Beranda Ulumul Quran Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi

Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi

Sebelum lebih jauh membahas mengenai wacana kesusastraan dalam kajian Al-Qur’an. Hal yang juga penting untuk dipahami ialah kesadaran bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berbahasa Arab. Hal ini penting untuk diutarakan sebagai sebuah wacana awal dan titik perjumpaan antara Al-Qur’an dengan sastra dan bagaimana konteks kemunculan sisi sastrawi Al-Qur’an.

Sejauh ini tidak ada perdebatan yang sangat mencolok mengenai definisi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Tuhan (kalamullah), khususnya dalam ranah teologis. Hal tersebut, bahkan sudah menjadi sebuah konsensus (ijma) di kalangan para ulama dan para sarjana Al-Qur’an. Namun, pada tingkatan filologi-linguistik muncul beragam respon, khususnya dari kalangan cendikiawan dan pengkaji Qur’an modern (W. M. Watt dan R. Bell, Introduction to The Qur’an: 1991).

Respon-respon tersebut setidaknya bila dirasakan mengarah pada satu gagasan yang mencoba menempatkan Al-Qur’an sebagai salah satu dari beberapa kitab suci yang diturunkan Tuhan dan ditujukan kepada manusia. Sederhananya, mereka mencoba membangun kesadaran bahwa Al-Qur’an adalah sebuah teks yang nantinya akan berdialektika dengan manusia itu sendiri.

Konsekuensi dari hal ini ialah ketika Al-Qur’an yang merupakan bahasa Tuhan ini diturunkan kepada manusia, maka tentu saja memerlukan sebuah medium supaya ia dapat dipahami oleh audiensnya. Sederhananya, kalam Tuhan tersebut perlu diformulasikan dalam bahasa manusia agar pesan Tuhan sampai kepada manusia, yang dalam hal ini adalah bahasa Arab (Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an: 2009).

Dari wacana di atas dapat kita lihat bahwa bahasa secara aksidensi (dalam hal pewahyuan) memiliki fungsi sebagai media ketika Tuhan ingin menyampaikan pesannya yang berupa Al-Qur’an kepada manusia. Namun, dengan tidak mengabaikan fungsi tersebut lebih jauh lagi seharusnya kita tidak berhenti pada fungsi bahasa sebagai penyampai pesan, karena hal ini memberikan implikasi bahwa bahasa (dalam hal ini bahasa Arab) hanya secara kebetulan dipilih karena audiensnya pada saat itu adalah masyarakat Arab.

Keistimewaan bahasa Arab dan motif pemilihannya sebagai bahasa Al-Qur’an

Bila dilihat lebih jauh, tentu saja ada beberapa argumen mengapa bahasa Arab menjadi opsi utama sebagai bahasa Al-Qur’an. Dari sisi kompleksitas misalnya, menurut Quraish Shihab, bahasa Arab memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Arab juga sangat kaya akan kosa kata, di sisi lain bahasa Arab juga mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk melahirkan makna-makna baru dari akar-akar kata yang dimilikinya (M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: 2013).

Selanjutnya, jika dibaca secara politis, bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an juga merupakan salah satu cara Al-Qur’an untuk mempengaruhi audiensnya yaitu bangsa Arab yang dikenal sangat dekat dengan kesusateraan dan syair-syair. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hitti bahwa tidak ada bangsa di dunia ini selain bangsa Arab yang memiliki apresiasi terhadap bahasa dan mendapatkan pengaruh secara emosional yang besar melebihi bahasa Arab (Philip K. Hitti, History of Arabs: 2002).

Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Al-Qur’an pada saat itu merupakan strategi politis untuk mengontrol pertumbuhan wacana melalui bahasa. Karena jika ada yang ingin melakukan perubahan secara radikal di tanah Arab pada saat itu, maka medium yang paling ampuh untuk digunakan adalah bahasa. Pola pikir dan psikologi bangsa Arab yang bisa dikendalikan oleh bahasa menjadi pintu masuk bagi Al-Qur’an menuju ruang nalar dan psikologi mereka.

Pemilihan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an juga merupakan sebuah strategi yang sangat akurat. Sebab, posisi bahasa Arab dan sastra sangat sentral di kalangan masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu. Maka tentu saja hal yang paling ampuh untuk memperkenalkan sebuah identitas kitab suci baru adalah bahasa dan sastra yang pada saat itu sangat dekat dengan masyarakat Arab pra-Qur’an.

Strategi ini terbukti ampuh, jika dilihat dengan waktu yang cukup singkat, yaitu sekitar 23 tahun pasca kenabian. Nabi Muhammad berhasil menyebarkan pengaruhnya ke seantero jazirah Arab. Bahkan dalam sejarah, Nabi Muhammad tercatat menempati urutan pertama dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Pencapaian tersebut tentu saja tidak lepas dari power Al-Qur’an yang secara historis menemani dakwah Nabi ketika itu (Michael H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia: 1986).

Baca juga: Surah al-Kahfi Ayat 110: Melihat Sisi Kemanusiaan Nabi Muhammad

Keindahan bahasa Al-Qur’an dan tradisi sastra bangsa Arab

Kembali lagi pada aspek kebahasaan Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an menggunakan bahasa sebagai alat, secara otomatis bahasa yang digunakan tersebut memberikan efek psikologis bagi pendengarnya. Sehingga, Nabi Muhammad tidak perlu secara personal melakukan negosiasi dengan bangsa Arab supaya mereka mengikutinya. Ia hanya butuh menyampaikan wahyu, dan membiarkan struktur bahasa tersebut memberikan efek, terutama efek psikologis bagi pendengarnya.

Selain sebagai sebuah strategi pendekatan emosional, sejauh ini terlihat bahwa bahasa Arab juga memiliki fungsi khusus sebagai sebuah mekanisme kuasa. Melihat kondisi masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu sangat dekat dengan bahasa dan kesastraan, maka bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an menjadi sebuah senjata yang sangat jitu dalam hal memengaruhi masyarakat pada saat itu. Bahkan, lebih jauh lagi nanti dapat kita lihat dalam sejarah bagaimana Al-Qur’an mereproduksi makna-makna baru yang nantinya merubah secara perlahan budaya dan kebiasaan masyarakat Arab pada saat itu.

Al-Qur’an sebagai sebuah teks berbahasa Arab tentu saja memiliki nilai sastra yang begitu tinggi. Hal ini bisa dilihat dari ketertarikan para penyair Arab pada saat itu yang mencoba menirukan teks Al-Qur’an. Namun, usaha mereka pada akhirnya berakhir sia-sia. Misalnya apa yang dilakukan oleh Musailamah yang berusaha menandingi ayat-ayat Al-Qur’an dengan syair yang ia buat:

يا ضفدع بنت ضفدعين نقي ما تنقين اعلاك في الماء و اسفلك في الطين

Wahai anak katak dari dua katak, berkuaklah sesukamu, bagian atasmu berada di air dan bawahmu ada ditanah.”

Upaya-upaya penyair pada saat itu tentu saja pada akhirnya menemui kegagalan. Hal ini dikarenakan walaupun syair-syair yang dibuat oleh para penyair menggunakan bahasa Arab sebagaimana yang digunakan oleh Al-Qur’an. Namun, aspek moral dan pesan dari perkataan para penyair tersebut sama sekali tidak mengandung nilai kemaslahatan bagi manusia sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Hal tersebut juga tentu saja tidak terlepas dari aspek kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Peran mukjizat sangat penting dalam rangka mendukung karisma dan daya tarik suatu klaim otoritas ilahi. Jika para nabi selalu memiliki mukjizat untuk mendukung klaim kenabiannya, maka Al-Qur’an juga diklaim memiliki mukjizat untuk mendukung klaim keilahian dan keontentikannya sebagai sebuah wahyu Tuhan.

Berbeda halnya dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya yang terpisah dari wahyu (teks) itu sendiri, kemukjizatan Al-Qur’an yang menunjukkan kebenaran dirinya dan kebenaran pembawanya (Muhammad) sebagaimana termanifestasikan secara tekstual dalam struktur Al-Qur’an yang berbentuk kebahasaan dan kesusastraan. (Amin al-Khulli dan Nasr Hamid Abu Zaid, Metode Tafsir Sastra).

Baca juga: Melihat Al-Quran sebagai Pembungkam Nalar Sastra Arab

Tantangan Al-Qur’an kepada para penentangnya

Aspek kebahasaan dan ketinggian sastra yang dimiliki oleh Al-Qur’an ini juga merupakan aspek kemukjizatan utama dan yang pertama kali ditunjukkan oleh Al-Qur’an kepada masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu. Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah di mana pada saat itu ahli-ahli bahasa berkumpul untuk menantang kesastraan Al-Qur’an. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang berhasil menyaingi ketinggian sastra Al-Qur’an.

Padahal menurut fakta sejarah, masa-masa ketika Al-Qur’an turun merupakan era di mana lembaga-lembaga dan pusat-pusat bahasa kesusateraan Arab sedang berada dalam titik puncak keemasan. (Manna’ Khalil Qaththan, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an: 2009).

Bahkan menurut data sejarah, Makkah pada saat itu merupakan tempat yang paling tepat untuk mendengar lantunan puisi para penyair Arab terbaik. Di kota ini, tepatnya di pasar Ukaz, para penyair terbaik berkumpul setiap tahunnya untuk memperdengarkan karya epik mereka dalam sebuah kompetisi. Puisi-puisi yang dianggap istimewa digantungkan (Mu’allaqat) di Ka’bah sebagai sebuah bentuk apresiasi. (Ingrid Mattson, Ulumul Qur’an Zaman Kita: 2013).

Namun, menghadapi kondisi masyarakat yang seperti itu Al-Qur’an dengan gentle malah menanggapi tantangan tersebut dengan menantang balik para penyair dan ahli bahasa yang mencoba membuat tandingan Al-Qur’an. Namun, tetap saja tidak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menghadirkan karya sastra semisal Al-Qur’an.

Al-Qur’an memberi tantangan secara bertahap kepada para penantangnya pada saat. Hal ini terekam dalam beberapa penggalan surahnya, di mana mula-mula Al-Qur’an memberikan tantangan kepada siapa saja yang mampu membuat Al-Qur’an tandingan QS. At-Ṭur: 34, dan setelah melihat ketidakmampuan para penantangnya pada saat itu, Al-Qur’an pun mulai menurunkan tantangannya yang semula menuntut para ahli bahasa dan penyair untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an menjadi 10 surah saja.

Hal ini sebagaimana yang digambarkan dalam QS. Hud: 13. Bahkan Al-Qur’an menurunkan tantangannya kepada para penyair saat itu untuk menghadirkan satu surah saja semisal Al-Qur’an sebagaimana terekam dalam QS. Al-Baqarah: 23.

Namun, mereka juga masih tidak sanggup menghadirkan semisal Al-Qur’an walau satu ayat pun. Akhirnya, Al-Qur’an mengeluarkan sebuah ultimatum bahwa tidak ada yang mampu menghadirkan satu ayat pun semisalnya. Bahkan jika manusia bekerjasama dengan jin sekalipun hal tersebut tetap tidak akan pernah terwujud (QS. Al-Isrā: 88).

Wacana tafsir Al-Qur’an bercorak sastrawi

Beberapa argumen di atas setidaknya menggambarkan bagaimana hubungan Al-Qur’an dan sastra. Hubungan yang digambarkan oleh sejarah mengenai Al-Qur’an dan sastra bagaiakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa sastra merupakan salah satu senjata jitu yang membersamai Al-Qur’an ketika menghadapi masyarakat Makkah pada saat itu.

Kesadaran-kesadaran akan sisi sastrawi yang melekat pada Al-Qur’an ini juga yang nantinya memunculkan ketertarikan para muffasir untuk mengkaji Al-Qur’an secara mendalam, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menjadikan sisi sastrawi ini sebagai kajian tersendiri dalam pembahasannya.

Nuzul Fitriansyah
Alumni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tipologi Penafsiran Menurut Johanna Pink

Tipologi Penafsiran Al-Quran Menurut Johanna Pink (Part I)

Penafsiran Al-Qur’an pasca era kanonisasi terus mengalami perkembangan. Perkembangan penafsiran ini kemudian menemukan momentum geliatnya di zaman klasik dan pertengahan, ditandai dengan begitu banyaknya...