضَاۤءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ

 اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌۚ يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِۗ وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ

“Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api. Setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”

“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir”

Kedua ayat tersebut, Allah swt membuat dua macam perumpamaan (matsal) bagi orang munafik. Yaitu (1) perumpamaan dengan nar (neraka), karena di dalam api neraka itu sendiri terdapat unsut cahaya guna menerangi. (2) perumpamaan dengan sama-i, karena air mengandung unsur-unsur dan materi kehidupan. Baca juga: Inilah Tiga Model Pendekatan Hermeneutika dalam Menafsirkan Al-Quran

Artinya kebenaran yang diturunkan oleh Allah bermaksud hendak menerangi hati mereka (orang-orang munafik) dan menghidupkannya. Selain ayat tersebut, masih banyak ayat-ayat yang masuk dalam kategori Amtsal al-Musharrahah atau al-Qiyasiah.

Amsal al-Kaminah

Amsal al-Kaminah merupakan perumpamaan yang di dalamnya tidak disebutkan secara jelas, baik lafal tamtsil (perumpamaan langsung), keadaan, sifat-sifatnya. Selain itu, tidak dijelaskan secara pasti kapan peristiwa itu terjadi. Akan tetapi ia menunjuk kepada makna tersiratnya yang memiliki diksi yang indah dan menarik.

Di antara ayat-ayat Alquran yang masuk kategori ini misalnya:

Pertama, ayat yang senada dengan ungkapan agar berbuat bijak dan sederhan, contohnya khairul umur ausatuha (sebaik-baik perkara adalah pertengahan) (hadits). Surah al-Furqan ayat 67:

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar”

Kedua, ayat yang menyiratkan bahwa kebenaran suatu informasi harus diselidiki terlebih dahulu. Contoh, Surah al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu” 

Ketiga, ayat serupa yang menegaskan bahwa sesuatu itu akan dipertanggungjawabkan, seperti Surah al-Nisa ayat 123:

….. مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِهٖۙ وَلَا يَجِدْ لَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا

“….Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah”

Amtsal al-Mursalah

Amtsal al-Mursalah (perumpamaan yang terlepas). Dalam artian tidak menggunakan lafal tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat itu berlaku atau berfungsi sebagai matsal (perumpamaan), yang di dalamnya terdapat peringatan dan pelajaran bagi manusia. Amtsal semacam ini banyak dijumpai dalam Alquran seperti Surah Ali Imran ayat 92,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui”

Hikmah Tiga Makna Metode Amtsal Menurut Ulama

Ketiga makna di atas menjelaskan bahwa Alquran yang berfungsi sebagai guiden book (buku panduan) bagi manusia selalu mengarahkan agar tujuan pendidikan harus sejalan dengan unsur penciptaannya yaitu jasmani, akal, dan jiwa. Oleh karenanya jika kita tilik materi pendidikan yang disajikan Alquran hampir selalu merujuk pada pendidikan jiwa, akal dan raga manusia itu sendiri. Baca juga: Hikmah Diturunkannya Al-Quran Secara Berangsur-angsur

Metode amtsal dalam Alquran selain berisikan nasihat, peringatan dan penjelasan konsep abstrak melalui makna-makna yang konkrit sehingga mudah difahami dan direnungkan oleh manusia.

Dengan demikian, metode amtsal (perumpamaan), peserta didik khususnya dan manusia pada umumnya diajak berfikir dan merenung tentang sesuatu abstrak dengan memvisualisasikannya sehingga penyampaian materi pembelajaran lebih berkesan, lebih merasuk kepada jiwa dan raga, serta mengendap dalam relung hati manusia. Wallahu A’lam.

Asma Putri Abu Bakar, Sahabat dan Mufassir Perempuan yang Berjasa Dalam Hijrah Nabi

0
Asma Putri Abu Bakar
Asma Putri Abu Bakar credit: elhaddaf.com

Asma putri Abu Bakar adalah salah satu sahabat perempuan yang ikonik. Ia memang tidak setenar adiknya, Aisyah putri Abu Bakar, namun setiap memperingati tahun baru hijriah, ibu dari sahabat Abdullah bin Zubair ini pasti akan selalu disebut. Ia menjadi ikon perempuan yang berjasa dalam peristiwa hijrah. Ada keterkaitan apa antara Asma’ putri Abu Bakar dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah? Mari kita ketahui lebih lanjut.

Quraish Shihab di suatu kesempatan menyampaikan bahwa salah satu nilai atau pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah adalah pentingnya melibatkan semua pihak dalam membangun suatu peradaban, termasuk perempuan. Hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah adalah upaya membangun suatu peradaban besar yang nantinya akan dinikmati oleh semua umat manusia sebagai rahmat lil alamin. Sebagai bagian dari umat manusia, sudah tentu perempuan harus terlibat di dalamnya.

Baca Juga: Kepada Semua yang Ingin Mempelajari Al Quran

Dikisahkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. hendak berangkat ke Madinah bersama Abu Bakar setelah tiga malam berada di gua Tsaur, Asma’ putri Abu Bakar datang membawa bekal perjalanan, tetapi saat bekal akan digantung di unta, dia tidak membawa tali pengikat, maka dengan cermat dia memotong tali ikat pinggangnya, membaginya jadi dua, satu digunakan untuk mengikat bekal dan satu lainnya digunakan sendiri untuk mengikat pinggangnya kembali. Oleh karena kejadian ini, kakak Aisyah ini mendapat gelar dazt an-nithaqain (pemilik/pengguna dua ikat pinggang). Keterangan ini juga dibagi oleh Quraish Shihab di bukunya, Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadis-Hadis Shahih.

Jika mengingat perencanaan perjalanan hijrah ini sangat rapi dan juga hati-hati, karena harus melawan strategi licik kafir Quraisy, maka keberhasilan Asma’ mengantarkan bekal untuk Nabi dan ayahnya tersebut merupakan hasil dari perjuangan yang tidak mudah, butuh keberanian, tekat dan keimanan yang kuat untuk menunaikan misi ini, terlebih ia adalah seorang perempuan. Meskipun demikian, penulis belum menemukan penjelasan lebih rinci tentang lika-liku perjalanan Asma’ hingga berhasil menemui dua orang istimewa tersebut.

Sebelum mengantar bekal, diceritakan pula bahwa ketika tokoh-tokoh kaum musyrik mencari Nabi Muhammad saw. ke rumah Abu Bakar, Asma’ yang dijumpai di situ tidak memberikan informasi apapun kepada mereka. Abu Jahal yang sangat kesal saat itu, menampar Asma’ sehingga anting yang dipakainya jatuh. Ini tentu menjadi bagian dari cerita perjalanan hijrah Nabi yang juga tidak dapat dilupakan.

Baca Juga: Siapa Saja Mufassir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Abbas

Asma Putri Abu Bakar dan Aktifitas Penafsiran

Abdul ‘Al dalam risetnya yang berjudul al-Mufassirun Min As-Sahabat menyebut nama Asma’ bint Abu Bakar dalam deretan mufassir dari kalangan sahabat. Di situ juga disampaikan sedikit biografi dari mufassirah tersebut.

Namanya Asma’, putri dari Abu Bakar, sahabat senior dan salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Ibunya bernama Qutailah bint Abdul ‘Uzza. Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, kemudian mempunyai anak bernama Abdullah bin Zubair, sahabat yang juga mufassir. Oleh karena itu, ia juga dipanggil dengan sebutan Ummu Abdillah. Ia merupakan kakak perempuan dari salah satu perempuan yang sangat berpengaruh dalam Islam, yaitu Aisyah. Dilihat dari silsilah keluarganya, Asma’ dikelilingi orang-orang yang ikonik dalam sejarah dakwah Islam. Ia pun bukan perempuan biasa, ini terbukti dari keterlibatannya dalam peristiwa awal upaya pembangunan perdaban Islam, yaitu hijrah Nabi ke Madinah.

Asma’ lahir sepuluh tahun sebelum risalah kenabian Muhammad turun. Menurut sebuah keterangan, ia orang ke 17 dari golongan orang-orang pertama yang masuk Islam. Setelah Zubair menceraikannya, Asma’ di masa tuanya tinggal bersama putranya, Abdullah bin Zubair. Ia diberi anugerah umur yang sangat panjang, dikatakan bahwa umurnya mencapai 100 tahun, ia merupakan sahabat muhajirah terakhir yang meninggal. Ia meninggal pada tahun 73 Hijriyah di Makkah, selang beberapa hari setelah putranya, Abdullah bin Zubair terbunuh.

Tentang kepribadiannya, ummu Abdillah ini dikenal sebagai perempuan yang sangat menjaga kehormatannya, sangat dermawan juga sangat rajin ibadahnya. Bahkan di usia lanjutnya, di saat kesehatannya sudah lemah ditambah penglihatannya yang sudah tidak berfungsi, ia masih memikirkan para budaknya, dan ia memerdekakan mereka semua. Putranya, Abdullah pernah berujar ‘tidak ada perempuan yang lebih dermawan dan lebih murah hati daripada Aisyah dan ibunya, Asma’; jika Aisyah masih menyisakan sesuatu yang ia miliki di tempatnya masing-masing, maka Asma’ sama sekali tidak menyisakan satu apapun untuk hari esok’.

Sementara itu, terkait aktifitas penafsiran. Asma’ putri Abu Bakar menerima beberapa riwayat dari Nabi dan Aisyah, sementara informasi darinya antara lain diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Abu Waqid Al-Laitsy, Sofiyah bint Syaibah, Abdullah bin Zubair (putranya) dan yang lainnya.

Asma’ putri Abu Bakar ini juga tercatat berkaitan erat dengan perihal turunnya ayat 8 surat Al-Mumtahanah. Dinukil dari tasfir AT-Tabari bahwa ibu Asma’ (Qutailah) yang ketika itu masih belum masuk Islam berkunjung ke rumah putrinya dengan membawa beberapa hadiah untuknya, tetapi Asma’ tidak mau menerimanya, bahkan juga tidak mau bertemu dengan ibunya. Kemudian dia bertanya kepada adiknya, Aisyah tentang hal tersebut. Aisyah menyampaikannya kepada Nabi dan Allah merespon melalui surat Al-Mumtahanah ayat 8.

Selain itu, Asma’ juga salah satu periwayat dari riwayat sabab nuzul dari surat Al-Baqarah ayat 199. Ia meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan wukufnya orang-orang Quraisy di Muzdalifah, karena menolak wukuf di Arafah, sedangkan suku-suku yang lain tetap wukuf di Arafah kecuali Syaibah bin Rabi’ah. Satu lagi riwayat tafsiriyah dari Asma’, yaitu surat Al-Lahab ayat 1.

Asma putri Abu Bakar adalah teladan bagi kita semua, perjuangan dan pengorbanannya, utamanya dalam mendukung hijrahnya Nabi ke Madinah menunjukkan bahwa pernah ada dalam sejarah bahwa perempuan menjadi bagian dari aktor lahirnya sebuah peradaban besar, yaitu Islam. Semoga kita semua bisa meneladani sayyidah Asma’ dan pastinya meneruskan perjuangannya. Laha wa lana Al-Fatihah.

Asal-Usul Kata Amin Menurut Pandangan Islam

0
asal usul amin

Asal-usul kata Amin menurut pandangan Islam ternyata masih ditemukan perselisihan. Begitu sering kita mendengar umat Muslim mengucapkan kata “amin”. Salah satu fungsi dari kata amin yaitu diucapkan setelah berdoa.

Menurut Quraish Shihab, pada umumnya kata ini diperselisihkan asal-usulnya. Ada yang mengatakan bahwa asal-usul kata amin berasal dari bahasa Arab. Kemudian sebagian Ulama menganggap asal-usul kata amin berasal dari serapan lain. Anggapan itu berdasarkan kaidah bahasa arab yang menyatakan bahwa sebuah kata bisa dibentuk dengan aneka bentuk antara lain memiliki kata kerja.


Baca Juga: Kepada Semua Yang Ingin Mempelajari Al Quran


Sedangkan, kata amin tidak dikenal dengan kata kerjanya. Quraish Shihab dalam bukunya Kosakata Keagamaan memberikan sebuah contoh surat dalam al Quran yang memiliki redaksi kata amin.

Pertama, surat al-Maidah Ayat 2

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.

Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.  Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah amatlah pedih.

Kedua, Surat Yusuf Ayat 54.

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

Artinya: “Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami”.

Kedua ayat di atas memang memiliki kata amin pengucapan yang sama, namun dilihat dari maknanya sangat jauh dengan makna amin yang diucapkan setelah selesai berdoa.

Makna amin yang pertama memiliki arti orang-orang yang mengunjungi Baitullah. Sedangkan makna amin pada ayat kedua diartikan sosok yang dipercayai. Jelaslah keduanya tidak masuk dalam makna amin yang sebagaimana dijelaskan.

Kata Amin Dipakai Semua Agama

Quraish Shihab menegaskan dalam bukunya Kosakata Keagamaan bahwa asal-usul kata amin diambil dari bahasa non arab yang kemudian ia terserap dalam bahasa Arab. Hal ini karena kata “amin” sering diucapkan oleh kalangan non muslim.

Redaksi kata “amin” dikenal dan diucapkan oleh para penganut agama Yahudi dan Nasrani bahkan ditemukan dalam beberapa naskah kitab suci mereka. Pelu diketahui juga, dari sekian redaksi hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat diperintahkan untuk mengucapkan amin setelah memanjatkan dan mengucapkan doa dari orang lain.

Bahkan, jika ada seseorang yang menjawab kata amin setelah  dipanjatkannya doa, meskipun ia tidak berdoa, seseorang itu telah dinilai ikut berdoa. Hal ini selaras dengan al-Quran surat Yunus (10):88-89 berbunyi:

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (88) قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (89)

Artinya: “Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau.

Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”., Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”.

Dua ayat diatas diuraikan bahwa Nabi musa telah berdoa kepada Allah Swt dan dinyatakan bahwa doa keduanya (Nabi Musa dan Nabi Harun) telah diterima oleh Allah padahal dalam ayat tersebut hanya Nabi Musa sendiri yang berdoa.


Baca Juga: Tafsir Surat An-Nisa’ ayat 164: Apakah Benar Jumlah Nabi ada 25?


Ini disebabkan karena kendati Nabi Harun tidak melakukann doa yang sama dengan Musa, melainkan ia menyetujui dan mengaminkan doa yang telah dipanjat oleh Nabi Musa AS.

Imam an-Nawawi dalam kitabnya an-Tibyan Fi Adabi Hamalati al-Quran mengungkapkan bahwa para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang makna “amin”.

6 makna “amin” diantaranya:

  1. “Yaa Allah perkenankanlah!”, pendapat ini dipegang oleh mayoritas Ulama
  2. “Yaa Allah! Lakukanlah!”
  3. “Demikian itu Yaa Allah. Semoga Engkau mengabulkannya.”
  4. “Jangan kecewakan kami,Yaa Allah!”
  5. Amin adalah salah satu nama Allah Swt.
  6. Amin berfungsi sebagai stempel bagi sebuah do’a.

Dengan begitu, meskipun makna dari kata amin dalam al Quran tidak selaras dengan makna “amin” yang telah dipaparkan, namun dianjurkan untuk mengucapkannya. Kita dianjurkan untuk meneladani dan mengikuti tuntunan Rasulullah Saw dalam shalat maupun sebaliknya.

Puasa Asyura: Bentuk Rasa Syukur atas Nikmat Allah

0
puasa asyura bentuk rasa syukur
puasa asyura bentuk rasa syukur (kaltim.tribunnews.com)

Puasa Asyura merupakan puasa yang dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram. Hari ini mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki hari-hari lain, karena di dalamnya terdapat peristiwa-peristiwa agung bersejarah yang patut diperingati sebagai rasa syukur atas nikmat Allah swt.

Muharam sendiri merupakan bulan yang mulia. Bahkan bulan yang paling utama diantara Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia), yakni rajab, dzulqa’dah, dzulhijjah dan Muharram. Para ulama sangat menganjurkan untuk memperbanyak amal saleh di bulan-bulan tersebut, dan pahala amal akan dilipatgandakan.

Di antara peristiwa tersebut adalah keselamatan Musa, as. dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Peristiwa ini diabadikan dalan (QS. al-Baqarah [2]: 50)

وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan. (Q.S. al-Baqarah [2]: 50)

Peristiwa lainya adalah diterimanya taubat Adam as. (QS. al-Baqarah [2]:37), berlabuhnya bahtera Nuh as. setelah terjadi banjir bandang selama enam bulan (QS. al-Ankabut [29]: 15), diterimanya taubat umat nabi Yunus as. (QS. Yunus [10]: 98) dan terbebasnya Yunus as. dari perut ikan, dikeluarkannya  Yusuf as. dari sumur, dikembalikannya penglihatan Ya’qub as. sehingga dapat melihat seperti semula, selamatnya Ibrahim as. dari api Namrud. (Nihayatuz Zain, juz 1 hlm. 196-197).

Ketika menafsiri ayat di atas, Ibnu Katsir menyebutkan, bahwa hari diselamatkannya Musa as. dan kaumnya adalah hari ‘Asyura. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: setibanya Rasulullah saw. di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa di hari Asyura. Lalu bertanya, kalian sedang puasa hari apa? (Baca juga: Inilah Tiga Amalan Utama dalam Menyambut Tahun Baru Islam)

Mereka menjawab, ini adalah hari yang baik, yaitu hari dimana Allah swt.menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka di hari ini Musa as. berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah swt. lalu Rasulullah saw. berkata: kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian. Kemudian beliau perpuasa, dan memerintah untuk perpuasa. (Ibnu Katsir, jilid 1, hlm. 63).

Pada ayat di atas, Az-Zuhaili dalam tafsirnya menyebutkan tentang alasan puasa di hari Asyura,

وكان الإنجاء عيدا، مستوجبا شكر الإله، وصار يوم عاشوراء وهو اليوم العاشر من شهر المحرّم يوم صيام الشكر

“Dan hari keselamatan (dari kejaran fir’aun) ialah hari Ied (kebahagiaan), yang semestinya dibalas dengan rasa syukur kepada Tuhan. Dan hari Asyura (hari ke 10 dari bulan Muharram) menjadi hari puasa untuk syukur. (Tafsir al-Munir)

Makna Syukur dan Hikmahnya

Az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menyebutkan maksud syukur kepada Allah swt., yaitu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Dalam konteks ini, Implementasi bersyukur atas suatu karunia telah dipraktikkan Musa as. ketika selamat dari Fir’aun, dan Nuh as. ketika selamat dari banjir bandang, keduanya berpuasa pada hari Asyura.  Begitu pula Rasulullah saw. mensyukuri hari tersebut dengan puasa. (Baca juga: Kisah Teladan Nabi di Bulan Muharram; Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan Paus)

Maka sudah sepantasnya kita menjadikan utusan-utusan Allah sebagai suri tauladan dalam mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, agar yang dikaruniakan tidak berganti adzab. Allah swt. telah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Ayat di atas merupakan kabar gembira bagi orang yang mensyukuri atas nikmat-nikmat-Nya, juga merupakan warning bagi yang mengkufurinya. Termasuk hikmah bersyukur adalah terjaganya nikmat yang telah dikaruniakan.

Ibnu Athaillah berpesan dalam kitabnya al-Hikam: “Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, berarti ia telah berusaha untuk menghilangkan nikmat itu. Dan barangsiapa mensyukuri nikmat, berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat.”  Wallahu A’lam