Beranda Tafsir Tematik Tafsir Isyari Tafsir Isyari Lafaz Basmalah Menurut KH. Achmad Asrori al-Ishaqi

Tafsir Isyari Lafaz Basmalah Menurut KH. Achmad Asrori al-Ishaqi

Sebagai salah satu jenis pendekatan dalam menguak makna Alquran, pendekatan sufistik saat ini semakin banyak digemari oleh para sarjana dan peneliti Alquran. Meskipun pada awal kemunculannya terjadi pro dan kontra, tafsir sufistik, atau dalam istilah lain disebut tafsir isyari, diterima oleh mayoritas ulama dalam rangka menyingkap makna-makna tersirat dari ayat Alquran, dengan beberapa syarat dan ketentuan. Pendekatan ini biasanya dipakai oleh para sarjana, atau para ulama yang konsen di bidang ilmu tasawuf dan kalangan penganut tarekat, baik sejak masa klasik hingga masa modern kontemporer.

Di Indonesia, pendekatan ini juga bisa dibilang cukup populer digunakan oleh para ulama atau kiai pengasuh pesantren yang notabene nya memiliki backround tasawuf dan tarekat. Di antara kiai yang menggunakan pendekatan sufistik atau isyari adalah KH. Achmad Asrori al-Ishaqi, pendiri Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, Kedinding, Surabaya.  Kiai pesantren yang merupakan salah satu mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) ini menuangkan banyak gagasan dan penafsiran sufistik atas ayat-ayat Alquran dalam karyanya yang berjudul, “Al-Muntakhabat fi Rabitah al-Qalbiyyah wa Silah al-Ruhiyyah”. al-Muntakhabat adalah karya terakhir yang berhasil dirampungkan oleh Kiai Asrori beberapa bulan menjelang wafatnya pada bulan Agustus 2009.

Makna Isyari dalam Lafaz Basmalah

Sebagai seorang Kiai sekaligus mursyid tarekat, tentu nuansa-nuansa tasawuf sangat kental dalam kitab yang terbit dalam 5 volume ini. Di antara pemaknaan sufistik atau isyari yang disampaikan oleh Kiai Asrori dalam kitab ini adalah berkenaan dengan lafaz ‘basmalah’. Pemaknaan isyari atas lafaz ‘basmalah’ ini beliau uraikan dalam catatan kaki pertama kitab al-Muntakhabat, tepatnya di halaman mukadimah. Menurut beliau, lafaz basmalah setidaknya memiliki atau menyimpan 3 makna tersirat (isyari). Penulis berani menggunakan diksi ‘menurut beliau’, karena dalam penyampaian makna ini beliau memulai dengan diksi “qultu” (menurut saya). Kembali ke uraian kiai Asrori tentang basmalah, bahwa makna isyari dari basmalah yang pertama adalah tentang eksistensi (wujud) Allah ta’ala, sedangkan yang kedua adalah tentang eksistensi (wujud) Nabi Muhammad saw., dan yang ketiga adalah tentang eksistensi (wujud) alam semesta.

Eksistensi Allah, Nabi Muhammad, dan Alam Semesta dalam Basmalah

Setelah menjelaskan pembagian 3 makna isyari dari lafaz basmalah, Kiai Asrori kemudian memberikan penjelasan dari ketiga pembagian itu secara lebih luas. Makna pertama terambil dari lafaz jalalah (بِسْمِ اللّٰهِ). Kiai Asrori menjelaskan bahwa lafaz jalalah adalah nama (‘alam) bagi Zat yang ‘wajib al-wujud’, dengan demikian lalaz jalalah adalah simbol atau isarat atas eksistensi (wujud) Allah swt.

Sedangkan makna kedua terambil dari kata “al-rahman” (الرَّحْمٰنِ ). Makna dari kata ini, menurut Kiai Asrori adalah, “al-mun’im bi jala’il al-ni’am” (Zat yang memberi kenikmatan-kenikmatan yang agung), dan nikmat yang paling agung bagi umat manusia dan alam semesta adalah diutusnya Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, kata “al-rahman” secara isyari menunjukkan eksistensi (wujud) dari Nabi Muhammad saw.

Baca juga: Penjelasan Makna Kata dalam Kalimat Basmalah

Makna yang ketiga terambil dari kata “al-rahim” (الرَّحِيْمِ). Definisi “al-rahim” adalah, “al-mun’im bi daqa’iq al-ni’am” (Zat yang memberi kenikmatan-kenikmatan yang ‘kecil’). Eksistensi (wujud) alam semesta pada hakikatnya adalah kecil jika dibandingkan dengan eksistensi (wujud) Nabi saw., meskipun dalam realitas ia begitu besar dan luas. Nabi saw. adalah asal, pangkal, dasar, dan sumber (al-aslu) sedangkan alam semesta adalah cabang atau bagian (al-far’u). Karena adanya alam semesta ini adalah berawal dari adanya Nabi saw.

Pada muaranya, Allah adalah Zat pemberi nikmat, dan Nabi Muhammad saw. adalah nikmat terbesar bagi umat manusia dan penghuni alam semesta. Pemaknaan ini juga tersirat dalam surah Alanbiya’ ayat 107:

 وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Makna al-Rahman dan al-Rahim dalam Pandangan para Ulama

Jika kita membaca litaratur-litaratur tafsir klasik, kita akan mendapati banyak pemaknaan atas basmalah yang dilakukan oleh para ulama. Pemaknaan yang berbeda dari mereka atas kata al-rahman dan al-rahim memang beragam. Di antara makna yang disampaikan oleh para ulama adalah, misalnya, bahwa al-rahman adalah rahmat untuk semua umat manusia di dunia, sedangkan al-rahim hanya untuk orang mukmin kelak di akhirat. Ada juga yang mengatakan bahwa dua kata itu maknanya sama, pengulangan hanya untuk mengafirmasi (tawkid) saja.

Salah satu pemaknaan yang menarik juga dilakukan oleh syaikh Al-Bakri al-Dimyati dalam I’anah al-Talibin, bahwa makna al-rahman adalah “al-mun’im bi jala’il al-ni’am”. Beliau memaknai kata “jala’il” dengan “al-usul”, artinya kenikmatan yang bersifat transenden, seperti nikman iman, sehat, rejeki, akal, penglihatanm dan pendengaran. Sedangkan makna al-rahim adalah “al-mun’im bi daqa’iq al-ni’am”. Beliau memaknai kata “daqa’iq” dengan “al-furu’”, artinya kenikmatan yang bersifat ‘cabang’, seperti, misalnya kecantikan, dan kekayaan.

Baca juga: Penulis Satu-Satunya Tafsir Isyari Nusantara: Kiai Sholeh Darat Semarang

Dari beragam pemaknaan yang disampaikan oleh para ulama di atas, pemaknaan isyari yang disampaikan oleh Kiai Asrori terlihat berbeda dan ini yang menjadikan penulis tertarik untuk mengulasnya. Pemaknaan Kiai Asrori memiliki kemiripan dengan apa yang disampaikan syaikh al-Bakri al-Dimyati, terkait makna al-aslu dan al-far’u, akan tetapi dalam implementasinya tetap saja berbeda. Jika syaikh al-Bakri memaknai secara eksoteris, Kiai Asrori memaknai secara esoteris. Pemaknaan esoteris yang disampaikan Kiai Asrori ini tentu sesuai dengan kepakaran dan kecenderungan beliau dalam bidang tasawuf dan tarekat. Pemaknaan ini sebenarnya berkaitan erat dengan konsep Nur Muhammad, yang memang menjadi bahan kajian pertama dalam kitab al-Muntakhabat, bahwa alam semesta, bahkan semua makhluk adalah manifestasi dari pancaran Nur Muhammad saw.

Kusroni
Dosen STAI Al Fithrah Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...