Beranda blog Halaman 545

Merasa Diganggu Setan? Amalkan Doa Ayat Kursi

0
ayat kursi
ayat kursi

Setan selalu menganggu manusia. Karenanya dalam Alquran telah termaktub doa munjarab agar setan tidak dapat menganggu dan terusir dari rumah dan lingkungan kita. Ayat kursi dikenal sebagai ayat pengusir setan. Beberapa fadhilah (keutamaan) ayat kursi di antaranya, jika kita membaca ayat kursi sebelum tidur malam, maka setan tidak akan berani mengganggu sepanjang malam tersebut.

Alam manusia dan alam setan tentu berbeda. Meskipun demikian, setan acapkali menggoda manusia. Lantas, bagaimana cara mengusir setan dari rumah dan lingkungan kita?

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar. (Q.S. al-Baqarah [2]: 255)

Ayat di atas dikenal dengan sebutan ayat kursi sebab di dalamnya terdapat kata kursy. Ayat kursiy dianggap memiliki keistimewaan sebagai ayat yang lebih agung dikarenakan memuat kebesaran dari nama-nama Allah wwt. Seperti al-Hayy dan al-Qayyûm.

Hal tersebut melukiskan betapa besarnya kekuasaan Allah swt yang meliputi perlindungan dan pemeliharaan kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Dengan keistimewaan tersebut, kandungannya mampu memantapkan hati seseorang untuk senantiasa beriman kepada Allah swt. (Baca juga: Doa Al Quran, Doa untuk Keteguhan Hati)

Al-Khazin mengemukakan riwayat dari Abi Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah Saw. Bersabda “Barangsiapa yang membaca ayat kursi dan dua ayat diawal (surah al-Ghafir) Ha mim tanzil al-kitab min Allah al-aziz al-hakim, maka ia akan di jaga sampai sore hari. Dan barangsiapa yang membacanya lagi diwaktu sore, maka ia akan dijaga sampai pagi lagi”.

Sama seperti penjelasan dari KH. Ahmad Sanoesi dalam kitabnya Tamsijjatoel Moeslimien, (meskipun terdapat penelitian yang mengungkapkan bahwa jalur perawi hadits yang dikutip dalam kitab ini dinilai dha’if), ia mengutip sebuah hadits Tirmidzi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah,

مَنْ قَرَأَ حِيْنَ يُصْبِحُ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَاَيَتَيْنِ مِنْ اَوَّلِ حم تَنْزِيْلُ الْكِتَابِ مِنَ اللهِ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ : غَافِرِ الِذَنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ الْعِقَابِ ذِى الطَّوْلِ لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمِصِيْرُ, حُفِظَ يَوْمُهُ ذلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ قَرَأَ هَا حِيْنَ يُمْسِيْ حُفِظَ ليلتهُ تِلْكَ حَتَّى يُصْبِحَ

“Barangsiapa didalam pagi-pagi membatja ajat koersi, dan doea ajat dari permoelaan (soerat al-Ghafir), maka nistjajalah ia dipeliharakan didalam harinja itoe sehingga sorenja, dan barangsiapa membatja didalam waktoe sore, maka dia dipeliharakan didalam malam itoe sehingga pagi.

Beliau menjelaskan bahwa siapapun yang membaca ayat kursi diwaktu pagi maupun sore hari, maka Allah akan menjaga dia dari segala gangguan setan sampai keesokan harinya.

Mengenai penjagaan ini, Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Hidangan Ilahi : Tafsir Ayat-Ayat Tahlil menjelaskan bahwa ketika seseorang membaca ayat al-Kursiy, sang pembaca menyerahkan jiwa raganya kepada Tuhan seru sekalian alam, dan kepada-Nya pula ia memohon perlindungan. Beliau menerangkan, Bisa jadi ketika itu, bisikan iblis terlintas dibenak yang membacanya “ yang dimohonkan pertolongam dan perlindungan-Nya itu, dahulu pernah ada tetapi kini telah mati.” (Baca juga: Doa Agar Memiliki Keturunan dari Nabi Zakaria)

Maka penggalan ayat berikutnya meyakinkan tentang kekeliruan bisikan itu, yakni dengan sifat al-Hayy/Yang maha Hidup dengan kehidupan yang kekal. Bisa jadi iblis datang lagi membawa keraguan dengan berkata, “memang Dia hidup kekal tetapi tidak memusingkan mengenai urusan manusia, apalagi si pemohon.”

Penggalan ayat berikutnya menyanggah kebohongan ini dengan firman-Nya al-Qayyûm, yakni yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan untuk lebih meyakinkan sifat Allah ini, dilanjutkan dengan penggalan berikutnya, lâ ta’khuzuhû sinatû walâ naûm/ Dia tidak dapat dikalahkan oleh kantuk dan tidur, tidak seperti manusia yang tidak kuasa menahan kantuk dan tidak dapat selama-lamanya mengelak dari tidur. Allah terus menerus jaga dan siap siaga.

Dengan penjelasan ini, maka sirna sudah keraguan yang dibisikkan setan itu. Begitulah seterusnya sampai pada akhir ayat, sehingga diakhir penjelasannya, Quraish Shihab menyimpulkan bahwa sangat wajar dan logis penjelasan yang menyatakan bahwa siapa yang membaca ayat kursi maka ia memperoleh perlindungan Allah dan tidak akan diganggu oleh setan.

Kesimpulannya, membaca ayat kursi dengan tujuan untuk menghindarkan diri dari gangguan setan merupakan bentuk ikhtiar kita selaku manusia yang lemah dimana tiada daya dan upaya kecuali berasal dari kekuasaan dari-Nya. Wallahu a’lam bis shawâb.

Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 44-50

0
Tafsir Surat An-Nisa' 171
Tafsir Surat An-Nisa'

Ayat 44

Kaum Muslimin harus mengetahui bahwa para Ahli Kitab yang menerima kitab dari Allah dengan perantaraan rasul-Nya, mereka hanya mengambil sebagian dari isi kitab itu yang sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu mereka, bahkan mereka banyak mengubah-ubah dan menambahkannya.

Dengan kedatangan Nabi Muhammad saw, mereka semestinya menjadi orang-orang yang beriman, tetapi sebaliknya mereka menjadi orang-orang yang kafir. Maksud dan tujuan mereka berbuat seperti itu adalah untuk menyesatkan orang banyak termasuk umat Islam sendiri dari jalan yang benar. Mereka tidak segan-segan mengadakan berbagai macam tipu daya dan pura-pura bersimpati terhadap kaum Muslimin padahal mereka adalah musuh dalam selimut.

Ayat 45

Allah mengetahui siapa yang menjadi musuh umat Islam. Umat Islam kadang-kadang mengira bahwa musuh-musuh itu adalah sahabat mereka, padahal sebenarnya bukan. Kebaikan-kebaikan yang mereka lahirkan terhadap kaum Muslimin adalah tipu muslihat belaka, sedang tujuan mereka yang sebenarnya ialah menarik kaum Muslimin agar menyeleweng seperti penyelewengan mereka dari jalan yang benar. Allah-lah yang memberi petunjuk kaum Muslimin kepada keselamatan, kebahagiaan dan kebaikan. Dialah yang menolong mereka dalam menghadapi musuh-musuh agama.

Ayat 46

Di antara Ahli Kitab yang tersebut di atas ada pula yang mengubah kalimat-kalimat yang ada pada kitab mereka dan memindahkannya dari tempat semula ke tempat yang lain, sehingga kitab itu menjadi kacau dan tidak dapat lagi dijadikan pedoman. Mereka menafsirkan bahwa kedatangan Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw adalah tidak benar dan mereka masih menunggu kedatangan Isa dan Muhammad yang diutus dari kalangan mereka.

Orang-orang Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Samina wa asaina (kami mendengar ucapanmu akan tetapi kami tidak akan taat kepada perintahmu).” Mereka juga berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Isma gaira musmain (dengarlah Muhammad semoga engkau tidak dapat mendengar/tuli).” Demikian juga mereka berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Raina (kiranya engkau memperhatikan kami).”

Ketika para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudi pun memakai kata ini terhadap Rasulullah. Padahal yang mereka maksud dengan  Raina itu ialah  kebodohan yang sangat  sebagai celaan kepada Rasulullah saw. (lihat tafsir ayat 104 al-Baqarah, dan kosakata Raina).

Semua pemakaian kata-kata yang tidak benar itu dimaksudkan untuk memutarbalikkan panggilan dan untuk mencela agama.Termasuk pula pemutaran lidah mereka terhadap Nabi Muhammad saw ialah bila mereka bertemu dengan Nabi, mereka mengucapkan, “As-sam (mudah-mudahan kamu mati).” Ucapan itu dijawab oleh Nabi, “Alaikum (mudah-mudahan kamulah yang mati).”

Sekiranya orang-orang Yahudi tidak mengucapkan kata-kata yang sejelek itu, tetapi mengganti ucapannya kepada Muhammad dengan ”Sami’na wa ata’na wa isma’ wa unzurna (kami mendengarkan ucapanmu dan menaati segala perintahmu, dengarkanlah ucapan kami dan perhatikanlah kami),” maka pastilah perkataan-perkataan itu akan membawa akibat yang sangat baik bagi mereka. Tetapi karena kekafiran mereka, mereka mendapat laknat Allah dan mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis yang tidak dapat membawa mereka kepada kebahagiaan yang hakiki.

Ayat 47

Orang Yahudi yang pernah menerima Kitab Taurat dan orang Nasrani yang pernah menerima Kitab Injil, dalam ayat ini diperintahkan agar mereka percaya kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang membenarkan isi kedua kitab mereka. Di antara pokok-pokok isi Alquran adalah mengenai keesaan Allah, menjauhi perbuatan syirik dan memperkuat iman dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan perbuatan-perbuatan keji, lahir dan batin. Tiga soal utama itu adalah tiang agama yang diperintahkan Allah untuk dilakukan oleh hamba-Nya.

Perintah mempercayai Alquran harus diterima dengan positif oleh mereka agar Allah tidak mengubah wajah mereka, membalikkan muka mereka ke belakang dan mengutuk mereka sebagaimana nenek moyang mereka pernah dikutuk karena menangkap ikan pada hari yang terlarang, hari Sabat. Ketentuan-ketentuan Allah baik berupa penciptaan sesuatu maupun berupa pelaksanaan hukum atau ancaman, semua pasti akan terlaksana sebagaimana dikehendaki-Nya.

Sebagian mufasir memahami pengertian hukuman Allah berupa penghapusan mereka adalah membalikkan arah muka mereka dari menghadap jalan lurus ke arah jalan kesesatan.

Setelah turun ayat ini, banyak di antara Ahli Kitab yang masuk Islam karena takut kepada ancaman siksa itu. Di antara mereka itu ialah: Ka’ab Al-Ahbar. Allah yang bersifat Mahakuasa tidak akan menghadapi kesukaran sedikit pun dalam melaksanakan kudrat-iradat-Nya, termasuk pelaksanaan ancaman-Nya dalam ayat ini.

Ayat 48

Allah sekali-kali tidak akan mengampuni perbuatan syirik yang dilakukan oleh hamba-Nya, kecuali apabila mereka bertobat sebelum mati. Syirik adalah dosa yang paling besar, karena orang musyrik beriktikad dan mempercayai bahwa Allah mempunyai sekutu dan tandingan yang sama derajatnya.

Dalam Alquran disebutkan berulang-ulang dosa syirik ini. Adapun dosa selain syirik, jika dikehendaki, Allah akan mengampuninya. Hal itu disesuaikan dengan hikmah kebijaksanaan-Nya dan menurut tata cara sunah-Nya yang berlaku. Misalnya yang berdosa itu benar-benar telah tobat dari dosanya dan mengiringi tobat itu dengan amal-amal saleh. Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa’/4:48).

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“ …Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu”. (al-Ma’idah/5:72).

Ayat 49

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Hasan, bahwa ayat ini diturunkan mengenai orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memuji-muji diri mereka dengan mengatakan bahwa mereka anak Allah dan kesayangan-Nya, tidak akan masuk surga selain orang Yahudi atau Nasrani dan mereka tidak akan masuk neraka kecuali beberapa hari saja.

Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw agar berhati-hati terhadap tindakan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap dan mengakui diri mereka sebagai orang suci. Pengakuan itu seperti tertera pada sebab turunnya ayat di atas bahwa ucapan mereka itu tidak benar karena mereka masih tetap dalam kekafiran dan tetap melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Sebenarnya mereka tidak berhak membersihkan diri hanya dengan kata-kata dan pengakuan yang tidak beralasan. Membersihkan diri haruslah dengan amal perbuatan yang dapat menjadikan seseorang bersih dan bebas dari perbuatan syirik dan maksiat. Tidak ada gunanya seseorang mengemukakan kebersihan dirinya karena kebersihan diri seseorang berada di tangan Allah Yang Mahakuasa, dan Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-Nya.

Ayat 50

Ayat ini menekankan tentang keanehan perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Nabi Muhammad diperintahkan memperhatikan betapa beraninya orang-orang Yahudi dan Nasrani membuat kebohongan terhadap Allah dengan pengakuan mereka bahwa dirinya suci dan mereka disayangi oleh Allah secara khusus, tidak seperti umat-umat lain. Cukup jelas bahwa perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu merupakan dosa yang besar.

(Tafsir Kemenag)

3 Cara Tepat Membaca Al Quran

0
konsultasi Syariah

Pernahkah anda mendengar bacaan Al Quran yang cepat atau terlalu panjang, lalu anda menganggapnya salah? Tunggu dulu. Ternyata, ada tiga cara yang bisa digunakan untuk membaca Al Quran.

Menurut Syeikh ‘Alawi al-Maliki dalam Qawaidul Asasiyyah fi Ulumil Quran, terdapat 3 tata cara baca Al Quran. Yakni tahqiq, hadr, dan tadwir. Berikut ini penjelasannya. 

Tahqiq

Seperti namanya, cara membaca ini menekankan pelafalan ayat dengan jelas. Disiplin dalam panjang pendeknya huruf, kejelasan pengucapan hamzah, tashdid, dan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf).

Selain itu, cara baca tahqiq juga menekankan kejelasan artikulasi huruf, sehingga tiap huruf terucap dengan jelas. Tempat dan cara waqaf pun juga sangat diperhatikan, baik waqaf di akhir atau tengah ayat, saktah, dan lain sebagainya.

Dalam Qawaidul Asasiyah fi Ulumil Quran, cara baca tahqiq ini diilustrasikan dengan mengucapkan tiap huruf dengan tanpa tawallud (memunculkan huruf dari harakat). Serta tanpa mengharakati huruf mati, dan berlebihan dalam bacaan ghunnah.

Cara baca yang disiplin makharijul huruf dan seperangkat ilmu tajwid ini dianjurkan untuk pemula. Misalnya, anak-anak atau orang yang baru belajar membaca Al Quran.  Hal ini karena cara baca tahqiq lebih efektif untuk melatih lisan terbiasa membaca Al Quran dengan tajwid dan tartil yang sempurna.

Penerapan cara baca tahqiq bisa kita temukan pada metode Qira’ati. Metode baca Al Quran yang sangat menekankan kedisiplinan dalam membaca Al Quran.

Sementara itu, karena cara baca ini merupakan cara baca yang disiplin dan tegas, maka praktiknya juga lebih lama dibanding saat kita membaca Al Quran dengan dua cara yang lain.

Hadr

Hadr merupakan cara melamtumkan Al Quran dengan cepat. Cara ini tidak terlalu tegas dalam memraktikkan mad dan waqaf . bacaan mad yang dipilih ialah yang paling singkat. Misalnya, dalam mad ja’iz munfasil, panjang madnya hanya sebatas 2 harakat. Tidak 6 harakat sebagaimana saat memraktikkannya dengan tahqiq.

Meskipun begitu, cara baca hadr tetap memperharikan harakat dan memantapkan lafadz. Sehingga, dapat dibilang masih memenuhi rambu bahasa Arab.

Cara baca ini biasa dipraktikkan dalam momen khataman atau tadarusan. Karena mengharuskan mengkhatamkan Al Quran dengan batas waktu yang singkat.

Meskipun tidak ada larangan tegas, kita tidak boleh memraktikkan cara ini jika tidak bisa memenuhi makhraj dan panjang pendek huruf. Karena jika tidak, maka dinilai ceroboh dalam membaca Al Quran dan tak lagi mendapatkan pahala ibadah dengan membacanya.

Tadwir

Cara baca ini berada di tengah tahqiq dan hadr. Jadi, tidak terlalu disiplin dan terlalu cepat. Maksud menjadi penengah antara lain cara baca ini tidak begitu memanjangkan mad dengan batas maksimal. Tidak pula dengan panjang minimal. Misalnya, memilih membaca 3 harakat pada mad yang panjangnya 6 harakat. 

Cara baca demikian ini yang membuat para ulama qurra’ gemar memraktikkannya. Bahkan, mereka lebih merekomendasikan tadwir untuk dijadikan pegangan saat membaca Al Quran.

Terlepas dari tiga cara itu, sebenarnya yang paling penting ialah membaca Al Quran dengan tartil, dan sesuai dengan ilmu tajwid. Hal ini berdasar pada firman Allah dalam QS. Al-Muzammil ayat 4:

ورتل القرآن ترتيلا

“Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan”

Menurut mayoritas mufassir, tartilan di situ diartikan dengan tidak tergesa dalam membaca Al Quran. Memenuhi hak-hak huruf sesuai makhraj dan harakatnya, serta menerap kan ilmu tajwid.

Dan, untuk memraktikkannya dengan sempurna perlu adanya konsistensi dalam membaca. Misalnya, saat memilih membaca mad ja’iz munfasil dengan 2 harakat, maka seterusnya harus begitu. Sehingga, ketika sudah bisa menjaga konsistensi, kandungan maknanya semakin mudah kita pahami.

Dengan demikian, mau pakai cara 1, 2, atau 3, asal kita bisa menjaga tajwid dengan konsisten semuanya boleh saja kita pakai. Wallahu a’lam[]

Benarkah Kadar Pemahaman Sahabat Terhadap Al-Quran Berbeda? Ini Penjelasan Adz-Dzahabi

0
Kepemimpinan Transformatif
Kepemimpinan Transformatif menurut Al Quran (mosoah.com)

Kadar pemahaman Sahabat terhadap Al-Quran berbeda-beda. Tidak semua sahabat mampu memahami Al-Quran secara paripurna. Bila kita telusuri literatur tentang pemahaman sahabat terhadap al-Quran atau pemahaman orang Arab tentang al-Quran, maka terjadi perbedaan pendapat.

Dalam Muqaddimah-nya, Ibn Khaldun berargumen bahwa al-Quran yang turun dengan bahasa Arab beserta retorikanya tentu akan memudahkan bangsa Arab—objek pertama dakwah al-Qur’an—dalam memahami isi kandungannya. Ia beranggapan melalui pengetahuan mereka terhadap kosa kata dan susunan gramatikalnya, akan mudah bagi mereka memahami al-Quran.

Pendapat Ibn Khaldun itu mungkin terkesan logis. Namun jika mempertimbangkan realita yang ada pendapat ini akan terkesan lemah. Dalam konteks kehidupan saat ini saja, tidak jarang ada orang yang tidak mampu memahami dengan baik referensi bacaan yang ditulis dengan bahasa ibunya.

Pendapat Ibn Khaldun tadi itu pun tidak diamini oleh Adz-Dzahabi. Dalam Al-Tafsir wa Al-Mufassirun, Adz-Dzahabi pun menyangkal pendapat Ibn Khaldun. Adz-Dzahabi berpendapat bahwa pemahaman seseorang terhadap suatu teks tidak dapat diukur hanya dari pengetahuannya terhadap kosakata yang terdapat di dalamnya.

Sederhananya, seseorang belum tentu dapat memahami teks melalui pengetahuannya terhadap kosa kata yang ada dalam teks semata. Maka Adz-Dzahabi pun menjelaskan bahwa seseorang yang ingin menyingkap makna suatu teks harus memiliki kemampuan bahasa sekaligus daya nalar yang cukup dengan teks yang dikaji.

Logika pemahaman akan teks ini berlaku umum, termasuk di dalamnya upaya memahami al-Qur’an. Para sahabat Nabi Muhammad Saw. yang turut serta menyaksikan kehadiran wahyu juga tidak memiliki tingkatan pemahaman yang sama antara satu dengan lainnya. Terkadang dalam memahami makna ayat-ayat al-Qur’an, antara satu dengan lainnya memiliki tingkatan yang berbeda-beda.

Sebagaimana logika pemahaman di atas, status para sahabat yang merupakan orang Arab tidak membuat mereka luput dari ketidakpahaman terhadap makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Sebagian dari mereka mungkin memahami makna suatu ayat namun sebagian lainnya tidak. Lalu apa saja faktor yang menyebabkan kadar pemahaman sahabat terhadap al-Quran berbeda?

Menurut Adz-Dzahabi hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: 1) perbedaan kemampuan bahasa yang dimiliki; 2) pengetahuan akan makna dari lafaz-lafaz gharib (asing/ jarang didapati dalam keseharian); 3) dalam kondisi membersamai Nabi di saat turunnya wahyu; 4) perbedaan tingkat kemampuan akal dalam memahami sesuatu.

Faktor pertama secara jelas mengindikasikan bahwa perbedaaan kualitas dalam penguasaan bahasa—dalam hal ini bahasa yang dibutuhkan dalam mengkaji suatu teks—memiliki pengaruh besar dalam pencapaian terhadap pemahaman akan teks yang dikaji. Seorang pengkaji bahasa Arab yang memiliki kemampuan gramatikal bahasa (nahwu-shorof) serta hafalan kosa kata yang banyak tentu akan lebih mudah memahami teks daripada orang yang hanya memiliki kemampuan gramatikal namun hafalan kosa kata sedikit maupun sebaliknya.

Kedua, lafaz-lafaz gharib atau kosa kata yang jarang ditemukan dalam keseharian menjadi salah satu problem dalam memahami teks. Terkadang lafaz gharib tersebut justru menjadi keyword dalam memahami suatu teks. Maka tentu seorang pengkaji teks yang memiliki hafalan kosa kata langka akan lebih mudah memahami teks daripada yang tidak.

Pada faktor ketiga didapati bahwa kondisi para sahabat ketika wahyu diturunkan juga menjadi penyebab perbedaan kualitas pemahaman mereka. Para sahabat yang membersamai Nabi tatkala wahyu diturunkan secara langsung memiliki akses untuk mengetahui asbab al-nuzul dari ayat yang diwahyukan. Pengetahuan akan asbab al-nuzul ayat memberikan implikasi terhadap pemahaman yang lebih baik.

Kesalahan dalam memahami asbab al-nuzul bisa membawa pada kesalahan akan memahami maqshud al-ayat. Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an mengakan bahwa “tidak mungkin mengetahui tafsir suatu ayat tanpa mengetahui kisah dan penjelasan turunnya (asbab al-nuzul).”

(Baca Juga: Pentingnya Belajar Sabab Nuzul dalam Menafsirkan Al Quran)

Faktor terakhir memberikan gambaran bahwa masing-masing sahabat memiliki tingkatan kecerdasan yang berbeda. Perbedaan ini berimplikasi pada kualitas pemahaman yang mereka hasilkan. Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Al-Tafsir wa al-Mufassirun dikatakan bahwa ada seseorang bernama Masruq yang duduk bersama dengan para sahabat Nabi. Kemudian ia pun mengumpamakan mereka dengan aliran sungai.

Ia pun mengatakan bahwa di antara para sahabat ini ada yang memiliki kemampuan untuk mengairi (memenuhi hajat air) satu orang, ada yang mampu dua orang, ada yang sepuluh, ada juga yang mampu seratus dan bahkan ada juga yang mampu menjadi sumber air bagi satu negeri.

Perumpamaan tersebut dapat dilihat sebagai penilaian seorang psikolog terhadap daya intelektualitas seseorang. Bagaimanapun faktor ini merupakan anugerah dari Allah (wahbah min Allah) yang tidak bisa diprediksi siapa dan kapan diberikan. Maka bagi yang telah mendapatkan anugerah kemampuan akal yang lebih dari lainnya, hendaknya dapat memanfaatkannya dengan baik agar dapat menebarkan manfaat kepada sesama makhluk.

Beberapa faktor di atas dapat menjadi inspirasi bagi para pengkaji al-Quran saat ini. Inspirasi itu berupa panduan untuk meningkatkan kualitas pemahaman terhadap al-Qur’an. Pertama, meningkatkan kemampuan berbahasa Arab baik, dengan memantapkan ilmu gramatika serta memperbanyak kosa kata. Kedua mempelajari asbab al-nuzul dan menempatkannya sebagai salah satu elemen penting untuk mendapatkan maqshud al-ayat. Lalu disertai dengan meminta kepada Allah agar diberikan kemampuan akal yang bisa memudahkan dalam memahami ayat-ayat-Nya. Wallahu A’lam.

Doa Al-Quran: Doa Agar Memiliki Keturunan dari Nabi Zakaria

0
Doa agar memiliki keturunan
Doa agar memiliki keturunan

Bagi setiap pasangan memiliki keturunan merupakan suatu anugerah dan amanah yang sangat besar. Terkadang karena begitu besarnya keinginan memiliki keturunan, pasangan suami istri harus menempuh berbagai cara. Selain ikhtiar-ikhtiar medis, pasangan suami istri perlu untuk mengamalkan doa agar memiliki keturunan dari Nabi Zakaria sebagaimana tercantum dalam Al-Quran.

Dikisahkan bahwa Nabi Zakaria As. dan istrinya telah lama ingin memiliki anak. Hingga masa-masa senja, mereka tidak pula diberikan keturunan. Menurut riwayat Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Fakhruddin ar-Razi dalam Kitab Mafatih al-Ghayb usia Nabi Zakaria pada waktu itu berusia 100 tahun dan istrinya berusia 99 tahun.

Dengan hati yang khusyu’, makrifat, dan penuh permohonan, Allah Swt mengabulkan doa Nabi Zakaria dan istrinya. Pasangan ini dianugerahi keturunan salih yang kemudian mewarisi kesalihan dan perjuangan dakwah bapaknya. Anak itu bernama Yahya bin Zakariya, yang nantinya juga diberikan amanah Kenabian. (Baca juga: Doa Al Quran: Doa untuk Keteguhan Hati)

Kisah dan Doa agar memiliki keturunan dari Nabi Zakaria ini dapat ditemukan dalam Q.S al-Anbiya [21]: 89-90:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنْتَ خَيْرُ الْوارِثِينَ () فَاسْتَجَبْنا لَهُ وَوَهَبْنا لَهُ يَحْيى وَأَصْلَحْنا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كانُوا يُسارِعُونَ فِي الْخَيْراتِ وَيَدْعُونَنا رَغَباً وَرَهَباً وَكانُوا لَنا خاشِعِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika berdo’a kepada Tuhannya, ‘Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.’ Maka Kami kabulkan (do’a)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

Selain berdoa kepada Allah Swt dengan doa nabi Zakaria. Perlu dicatat bahwa dalam ayat di atas dijelaskan dengan tegas bahwa Nabi Zakaria dan istrinya adalah hamba-hamba Allah yang bersegera dalam kebaikan, berdo’a dengan harap, cemas, dan khusyuk. Artinya selain mengamalkan doa Nabi Zakaria, pasangan yang menginginkan keturunan juga perlu mencontoh akhlak Nabi Zakaria dan istrinya, kesalihan mereka dan berdoa dengan penuh kekhyusuyan.

Wallahu A’lam.

Keutamaan Surat Yasin Dalam Tradisi Masyarakat Muslim Indonesia

0
Keutamaan Surat Yasin
Keutamaan Surat Yasin credit: almuheet.net

Surat Yasin merupakan salah satu surah dari seratus empat belas surah dalam Alquran. Surat ini dikenal dengan julukan “qalbu al-Quran” (jantung al-Quran). Para ulama mengakui bahwa surah Yasin memiliki banyak keutamaan. Artikel ini akan mengulas keutamaan surat Yasin terutama ketika dikaitkan dengan tradisi masyarakat Muslim Indonesia.

Ditengah maraknya fenomena pembacaan Alquran masyarakat indonesia,  terdapat surat-surat Alquran yang sering  dijadikan sebagai amalan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah Surat Yasin. Barangkali salah satu keutamaan Surat Yasin adalah dengan cerita bahwa sebagian mayarakat mempercayai adanya kekutan ghaib ketika membaca potongan ayat dari surah Yasin, yaitu ayat 8 sampai ayat 9. Pasalnya, ketika membaca kedua ayat ini, para pengendara yang tidak memakai kelengkapan alat berkendara akan terhindar dari sergapan keamanan polisi lalu lintas.

(Baca Juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 144: Cinta Tanah Air Itu Fitrah Manusia)

Praktik di atas ternyata didasarkan pada cerita yang diambil dari sahabat Ibnu Abbas. Dalam riwayat tersebut dikatakan bahwa ketika kaum kafir Quraisy berkumpul didepan pintu rumah Rasulullah Saw, dengan tujuan untuk membunuh beliau, Rasulullah merasa terganggu dengan dengan ulah mereka. Kemudian Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw, dengan membawa surah Yasin. Rasulullah diperintahkan untuk mengambil segenggam tanah dan diatasnya dibacakan surah Yasin. Kemudian saat beliau keluar tanah tersebut ditaburkan dihadapan para kaum kafir Quraisy. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang melihat kepergian Rasulullah dari rumahnya.

Cerita diatas adalah salah satu dari sekian banyak keutamaan surat Yasin yang sering dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat Muslim indonesia. Namun, beberapa hal yang cukup sering dijadikan oleh masyarakat sebagai alasan utama untuk membaca surah Yasin antara lain:

Mempercepat Terkabulnya Segala Hajat

Terkadang ada harapan dan hajat kebutuhan kita dengan begitu mudahnya terpenuhi tanpa ada gangguan dan hambatan. Akan tetapi disisi lain juga ada hajat yang begitu sulit digapai. Semua upaya dan rencana telah dilakukan, namun tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Sehingga ada cara yang lebih mudah yang dianjurkan Rasululullah adalah dengan membaca surah Yasin, hal ini sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا رَاشِدٌ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحِمَّانِيُّ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَنْ قَرَأَ يس حِيْنَ يُصْبِحُ أُعْطِيَ يُسْرَ يَوْمِهِ حَتَّى يُمسِيَ , وَمَنْ قَرَأَ هَا فِيْ صَدْرِ لَيْلِهِ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتِهِ حَتَّى يُصْبِحَ

“Telah menceritakan kepada kami Amr bin Zurarah, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Rasyid Abu Muhammad Al Himmani dari Syahr bin Hausyab ia berkata: Ibnu Abbas berkata: barangsiapa yang membaca surah Yasin ketika berada diwaktu pagi niscaya diberikan kepadanya kemudahan hari itu hingga ia berada diwaktu sore, dan barangsiapa yang membacanya pada awal malam, niscaya diberikan kepadanya kemudahan malam itu hingga ia berada di waktu pagi” (HR. Al-Darimi)

Hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang melakukan amaliah membaca Yasin di malam Jum’at. Amaliah ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibn Abbas, dikutip oleh Abdurrauf al-Munawwi dalam kitabnya, Faidh al-Qadir (VI/258),

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يَسٍ وَالصَّفَّاتِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَعْطَاهُ اللهُ سُئْلَهُ

“Barangsiapa membaca surah Yasin dan Shaffat di malam Jumat, maka Allah memberikan kepadanya permintaannya.”

Mempererat Tali Silaturrahmi

Adanya tradisi Yasinan di masyarakat membuat ikatan persaudaraan semakin kuat. Karena tradisi ini bukan hanya sekedar berkumpul membaca surah Yasin lalu kemudian pulang kerumah masing-masing. Akan tetapi, biasanya pemilik rumah yang menjadi tempat perkumpulan acara tersebut menyediakan  makanan yang disuguhkan kepada warga yang hadir dalam acara tersebut. Nah, disaat momen makan-makan itu biasanya diselingi dengan bincang-bincang. Pada kesempatan itulah warga saling bertukar pikiran, menceritakan keluh kesahnya kepada warga yang lain. Sehingga mereka yang mendengarkan dapat memberikan solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut.

Memudahkan Sakaratul Maut

Sudah merupakan kebiasaan yang tidak pernah hilang dari masyarakat adalah ketika ada keluarga atau warga lain yang meninggal, pasti akan dilakukan pembacaan surah Yasin. Bahkan pembacaan surah Yasin ini dilakukan oleh keluarga si mayit sesaat menjelang ia sakaratul maut. Abdurrauf al-Singgkili, seorang pembaharu islam Nusantara pada abad ke 17 mengemukakan gagasan yang menarik mengenai penafsiran surah Yasin. Dalam kitabnya yang berjudul Tarjuman al-Mustafĭd menyatakan bahwa jika surah Yasin dibacakan atas orang yang sedang sakaratul maut, maka malaikat akan meminta ampunan baginya. ketika orang tersebut meninggal, malaikat ikut memandikan, menghadiri dan mengiringi jenazahnya, serta ikut menyembahyangkan. Bahkan beliau mengatakan, nyawa orang tersebut tidak akan diambil oleh malaikat maut sebelum malaikat Ridwan datang kepadanya dengan membawa air dari surga.

Sementara ada asumsi yang mengatakan bahwa semua hadits Yasin adalah dha’if  dan palsu, hal ini dibantah oleh syaikh as-Syaukani:

حَدِيْثُ مَنْ قَرَأُ يس اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا وَ إِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ الصَحِيْحِ وَأَخْرَجُهُ أُبُوْ نُعَيْمٍ وَأَخْرَجَهُ الْخَطِيْبُ فَلاَ وَجْهَ لِذِكْرِهِ فِيْ كُتُبِ الْمَوْضُوْعَاتِ

“ Hadits yang berbunyi: “Barangsiapa membaca Surah Yasin seraya mengharap ridha Allah, maka ia diampuni.”HR. Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu’, sanadnya sesuai kriteria hadits shahih. Juga diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-khatib (al-Baghdadi). Maka tidak ada jalan mencantumkannya dalam kitab-kitab hadits palsu.

Sebenarnya Masih ada banyak keutamaan lain dari surah Yasin yang juga tidak kalah menakjubkan bagi kehidupan masyarakat muslim Indonesia. Apalagi jika kita melihat lebih spesifik pelaksanaannya dalam adat istiadat yang berbeda di setiap daerah. Singkatnya, keutamaan membaca surah Yasin menjadi tanda bahwa Alquran benar-benar hidup dan menjadi sumber Landasan kehidupan masyarakat muslim indonesia.

Kebhinnekaan dalam Al-Quran

0
Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika. sumber: tribunnewsswiki.com

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Inilah semboyan negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsep Kebhinnekaan ternyata dapat kita temukan dalam Alquran. Tulisan ini akan menjelaskan tentang Kebhinnekaan dalam Al-Quran.

Penggunaan kata Bhinneka dalam tulisan ini, terinspirasi dari semboyan yang ada pada lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, warisan karya sastra Mpu Tantular dalam kitab Sutasomanya pada abad ke-14. Kebhinnekaan atau lebih gampangnya keragaman adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari di permukaan bumi ini. Kebhinnekaan dapat dilihat dari beberapa karakteristik, seperti; polarisasi kelompok-kelompok yang memiliki sub-kebudayaan berbeda, struktur sosial yang terbagi dalam lembaga-lembaga, dan beberapa hal lainnya.

Gina Lestari  juga menyebutkan dalam jurnalnya, karkateristik dari kemajemukan ini, terutama dalam sebuah negara terlihat dari keragaman etnisnya, budaya, bahasa, bahkan alamnya. Keragaman yang ada dalam sebuah negara menjadi keistimewaan tersendiri, sebagaimana Indonesia. Keragaman yang dimiliki Indonesia bisa menjadikannya Negara yang besar sebagai multicultural nation-state, namun, disisi lain dapat pula menjadi ancaman. Kebhinnekaan yang ada dalam sebuah negara memang tidak akan terlepas dari gesekan-gesekan, akan tetapi selama konseptual tentang kebinekaan itu sendiri dipahami dengan baik, dan diterima dengan lapang dada, gesekan dalam masyarakat dapat dihindari.

Kebhinnekaan adalah suatu keharusan dalam hidup, karena menjadi sebuah kodrat -Kehendak Tuhan, dan manusia tidak mampu menghalangi semua itu, manusia harus memahami dan menyadari hal tersebut dengan pemahaman pada etika kodrati. Karena, etika dalam masyarakat majemuk sangat diperlukan sebagai bentuk relasi sosial dalam menjaga kedamaian. Jika konseptual ini tidak dipahami dengan benar, maka kebhinnekaan negara multikultural seperti Indonesia akan dirong-rong dan mengalami guncangan.

Konsep kebhinnekaan bukan semata-mata hadir tanpa adanya landasan kebhinnekaan itu sendiri. Kebhinnekaan atau keragaman beberapa kali disinggung dalam Alquran. Salah satu ayat yang paling populer tentang Kebhinnekaan dalam Al-Quran  adalah surat al-Hujurat [49] : 13.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan,  menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kemajemukan yang tertuang dalam surat al-Hujurat di atas, menunjuk keanekaragaman ras, bangsa, suku, dan jenis kelamin ini semata-mata untuk mendatangkan kebaikan, serta untuk melihat siapa yang senantiasa melangkah pada kebaikan di sisi Allah, meski perbedaan menyelimuti kehidupan. Inilah Kebhinnekaan dalam Al-Quran. (Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 12: Larangan Berprasangka Buruk)

Terbentuknya bangsa-bangsa, suku dalam berbagai periode sejarah menurut Wawan Gunawan Abdul Wahid, dkk., bukan untuk meruntuhkan rumah kemanusiaan, dan menyulut konflik, melainkan untuk menghindari hal-hal tersebut.

Kata li ta’arafu dalam ayat tersebut jika dipahami lebih jauh, mengutip pendapat Husein Muhammad, bahwa li ta’aruf  bukan hanya sekedar berkenalan dengan menanyakan alamat, nomor hp, dan nama, melainkan untuk saling memahami tradisi, pemikiran, adat-istiadat, dan hal lain yang berbeda dengan tujuan agar umat muslim lebih bijaksana. Tentulah, jika Allah berkehendak untuk menjadikan satu-homogen, segala apa yang ada di muka bumi ini, niscaya akan Allah samakan semuanya. Akan tetapi, tidak. Sunnatullah yang dirasakan hingga saat ini adalah heterogen, beragam, majemuk.

Karena telah disebutkan bahwa perbedaan dalam kehidupan adalah kehendak Allah, maka tugas manusia sebagai khalifah fi al-ardl  adalah menciptakan kerukunan, terlebih kerukunan umat beragama, salah satunya saling menjaga keamanan dan kenyamanan dalam beribadah dengan menjaga rumah ibadah satu sama lain. (Baca Juga: Manusia itu Hamba yang Merdeka, Begini Penjelasannya dalam Al Quran)

Penjagaan rumah ibadah umat beragama ternyata juga termaktub dalam surat Al-Hajj [22]:40, dimana penjelasan mengenai ayat tersebut, bahwa sesungguhnya dalam tempat ibadah agama terdapat penjagaan Allah terhadapnya, tidak hanya terbatas pada masjid saja. Ada sawami’ (biara), biya’ (gereja), dan shalawat (sinagong) -tempat ibadah umat Yahudi. Seandainya Allah berkehendak untuk merobohkan, maka telah Ia robohkan tempat-tempat ibadah itu. Lagi-lagi, tidak. Allah tidak merobohkan dan merusaknya. (Baca juga: Potret Romantisme Islam dan Kristen dalam Al Quran)

Keragaman terasa pula dengan adanya perbedaan warna kulit, budaya, dan bahasa yang disinggung dalam surat ar-Rum [30]:22. Kemajemukan yang menghadirkan perbedaan semakin menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas apa yang ingin Ia perbuat, dan ciptakan. Selain itu, keragaman juga menjadi bentuk ujian bagi manusia hingga siapa yang paling terlihat bertakwa pada-Nya, menjadikan manusia saling berlomba dalam kebaikan, berinovasi, dan memiliki jiwa kompetitif. Sebagaimana potongan ayat yang sering kali dikutip dari surat  al-Maidah [5] :48; … wa law sya’a Allahu laja’alakum ummatan wahidah, wa lakin liyabluwakum fi maa ataakum , fastabiqu al-khoirot, …., “maka berlombalah dalam berbuat kebajikan.”

Dalam memperlakukan perbedaan yang ada disekitar, juga dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad yang mengajarkan nilai-nilai universal untuk umatnya, yakni perilaku yang berdasarkan pada akhlak Alquran. Nilai-nilai tersebut tidak lain adalah anti-diskriminasi, anti-prasangka, dan toleran terhadap apa saja yang berbeda, baik agama, etnis, ras, atau bahkan perbedaan lainnya. Sehingga sikap yang diajarkan Nabi ini teraplikasikan dengan adanya Piagam Madinah, yang menghimpun kebhinnekaan etnisitas, budaya, dan bahasa.

Singkatnya, jika setiap insan memahami konsep kebhinnekaan dalam Al-Quran dengan memahami, dan menyadari bahwa kebinekaan yang ada adalah  sunnatullah yang tidak seorangpun dapat menolaknya, maka menjaga kerukunan, dan saling toleransi adalah kewajiban. Konsep kebhinnekaan dalam Al-Quran tidak lain untuk ta’aruf, mengakui kekuasaan Allah, dan berlomba dalam kebaikan, serta menjaga ketakwaan pada-Nya.

Wawwahu A’lam Bissowab

*Tulisan ini adalah sebagian bahasan dalam Skripsi yang ditulis penulis dengan bahasa yang lebih dipersingkat dan disederhanakan. “Tafsir Ayat-Ayat Kebhinnekaan (Studi Penafsiran Mufassir Nusantara Terhadap Ayat-Ayat Kebhinnekaan)”

Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

0
tauhid materi dasar
tauhid materi dasar

Tauhid merupakan materi dasar dalam pendidikan. Hal ini karena tanpa mengetahuinya, peserta didik akan memiliki tingkat spiritualitas rendah. Maka, sejak dini peserta didik harus ditanamkan nilai-nilai ketauhidan kepada Allah swt.

Tauhid bermakna mengesakan Tuhan Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tauhid inilah yang berperan penting sebagai pondasi yang mendasari setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan peserta didik. Pesan untuk mentauhidkan-Nya tersirat dalam QS. An-Nahl [16] ayat 1:

اَتٰىٓ اَمْرُ اللّٰهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْهُ ۗسُبْحٰنَهُ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Ketetapan Allah pasti datang. Maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 1

Menurut hadis riwayat Ibnu Abbas dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, saat ayat ini turun dengan redaksi “Ketetapan Allah pasti datang,” para sahabat terkejut. Barulah setelah turun ayat kelanjutannya, “Maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang) nya”. Lalu, para sahabat tenang kembali.

Dalam Zawaid al-Zuhd juga tertera bahwa Abdullah bin Imam Ahmad mencantumkan sebuah atsar dari Ibnu Jarir, Abi Hatim dari Abu Bakar bin Abi Hafs. Abu Bakar menuturkan tatkala ayat turun dengan redaksi, “Ketetapan Allah pasti datang” lantas membuat kaget para sahabat hingga berdiri. Kemudian turunlah ayat selanjutnya, “Maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (kedatangan) nya.” Barulah para sahabat merasa tenang dan duduk kembali.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Muhammad ‘Ali al-Shabuny dalam Shafwah al-Tafasir menjelaskan bahwa Allah swt menceritakan tentang dekatnya masa hari kiamat yang diungkapkan dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja lampau). Ini menunjukkan bahwa hal itu pasti terjadi.

Adapun redaksi fala tasta’jiluh dijelaskan bahwa hal yang dianggap jauh seperti halnya hari kiamat waktunya telah dekat. Maka janganlah mereka meminta lagi agar disegerakan datangnya. Dhamir hu (kata ganti) yang terdapat pada tasta’jiluhu merujuk kepada Allah. Dapat juga ditafsirkan bahwa ia kembali kepada azab, keduanya saling menguatkan.

Terkait dengan ayat ini, al-Dhahhak mengemukakan suatu pendapat yang nyeleneh. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan amrullah adalah hal-hal yang diwajibkan oleh-Nya dan batasan larangan-Nya. Namun, Ibnu Jarir menyanggahnya.

Ia berujar, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang yang meminta agar hal yang sifatnya fardhu dan syariat disegerakan pelaksanaannya sebelum waktunya. Lain halnya dengan azab. Mereka meminta disegerakan azab sebelum tiba waktunya, sebagai ungkapan rasa ketidakpercayaan dan mustahil akan terjadi.”

Mengetahui ada seorang yang meminta agar hal yang fardu dan syariat disegerakan pelaksanaannya sebelum waktu keberadaannya. Lain halnya dengan azab. Mereka meminta agar azab disegerakan sebelum tiba masa turunnya, sebagai ungkapan rasa tidak percaya dan anggapan mustahil akan terjadi.”

Sejalan dengan itu, At-Thantawi dalam At-Tafsirul Wasith menafsirkan ataa dengan qarbun wa duna bi dalilin (dekat dan tanpa dalil). Artinya, ketetapan Allah swt itu dekat dan tanpa tanda-tanda sebab hanya Allah swt yang mengetahui.

Adapun fala tasta’jiluhu dimaknai larangan untuk menyegerakan suatu perkara sebab apa yang mereka minta untuk disegerakan belum tentu pasti terjadi.

Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

Sekilas ayat di atas tidak secara eksplisit menyuratkan adanya perintah untuk mentauhidkan Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Namun, apabila diperhatikan lebih dalam akan terlihat bahwa di dalamnya terdapat perintah untuk mentauhidlkan-Nya. Pada redaksi selanjutnya, subhanahu wa ta’ala ‘amma yusyrikun (Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan).

Satu pesan yang dapat diambil bahwa Allah swt sebagai Tuhan yang patut dan berhak disembah tidaklah sama dengan apa yang dipersekutukan mereka. Materi tauhid merupakan pondasi awal yang harus diajarkan dan ditanamkan sebagai materi dasar untuk pendidikan.

Tanpa ketauhidan, maka semua apa yang kita lakukan bernilai sia-sia atau nihil. Sebab tauhid merupakan puncak dari semua pekerjaan yang kita lakukan tidak lain dan tidak bukan tujuannya hanya Allah semata.

Jika Allah ridha terhadap kita, hidup kita akan mudah dan berkah. Begitu pula dengan peserta didik. Jika semua aktifitas menuntut ilmu diniatkan hanya Allah swt, Insya Allah ilmu yang diperoleh berkah dan manfaat bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. karenanyalah, tauhid memang seharusnya menjadi materi dasar dalam pendidikan. Wallahu a’lam.

Adakah Dalil Nasionalisme? Inilah Dalilnya dalam Al Quran

0
Dalil Nasionalimse
Dalil Nasionalimse credit: freepik.com

Nasionalisme yang secara sederhana berarti kecintaan terhadap tanah air merupakan fitrah dan naluri semua manusia. Setiap manusia dengan mental yang sehat dilahirkan mencintai tanah kelahirannya (QS al-Baqarah [2]: 144). Dengan demikian sebetulnya tidak dibutuhkan dalil nasionalisme, karena Islam adalah agama yang sejalan dengan fitrah (QS al-Rum [30]: 30).

Tetapi merupakan sebuah realita, bahwa ada sebagian manusia yang menyalahi fitrahnya atau berpikiran pendek, dengan mengatakan bahwa tidak ada dalil nasionalisme dan tidak ada tuntunannya dalam agama. Untuk itu melalui tulisan sederhana ini saya ingin mengangkat beberapa teks otoritatif Alquran beserta tafsirnya, yang menunjukkan bahwa dalil nasionalisme itu ada dan betapa pentingnya arti nasionalisme atau kecintaan terhadap tanah air.

Pertama, Q.S al-Qasas ayat 85:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (petunjuk) Alquran benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (Q.S Al-Qasas [28]: 85).

Syeikh Ismail Haqqi, seorang ulama mufasir penulis kitab tafsir Ruhul Bayan menyatakan bahwa ayat ini mengandung petunjuk bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman. Ayat ini menjadi pelipur untuk Nabi saat berhijrah ke Madinah yang pada saat itu masih terus merindukan tanah kelahirannya Makkah, karena itu Allah berjanji kelak akan membawanya kembali ke tanah asal.

Kedua, Q.S al-Baqarah ayat 126 yang merupakan doa Nabi Ibrahim untuk negerinya:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: “Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan yang sementara, kemudian Aku haruskan ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS al-Baqarah [2]: 126).

Dalam kitab Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibn Asyur menyatakan bahwa doa tersebut selain masyhur diucapkan oleh Nabi Ibrahim, juga diucapkan oleh semua nabi untuk negaranya masing-masing. Setiap nabi berdoa agar di negaranya terwujud keadilan, kemakmuran, dan rasa bangga.

(Baca Juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 66: Indonesia Adalah Rumah Kita Bersama)

Ketiga, QS al-Taubah ayat 24:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ.

“Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS al-Taubah [9]: 24).

Frasa “tempat tinggal yang kamu sukai” oleh Ahmad al-Najuli dalam al-Muwathanah fi al-Islam diartikan sebagai tanah air. Dalam hal ini kepentingan mencintai dan menjaga tanah air ditempatkan di atas kepentingan mencintai keluarga, harta-benda, dan seterusnya.

Keempat, Q.S al-Nisa ayat 66:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم

“Sesungguhnya seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Agar membunuh diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. Al-Nisa [4]: 66).

Penulis kitab Tafsir al-Munir, Syeikh Wahbah al-Zuhaily menyatakan, bahwa ayat tersebut menunjukkan betapa besar kecintaan dan keterpautan hati manusia terhadap tanah kelahirannya, terbukti kehilangan atau keluar dari tanah air disejajarkan dalam hal berat dan kesulitannya dengan kehilangan nyawa.

Masih banyak pula ayat-ayat lain yang menyampaikan pesan yang sama, yakni menyejajarkan berat kehilangan tanah air dengan kehilangan nyawa, di antaranya Q.S al-Anfal ayat 30, Q.S al-Baqarah ayat 191, Q.S al-Baqarah ayat 84, Q.S al-Baqarah ayat 85.

Kelima, Q.S al-Taubah ayat 122:

وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke pertempuran). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. Al-Taubah [9]: 122).

Dalam kitab Tafsir al-Wadih karya Syeikh Muhammad Mahmud al-Hijazi dijelaskan bahwa ayat tersebut memberikan petunjuk tentang kewajiban belajar ilmu di samping kewajiban mempertahankan tanah air. Hal ini juga ditegaskan dalam QزS al-Baqarah ayat 246 di mana pembahasan jihad dihubungkan dengan mempertahankan tanah air:

قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا

“Mereka berkata: Mengapa kami tidak berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?”. (QS al-Baqarah [2]: 246).

Demikian beberapa ayat yang memberi pesan tentang betapa pentingnya mencintai dan membela tanah air bagi seorang manusia yang fitrah. Di samping ayat-ayat tersebut, masih banyak sesungguhnya ayat-ayat lainnya yang memberikan pesan yang sama. Pesan yang juga ditemukan dalam banyak hadis Nabi.

Simpulan dari paragraf-paragraf ayat di atas adalah, bahwa nasionalisme yang sebetulnya tidak membutuhkan dalil karena ia sudah menjadi fitrah manusia, ternyata mempunyai landasan yang kuat dalam Alquran. Alquran memang sebuah samudera yang sangat luas dan lagi dalam mengandung banyak petunjuk, termasuk dalam persoalan ketatanegaraan, tinggal bagaimana kita mau menggali setitik tetesannya. Mengatakan nasionalisme tidak ada dalilnya hanya berdasarkan membaca terjemah satu atau dua ayat Alquran adalah suatu ungkapan sembrono dan menyesatkan dari orang yang masih perlu banyak belajar.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 222: Benarkah Makna Haid itu Kotoran?

0
Makna Haid
Makna Haid credit: freepik.com

Dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 222, haid atau masa haid disebut dengan adza. Pertanyaannya benarkah makna haid itu kotoran? Artikel ini akan menerangkan seputar makna dari kata haid dalam Alquran. Allah Swt berfirman:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ  قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah ‘adza’.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.

Sebagian mufasir memaknai kata adza dengan qadzr yang artinya kotoran. Jika dikroscek di Lisan al-‘Arab Ibn Mandhur, qadzr berarti kebalikan dari bersih, yakni kotor. Di kamus Al Munawwir juga sama, qadzr diterjemahkan dengan kotoran. Terjemah ini tampaknya yang dipilih oleh kemenag dalam karya terjemahan Alqurannya, bahkan di edisi terbarunya, edisi penyempurnaan 2019 masih tetap, tidak berubah, yaitu ‘kotoran’.

(Baca Juga:Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 222: Tuntunan Al-Quran dalam Memperlakukan Perempuan Haid)

Sementara itu, fitrah manusia cenderung pada bersih, sama sekali tidak menyukai kotor. Kotor adalah keadaan yang tidak rapi, tidak bersih yang membuat orang membenci dan tidak menyukainya. Kaidah umum ini semakin kuat mengingat ada hadis riwayat at-Tirmidzi no 2799 yang berbunyi, Allah itu bersih, dan menyukai kebersihan. Oke, final sudah. Allah menyukai kebersihan yang berarti Ia tidak menyukai kebalikannya, yaitu kotor. Jika Allah saja membenci sesuatu yang kotor, kenapa makhluk ciptaannya tidak? maka harus benci juga.

Nah, ketika keadaan haid itu disebut kotor, maka melalui alur pemikiran di atas, dapat dikatakan bahwa Allah membenci perempuan yang haid, karena keadaannya sedang kotor. Kesimpulan seperti ini membuat manusia di sekitarnya berpikir hal yang sama, mengikuti ‘perintah’ Allah. Oleh karena kotor, maka perempuan haid harus dijauhi dan dihindari. Sampai di sini, tidak heran ketika para laki-laki diperintah untuk menjauhi dan menghindari perempuan haid, karena mereka sedang dalam keadaan kotor. 

Kesimpulan dan pemahaman seperti di atas berpangkal pada makna adza. Pemaknaan adza dengan ‘kotoran’ akan membawa nuansa sensitifitas negatif yang sangat tinggi bagi perempuan. Padahal haid atau tidaknya seorang perempuan adalah ketentuan dari Allah, kalaupun perempuan mencoba mengelaknya, maka akan berakibat fatal pada kesehatan fisik dan psikisnya.

Benarkah makna adza adalah kotoran?

Adza dalam Lisan Al-‘Arab tidak dipadankan dengan satu term yang lain. Di situ adza didefinisikan sebagai setiap sesuatu yang menyebabkan sakit, susah, rugi, bahaya atau semacamnya.

Definisi di atas menginformasikan bahwa kata adza memang tidak menunjuk pada satu makna tertentu. Di situ hanya disampaikan tentang sebuah kriteria, bukan kata benda, kata kerja atau kita sifat tertentu. Pengertian yang seperti ini akan membawa banyak tafsiran nantinya, terlebih ketika adza ada dalam ayat Alquran.

Terbukti dengan perbedaan penafsiran tentang adza dalam surat Al-Baqarah ayat 222. Namun agak unik juga ketika hanya di surat Al-Baqah ayat 222 saja makna adza menjadi sangat beragam hingga menimbulkan perdebatan. Apa karena menyangkut tentang haid, atau karena bersinggungan dengan perempuan, atau karena ada cerita kelam sebelumnya yang berkaitan dengan perempuan yang haid?  

Kita lihat mulai dari at-Thabari. Sebagai mufassir senior, at-Thabari memberikan alternatif pilihan riwayat dalam menafsirkan adza. Di antara riwayat itu mengatakan bahwa adza adalah Ma Yu’dziy bihi min Makruh fihi (sesuatu yang menyakiti karena ada sesuatu yang tidak disenangi di dalamnya), qadzr (kotoran), dam (darah).

Tidak terlalu berbeda dengan seniornya, al-Qurthubi, mufassir yang tafsirnya cenderung fiqhiy ini menafsirkan adza tidak dengan satu tafsir. Ia menafsirkan adza dengan sesuatu yang menyebabkan perempuan menjadi sakit atau terganggu, yaitu darah haid, juga dengan qadzr dan makruh (sesuatu yang tidak disenangi)

Alternatif pemaknaan atas kata adza juga disampaikan oleh mufassir abad modern antara lain M. Ali Ash Shabuniy dan Wahbah Az Zuhaily. Hanya saja makna qadzr (kotoran) dijadikan sebagai pilihan makna pertama, layaknya sinonim dan makna yang paling dekat dengan adza. Setelah itu baru mereka menjelaskan lebih detail.

Sedangkan dalam koteks terjemah dan tafsir Indonesia, sebut saja Terjemah Alquran Kemenag dan tafsirnya, terjemah adza melahirkan polemik tersendiri.

Melalui Fathur Rahman Li Thalibi Ay al-Qur’an, ditemukan bahwa dalam Alquran, kata adza dan derivasinya ada di 23 tempat. di surat Al Ahzab [33]: 48, 53, 53, 57, 58, 59, 69; surat Ibrahim [12]: 14; surat As-Shaf [61]: 5; surat At-Taubah [9]: 61; surat An-Nisa’ [4]: 16, 102; surat Ali Imran[3]: 111, 186, 195; surat Al-An’am [6]: 34; surat Al-‘Ankabut [29]: 10; surat Al-A’raf [7]: 129; surat Al-Baqarah [2]: 196, 222, 262, 263, 264.

Dalam terjemah Alquran Kemenag, arti kata adza di 23 tempat tersebut terklasifikasi menjadi enam, yaitu menyakiti atau disakiti, mengganggu atau gangguan, hukuman, penganiayaan, kesusahan dan kotoran. Satu-satunya yang diterjemahkan dengan kotoran adalah surat Al Baqarah ayat 222. Meskipun demikian, kalau kita menelusuri dalam tafsirnya, akan didapati ketidak samaan dengan bahasa terjemahnya. Dalam tafsir Kemenag disampaikan bahwa haid itu adalah sesuatu, yakni darah yang keluar dari rahim wanita, yang kotor karena aromanya tidak sedap, tidak menyenangkan untuk dilihat, dan menimbulkan rasa sakit pada diri wanita.

Jika dalam terjemah diartikan dengan ‘kotoran’, maka itu menunjukkan kata benda, sebutan untuk suatu benda yang tidak disenangi. Sedang dalam tafsirnya, kotor dijadikan sebagai sifat dari darah, yang berarti haid itu darah yang kotor. ‘Kotoran’ dan ‘darah yang kotor’ sangat jelas merupakan dua hal yang berbeda makna dan maksudnya.

Meski sesama tafsir yang menggunanakan bahasa Indonesia, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah mengalih bahasakan adza dengan ‘gangguan’, bukan dengan ‘kotoran’.  Dua terjemahan yang berbeda ini membawa konsekuensi dan pemahaman yang berbeda pula, paling tidak ketika melabeli perempuan yang sedang haid.

Makna ‘kotoran’ membawa pada pengertian bahwa perempuan yang sedang haid berarti sedang dalam keadaan kotor, karena kotor maka harus dijauhi, kalau tidak, maka akan terkena kotor juga. Sedang makna ‘gangguan’ membawa konsekuensi bahwa perempuan yang sedang haid itu sedang dalam terganggu kesehatannya, atau bisa dikatakan sedang sakit. Perintah untuk menjauhi mereka itupun bukan karena kawatir ketularan terganggu atau ikutan sakit, tetapi lebih kepada meringkankan sakitnya dan tidak menambah ketergangguannya.

Jadi, silahkan anda tentukan sendiri terjemahan yang akan anda gunakan.

Wallahu A’lam