BerandaKisah Al QuranAsma Putri Abu Bakar, Sahabat dan Mufassir Perempuan yang Berjasa Dalam Hijrah...

Asma Putri Abu Bakar, Sahabat dan Mufassir Perempuan yang Berjasa Dalam Hijrah Nabi

Asma putri Abu Bakar adalah salah satu sahabat perempuan yang ikonik. Ia memang tidak setenar adiknya, Aisyah putri Abu Bakar, namun setiap memperingati tahun baru hijriah, ibu dari sahabat Abdullah bin Zubair ini pasti akan selalu disebut. Ia menjadi ikon perempuan yang berjasa dalam peristiwa hijrah. Ada keterkaitan apa antara Asma’ putri Abu Bakar dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah? Mari kita ketahui lebih lanjut.

Quraish Shihab di suatu kesempatan menyampaikan bahwa salah satu nilai atau pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah adalah pentingnya melibatkan semua pihak dalam membangun suatu peradaban, termasuk perempuan. Hijrahnya Nabi Muhammad saw. ke Madinah adalah upaya membangun suatu peradaban besar yang nantinya akan dinikmati oleh semua umat manusia sebagai rahmat lil alamin. Sebagai bagian dari umat manusia, sudah tentu perempuan harus terlibat di dalamnya.

Baca Juga: Kepada Semua yang Ingin Mempelajari Al Quran

Dikisahkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw. hendak berangkat ke Madinah bersama Abu Bakar setelah tiga malam berada di gua Tsaur, Asma’ putri Abu Bakar datang membawa bekal perjalanan, tetapi saat bekal akan digantung di unta, dia tidak membawa tali pengikat, maka dengan cermat dia memotong tali ikat pinggangnya, membaginya jadi dua, satu digunakan untuk mengikat bekal dan satu lainnya digunakan sendiri untuk mengikat pinggangnya kembali. Oleh karena kejadian ini, kakak Aisyah ini mendapat gelar dazt an-nithaqain (pemilik/pengguna dua ikat pinggang). Keterangan ini juga dibagi oleh Quraish Shihab di bukunya, Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadis-Hadis Shahih.

Jika mengingat perencanaan perjalanan hijrah ini sangat rapi dan juga hati-hati, karena harus melawan strategi licik kafir Quraisy, maka keberhasilan Asma’ mengantarkan bekal untuk Nabi dan ayahnya tersebut merupakan hasil dari perjuangan yang tidak mudah, butuh keberanian, tekat dan keimanan yang kuat untuk menunaikan misi ini, terlebih ia adalah seorang perempuan. Meskipun demikian, penulis belum menemukan penjelasan lebih rinci tentang lika-liku perjalanan Asma’ hingga berhasil menemui dua orang istimewa tersebut.

Sebelum mengantar bekal, diceritakan pula bahwa ketika tokoh-tokoh kaum musyrik mencari Nabi Muhammad saw. ke rumah Abu Bakar, Asma’ yang dijumpai di situ tidak memberikan informasi apapun kepada mereka. Abu Jahal yang sangat kesal saat itu, menampar Asma’ sehingga anting yang dipakainya jatuh. Ini tentu menjadi bagian dari cerita perjalanan hijrah Nabi yang juga tidak dapat dilupakan.

Baca Juga: Siapa Saja Mufassir di Era Sahabat? Edisi Abdullah Ibn Abbas

Asma Putri Abu Bakar dan Aktifitas Penafsiran

Abdul ‘Al dalam risetnya yang berjudul al-Mufassirun Min As-Sahabat menyebut nama Asma’ bint Abu Bakar dalam deretan mufassir dari kalangan sahabat. Di situ juga disampaikan sedikit biografi dari mufassirah tersebut.

Namanya Asma’, putri dari Abu Bakar, sahabat senior dan salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Ibunya bernama Qutailah bint Abdul ‘Uzza. Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam, kemudian mempunyai anak bernama Abdullah bin Zubair, sahabat yang juga mufassir. Oleh karena itu, ia juga dipanggil dengan sebutan Ummu Abdillah. Ia merupakan kakak perempuan dari salah satu perempuan yang sangat berpengaruh dalam Islam, yaitu Aisyah. Dilihat dari silsilah keluarganya, Asma’ dikelilingi orang-orang yang ikonik dalam sejarah dakwah Islam. Ia pun bukan perempuan biasa, ini terbukti dari keterlibatannya dalam peristiwa awal upaya pembangunan perdaban Islam, yaitu hijrah Nabi ke Madinah.

Asma’ lahir sepuluh tahun sebelum risalah kenabian Muhammad turun. Menurut sebuah keterangan, ia orang ke 17 dari golongan orang-orang pertama yang masuk Islam. Setelah Zubair menceraikannya, Asma’ di masa tuanya tinggal bersama putranya, Abdullah bin Zubair. Ia diberi anugerah umur yang sangat panjang, dikatakan bahwa umurnya mencapai 100 tahun, ia merupakan sahabat muhajirah terakhir yang meninggal. Ia meninggal pada tahun 73 Hijriyah di Makkah, selang beberapa hari setelah putranya, Abdullah bin Zubair terbunuh.

Tentang kepribadiannya, ummu Abdillah ini dikenal sebagai perempuan yang sangat menjaga kehormatannya, sangat dermawan juga sangat rajin ibadahnya. Bahkan di usia lanjutnya, di saat kesehatannya sudah lemah ditambah penglihatannya yang sudah tidak berfungsi, ia masih memikirkan para budaknya, dan ia memerdekakan mereka semua. Putranya, Abdullah pernah berujar ‘tidak ada perempuan yang lebih dermawan dan lebih murah hati daripada Aisyah dan ibunya, Asma’; jika Aisyah masih menyisakan sesuatu yang ia miliki di tempatnya masing-masing, maka Asma’ sama sekali tidak menyisakan satu apapun untuk hari esok’.

Sementara itu, terkait aktifitas penafsiran. Asma’ putri Abu Bakar menerima beberapa riwayat dari Nabi dan Aisyah, sementara informasi darinya antara lain diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Abu Waqid Al-Laitsy, Sofiyah bint Syaibah, Abdullah bin Zubair (putranya) dan yang lainnya.

Asma’ putri Abu Bakar ini juga tercatat berkaitan erat dengan perihal turunnya ayat 8 surat Al-Mumtahanah. Dinukil dari tasfir AT-Tabari bahwa ibu Asma’ (Qutailah) yang ketika itu masih belum masuk Islam berkunjung ke rumah putrinya dengan membawa beberapa hadiah untuknya, tetapi Asma’ tidak mau menerimanya, bahkan juga tidak mau bertemu dengan ibunya. Kemudian dia bertanya kepada adiknya, Aisyah tentang hal tersebut. Aisyah menyampaikannya kepada Nabi dan Allah merespon melalui surat Al-Mumtahanah ayat 8.

Selain itu, Asma’ juga salah satu periwayat dari riwayat sabab nuzul dari surat Al-Baqarah ayat 199. Ia meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan wukufnya orang-orang Quraisy di Muzdalifah, karena menolak wukuf di Arafah, sedangkan suku-suku yang lain tetap wukuf di Arafah kecuali Syaibah bin Rabi’ah. Satu lagi riwayat tafsiriyah dari Asma’, yaitu surat Al-Lahab ayat 1.

Asma putri Abu Bakar adalah teladan bagi kita semua, perjuangan dan pengorbanannya, utamanya dalam mendukung hijrahnya Nabi ke Madinah menunjukkan bahwa pernah ada dalam sejarah bahwa perempuan menjadi bagian dari aktor lahirnya sebuah peradaban besar, yaitu Islam. Semoga kita semua bisa meneladani sayyidah Asma’ dan pastinya meneruskan perjuangannya. Laha wa lana Al-Fatihah.

Limmatus Sauda
Limmatus Sauda
Santri Amanatul Ummah, Mojokerto; alumni pesantren Raudlatul Ulum ar-Rahmaniyah, Sreseh Sampang
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah al-An'am ayat 116 dan standar kebenaran

Tafsir Surah Al-An’am Ayat 116 dan Standar Kebenaran

0
Mayoritas sering kali dianggap sebagai standar kebenaran dalam banyak aspek kehidupan. Namun, dalam konteks keagamaan, hal ini tidak selalu berlaku. Surah al-An'am ayat 116...