Beranda Khazanah Al-Quran Al-Fatihah dalam Pandangan Arthur Jeffery, Orientalis Asal Australia

Al-Fatihah dalam Pandangan Arthur Jeffery, Orientalis Asal Australia

Arthur Jeffery, seorang orientalis asal Australia, dalam karyanya berjudul A Variant Text of The Fatihah, dia menyampaikan kesimpulan hasil analisanya bahwa surat al-Fatihah bukanlah bagian intergral dari surat-surat al-Qur’an, melainkan hanya sekedar rangkain doa pengantar saja sebelum membaca al-Qur’an.

Alasan Jeffery, karena surat al-Fatihah tidak tercantum dalam mushaf Ibn Mas’ud. Selain itu juga dalam karyanya yang berjudul Material for the History of the Text of the Qur’an, disana Jeffery menunjukan bahwa ada beberapa tulisan dan bacaan yang terdapat pada mushaf Ibn Mas’ud dengan Mushaf Utsmani (al-Qur’an). Sebelum menuju pembahasan mengenai posisi al-Fatihah dalam al-Qur’an menurut Arthur Jeffery, alangkah baik kita paparkan secara ringkas biografi dari Arthur Jeffery.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Tiba Ramadhan, Ini Hukum yang Belum Bayar Utang Puasa

Biografi Singkat Arthur Jeffery

Dalam buku Historical Data The Union Theological Seminary Alumni Directory 1836-1958, bahwa Arthur Jeffery, lahir 18 Oktober 1892 di Melbroune (Australia) dan meninggal 2 Agustus 1959 di South Milford (Nova Scotia, Canada). Karir akademinya, S1 (1918) di University of Melbourne, S2 (1920) di Melbourne College of Divinity dan S3 di University of Edinburgh. Studi akademisnya ini pernah tertunda karena perang Dunia Pertama. Lalu ia pergi ke India dan mengajar di Mardras Christian College sambil belajar beberapa bahasa India. Di sana ia mengembangkan beasiswa Alquran. Kepiawiannya dalam berkomunikasi bahasa Arab dan kekuatannya dalam berkhotbah, menurut Cragg, Jeffery hampir tidak memiliki orang yang sebanding dengannya.

Kemudian pada tahun 1921 Charles R. Watson direktur Universitas Amerika di Kairo (Mesir) merekrut Jeffery untuk bergabung di School of Oriental Studies (SOS). Di lembaga ini banyak berkumpul para misionaris bertaraf internasional seperti Earl E. Elder, William Henry Temple Graidner dan Samuel Marinus Zwemer, pendiri Konferensi Umum Misionaris Kristen sekaligus pendiri jurnal The Muslim World. Selanjutnya, dia menjadi seorang professor bahasa semit di Universitas Columbia sejak 1938 hingga meninggalnya.

Baca juga: Ramadhan sebagai Bulan Pewahyuan Al-Qur’an Perspektif Ibnu Ishaq

Pandangan Arthur Jeffry Mengenai Surat al-Fatihah

Surat al-Fatihah, sebagimana yang telah disebutkan penulis diatas, menurut Jeffery bukan bagian dari surat yang ada didalam Qur’an (it was not originally part of the text). Akan tetapi al-Fatihah hanya sebatas susunan doa Fattihah ini hanyalah merupakan susunan doa (prayer composed) sebagaimana buku suci lainnya dalam agama-agama di Timur Dekat.

Argumentasi Jeffery diatas selain menyadarkan pendapat sesama tokoh orientalis, yaitu Theodor Nöldek, dan dia juga menyandarkan pemikiran ulama Islam, yaitu Abu Bakar al-Asham yang dikutip oleh ar-Razi. Hanya saja penulis tidak menemukan apa yang Jeffry kemukakan dalam kitab Mafatih al-Ghaib tersebut sebagaimana dia sebutkan. Dengan demikian, maka Jeffery mengutip pendapat yang sangat marginal untuk menjustifikasi pendapatnya, padahal ar-Razi sendiri mengakui bahwa al-Fatihah adalah bagian dari Al-Qur’an. Menurut ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib, bahwa nama lain dari al-Fatihah adalah al-Asas karena salah satu alasannya, karena al-Fatihah merupakan surat pertama dan juga surat pembuka dalam al-Qur’an.

Tetapi dalam Kitab Gharaib al-Qur’an wa Gharaib al-Furqan disana ditemukan redaksi yag apa dimaksudkan oleh Jeffery Memang al-A’sham berpendapat, bahwa:

عن أبي بكر الأصم أنه قال : كان ابن مسعود لا يكتب في مصحفه فاتحة الكتاب

“Bersumber dari Abi Bakar al-A’sham bahwasanya ia berkata, Keberadaan Ibnu Mas’ud tidak menulis surat al-Fatihah dalam mushafnya”.

Tetapi pada kitab ini juga dijelaskan alasannya, kenapa al-fatihah bukan bagian dari al-Qur’an yang ada dalam mushaf Ibn Mas’ud, bahwa al-A’sham memahami surat al-Hijr ayat 87 dan menganggap bahwa huruf al-Wawu pada kata al-Qur’an al-‘Adhim sebagai huruf athaf (sambung), maka konsekuesinya menurut dia adalah :

 “Dan huruf athaf itu wajib berubah, maka wajib pula eskitensi as-Sab’u al-Matsani ini bukanlah al-Qur’an”.

Sebenarnya secara gramatikal terkadang bisa saja athaf befungsi (الجزء على الكل), menghubungkan yang parsial terhadap yang universal seperti QS. Al-Baqarah [2]: 98. Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa Jibril dan Mikail adalah bagian dari para Malaikat. Begitu pula dengan sebaliknya, dari yang universal ke yang parsial.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Bolehkah Itikaf Tidak di Masjid?

Selain itu, jika Jeffery mau menelusuri kitab-kitab Ulum al-Qur’an, akan mendapatkan bahwa isu seputar al-Fatihah ini sudah menjadi pembahasan sejak era klasik dulu. Misalnya, as-Syuti dalam karya nya al-Itqan Fi Ulum al-Qur’an, menegaskan bahwa surat al-Fatihah ini tidak tercantum dalam mushaf Ibnu Mas’ud. Begitu pun dengan az-Zarqoni ia membenarkan bahwa  dalam msuhaf Ibnu Mas’uf surat al-Fatihah tidak tercamtum. Sedangkan al-Qathan dalam karyanya Mabahits Fi Ulum al-Qur’an, menjelaskan lebih lanjut bahwa mushaf Ibnu Mas’ud, dimulai dengan surat al-Baqarah langsung.

Dalam kitab Manahil al-irfan fi Ulum al-Qur’an, az-Zarqoni mengatakan bahwa tidak dicantumkannya surat al-Fatihah dalam mushaf Ibnu Mas’ud hukan berarti Ibnu Mas’ud mengingkarinya. Kemudian az-Zarqoni mengutip pendapat Ibnu Qutaibah yang mengatakan bahwa :

أن عدم كتابة ابن مسعود للفاتحة في مصحفه كان سببه وضوح أنها من القرآن وعدم الخوف عليها من الشك والنسيان

والزيادة والنقصان

“Sebenarnya Ibn Mas’ud mengakui bahwa surat al-Fatihah ini bagian dari surat-surat Alquran. Adapun dia tidak mencantumkan dalam mushhaf-nya, alasannya  sangatlah jelas, yaitu sebagai upaya untuk  menghilangka nrasa takut terjadi atasal-Fatihah ini keraguan, kelupaan, penambahan atau pengurangan”

Selain itu, sejatinya Jeffery melacak juga pada mushaf lainnya. Sebab, menurut al-Qathan bahwa surat al-Fatihah ini tercantum pula dalam mushaf Ubai bin Ka’ab. Dimana dalam mushaf tersebut di mulai dari al-Fatihah, Dari sini terlihat sekali bahwa Jeffry menggunakan argumentasi silentio (argumentasi keheningan). Padahal, hemat penulis, tidak adanya Fatihah dalam mushaf Ibnu Mas’ud, boleh jadi ia tidak mendengarnya dari Rasulullah saw. Buktinya,surat al-Fatihah ini tercantum dalam mushaf Ubai bin Ka’ab.

Sebagaimana Az-Zarqoni menuturkan :

“Sebenarnya Ibnu Mas’ud tidak mendengar al-muawidzatain dari Nabi saw, karena dalam pandangan Ibn Mas’ud kedua surat tersebut ditransmisikan tidak secara mutawatir.Oleh karena itu, ia memilih diam dalam persoalan ini. Sesungguhnya bacaan ‘Ashim dari Ibnu Mas’ud membuktikan bahwa di dalamnya terdapat surat al-muawidzatain dan Fatihah dan ini merupakan riwayat shahih.”

Baca juga: Tafsir Ahkam: Bolehkah Itikaf Tidak di Masjid?

Dan satu lagi yang penting untuk dipertimbangkan adalah pendapat Ibnu Bathal, ia mengatakan bahwa pada mushaf Ibnu Mas’ud diawali dengan ungkapan ملك يوم الدين , al-Baqarah, an-Nisa. Boleh jadi frase maliki yaum ad-dini yang dimaksud adalah al-Fatihah. Sebagaimana surat al-Fatihah ini pada riwayat lain diungkapkan dengan nama surat, الْحمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jeffery tidak mengekplorasi data dari sumber yang lainnya sebagai data pembanding argumentasinya, sehingga simpulannya ini tidak utuh. Dengan demikian, hemat penulis, pendapatnya ini memiliki validitas data yang sangat lemah. Wallahu A’lam.

Muhammad Siroj Judin
Santri di PP. Al-Luqmaniyyah Umbulharjo Yogyakarta Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...