Membaca The Odyssey sebagai Ayat: Alegori Perjalanan Pulang Odysseus dan Hamba Allah

    0
    27
    Membaca The Odyssey sebagai Ayat: Alegori Perjalanan Pulang Odysseus dan Hamba Allah
    Membaca The Odyssey sebagai Ayat: Alegori Perjalanan Pulang Odysseus dan Hamba Allah

    Seorang Muslim memandang alam semesta sebagai hamparan ayat-ayat Allah. Al-Qur’an tidak hanya mengarahkan pandangan kepada wahyu yang tertulis (qauliyyah), tetapi juga kepada tanda-tanda yang terhampar di langit, bumi, sejarah, dan pengalaman manusia (kauniyyah). Karena itu, karya sastra, film, mitologi, bahkan kebudayaan yang lahir dari bangsa-bangsa lain dapat menjadi ruang kontemplasi selama dibaca dengan panduan tauhid. Kita tidak mengambil akidah dari Homer, Shakespeare, atau Tolstoy, tetapi kita dapat menemukan bagaimana fitrah manusia bergulat dengan harapan, kehilangan, kesetiaan, dan kerinduan untuk pulang. Dalam pandangan Al-Qur’an, seluruh realitas adalah kemungkinan untuk membaca tanda. Sebab Allah berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri…” (QS. Fuṣṣilat [41]: 53). Seorang mukmin tidak berhenti pada karya, tetapi menembusnya menuju Sang Pencipta makna.

    Baca juga: Memetik Replika Kehidupan dari Film Viral Squid Game

    Dari Medan Perang ke Medan Batin: Kuda Troya dan Pin Kepercayaan

    Film The Odyssey (2026) yang disutradarai oleh Christopher Nolan, diadaptasi dari epos karya Homer, menghadirkan perjalanan Odysseus yang berusaha kembali ke Ithaca setelah kemenangan panjang di Troya. Pada pandangan pertama, kisah ini tampak sebagai cerita kepahlawanan. Namun semakin jauh perjalanan berlangsung, semakin tampak bahwa inti kisah bukanlah kemenangan perang, melainkan perjuangan untuk pulang. Perang Troya sendiri menghadirkan ironi yang menarik: bertahun-tahun pasukan Yunani gagal menembus benteng Troya yang kokoh, hingga akhirnya Odysseus melahirkan strategi Kuda Troya—kemenangan tidak diraih dengan menghancurkan benteng dari luar, tetapi dengan membuka pintu dari dalam. Secara simbolik, kisah ini menyampaikan bahwa kemenangan terbesar sering kali dimulai dari ruang batin.

    Perjalanan batin Odysseus terekam sempurna dengan simbol pin Athena pemberian Penelope, istrinya. Pin yang senantiasa dibawa Odysseus sepanjang perjalanan dapat dibaca sebagai simbol kepercayaan dan amanah. Odysseus berangkat menuju medan perang yang penuh ketidakpastian. Tidak ada jaminan ia akan kembali hidup; yang ada hanyalah keyakinan bahwa ia harus menjaga kehormatan, kesetiaan, dan amanah yang ditinggalkan di rumah. Dalam pembacaan seorang Muslim, simbol ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya sesuatu yang diucapkan, tetapi sesuatu yang dijaga sepanjang perjalanan hidup. Sebagaimana seorang musafir menjaga bekalnya, demikian pula seorang mukmin menjaga keimanannya di tengah godaan zaman.

    Baca juga: Q.S. Albaqarah 204-206: Potret Hipokrit dan Relevansinya dengan Kekuasaan

    Calypso, Tawakal, dan Kepulangan Sejati

    Puncak pergulatan batin Odysseus terjadi ketika ia berhadapan dengan Calypso. Kepadanya, Calypso berkata, “You’re a man who needs to control his fate, but you cannot control this.” Kalimat ini menyentuh salah satu ilusi terbesar manusia: keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan oleh kecerdasan, strategi, atau kekuatan. Odysseus memang berhasil menaklukkan Troya melalui kecerdikannya, tetapi ia tidak mampu mempercepat kepulangannya. Ada wilayah kehidupan yang berada di luar kuasa manusia. Dalam Islam, kesadaran inilah yang melahirkan tawakal, yaitu mengerahkan ikhtiar tanpa mengklaim kendali atas hasil akhirnya.

    Dalam kisah The Odyssey, salah satu ujian paling lama yang dihadapi Odysseus adalah negeri para pemakan teratai (Lotus-Eaters). Bagi siapa pun yang memakan buah atau bunga teratai itu, lenyaplah hasrat untuk pulang. Mereka larut dalam euforia sesaat, lupa pada Ithaca, lupa pada keluarga, lupa pada tujuan. Teratai tidak mematikan, tetapi ia mematikan kesadaran akan kepulangan. Dalam pembacaan seorang Muslim, teratai itu adalah metafora tentang dunia yang memabukkan—kenikmatan yang membuat manusia terperangkap pada pesonanya dan melupakan jalan kembali kepada Allah. Dunia memang indah, tetapi ia bukan tujuan akhir. Ia hanyalah taman persinggahan bagi para musafir. Allah mengingatkan, “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan” (QS. al-Ḥadīd [57]: 20). Maka waspadalah terhadap segala bentuk “teratai” di zaman ini: harta, jabatan, hiburan, atau bahkan kesibukan yang halal sekalipun—jika semuanya membuat kita lupa bahwa kita sedang dalam perjalanan pulang.

    Pada akhirnya, setiap manusia memiliki tempat pulang. Ada yang pulang kepada rumahnya, ada yang pulang kepada keluarganya, tetapi seluruh manusia akan berakhir pada satu kepulangan yang sama: kembali kepada Allah SWT. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan, “Sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali” (QS. an-Najm [53]: 42). Mungkin karena itu kisah Odysseus terus hidup selama ribuan tahun. Bukan karena perang Troya, bukan pula karena Kuda Troya, melainkan karena ia berbicara tentang kerinduan terdalam setiap manusia: menemukan jalan pulang. Bagi seorang Muslim, jalan pulang itu bukan menuju Ithaca, melainkan menuju ridha Allah. Dan semoga ketika perjalanan itu usai, kita tidak perlu mengucapkan penyesalan seperti Odysseus tentang janji-janji yang gagal ditepati, tetapi dapat kembali dengan membawa iman yang tetap terjaga hingga akhir.

    Baca juga: Antara Impian dan Keluarga: Refleksi Qur’ani Film “Home Sweet Loan”

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini