Beranda blog Halaman 205

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 15 (1)

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 15 (1) secara umum menjelaskan tentang keutamaan berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Berbakti yang dimaksud adalah berbuat baik kepada keduanya, sebab, mereka ada kunci bagi seorang anak untuk mendapatkan keridoan Allah Swt.

Kedudukan seorang ibu dalam beberapa riwayat lebih tinggi/utama dari sosok ayah. Ada beberapa alasan terkait hal itu, sebagaimana yang akan diurai dalam Tafsir Surah Ahqaf Ayat 15 (1) berikut.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 12-14


Ayat 15 (1)

Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abu Bakar. Beliau termasuk orang yang beruntung karena beliau termasuk sahabat yang paling dekat dengan Nabi saw. Salah satu putri beliau, yaitu ‘Aisyah, adalah istri Rasulullah saw, dan kedua orang tuanya yaitu Abu Quhafah dan Ummul Khair binti Shakhar bin Amir telah masuk Islam, demikian pula anak-anak beliau yang lain dan saudara-saudaranya.

Beliau bertobat, bersyukur, dan berdoa kepada Allah karena memperoleh nikmat yang tiada tara.

Allah memerintahkan agar semua manusia berbuat baik kepada ibu-bapaknya, baik ketika keduanya masih hidup maupun telah meninggal dunia.

Berbuat baik ialah melakukan semua perbuatan yang baik sesuai dengan perintah agama. Berbuat baik kepada orang tua ialah menghormatinya, memelihara, dan memberi nafkah apabila ia sudah tidak mempunyai penghasilan lagi.

Sedangkan berbuat baik kepada kedua orang tua setelah meninggal dunia ialah selalu mendoakannya kepada Allah agar diberi pahala dan diampuni segala dosanya.

Berbuat baik kepada kedua orang tua termasuk amal yang tinggi nilainya di sisi Allah, sedangkan durhaka kepadanya termasuk perbuatan dosa besar.

Anak merupakan penerus kehidupan bagi kedua orang tuanya, cita-cita atau perbuatan yang tidak dapat dilakukan semasa hidupnya diharapkan dapat dilanjutkan oleh anaknya.

Oleh karena itu, anak juga merupakan harapan orang tuanya, bukan saja harapan sewaktu ia masih hidup, tetapi juga harapan setelah meninggal dunia.

Dalam hadis Rasulullah saw, diterangkan bahwa di antara amal yang tidak akan putus pahalanya diterima oleh manusia sekalipun ia telah meninggal dunia ialah doa dari anak-anaknya yang saleh yang selalu ditujukan untuk orang tuanya.

Rasulullah saw bersabda:

اِذَا مَاتَ الاِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ . (رواه مسلم عن أبي هريرة)

Apabila manusia meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa orang tua hendaklah mendidik anaknya agar menjadi orang yang taat kepada Allah, suka beramal saleh, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya.

Pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya dengan pendidikan di sekolah, pendidikan di rumah, memberikan contoh yang baik, dan sebagainya. Hanya anak-anak yang saleh yang taat kepada Allah dan suka beramal saleh, yang dapat berbakti dan berdoa untuk orang tuanya.

Pada ayat ini, Allah menerangkan secara khusus mengapa orang harus berbuat baik kepada ibunya.

Pengkhususan itu menunjukkan bahwa ketika anak akan berbuat baik kepada orang tuanya, ibu harus didahulukan daripada ayah.

Sebab perhatian, pengorbanan, dan penderitaan ibu lebih besar dan lebih banyak dalam memelihara dan mendidik anak dibandingkan dengan perhatian, pengorbanan, dan penderitaan yang dialami oleh ayah. Di antara pengorbanan, perhatian, dan penderitaan ibu ialah:

  1. Ibu mengandung anak dalam keadaan penuh cobaan dan penderitaan. Semula dirasakan kandungan itu ringan, sekalipun telah mulai timbul perubahan-perubahan dalam dirinya, seperti makan tidak enak, perasaan gelisah, kadang-kadang mual, muntah, dan sebagainya. Semakin lama kandungan itu semakin berat. Bertambah berat kandungan itu bertambah berat pula cobaan yang ditanggung ibu, sampai saat-saat melahirkan. Hampir-hampir cobaan itu tidak tertanggungkan lagi, serasa nyawa akan putus.
  2. Setelah anak lahir, ibu memelihara dan menyusuinya. Masa mengandung dan menyusui ialah 30 bulan. Ayat Al-Qur’an menerangkan bahwa masa menyusui yang paling sempurna ialah dua tahun. Allah berfirman:

وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. (al-Baqarah/2: 233)


Baca Juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’


Dalam ayat ini diterangkan bahwa masa menyusui dan hamil adalah 30 bulan. Hal ini berarti bahwa ibu harus menumpahkan perhatiannya selama masa hamil dan menyusui, yaitu 30 bulan.

Sehubungan dengan ayat ini, ada riwayat yang mengatakan bahwa seorang wanita melahirkan dalam masa kandungan enam bulan. Maka perkara itu diajukan kepada ‘Utsman bin ‘Affan, khalifah waktu itu. ‘Utsman bermaksud melakukan hukum had (merajam) karena wanita itu disangka telah berbuat zina lebih dahulu sebelum melakukan akad nikah.

Maka ‘Ali bin Abi Thalib mengemukakan pendapat kepada ‘Utsman dengan berkata, “Allah swt menyatakan bahwa masa menyusui itu dua tahun (24 bulan), dan dalam ayat ini dinyatakan bahwa masa mengandung dan masa menyusui 30 bulan.

Hal ini berarti bahwa masa hamil itu paling kurang 6 bulan. Berarti wanita tidak dapat dihukum rajam karena ia melahirkan dalam masa hamil yang ditentukan ayat.” Mendengar itu, ‘Utsman bin ‘Affan mengubah pendapatnya semula dan mengikuti pendapat ‘Ali bin Abi Thalib.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Apabila seorang wanita mengandung selama sembilan bulan, ia cukup menyusui anaknya selama 21 bulan, apabila ia mengandung 7 bulan, cukup ia menyusui anaknya 23 bulan, dan apabila ia mengandung 6 bulan ia menyusui anaknya selama 24 bulan.

Oleh karena itu, maka amat bijaksana kalau seorang anak disusui dengan air susu ibu (ASI), sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan sesuai pula dengan tuntunan ilmu kedokteran, kecuali kalau karena keadaan terpaksa bisa diganti dengan susu produk lain.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 15 (2)


Tafsir Surah Ahqaf Ayat 12-14

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Masih berkaitan dengan al-Qur’an, Tafsir Surah Ahqaf Ayat 12-14 secara umum menerangkan tetang dua sikap berbeda dari orang yang beriman dan orang musyrik.

Suguhan pertama yang ditampilkan dalam Tafsir Surah Ahqaf Ayat 12-14 adalah argumen untuk membantah tuduhan orang musyrik yang menolak kebenaran al-Qur’an. Dalil khusus yang akan diutarakan disini adalah melalui kitab suci sebelumnya, yaitu Taurat, yang telah mengulas terlebih dahulu kebenaran al-Qur’an dan diutusnya Muhammad Saw.

Kedua, Tafsir Surah Ahqaf Ayat 12-14 akan menerangkan tentang sikap orang beriman yang senantiasa taat kepada Allah, diantara bentuk ketaatan itu adalah istiqamah, yaitu sifat kontinuitas dalam ketaatan pada-Nya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 11


Ayat 12

Ayat ini menolak tuduhan orang-orang musyrik terhadap Al-Qur’an dan membuktikan kebenarannya dengan mengatakan;

“Hai orang-orang kafir, kamu semua telah menyaksikan bahwa Allah telah menurunkan Taurat yang mengandung pokok-pokok agama yang dibawa oleh Nabi Musa dan sebagai rahmat bagi Bani Israil.”

“Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa mengisyaratkan kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir yang membawa Al-Qur’an yang berbahasa Arab, membenarkan kitab-kitab terdahulu yang diturunkan Allah agar dengan kitab itu ia memperingatkan semua manusia, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mengamalkan isinya, dan memperingatkan bahwa azab serta ancaman Allah akan menimpa orang-orang yang ingkar kepadanya.”

Sekalipun kitab Taurat yang ada sekarang telah banyak dinodai oleh tangan manusia, masih banyak terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan kedatangan Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir yang paling sempurna.

Hal ini dapat dibaca dalam kitab Kejadian 13: 2, 3 ; 15; 16: 10, 12 dan masih banyak lagi. Dalam kitab Kejadian 21: 13, diterangkan kedatangan nabi yang paling besar dari keturunan Nabi Ismail, “Maka anak sahayamu itu pun akan aku jadikan suatu bangsa karena ia pun dari benihmu.”

Demikian juga dalam Kejadian 21: 13, “Bangunlah engkau, angkatlah budak itu, sokonglah dia karena aku hendak menjadikan dia suatu bangsa yang besar.”

Juga dalam kitab Kejadian 17: 20, “Maka akan hal Ismail itu pun telah kululuskan permintaanmu: bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan membiarkan dia dan memperbanyak dia amat sangat dan dua belas orang raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia satu bangsa yang besar.”

Sudah tentu yang dimaksud ayat-ayat Taurat di atas adalah Nabi Muhammad. Nabi Musa dalam kitab Ulangan 18: 17-22 juga telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad saw:

Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa). Benarlah kata mereka itu (Bani Israil). Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara segala saudaranya (yaitu dari Bani Ismail) yang seperti engkau (hai Musa), dan aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan dia akan mengatakan kepadanya segala yang Kusuruh akan dia.

Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau mendengar akan segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menurut orang itu kelak.


Baca Juga: Kisah Bani Israil Pasca Kehancuran Firaun dan Bala Tentaranya dalam Al-Quran


Tetapi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Kusuruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa. Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.

Maka jikalau kamu kira berkata dalam hatimu demikian: Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya.

Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan lalu orang dikatakannya tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka Nabi itu pun telah berkata dengan sombongnya, janganlah kamu takut akan dia.

Dalam ayat-ayat Taurat yang enam di atas terdapat beberapa isyarat yang dapat dijadikan dalil untuk menyatakan nubuwat tentang Nabi Muhammad.

Dari perkataan “seorang nabi dari antara segala saudaranya” menunjukkan bahwa orang yang dinubuwatkan oleh Tuhan itu akan datang dari saudara-saudara Bani Israil, bukan dari Bani Israil sendiri.

Adapun saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail (bangsa Arab) sebab Ismail adalah saudara tua dari Ishak, bapak dari Israil (Yakub). Dan Nabi Muhammad saw jelas berasal dari keturunan Ismail.

Kemudian kalimat “Yang seperti engkau” memberi pengertian bahwa nabi yang akan datang itu haruslah yang seperti Nabi Musa, maksudnya, nabi yang membawa agama baru seperti Musa. Seperti diketahui, Nabi Muhammad itulah yang membawa syariat baru (agama Islam) yang juga berlaku untuk Bani Israil.

Lalu diterangkan lagi bahwa Nabi itu tidak sombong dan tidak akan mati dibunuh. Muhammad saw, seperti dimaklumi, bukanlah orang yang sombong, baik sebelum menjadi nabi maupun setelah menjadi nabi.

Sebelum menjadi nabi beliau sudah disenangi masyarakatnya terbukti dengan gelar  al-Amin artinya “orang terpercaya”. Kalau beliau sombong, tentulah beliau tidak akan diberi gelar yang amat terpuji itu. Sesudah menjadi nabi, beliau justru lebih ramah.

Umat Nasrani mengakui nubuwat itu kepada Nabi Isa di samping mereka mengakui pula bahwa Isa mati terbunuh. Hal ini jelas bertentangan dengan ayat nubuwat itu sendiri, sebab nabi yang dimaksud itu haruslah tidak mati terbunuh (tersalib atau sebab lain).

Itulah penegasan-penegasan yang diberikan para nabi sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. Semuanya diketahui oleh orang-orang kafir Mekah yang mengingkari kenabian Muhammad saw.

Ayat 13

Ayat ini menerangkan keadaan orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, yaitu orang-orang yang mengakui dan mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian ia istikamah, yakni tetap dalam pengakuan itu, tidak dicampuri sedikit pun dengan perbuatan-perbuatan syirik.

Orang tersebut konsisten mengikuti garis yang telah ditentukan agama, mengikuti perintah Allah dengan sebenar-benarnya, dan menjauhi larangan-Nya. Maka orang yang semacam itu tidak ada suatu kekhawatiran dalam diri mereka di hari Kiamat, karena Allah menjamin keselamatan mereka.

Mereka tidak perlu bersedih terhadap apa yang mereka tinggalkan di dunia setelah wafat, begitu juga terhadap sesuatu yang luput dan hilang dari mereka selama hidup di dunia itu serta tidak ada penyesalan sedikit pun pada diri mereka.

Ayat 14

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah kemudian istikamah dalam keimanannya dengan melaksanakan ibadah dan perintah-perintah Allah, tetap bertawakal, dan menghindari larangan-larangan-Nya, akan memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat, yaitu menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya. Bagi mereka disediakan berbagai kenikmatan di surga, sebagai balasan atas amal saleh mereka di dunia.

Sikap istikamah setelah beriman dan melaksanakan ibadah kepada Allah merupakan hal yang penting dan sangat terpuji, sebagaimana hadis Nabi saw yang memerintahkan kepada kita semua:

قُلْ اٰمَنْتُ بِاللهِ فَاسْتَقِمْ. (رواه مسلم عن سفيان بن عبد الله الثقفي)

Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” lalu beristikamahlah. (Riwayat Muslim dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 15 (1)


Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi

0
Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi
Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi

“Maka diumumkanlah ke seluruh jaga. Dan ke seluruh bumi kita ini. Hamilnya Aminah seorang bayi. Yang disebut nur hakiki asli.”

Adalah potongan lirik dari lagu berjudul Menyambut Kelahiran Nabi. Lagu yang dipopulerkan oleh Hj. Alfiyah dan grup musik Nasida Ria yang diciptakan oleh H. Muhammad Zain. Buah adaptasi karya maulid Al-Barzanjiy atau ‘Aqd al-Jauhar fi Maulid al-Nabiyy al-Azhar karangan Sayyid Ja‘far bin Hasan bin ‘Abd al-Karim al-Barzanjiy.

Dalam setiap event maulid, lagu ini dahulu sering kali disampaikan oleh Allahu yarham Simbah KH. Ma‘ruf Irsyad Kudus. Beliau, Mbah Ma‘ruf, merupakan satu dari sekian banyak kiai yang menyiarkan selawat berikut acara muludan atau perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama melalui panggung mau‘idzah. Diantara dalil yang beliau sebutkan adalah Surah Al-Fiil [105]: 1-5,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

“Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia. dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar. sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Dalam ulasannya, beliau menyebutkan bahwa Imam Jalalain menafsirkan surah ini dengan ta’dziman li maulid al-nabiyy. Bahwa penghancuran tentara Abrahah yang hendak menyerang kota Makkah merupakan bentuk pengagungan terhadap kelahiran Nabi Saw. Dan mengagungkan kelahiran Nabi Saw. adalah esensi dari perayaan maulid. Sehingga dengan kata lain, Allah Swt. pun turut merayakan kelahiran Nabi saw.

Lebih lanjut menurut beliau, menukil dari Imam Al-Qurthubiy dalam kitab Sulaiman al-Jamal, peristiwa penghancuran tentara Abrahah ini bahkan tidak terjadi tepat pada bulan Rabi‘ul Awwal, melainkan 50 hari sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw., atau tepatnya pada tanggal 22 Muharram. Hal ini sekaligus menjadi dalil bahwa peringatan maulid Nabi saw. tidak harus dilaksanakan pada bulan Rabi‘ul Awwal atau bulan maulid.

Baca juga: Inilah Potret Perayaan Maulid Nabi dalam Al-Quran

Yang menarik adalah, setelah penulis melakukan penelusuran terhadap dalil yang disebutkan oleh Mbah Ma‘ruf ini, penulis tidak dapat menjumpainya. Jika ulasan yang disebutkan sebelumnya bersumber dari Imam Jalalain, maka kemungkinan keberadaannya ada dalam Tafsir al-Jalalain, Surah Al-Fiil. Nyatanya, redaksi ta’dziman li maulid al-nabiyy atau redaksi lain yang senada tidak disebutkan di sana.

Satu-satunya redaksi yang memberikan petunjuk kepada aspek pengagungan hari kelahiran Nabi saw. adalah redaksi,

وَكَانَ هَذَا عَامَ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم

“Dan peristiwa ini (penghancuran tentara Abrahah) terjadi pada tahun kelahiran Nabi saw.”

Redaksi sederhana ini, yang menjelaskan bahwa peristiwa ‘gajah’ terjadi pada tahun kelahiran Nabi saw., sejatinya berusaha menunjukkan bahwa esensi dari Surah Al-Fiil adalah irhash kenabian Nabi saw. Peristiwa ‘ajaib’ di luar nalar dan kemampuan manusia biasa bagi mereka ‘calon’ Nabi dan Rasul. Hal ini sebagaimana dapat ditemukan dalam pembahasan Wahbah al-Zuhailiy dalam tafsirnya,

فَإِنَّهَا مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ لِأَنَّهَا وَقَعَتْ فِي السَّنَةِ الَّتِي وُلِدَ فِيْهَا الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya peristiwa tersebut (penghancuran tentara Abrahah) merupakan bagian dari irhash kenabian, karena ia terjadi pada tahun di mana Rasul saw. dilahirkan.”

Pemahaman Mbah Ma‘ruf ini cukup unik mengingat dalam pencarian sederhana yang penulis lakukan belum menjumpai redaksi yang secara sharih dalam tafsir-tafsir Al-Qur’an yang menyebutkan unsur pengagungan kelahiran Nabi saw. Karena selain aspek irhash yang telah penulis sebutkan sebelumnya, tafsir surah ini justru lebih menyorot pada aspek pengagungan Ka‘bah, dan bukan pada Nabi saw.

Sehingga jika menggabungkan pemahaman Mbah Ma‘ruf ini dengan konsep irhash, dapat disimpulkan bahwa setiap bentuk irhash kenabian Nabi saw. merupakan bentuk perayaan dan pengagungan Allah Swt. atas kelahiran Nabi saw. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Allah Swt. pun merayakan maulid.

Dan dengan demikian, riwayat-riwayat lain yang disebutkan, misalnya, Al-Barzanjiy pada chapter keenam kitab maulidnya, padamnya api sesembahan Bangsa Persia atau kejatuhan kerajaan Kisra serta peristiwa ajib lainnya, juga mempunyai nilai yang sama, yakni ta‘dziman li maulid al-nabiyy shallallahu ‘alaihi wa salllama. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 11

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 11 berbicara tentang dalih orang-orang musyrik yang enggan beriman. Diantara dalihnya adalah dengan melihat status orang-orang yang lebih dahulu beriman, jika yang masuk Islam adalah kalangan bangsawan dan terpelajar, berarti al-Qur’an benar. Sebaliknya, jika yang masuk Islam adalah kalangan bawah, berarti al-Qur’an dan Muhammad adalah dusta.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 10


Ayat 11

Ayat ini menerangkan bahwa perkataan orang-orang musyrik Mekah tentang Al-Qur’an dan orang-orang yang beriman tidak benar.

Perkataan itu mereka ucapkan karena beberapa orang yang mereka anggap miskin, bodoh, dan rendah derajatnya seperti ‘Ammar, Suhaib, Ibnu Mas’ud, Bilal, Khabab, dan lain-lain telah masuk Islam.

Menurut mereka, sesuatu yang benar dan datang dari Tuhan itu harus diakui kebenarannya oleh para bangsawan, orang kaya, orang terpandang dan para pembesar.

Itulah ukuran kebenaran menurut mereka. Apabila kebenaran itu hanya diakui oleh orang-orang yang rendah derajatnya, miskin, dan rakyat jelata saja, maka kebenaran itu palsu.

Perkataan orang-orang musyrik Mekah itu ialah, “Sekiranya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad saw mengandung kebajikan, tentulah kita orang-orang terpandang, bangsawan, dan orang-orang terkemuka ini lebih dahulu beriman kepadanya karena lebih mengetahui dan lebih dahulu mengerjakan kebaikan daripada orang-orang yang rendah derajatnya itu.

Sekarang, merekalah yang lebih dahulu beriman daripada kita. Hal ini dapat kita jadikan bukti bahwa Al-Qur’an itu tidak ada nilainya dan tidak mengandung kebajikan sedikit pun.”

Qatadah berkata, “Orang-orang musyrik menyatakan, kami lebih perkasa. Kalau ada suatu kebaikan, tentulah kami yang lebih mengetahuinya.

Karena kami yang lebih mengetahui, tentulah kami yang menentukannya. Tidak seorang pun yang dapat mendahului kami dalam hal ini. Sehubungan dengan perkataan mereka itu, turunlah ayat ini.”

Menurut satu riwayat, ketika kabilah-kabilah Juhainah, Muzainah, Aslam, dan Gifar memeluk agama Islam, Banu ‘Amir, Bani Gatafan, dan Banu Asad berkata, “Seandainya agama Islam itu suatu kebenaran, tentulah kita tidak didahului oleh penggembala-penggembala hewan itu.”


Baca Juga: Al-Qur’an dalam Menjaga Harmonisasi dan Toleransi Antar Umat Beragama


Karena orang-orang musyrik itu telah terkunci hati, pendengaran, dan penglihatannya oleh kedengkian dan hawa nafsu, maka mereka tidak dapat lagi mengambil petunjuk Al-Qur’an, dan menuduh bahwa Al-Qur’an itu adalah kabar bohong, dongeng orang dahulu, sihir, diada-adakan oleh Muhammad, dan tidak ada artinya sama sekali. Tuduhan orang-orang musyrik itu diterangkan pula dalam firman Allah:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ فَقَدْ جَاۤءُوْ ظُلْمًا وَّزُوْرًا ۚ  ٤  وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا  ٥

Dan orang-orang kafir berkata,“(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang- orang lain,” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (al-Furqan/25: 4-5).

Menurut ajaran Islam, beriman dan bertakwanya seseorang tidak berhubungan dengan status orang itu apakah ia kaya atau miskin, bangsawan atau budak, penguasa atau rakyat jelata, dan berilmu atau tidak berilmu.

Setiap orang, apa pun jenis bangsa, warna kulit, dan tingkatannya dalam masyarakat dapat menjadi seorang Muslim yang beriman dan bertakwa karena pokok iman dan takwa itu adalah kebersihan hati, keinginan mencari kebenaran yang hakiki, dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Dalam sebuah hadis disebutkan:

اَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير)

Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah. Apabila baik, baik pula seluruh tubuh, dan apabila rusak, rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 12


Tafsir Surah Ahqaf Ayat 10

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 10 diawali dengan pertanyaan Allah kepada orang-orang musyrik tentang al-Qur’an. Maksud dari pertanyaan itu adalah untuk menegaskan kembali kebenaran al-Qur’an, sekaligus menyadarkan mereka bahwa keingkaran mereka terhadap al-Qur’an adalah kesalahan yang fatal.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 9


Ayat 10

Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang musyrik bagaimana pendapat mereka seandainya terbukti bahwa Al-Qur’an itu benar-benar dari Allah.

Dengan kenyataan bahwa tidak seorang pun dapat menandinginya, terbukti bahwa Al-Qur’an itu bukan sihir dan bukan pula diada-adakan, sebagaimana yang mereka tuduhkan.

Namun demikian, mereka tetap mendustakan dan mengingkarinya, sedangkan ada di antara Bani Israil yang lebih tahu dan berpengalaman serta lebih pintar daripada mereka, tetapi tetap mengakui kebenarannya.

Apakah yang akan diperbuat Tuhan terhadap mereka? Bukankah Tuhan akan mengazab mereka karena keingkaran dan kesombongan itu. Dia tidak akan memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka semua menjadi orang yang paling sesat di dunia ini.

Yang dimaksud dengan seorang saksi yang berasal dari Bani Israil ialah ‘Abdullah bin Salam, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmizi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Mardawaih dari ‘Abdullah bin Salam sendiri. Ia menyatakan:

نَزَلَ فِيَّ ﺁياَتٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ نُزِلَتْ فِيَّ  وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِى اِسْرَائِيْلَ عَلَى مِثْلِهِ  وَنُزِلَتْ فِيَّ  قُلْ كَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ . (رواه الترمذي)

“Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang diriku. Diturunkan tentang diriku ayat: wa syahida syahidun min Bani Isra’il ‘ala mitslihi, dan ayat Qul kafa billahi syahidan baini wa bainakum wa man ‘indahu ‘ilmul kitab.” (Riwayat at-Tirmizi).

Pernyataan ‘Abdullah bin Salam ini dikuatkan oleh hadis Rasulullah saw:

عَنْ سَعْدٍ بْنِ اَبِي وَقَّاصٍ قَالَ مَا سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لاَِحَدٍ يَمْشِي عَلَى اْلاَرْضِ اِنَّهُ مِنْ اَهْلِ الْجَنَّةِ اِلاَّ لِعَبْدِ اللهِ بِنْ سَلاَمٍ وَفِيْهِ نُزِلَتْ  وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِى اِسْرَائِيْلَ عَلَى مِثْلِهِ . (رواه البخاري)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Aku belum pernah mendengar Rasulullah saw mengatakan kepada seorang yang ada di muka bumi bahwa ia termasuk ahli surga, kecuali kepada ‘Abdullah bin Salam; dan berhubungan dengan dirinya turun ayat: “wa syahida syahidun min Bani Isra’il ‘ala mitslihi.” (Riwayat al-Bukhari)

Abdullah bin Salam adalah seorang Yahudi penduduk kota Madinah. Ia mempelajari dan memahami dengan baik isi Taurat yang menyebutkan akan datang nanti nabi dan rasul terakhir yang berasal dari Nabi Ibrahim, dan dari jalur Nabi Ismail, di Jazirah Arab, yang membawa Al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah kepadanya.

Setelah Rasulullah saw hijrah ke Medinah, ‘Abdullah memperhatikan sifat-sifat Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepadanya.


Baca Juga: Kritik Sayyid Abdullah al-Ghumari Terhadap Kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an


Ia mengamati sikap Rasulullah terhadap sesama manusia dan sikap para pengikutnya yang telah mendalami agama baru itu.

Akhirnya ia berkesimpulan bahwa Rasulullah dan ajaran agama yang dibawanya itu mempunyai ciri yang sama dengan yang diisyaratkan Taurat yang telah dipelajari dan diamalkannya.

Demikian pula sifat-sifat para pengikut agama baru itu. Oleh karena itu, ia menyatakan diri masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah saw.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang benar-benar mengikuti dan meyakini Taurat dan Injil, pasti akan sampai kepada kesimpulan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar dari Allah dan Muhammad saw itu benar-benar utusan-Nya sebagaimana yang telah dilakukan oleh ‘Abdullah bin Salam.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa orang-orang musyrik sebenarnya adalah orang-orang yang sombong dan mengingkari ayat-ayat Allah.

Oleh karena itu, mereka telah menganiaya diri sendiri. Akibat sikap dan tindakan seperti itu, Allah tidak lagi memberikan petunjuk kepada mereka.

Hal ini sesuai dengan sunatullah bahwa Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada setiap orang zalim. Mereka mendapat kemurkaan Allah di dunia dan di akhirat.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 11


3 Persamaan Menarik Antara Al-Qur’an dan Nabi Muhammad

0
3 Persamaan Menarik Antara Al-Qur’an dan Nabi Muhammad
Al-Qur’an dan Nabi Muhammad

Mengkaji Al-Qur’an dan Nabi Muhammad tidak akan pernah menemui titik akhir. Pasalnya, keduanya adalah samudra tak bertepi. Semakin dipelajari, keduanya semakin menampakkan keindahan dan sesuatu yang baru. Ini bukti bahwa keduanya berasal dari Allah Yang Maha Tak Terbatas.

Mengingat keduanya memiliki sisi yang transenden, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Siti Aisyah bahwa akhlak Nabi adalah akhlak Al-Qur’an. Dapat dikatakan bahwa, Rasulullah adalah Al-Qur’an yang berjalan, sementara Al-Qur’an adalah Rasulullah yang terfirmankan. Artinya keduanya tak mungkin terpisahkan.

Melihat relasi yang saling berkelindan antara Al-Qur’an dan Nabi Muhammad, mari kita mengkaji apa saja persamaan keduanya di dalam Al-Qur’an. Untuk itu, berikut akan diulas tiga kesamaan keduanya yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Sebagai Cahaya

Persamaan pertama yang ditemukan adalah keduanya “sebagai cahaya”. Al-Qur’an dan Nabi Muhammad disebut sebagai cahaya oleh Allah. Keduanya adalah cahaya Allah untuk umat manusia. Secara umum ada dua sifat cahaya, ia terang bagi dirinya (dzāhirun linafsihi) dan menerangi yang lain (mudzhirun lighairihi).

Dengan demikian, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad adalah cahaya yang terang benderang, sekaligus menjadi penerang bagi kehidupan manusia yang kelam dan penuh kegelapan. Untuk itu, keduanya diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Berikut ayatnya:

يا أَهْلَ الْكِتابِ قَدْ جاءَكُمْ رَسُولُنا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثيراً مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتابِ وَ يَعْفُوا عَنْ كَثيرٍ قَدْ جاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُورٌ وَ كِتابٌ مُبي

Artinya: “Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan dan membiarkan (pula) banyak hal (yang tidak bermaslahat bila dibeberkan). Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. (QS. Al-Maidah: 15).

Dua Imam Jalālain, At-Thabari, dan Ibn Kathīr menerangkan secara ringkas, bahwa yang dimaksud cahaya Allah adalah Nabi Muhammad saw. Yang Menarik, Rasulullah dalam ayat ini disebutkan dengan ungkapan cahaya dari Allah. Betapapun, ada juga yang berpendapat bahwa cahaya ini berupa agama Islam, namun melihat konteksnya, sebagian besar mufasir bersepakat bahwa cahaya yang dimaksud adalah Rasulullah. (Lihat Tafsir Jalālain, At-Thabarī dan Ibn Kathīr).

Ayat lain berbunyi:

فَالَّذينَ آمَنُوا بِهِ وَ عَزَّرُوهُ وَ نَصَرُوهُ وَ اتَّبَعُوا النُّورَ الَّذي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Maka orang-orang yang beriman kepadanya, mendukungnya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157).

Abdurahman As-Sa’dī dalam tafsirnya menerangkan bahwa cahaya dalam ayat ini adalah Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan; yang mampu menerangi keraguan dan kegelapan, kemudian membimbing manusia menuju jalan kebahagiaan. (Taisīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalāmil Mannān).

Baca juga: Misykat Al-Anwar: Tafsir Ayat Cahaya dalam Perspektif Al-Ghazali

Sebagai Rahmat

Persamaan yang kedua adalah “sebagai rahmat”. Rasulullah diutus untuk menjadi rahmat, sementara Al-Qur’an diturunkan sebagai kitab rahmat. Keduanya menjadi rahmat bagi alam semesta. Oleh karena Allah adalah sumber rahmat, maka yang berasal dari-Nya adalah rahmat, yang dalam hal ini berwujud Nabi Muhammad dan Al-Qur’an. Berikut ayatnya:

وَ نُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ ما هُوَ شِفاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنينَ وَلا يَزيدُ الظَّالِمينَ إِلاَّ خَساراً

Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82).

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمينَ

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Berkaitan dengan ayat ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan Nabi Muhammad adalah rahmat bagi alam semesta. Keduanya disematkan kata rahmat dalam bentuk nakirah/indifinitif. Artinya bermakna rahmat yang sangat besar. Kemudian, di akhir, ia menegaskan bahwa Rasulullah bukan membawa rahmat, melainkan dirinya dan Al-Qur’an itu sendiri adalah rahmat bagi alam semesta. (Tafsir al-Misbah).

Baca juga: Surah Al-Anbiya Ayat 107: Misi Nabi Muhammad saw Menebar Rahmat

Dipelihara Oleh Allah

Persamaan ketiga adalah “Keterpeliharaan” oleh Allah. Apabila Allah memelihara Al-Qur’an dari perubahan dan penyelewengan (baca: tahrīf), maka Allah juga memelihara Nabi Muhammad dari segala dosa dan kejahatan yang ditujukan kepadanya. Mari kita perhatikan dua ayat berikut:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

إِنَّا كَفَيْناكَ الْمُسْتَهْزِئينَ

Artinya: Sesungguhnya Kami memeliharamu (Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan(mu).(QS. Al-Hijr: 95).

Asy-Sya’rawi menerangkan ayat ini, bahwa Al-Qur’an datang dari Allah dan Allah punya kuasa untuk senantiasa menjaganya dari perubahan dan penyelewengan. Mengingat bahwa Al-Qur’an mengandung nilia-nilai, pedoman, serta petunjuk yang harus direnungkan dan dipraktikkan oleh manusia hingga akhir zaman, maka keterjagaan Al-Qur’an menjadi niscaya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa Rasulullah sebagai penjaga Al-Qur’an juga dipelihara oleh Allah dari kejahatan. Yakni kejahatan mereka yang ingin menghentikan dakwah Nabi dalam menyampaikan ajaran Tauhid dan nilai-nilai Al-Qur’an. (Tafsir Asy-Sya’rawi).

Melalui telaah ringkas atas ayat-ayat ini, dapat kita peroleh relasi yang erat antara Al-Qur’an dan Nabi Muhammad. Keduanya sama-sama menjadi cahaya, rahmat, serta dipelihara langsung oleh Allah Swt. Persamaan ini mengisyaratkan kita untuk terus berupaya bergabung bersama kafilah Al-Qur’an dan Rasulullah.

Semoga kita terus belajar menapaki jejak Rasulullah melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Sehingga, nantinya kita akan bergabung bersama rombongan Rasulullah dan naungan Al-Qur’an. Artinya, kita harus selalu menjadi cahaya bagi sekitar, menjadi rahmat bagi semuanya, dan saling memelihara satu sama lain dalam kecintaan kepada Allah sebagai sumber rahmat bagi alam semesta.

Wallahu’alam bishawab.

Baca juga: Berbagai Cara Allah Menjaga Al-Quran dalam Tafsir Surah Al-Hijr Ayat 9

Teladan Cinta Kasih Nabi Muhammad Kepada Sesama dan Alam Semesta

0
Teladan Cinta Kasih Nabi Muhammad Kepada Sesama dan Alam Semesta
Teladan Cinta Kasih Nabi Muhammad Kepada Sesama dan Alam Semesta

Sosok Nabi Muhammad tercatat di dalam al-Quran sebagai teladan yang baik (QS. Al-Azhab [33]: 21). Tak dapat dipungkiri, sejarah hidupnya adalah kumpulan catatan keteladanan bagi umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya.

Penobatan sebagai teladan yang baik tersebut pada dasarnya tak bisa lepas dari pengakuan Allah bahwa Nabi Muhammad adalah figur yang berbudi pekerti agung (QS. Al-Qalam [68]: 4). Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menyebut pujian tersebut sebagai pujian yang paling tinggi yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, dan jarang diberikan kepada Rasul lain (Tafsir Al-Azhar, Jilid 10, 7567).

Di sisi lain, Husein Ja’far menyebutkan bahwa budi pekerti atau akhlak tersebut merupakan manifestasi dari rahmatnya atas semesta, sebagaimana menjadi misi utama diutusnya Nabi oleh Allah di muka bumi ini (Husein Ja’far, 2018, 20). “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).

Menyikapi ayat tersebut, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, mencoba menegaskan bahwa rahmat yang dimaksud bukan hanya terkait kedatangannya dengan membawa ajaran, namun lebih dari itu, sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan oleh Allah Swt. (Tafsir Al-Misbah, Jilid 8, 519).

Baca juga: Ketika Allah Menyeru Rasulullah di dalam Al-Qur’an

Kisah-Kisah Cinta Kasih Nabi Kepada Para Sahabatnya

Berkat kerahmatannya yang menyeluruh tersebut, dalam banyak kisah kehidupannya, kita menemui bahwa akhlaknya menjalar kepada siapapun tanpa batas dan sekat apapun, tanpa mengenal strata ekonomi, usia, kesukuan, bahkan agama.

Maka tak heran kita mendengar kisahnya begitu menghargai budak berkulit hitam, Bilal bin Rabah yang sangat dikucilkan di masyarakat Arab ketika itu. Besarnya kebaikan dan ketulusan Nabi itu barangkali dapat kita ukur dari betapa bersedihnya Bilal ketika Nabi Wafat. Ia bahkan masih terus mengingat Nabi ketika telah berusia 60 tahun dan merasakan dekatnya maut. Ia berkata kepada Istrinya;

“Besok aku akan bertemu orang yang sangat aku cintai. Aku sudah menunggu pertemuan ini bertahun-tahun lamanya. Nabi telah mengubah hidupku, mengangkat derajatku dari seorang budak menjadi Muslim pengikutnya. Alangkah indahnya pertemuan itu” (Husein Ja’far, 2018, 21-22).

Baca juga: Tafsir At-Taubah 128: Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

Dalam cerita lain, kita mungkin pernah mendengar kisah Nabi bersama anak kecil yang menangis sendirian. Ia begitu sedih karena ayahnya gugur dalam sebuah peperangan dan ibunya menikah lagi, sedangkan ia tak menerima warisannya, hingga membuatnya telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika itu hari ‘Ied dan ia melihat anak seusianya bermain yang sontak membuatnya makin bersedih.

Kepada anak kecil itu, Nabi dengan penuh kasih berkata: “Apakah kau mau aku jadi ayahmu dan Aisyah jadi ibumu?” tawaran itu diterima anak kecil tersebut dengan hati berbunga. Nabi pun seketika menggandeng tangannya dan membawanya pulang (Husein Ja’far, 2018, 23).

Akhlak Nabi juga melingkupi mereka yang berbeda dengannya. Misalnya ketika lewat di depannya jenazah yang merupakan non-muslim yang baik (ahlu dzimmah). Terhadap jenazah tersebut, Nabi berdiri sebagai bentuk penghormatan. Dan bahkan setelah diberitahu bahwa jenazah tersebut adalah orang Yahudi, yang notabene begitu memusuhi dakwah Nabi. Nabi Lalu menjawab pernyataan tersebut, “Bukankah ia juga manusia?” (Husein Ja’far, 2018, 24). Kisah ini mengisyaratkan keluhuran akhlaknya, yang bahkan sangat menghormati mereka yang berbeda, sekalipun ia telah meninggal dunia.

Baca juga: Kisah Perhatian Nabi Muhammad Terhadap Anak Yatim Terutama di Hari Raya

Rahmat Bagi Semesta Alam, Teladan Bagi Semua

Tak sebatas itu, pemilihan frasa “semesta alam”, sudah tentu digunakan bukan sebagai pemanis atau untuk melebih-lebihkan saja, melainkan benar-benar demikian adanya. Karena faktanya, Nabi Muhammad tak hanya berakhlak kepada manusia, melainkan kepada sesama makhluk Tuhan lainnya, termasuk hewan.

Misalnya ketika suatu saat Nabi menegur beberapa orang yang sedang berbincang-bincang dan duduk di atas hewannya masing-masing. Nabi berkata, “Naikilah mereka dengan baik dan biarlah hewan tersebut beristirahat melepas lelah dengan baik-baik. Jangan menjadikan punggungnya sebagai kursi ketika kalian sedang berbicara” (Husein Ja’far, 2018, 25).

Wacana cinta kasih ini nampaknya perlu kembali didengungkan sedemikian rupa, di tengah berkembangnya wacana yang menunjukkan bahwa Islam identik dengan kekerasan, dan Nabi Muhammad adalah Nabi yang suka perang. Wacana ini bahkan beredar dan barangkali dianggap wajar oleh umat Islam sendiri. Sebut saja dalam buku-buku sejarah Islam yang membincangkan persoalan kenabian pada sekolah dasar, kisah-kisah peperangan nampaknya dijadikan sebagai kisah yang paling menonjol dalam masa kenabian.

Padahal, mengutip tulisan Haidar Bagir, beberapa peneliti menyebutkan bahwa  seluruh perang Nabi memakan waktu total 800 hari, itu pun termasuk hari-hari persiapan atau ekspedisi-ekspedisi yang tak berujung peperangan. Jika tanpa keduanya, maka jumlah total perangnya Nabi hanyalah 80 hari.

Sedangkan karier kenabian Muhammad kira-kira adalah 23 tahun, yang berarti sama dengan 8.000 hari, maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya kisah peperangan Nabi hanyalah 10% dari kisah kenabian, atau bahkan 1% jika tidak mengikutkan hari-hari persiapan dan ekspedisi-ekspedisi yang tak berujung peperangan. (Haidar Bagir, Mencegah Radikalisme dari Keluarga). Sehingga 90% atau 99% sisa kehidupan Nabi dihabiskan untuk menebar cinta kasih bagi alam semesta.

Sejalan dengan pernyataan di atas, Husein Ja’far dalam hal ini juga menyebut bahwa jika dirangkum, maka keteladanan Nabi Muhammad adalah keteladanan cinta-kasih. Oleh karenanya, dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad saw 1443 H, tugas kita, selain meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad, adalah menerapkan teladan cinta-kasihnya kepada sesama dan alam semesta juga tentunya. Shallu ‘alan Nabi

Baca juga: Surah Al-Anbiya Ayat 107: Misi Nabi Muhammad saw Menebar Rahmat

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 9

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 9 masih berbicara tentang sikap orang musyrik kepada Nabi Muhammad. Di sini, ditegaskan kebenaran Muhammad sebagai seorang Rasul yang membawa risalah Tuhan.

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 9 juga menyitir sekilas tentang hal-hal yang ghaib, bahwa Allah adalah Dzat yang mengetahui segala sesuatu, termasuk hal ghaib adalah wilayah-Nya, sedangkan manusia tidak punya akses untuk mengetahui hal-hal yang demikian.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 7-8 (2)


Ayat 9

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan bahwa ia bukanlah yang pertama di antara para rasul. Seperti telah disebutkan dalam keterangan kosakata, bid’ artinya sesuatu yang baru, atau barang yang baru pertama kali adanya.

Jika kaum musyrik mengingkari kerasulan Muhammad padahal sebelumnya telah banyak rasul Allah sejak Nabi Adam sampai Nabi Isa, maka sikap ingkar serupa itu sangat aneh dan perlu dipertanyakan karena diutusnya Muhammad sebagai rasul sesungguhnya bukan yang pertama di antara para rasul.

Sebelum Nabi Muhammad, Allah telah mengutus banyak nabi dan rasul pada setiap zaman dan tempat yang berbeda.

Pengutusan para nabi oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia adalah pengalaman universal umat manusia, bukan hanya untuk memperbaiki keadaan kaum musyrik Mekah.

Jadi diutusnya Muhammad untuk mengemban misi risalah, bukanlah sesuatu yang baru sama sekali.

Selanjutnya Allah memerintahkan agar Rasulullah menyampaikan kepada orang-orang musyrik bahwa ia tidak mengetahui sedikit pun apa yang akan dilakukan Allah terhadap dirinya dan mereka di dunia ini, apakah ia harus meninggalkan negeri ini dan hijrah ke negeri lain seperti yang telah dilakukan nabi-nabi terdahulu, ataukah ia akan mati terbunuh seperti nabi-nabi lain yang mati terbunuh.

Ia juga tidak mengetahui apa yang akan ditimpakan kepada kaumnya. Semuanya itu hanya diketahui oleh Allah yang Maha Mengetahui.

Rasulullah saw menegaskan kembali bahwa walaupun Allah telah berjanji akan memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dan akan mengalahkan orang-orang kafir, memasukkan kaum Muslimin ke dalam surga dan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, namun ia sedikit pun tidak mengetahui kapan hal itu akan terjadi.

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui segala yang gaib. Para rasul dan para nabi tidak mengetahuinya, kecuali jika Allah memberitahukannya.

Karena itu, ayat ini membantah dengan tegas kepercayaan yang menyatakan bahwa para wali mengetahui yang gaib, mengetahui apa yang akan terjadi.

Rasulullah saw sendiri sebagai utusan Allah mengakui bahwa ia tidak mengetahui hal-hal yang gaib, apalagi para wali yang tingkatnya jauh di bawah tingkat para rasul.


Baca Juga: Membaca Ayat-Ayat Antropomorfis: Penafsiran Kalangan Sunni 


Dalam hadis riwayat Imam al-Bukh±r³ dan imam-imam yang lain:

عَنْ اُمِّ الْعَلاَءِ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُوْنٍ قُلْتُ رَحِمَكَ اللهُ اَبَاالسَّائِبِ لَقَدْ اَكْرَمَكَ اللهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَمَا يُدْرِيْكِ أَنَّ اللهَ أَكْرَمَهُ اَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِيْنُ مِنْ رَبِّهِ إِنِّي َلأَرْجُوْ لَهُ الْخَيْرَ وَاللهِ مَا اَدْرِيْ وَاَنَا رَسُوْلُ اللهِ مَا يَفْعَلُ بِي وَلاَ بِكُمْ قَالَتْ اُمُّ الْعَلاَءِ: فَوَاللهِ مِا اُزَكِّى بَعْدَهُ اَبَداً . (رواه البخاري)

Dari Ummul ‘Ala’, ketika ‘Utsman bin Mazh’un meninggal dunia aku berdoa semoga Allah merahmatimu hai Abu as-Saib, sungguh Allah telah memuliakanmu. Maka Rasulullah menegur; Dari mana engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya? Adapun dia sendiri telah mendapat keyakinan dari Tuhannya dan aku benar-benar mengharapkan kebaikan baginya. Demi Allah, aku tidak mengetahui, padahal aku Rasul Allah, apakah yang akan diperbuat Allah terhadap diriku, begitu pula terhadap diri kamu semua”. Ummul ‘Ala berkata: “Demi Allah semenjak itu aku tidak pernah lagi menyucikan (memuji) orang buat selama-lamanya. (Riwayat al-Bukhari).

Dari keterangan di atas jelas bahwa Rasulullah sendiri tidak mengetahui hal yang gaib. Beliau tidak mengetahui apakah sahabatnya ‘Utsman bin Mazh’un yang telah meninggal itu masuk surga atau masuk neraka.

Namun, beliau berdoa agar sahabatnya itu diberi rahmat oleh Allah. Hal ini juga berarti bahwa tidak seorang pun yang dapat meramalkan sesuatu tentang seseorang yang baru meninggal.

Rasulullah saw sendiri tidak mengetahui, apalagi seorang wali atau seorang ulama. Jika ada seorang wali menyatakan bahwa dia mengetahui yang gaib, maka pernyataan itu adalah bohong belaka.

Rasulullah menjadi marah mendengar orang-orang yang menerka-nerka nasib seseorang yang meninggal dunia sebagaimana tersebut dalam hadis di atas.

Ayat ini memberikan petunjuk kepada kita tentang sikap yang baik dalam menghadapi atau melayat salah seorang teman yang meninggal dunia. Petunjuk itu adalah agar kita mendoakan dan jangan sekali-kali meramalkan nasibnya, karena yang mengetahui hal itu hanyalah Allah.

Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan agar Rasulullah menegaskan keadaan dirinya yang sebenarnya untuk menguatkan apa yang telah disampaikannya.

Dia diperintahkan agar mengatakan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa tidak ada sesuatu pun yang diikutinya, selain Al-Qur’an yang diwahyukan Allah kepadanya, dan tidak ada suatu apa pun yang diada-adakannya.

Semuanya berasal dari Allah Yang Mahakuasa. Ia hanyalah seorang pemberi peringatan yang diutus Allah untuk menyampaikan peringatan kepada mereka agar menjaga diri dari siksa dan murka Allah.

Nabi saw juga menegaskan bahwa ia telah menyampaikan kepada mereka bukti-bukti kuat tentang kebenaran risalahnya. Ia bukan malaikat, sehingga ia tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan manusia.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 10


Tafsir Surah Ahqaf Ayat 7-8 (2)

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 7-8 (2) masih berbicara tentang tuduhan orang musyrik kepada Muhammad berkaitan tentang al-Qur’an, mereka juga menuduh Nabi Muhammad sering mengada-ada dengan nama Allah Swt.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 7-8 (1)


Ayat 7 (2)

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang musyrikin tidak mau mengakui kebenaran Al-Qur’an sekalipun hati mereka sendiri telah mengakuinya, ialah kefanatikan mereka terhadap kepercayaan nenek moyang mereka. Allah berfirman:

بَلْ قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ   ٢٢

Bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (az-Zukhruf/43: 22).

Di samping kefanatikan kepada ajaran nenek moyang, mereka juga khawatir akan kehilangan kedudukan sebagai pemimpin suku atau kabilah, jika mereka menyatakan isi hati mereka yang sebenarnya terhadap kebenaran risalah Nabi Muhammad.

Ayat 8

Di samping menuduh Muhammad saw sebagai tukang sihir, orang-orang musyrik itu juga menuduh beliau sebagai orang yang suka mengada-ada dan mengatakan yang bukan-bukan tentang Allah.

Karena itu, Allah memerintahkan kepada Muhammad saw untuk membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Seandainya aku berdusta dengan mengada-ada atau mengatakan yang bukan-bukan tentang Allah, seperti jika aku bukanlah seorang rasul, tetapi aku mengatakan bahwa aku adalah seorang rasul Allah yang diutus-Nya kepadamu untuk menyampaikan agama-Nya, tentulah Allah menimpakan azab yang sangat berat kepadaku, dan tidak seorang pun di bumi ini yang sanggup menghindarkan aku dari azab itu.

Mungkinkah aku mengada-adakan sesuatu dan mengatakan yang bukan-bukan tentang Allah dan Al-Qur’an, dan menjadikan diriku sebagai sasaran azab Allah, padahal tidak seorang pun yang dapat menolongku daripadanya?” Allah berfirman:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْاَقَاوِيْلِۙ  ٤٤  لَاَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِۙ  ٤٥  ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَۖ  ٤٦  فَمَا مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِيْنَۙ  ٤٧

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya). (al-Haqqah/69: 44-47).


Baca Juga: Tafsir Ahkam : Apakah Boleh Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Sihir?


Pada akhir ayat ini, Rasulullah saw menegaskan kepada orang-orang musyrik bahwa Allah Maha Mengetahui segala tindakan, perkataan, dan celaan mereka terhadap Al-Qur’an, misalnya mengatakan Al-Qur’an itu sihir, syair, suatu kebohongan, dan sebagainya; karena itu Dia akan memberi pembalasan yang setimpal.

Nabi Muhammad mengatakan bahwa cukup Allah yang menjadi saksi tentang kebenaran dirinya menyampaikan agama Allah kepada mereka. Allah pula yang akan menjadi saksi tentang keingkaran serta sikap mereka yang menolak kebenaran.

Selanjutnya Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad mengatakan kepada orang-orang musyrik bahwa meskipun mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya, serta terhadap Al-Qur’an, namun pintu tobat tetap terbuka bagi mereka.

Allah akan menerima tobat mereka asalkan mereka benar-benar bertobat kepada-Nya dengan tekad tidak akan durhaka lagi kepada-Nya, dan tidak akan melakukan perbuatan dosa yang lain.

Allah mau menerima tobat mereka karena Ia Maha Pengampun dan tetap memberi rahmat kepada orang-orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 9


Tafsir Surah Ahqaf Ayat 7-8 (1)

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 7-8 (1) secara umum berbicara tentang kemukjizatan al-Qur’an untuk membantah anggapan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah sihir karya Muhammad Saw.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 4-6


Ayat 7 (1)

Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik ketika Rasulullah saw membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka.

Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu adalah sihir yang dibacakan oleh tukang sihir, yaitu Muhammad saw.

Menurut mereka, tukang sihir memang biasa mengada-adakan kebohongan dan menyihir orang lain untuk mencapai maksudnya.

Dalam ayat yang lain diterangkan tuduhan orang-orang musyrik terhadap Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah mimpi yang kacau yang diada-adakan, dan Muhammad saw adalah seorang penyair. Allah berfirman:

بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌۚ فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ   ٥

Bahkan mereka mengatakan, “(Al-Qur’an itu buah) mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasanya (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair, cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda (bukti), seperti halnya rasul-rasul yang diutus terdahulu.” (al-Anbiya’/21: 5).

Orang-orang musyrik menuduh Muhammad sebagai tukang sihir karena menurut mereka, Abµ al-Wal³d bin al-Mug³rah pernah disihirnya. Karena pengaruh sihir itu, ia menyatakan kekagumannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah saw kepadanya.

Kisah ini bermula ketika pada suatu waktu, sebelum Rasulullah saw hijrah ke Medinah, para pemimpin Quraisy berkumpul untuk merundingkan cara menundukkan Rasulullah.

Setelah bermusyawarah, akhirnya mereka sepakat mengutus Abu al-Walid, seorang sastrawan Arab yang tak ada bandingannya waktu itu untuk datang kepada Rasulullah, meminta kepada beliau agar berhenti menyampaikan risalahnya.

Sebagai jawaban, Rasulullah membaca Surah 41 (Fusshilat) dari awal sampai akhir. Abu al-Walid terpesona mendengar bacaan ayat itu; ia termenung memikirkan ketinggian isi dan keindahan gaya bahasanya.

Kemudian ia langsung kembali kepada kaumnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rasulullah.

Setelah Abu al-Walid kembali, ia ditanya oleh kaumnya tentang hasil usahanya. Mereka heran, mengapa Abu al-Walid bermuram durja.


Baca Juga: Mengenal Abu Ja’far al-Nahhas, Salah Satu Tokoh Awal Tafsir Lughawi di Mesir


Abu al-Walid menjawab, “Aku telah datang kepada Muhammad dan ia menjawab dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepadaku. Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Tetapi perkataan itu bukanlah syair, bukan sihir, dan bukan pula kata-kata ahli tenung.”

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam ke dalam tanah, susunan kata-katanya runtun dan enak didengar. Al-Qur’an itu bukanlah kata-kata manusia. Ia sangat tinggi dan tidak ada yang dapat menandingi keindahan susunannya.”

Mendengar jawaban Abu al-Walid  itu, kaum Quraisy menuduhnya telah berkhianat dan cenderung tertarik kepada agama Islam karena telah terkena pengaruh sihir Nabi Muhammad.

Dari sikap Abu al-Walid setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dan sikap orang-orang musyrik Mekah itu kepada Abu al-Walid, dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya hati mereka telah mengakui kebenaran Al-Qur’an, telah mengagumi isi dan gaya bahasanya, namun ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mengucapkan dan menyatakan kebenaran itu.

Abu al-Walid seorang yang mereka banggakan keahliannya dalam sastra dan bahasa Arab selama ini, tidak berkutik sedikit pun dan terpesona mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Bagaimana halnya dengan mereka yang jauh lebih rendah pengetahuannya daripada Abu al-Walid? Karena tidak ada satu alasan pun yang dapat mereka kemukakan, dan untuk menutupi kelemahan mereka, maka mereka langsung menuduh bahwa Al-Qur’an adalah sihir yang berbentuk syair, dan Muhammad itu adalah tukang sihir yang menyihir orang dengan ucapan-ucapan yang berbentuk syair.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 7-8 (2)