Membincang Ekosistem Tafsir Digital: Dialog atas Tantangan Media Keislaman di Era AI

0
26
Membincang Ekosistem Tafsir Digital: Dialog atas Tantangan Media Keislaman di Era AI
Membincang Ekosistem Tafsir Digital: Dialog atas Tantangan Media Keislaman di Era AI

Tangerang Selatan — Di tengah gempuran perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pergeseran tren publik, media keislaman berbasis digital menghadapi tantangan bersama seperti rendahnya pembaca hingga biasnya otoritas keagamaan.

Merespons dinamika tersebut, Tafsiralquran.id bekerja sama dengan CRIS Foundation menggelar sesi “Ngopi Bareng Admin Media Keislaman” sebagai bagian dari rangkaian Rapat Kerja Tafsiralquran.id dan Wisata Literasi ke-7. Kegiatan bertema “Creating a Digital Tafsir Ecosystem: Menguatkan Peran Tafsiralquran.id dalam Ekosistem Literasi Keislaman Indonesia” ini berlangsung hangat pada Sabtu malam (1/8/2026) di Kafe Afkar, Ciputat.

Acara ini menghadirkan dua narasumber kunci media keislaman digital, yakni Abdul Karim Munthe (El-Bukhori Institute/Bincang Syariah) dan Mabda Dzikara (Sanad Media), serta dihadiri oleh mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan puluhan aktivis media keislaman.

Baca juga: Tafsiralquran.id Raih Penghargaan dari AIAT sebagai Website Peneroka Kajian Al-Qur’an dan Tafsir

Tantangan Konsistensi dan Kaderisasi Mufasir Muda

Dalam pemaparannya, Abdul Karim Munthe menggarisbawahi pentingnya merawat tradisi literasi keislaman yang dipelopori ulama-ulama besar Indonesia seperti Prof. Quraish Shihab, Buya Hamka, dan KH. Bisri Mustofa. Menurutnya, kerja pengelolaan media keislaman saat ini adalah bagian dari ijtihad jama’i untuk mengantarkan karya keilmuan ulama agar berdampak luas.

“Kerja literasi keislaman di media digital ini sesungguhnya adalah bentuk penyiapan kaderisasi mufasir muda dan bentuk khidmah keilmuan. Kita adalah thalib (pembelajar) yang bertugas menyambungkan karya ulama kepada publik,” ujar Karim.

Karim juga menyoroti fenomena pasca-pandemi Covid-19 dan maraknya AI yang berdampak pada menurunnya pembaca website keislaman secara umum. Kendati demikian, ia mengingatkan agar para pengelola media tidak terjebak semata pada kejaran viewers.

“Jumlah pembaca tidak selalu berbanding lurus dengan pengaruh. Data menunjukkan pembaca media seperti Tafsiralquran.id mayoritas berasal dari kalangan akademisi. Tantangan terbesar kita hari ini adalah konsistensi dan istiqomah. Naik-turunnya performa media adalah hal wajar sebagai bahan refleksi,” tambahnya.

Baca juga: Kritik atas Integrasi-Interkoneksi dan Wajah Baru Studi Tafsir

Merekonstruksi Otoritas Keagamaan di Era Gen Z

Sementara itu, Mabda Dzikara dari Sanad Media menekankan pentingnya menjaga otoritas keilmuan agama di ruang digital melalui ekosistem kolaboratif multi-platform (Instagram, TikTok, dan YouTube).

“Keresahan awal hadirnya Sanad Media adalah pergeseran otoritas keilmuan di ruang publik. Kami berupaya menghadirkan para masyayikh dan alumni lembaga keilmuan otoritatif seperti Al-Azhar untuk menjaga sanad dan kualitas keilmuan tersebut,” terang Mabda.

Ia menambahkan bahwa tantangan media keislaman saat ini bukan hanya merumuskan narasi substantif, tetapi juga mengemasnya dalam sajian visual yang menarik bagi Generasi Z.

Baca juga: Hermeneutika Kecurigaan Terhadap Kekuasaan dalam QS. Al-Mujadalah [58]: 11

Membumikan Agama dan Membangun Konsorsium Media Keislaman

Sesi diskusi berlangsung interaktif ketika salah satu peserta melempar kritikan mengenai kecenderungan media keislaman saat ini yang dinilai kurang kritis, normatif dan belum sepenuhnya menyentuh problem riil masyarakat.

Merespons hal tersebut, para pemateri sepakat bahwa media keislaman perlu adaptif. Media Kesilaman diharap tetap memiliki kekhasan (branding) yang spesifik dan tajam, namun juga kehadiran media di ruang publik dituntut mampu membumikan metodologi keilmuan Islam (seperti ushul fiqh dan balaghah) dengan bahasa yang mudah dicerna masyarakat luas tanpa mengorbankan bobot referensi.

Sebagai penutup, Najih Arromadloni, Founder CRIS Foundation sekaligus Penanggung Jawab Tafsiralquran.id menekankan pentingnya konsolidasi berkelanjutan antar-media keislaman melalui pembentukan konsorsium.

“Inovasi adalah harga mati. Ketika tren media cepat berubah, kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Forum seperti ini harus dirutinkan untuk membentuk Konsorsium Media Keislaman agar kita bisa bersama-sama merebut dan mewarnai wacana keagamaan di ruang publik,” pungkas Gus Najih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini