Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Pentingnya Kurikulum Pendidikan Multikultural Menurut Al Quran

Pentingnya Kurikulum Pendidikan Multikultural Menurut Al Quran

Multikultural bermakna beraneka ragam kebudayaan, ras, suku, bangsa, dan agama. Sedangkan jika dikaitkan dengan konteks pendidikan, maka pendidikan multikultural adalah usaha sadar dan terencana untuk membina dan mengenalkan perbedaan satu sama lain agar tercipta hubungan yang harmonis dan damai.

Maka pada artikel ini memaparkan arti pentingnya kurikulum pendidikan multikultural menurut Al Quran. Sebagaimana Pendidikan multikultural sendiri telah disitir oleh Allah swt dalam firman-Nya Q.S. al-Hujurat [49]: 13,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S. al-Hujurat [49]: 13)


Baca juga: 4 Bentuk Kurikulum Pendidikan Islam


Tafsir Surat al-Hujurat Ayat 13

Al-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul memaparkan asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan peristiwa naiknya Bilak bin Rabbah ke atas Ka’bah untuk mengumandangan adzan. Maka sebagian penduduk Mekah berkata, “ahadzal ba’dul aswadi yuadzinu ‘ala dzaharal ka’bati (Budak hitam inikah yang di atas Ka’bah?) (dalam riwayat lain, di kitab Tafsir al-Baghawy al-Harits bin Hisyam mengejek dengan berkata, “Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan”?).

Maka turunlah ayat ini sebagai bentuk penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi SARA, yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abi Mulaikah.

Allah swt menceritakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istri yaitu Adam beserta Hawa, kemudian Dia menjadikan mereka berbangsa-bangsa. Pendidikan multikultural dalam ayat ini terkandung dalam sebuah redaksi wa ja’alnakum syu’uban wa qabaaila li ta’arafu.

Ibnu Katsir menafsirkan kata sya’bun dengan a’ammu min al-qabaail (lebih besar daripada kabilah), kabilah sendiri menderivasi makna seperti fasha-il (puak), asya-ir (bani), ‘ama-ir, afkhad dan sebagainya.

Dikatakan, yang dimaksud dengan syu’ub adalah buthun al-‘ajam (kabilah non Arab), sedangkan qabaa-il ialah buthun al-‘arab (khusus untuk bangsa Arab), seperti halnya kabilah Bani Israil disebut Asbat. Keterangan terkait hal ini telah detail diterangkan dalam mukaddimah yang terpisah dari bagian dalam kitab al-Asybah karya Umar bin Abdul Barr, juga dalam mukaddimah kitab yang berjudul al-Qashdu wa al-Umam fi Ma’rifati Ansab al-‘Arab wa al-‘Ajam.

Sejatinya semua manusia diciptakan dari bahan yang sama yakni tanah liat. Hanya saja yang membedakan di antara mereka adalah perkara agama, dalam artian tingkat ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah pada ayat sebelumnya yang berisi larangan menggunjing dan menghina sesama.

Lantas Allah swt berfirman me-warning mereka bahwa mereka mempunyai harkat dan martabat yang sama yang membedakan hanyalah ketakawaannya sebagaimana redaksi inna akramakum ‘indallahi ‘atqaakum. Rasulullah saw juga bersabda,

أَخْرَجَ مُسْلِمَ وَاِبْنُ مَاجَهَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Imam Muslim dan Ibn Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Allah tidak memandang kepada penampilan dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian”


Baca juga: Kunci Kemajuan Pendidikan Islam Terletak pada Learning by Doing


Pentingnya Pendidikan Multikultural dalam Kurikulum Pendidikan Islam

Pengarusutamaan pendidikan mulikultural tersitir dalam redaksi wa ja’alnakum syu’uban wa qabaaila li ta’arafu. Ia meniscayakan pendidikan yang berwajah egaliter bagi semua manusia. Multikultural sendiri berarti beraneka ragam kebudayaan, ras, suku, bangsa, dan agama. Secara sederhana diartikan sebagai pengakuan atas pluralisme yang terjadi. Pendidikan multikultural mengharuskan untuk saling mengenal satu sama lain tentang berbagai macam status sosial agar tercipta hidup rukun dan harmonis.

Karenanya, redaksi li ta’arafu dalam ayat tersebut menggunakan bentuk wazan tafa’ala yang berfungsi li al-musyarakati baina itsnaini fa aktsara (saling bekerjasama satu sama lain). Sehingga untuk dapat saling mengenal, ia membutuhkan dua subjek sebagai perwujudan dari saling mengenal.


Baca juga: Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan


Pesan ayat di atas sangat universal, ia menghapus kasta sosial sebagaimana dulu terjadi dalam masyarakat jahiliyah, menegaskan kembali bahwa status sosial, harta, tahta, pangkat, kedudukan manusia bukan penentu kemuliaan seseorang melainkan derajat ketakwaannya.

Dan ketakwaaan itu tidak bisa dibeli atau bahkan disogok dengan mengutamakan status sosial di atas, tetapi dengan amal shalih. Sayang, belakangan ini banyak yang ingin mengembalikan “kasta” tersebut.

Pendidikan multikultural tidak dimaksudkan untuk saling meneror, mencurigai, memaksa atau membunuh. Dengan saling mengenal, kita dapat meminimalisir perbedaan dan mempertajam persamaan sehingga tercipta peradaban modern yang integratif. Dengan mengetahui perbedaan di antara kita, kita akan lebih toleran, pluralis, dan moderat, kita mendapat kesempatan belajar satu sama lain. Kesalahpahaman seringkali terjadi sebab belum saling mengenal dan bertegur sapa satu dengan yang lain. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Surah An-Naml ayat 18-19

0
Tafsir Surah An-Naml ayat 18-19 mengisahkan percakapan Nabi Sulaiman dengan Raja Semut.  Menurut Qatadah dalam Tafsir Surah An-Naml ayat 18-19 ini terjadi ketika Sulaiman...