Beranda blog Halaman 552

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 45-46

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 45

Di dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad, terhadap cerita Maryam di kala Jibril datang kepadanya, membawa kabar gembira kepadanya bahwa dia akan melahirkan seorang putra yang saleh. Ketika Jibril menyampaikan kabar gembira itu Allah telah memilihnya, menyucikannya untuk tetap beribadah kepada Allah dan selalu bersyukur kepada-Nya. Yang dimaksud dengan malaikat di sini ialah Jibril, sebagaimana di dalam firman Allah:

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَابًاۗ فَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا 

“… lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” (Maryam/19: 17)

Isa disebut dengan “kalimat Allah”, sebagai pemberitahuan tentang proses penciptaannya yang berlainan dengan kejadian manusia biasa. Isa a.s. dinamai al-Masih, sedang Almasih itu adalah gelar raja, karena kata Almasih dalam Taurat dan Injil berarti “yang disapu atau yang diminyaki”.

Menyapu dan meminyaki itu adalah suatu ketentuan dalam adat istiadat mereka bahwa siapa yang telah disapu dengan minyak suci oleh kepala agama, maka dia sudah menjadi suci pula, cakap untuk memegang kerajaan, memiliki ilmu pengetahuan dan kekuasaan, lagi mendapat berkah. Di sini Allah, menunjukkan bahwa Isa, senantiasa mendapat berkah walaupun belum pernah disapu dengan minyak suci itu.

Ada pula yang mengatakan bahwa nama Isa berasal dari kata Yunani “yasu”, artinya “yang diselamatkan yang terpilih”. Para nabi dahulu telah menerangkan bahwa akan datang seorang al-Masih, dia seorang raja yang akan mengembalikan kekuasaan Bani Israil yang telah hilang.

Maka ketika Isa lahir dan dinamai al-Masih, segolongan mereka beriman kepadanya. Orang-orang Yahudi yang mengingkarinya berpendapat bahwa yang dijanjikan itu belum datang. Dia dinamakan Ibnu Maryam (putra Maryam) untuk memberi pengertian bahwa Isa lahir tanpa ayah karena itulah ia dinisbatkan kepada ibunya.

Isa a.s. mempunyai kedudukan yang terkemuka di dunia, karena dia mendapat tempat di hati orang-orang mukmin serta dihormati.

Perbaikan-perbaikan yang ditinggalkan Isa tetap membekas di kemudian hari. Kebesarannya jauh lebih nyata daripada kebesaran para penguasa atau raja-raja sebab orang-orang menghormati para penguasa dan raja itu adalah untuk menghindarkan diri dari penyiksaan mereka, karena takut terhadap kezaliman mereka, atau untuk mengambil muka agar diberi kedudukan duniawi.

Kebesaran yang demikian ini adalah kemegahan semu belaka, tanpa ada bekasnya sedikit pun di dalam jiwa, bahkan mungkin menimbulkan kebencian. Selain dari itu, Isa mempunyai kebesaran di akhirat, yaitu kedudukan dan kemuliaan yang tinggi, karena beliau senantiasa dekat kepada Allah.

Ayat 46

Isa telah berbicara dengan manusia ketika masih kecil dalam ayunannya untuk menjelaskan kebersihan ibunya dari tuduhan yang dilemparkan kepadanya, dan untuk menjadi bukti atas kenabiannya. Isa juga berbicara dengan manusia ketika dia sudah dewasa yakni sesudah Allah mengangkatnya menjadi rasul dan menurunkan wahyu kepadanya, untuk menyampaikan perintah dan larangan-larangan-Nya kepada manusia.

Beliau tergolong ke dalam orang-orang yang saleh yang telah diberi nikmat oleh Allah yakni para nabi-nabi, para sidiqin dan para syuhada’.

(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 41-44

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 41

Setelah Zakaria mendengar jawaban itu dari Malaikat Jibril maka dia berkata, “Tuhanku berilah aku suatu tanda bahwa istriku akan hamil”.

Menurut al-Hasan al-Basri, Nabi Zakaria bertanya demikian adalah untuk segera memperoleh kegembiraan hatinya atau untuk menyambut nikmat dengan syukur, tanpa menunggu sampai anak itu lahir.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa tanda istrinya sudah mengandung adalah dia sendiri tidak berbicara dengan orang lain selama tiga hari, kecuali dengan mempergunakan isyarat tangan, kepala dan lain-lainnya, dan beliau berzikir dan bertasbih kepada Allah. Allah menyuruh Zakaria tidak berbicara selama tiga hari, agar seluruh waktunya digunakan untuk zikir dan bertasbih kepada-Nya, sebagai pernyataan syukur yang hakiki.

Menurut al-Qurtubi, sebagian mufasir mengatakan bahwa tiga hari Zakaria menjadi bisu itu adalah sebagai hukuman Allah terhadapnya, karena dia meminta pertanda kepada malaikat sehabis percakapan mereka.

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Zakaria agar tetap ingat kepada Allah dan berzikir sebanyak-banyaknya pada waktu pagi dan petang hari, sebagai tanda syukur kepada-Nya.

Ayat 42

Ayat ini kembali menceritakan keluarga Imran, sesudah ayat yang lalu menceritakan hal ihwal keluarga Zakaria yang juga termasuk keluarga Imran. Dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw, tentang peristiwa yang dialami oleh Maryam ketika dia didatangi oleh Malaikat Jibril (Maryam/19: 19-21). Pembicaraan Jibril dan Maryam di sini bukanlah seperti pembicaraan Jibril dengan nabi-nabi, yang merupakan penyampaian wahyu Allah kepada mereka melainkan sebagai pembicaraan malaikat dengan wali-wali Allah, yang berupa ilham.

Ungkapan rasa syukur Maryam kepada Allah dengan ibadah dan ketaatannya yang tidak putus-putusnya, menambah terpeliharanya kemuliaan dan kesempurnaan diri pribadinya, serta menambah jauhnya dari segala sifat yang tidak baik. Karena itu wajar bila Maryam memperoleh ilham dari Allah melalui Jibril sebagai penghormatan atas dirinya.

Jibril menandaskan bahwa Allah telah memilih Maryam untuk berkhidmat di Baitulmakdis, dan membersihkan dia dari keaiban lahir dan batin, serta menentukannya untuk melahirkan seorang nabi meskipun dia tidak pernah dijamah oleh seorang lelaki. Allah mengistimewakan Maryam atas semua perempuan di masanya. Sabda Rasul saw:

خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِيْنَ اَرْبَعٌ: مَرْيَمُ وَاٰسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدْ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ

(رواه البخاري ومسلم عن هشام بن حاكم)

Perempuan terbaik di dunia ini adalah empat orang: Maryam binti Imran, Asiyah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Hisyam bin Hakim)

Ayat 43

Allah mewajibkan kepada Maryam untuk taat kepada-Nya sebagai tanda syukur atas nikmat yang dianugerahkan-Nya kepadanya, dengan firman-Nya yang artinya, “Taatilah hai Maryam Tuhanmu, bersujudlah, dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku”’. Yang dimaksud dengan “sujud” di sini adalah sujud seperti sujud dalam salat dan dimaksudkan dengan “ruku” ialah salat itu sendiri. Ayat ini memerintahkan kepada Maryam agar melakukan salat berjamaah bersama-sama orang lain.

Salat menurut pengertian orang Yahudi waktu itu ialah: doa atau bersujud. Sujud dengan meletakkan dahi ke tanah atau ke lantai itu salat mereka, semua ibadah yang dilakukan Maryam bertempat di mihrab.

Ayat 44

Ayat ini ditutup dengan mengarahkan pembicaraan kepada Nabi Muhammad bahwa cerita itu termasuk cerita yang belum diketahuinya, sedang hal itu sesuai dengan isi Kitab Taurat.

Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa apa yang telah dikisahkan, yaitu kisah Maryam dan Zakaria adalah kisah-kisah yang tidak pernah disaksikan oleh Nabi Muhammad saw, atau keluarganya, dan tidak pula Muhammad pernah membacanya dalam suatu kitab, serta tidak pula diajarkan oleh seorang guru. Itulah wahyu, yang diturunkan Allah kepadanya dengan perantara Ruhul-Amin, untuk menjadi bukti atas kebenaran kenabiannya, dan untuk mematahkan hujjah (argumentasi) orang yang mengingkarinya.

Kemudian Allah menyatakan pula bahwa Nabi Muhammad, belum ada dan tentu saja tidak menyaksikan mereka ketika mengadakan undian di antara Zakaria dengan mereka, untuk menetapkan siapa yang akan mengasuh Maryam.

Nabi Muhammad saw tidak hadir dalam perselisihan mereka untuk mengasuh Maryam. Mereka terpaksa mengadakan undian untuk menyelesai-kan perselisihan itu. Mereka yang berselisih adalah orang-orang terkemuka yakni para pendeta mereka. Perselisihan itu semata-mata didorong oleh keinginan yang besar untuk mengasuh dan memelihara Maryam. Boleh jadi keinginan ini disebabkan karena bapaknya yaitu Imran adalah pemimpin mereka, sehingga mereka mengharapkan akan mendapatkan berkah dari tugas mengasuh Maryam.

Boleh jadi pula disebabkan mereka mengetahui dalam kitab-kitab agama, bahwasanya kelak akan terjadi peristiwa besar bagi Maryam dan putranya. Atau mungkin disebabkan mereka berpendapat bahwa mengasuh bayi perempuan itu adalah suatu kewajiban agama, karena bayi itu dinazarkan untuk mengabdi di Baitulmakdis.

Ayat ini diletakkan sesudah menerangkan kisah Maryam tersebut, adalah untuk menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca cerita keluarga Imran (Bani Israil), karena beliau seorang ummiLagi pula beliau tidak pernah mendengar dari seseorang sebab beliau juga hidup waktu itu di tengah-tengah orang yang ummi.

Tidak ada jalan bagi Nabi, untuk mengetahui seluk beluk cerita ini kecuali dengan jalan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, atau dengan jalan wahyu. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri adalah suatu hal yang mustahil, karena peristiwa itu terjadi pada zaman sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw. Kalau demikian tentulah Nabi Muhammad mengetahuinya dengan jalan wahyu.

Para Ahli Kitab yang mengingkari Alquran mengatakan bahwa isi Alquran yang sesuai dengan isi Kitab mereka itu adalah berasal dari kitab mereka, sedang yang bertentangan dengan isi kitab mereka itu mereka katakan tidak benar. Isi Alquran yang tidak terdapat dalam Kitab mereka juga dianggap tidak benar. Sikap demikian itu hanyalah karena sifat sombong dan sifat permusuhan mereka.

Kaum Muslimin meyakini bahwa segala yang diterangkan Alquran adalah benar. Karena cukup dalil-dalil yang membuktikan bahwa Muhammad saw adalah seorang nabi. Ayat Alquran yang bertentangan dengan kitab-kitab terdahulu dipandang sebagai koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang terdapat pada kitab-kitab itu, karena sudah diubah-ubah atau tidak sesuai lagi dengan kemaslahatan umat.

(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 36-40

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 36

Ayat ini menegaskan kemuliaan putri yang dilahirkan, dan menolak persangkaan bahwa bayi perempuan yang dilahirkan lebih rendah martabatnya daripada bayi laki-laki seperti yang diharapkan oleh istri Imran.

Setelah istri Imran menyadari kenyataan anaknya itu perempuan, dan meyakini adanya hikmah dan rahasia di balik kenyataan ini, maka dia menyatakan bahwa bayi itu akan diberi nama Maryam. Dia tidak akan menarik kembali apa yang telah dinazarkan untuk menyerahkan anaknya berkhidmat di Baitulmakdis, walaupun bayi itu perempuan dan menurut anggapannya tidak pantas untuk menjaga Baitulmakdis, namun dia akan menjadi seorang abdi Tuhan yang khusyuk.

Istri Imran memohon agar Allah menjaga dan melindungi bayinya dari godaan setan yang mungkin menjauhkannya dari kebajikan. Mengenai hal ini, Rasulullah saw bersabda sebagai berikut:

كُلُّ بَنِيْ اٰدَمَ يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ يَوْمَ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ اِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا

(رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

“Tiap-tiap anak cucu Adam yang dilahirkan dijamah oleh setan pada waktu kelahirannya kecuali Maryam dan putranya”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Ayat 37

Allah menerima Maryam sebagai nazar disebabkan permohonan ibunya. Allah meridainya untuk menjadi orang yang semata-mata beribadah dan barkhidmat di Baitulmakdis walaupun Maryam masih kecil dan hanya seorang perempuan. Padahal orang yang dikhususkan untuk berkhidmat di Baitulmakdis biasanya laki-laki yang akil balig dan sanggup melaksanakan pengkhidmatan. Allah juga memelihara dan mendidiknya serta mem-besarkannya dengan sebaik-baiknya.

Pendidikan yang diberikan Allah kepada Maryam, meliputi pendidikan rohani dan jasmani. Maka dia menjadi orang yang berbadan sehat dan kuat serta berbudi baik, bersih rohani dan jasmaninya. Allah telah pula menjadikan Nabi Zakaria sebagai pengasuh dan pelindungnya.

Diriwayatkan bahwa ibunya menjemput dan membawanya ke masjid, lalu meletakkannya di depan rahib-rahib yang ada di sana. Dia berkata, “Ambillah olehmu anak yang kunazarkan ini”. Maka mereka saling memperebutkan bayi itu, karena dia adalah putri dari pemimpin mereka. Masing-masing ingin menjadi pengasuhnya. Nabi Zakaria kemudian berkata, “Aku lebih berhak mengasuhnya, karena bibinya adalah istriku”. Tetapi mereka menolak kecuali jika ditentukan dengan undian.

Maka pergilah mereka ke sungai Yordan, melepaskan anak panah mereka masing-masing ke sungai, dengan maksud siapa yang anak panahnya dapat bertahan terhadap arus air sungai dan dapat cepat naik, maka dialah yang berhak mengasuh bayi Maryam. Ternyata kemudian anak panah Nabi Zakarialah yang dapat bertahan dan timbul meluncur di permukaan air, sedang anak panah yang lainnya hanyut tenggelam dibawa arus. Maka dalam undian itu, Nabi Zakaria yang menang dan Maryam segera diserahkan kepadanya untuk dipelihara dan dididik di bawah asuhan bibinya sendiri.

Manakala Maryam sudah mulai dewasa, dia telah mulai beribadah di mihrab. Tiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab, ia dapati di sana makanan dan bermacam buah-buahan yang tidak ada pada waktu itu karena belum datang musimnya. Zakaria pernah menanyakan kepada Maryam tentang buah-buahan itu dari mana dia peroleh padahal saat itu musim kemarau. Maka Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.”

Kisah tersebut dikemukakan untuk meneguhkan kenabian Muhammad saw, dan mengalihkan pikiran Ahli Kitab yang membatasi karunia kenabian pada keturunan Bani Israil saja. Juga untuk mengoreksi pendapat orang musyrik Arab yang menolak kenabian Muhammad saw. karena menganggap dia hanya manusia seperti mereka.

Allah telah menjadikan Adam sebagai orang pilihan dan khalifah di atas bumi, serta menjadikan Nuh sebagai orang pilihan dan bapak yang kedua dari umat manusia dan kemudian memilih Ibrahim serta keluarganya untuk menjadi manusia pilihan dan pembimbing manusia.

Orang Arab dan para Ahli Kitab mengetahui hal itu, tetapi orang musyrik Arab menyombongkan diri sebagai keturunan Ismail dan pemeluk agama Ibrahim, dan Ahli Kitab menyombongkan diri atas terpilihnya keluarga Imran dari keturunan Bani Israil cucu Nabi Ibrahim. Banyak orang Arab maupun ahli Kitab mengetahui bahwa Allah telah memilih mereka semata-mata hanyalah atas kehendak-Nya, sebagai karunia dan kemurahan-Nya.

Maka apakah yang menghalangi Allah untuk menjadikan Muhammad orang pilihan di atas bumi ini, sebagaimana Allah memilih mereka juga? Allah memilih siapa pun yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Allah telah memilih Muhammad saw serta menjadikannya sebagai pemimpin bagi umat manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik, dan kebodohan, kepada cahaya kebenaran dan keimanan. Tidak seorang pun dari keluarga Ibrahim dan Imran lebih besar pengaruhnya daripada Muhammad saw.

Ayat 38

Pada ayat yang lalu telah diceritakan perihal keluarga Imran, maka pada ayat ini dipaparkan cerita seputar keluarga Zakaria, di antara keduanya terjalin hubungan yang sangat erat, dalam rangka mengemukakan keutamaan keluarga Imran. Tatkala Zakaria melihat kemuliaan dan martabat yang begitu tinggi pada Maryam di hadapan Allah, timbullah keinginannya untuk mempunyai seorang anak serupa dengan Maryam dalam kecerdasan dan kemuliaannya di sisi Allah.

Walaupun Zakaria mengetahui bahwa istrinya adalah seorang perempuan yang mandul dan sudah tua, namun dia tetap mengharapkan anugerah dari Allah. Di dalam mihrab tempat Maryam beribadah, Zakaria memanjatkan doa kepada Allah, semoga Dia berkenan menganugerahkan kepadanya seorang keturunan yang saleh, dan taat mengabdi kepada Allah. Doa yang timbul dari lubuk hati yang tulus dan penuh kepercayaan kepada kasih sayang Allah yang Maha Mendengar dan memperkenankan segala doa, maka segera doanya dikabulkan Allah.

Ayat 39

Ketika Zakaria masih berdiri di mihrab, dan baru selesai berdoa, datanglah kepadanya Malaikat Jibril memberitahukan bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya seorang anak laki-laki bernama Yahya.

Yahya kelak yang akan membenarkan nabi yang diciptakan oleh Allah, yang lahir tidak seperti bayi-bayi yang lain, dengan melalui ibu dan bapak, yaitu Nabi Isa. Yahya adalah seorang nabi yang memimpin kaumnya ke arah kemuliaan dan kebahagiaan. Nabi yang menjauhkan dirinya dari nafsu dan syahwat, karena semata-mata mengabdi kepada Allah. Dia adalah seorang nabi yang lahir dari keturunan yang mulia yakni nabi-nabi ¡alaw±tull±hi ‘alaihim.

Diriwayatkan bahwa Nabi Yahya sewaktu masih kanak-kanak, pernah berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain. Mereka mengajaknya bermain. Beliau berkata, “Aku diciptakan bukan untuk bermain-main”.

Ayat 40

Setelah Zakaria yakin akan kebenaran kabar gembira itu, mulailah dia merasa heran terhadap kemungkinan kelahiran anak dari dirinya yang sudah tua. Meluncurlah kata-kata dari lidahnya, “Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku akan mendapat anak laki-laki, sedang umurku sudah tua dan istrikupun mandul”.

Allah berfirman dan firman-Nya disampaikan oleh malaikat, “Demikianlah Allah melaksanakan apa-apa yang Dia kehendaki. Apabila Allah menghendaki sesuatu, Allah mengadakan sebabnya atau Dia menjadikannya dengan tidak melalui sebab-sebab yang biasa. Tidak ada suatupun terjadi tanpa kehendak-Nya. Segala perkara terletak pada kekuasaan-Nya. Tidak patut pertanyaan tentang bagaimana caranya Allah menjadikannya, karena pikiran manusia tidak akan dapat mengetahuinya.

Perintah untuk Berdamai dalam Perspektif Al Quran

0
garuda di genggaman

Strategi untuk mempertahankan keutuhan negara, salah satunya adalah dengan menumbuhkan nuansa kedamaian antar masyarakat. Oleh karenanya, pada setiap konflik, baik perang atau tindakan anarkis lainnya, jalan perdamaian harus diupayakan. Mengenai hal ini, Allah telah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 61:

وَاِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Qs. Al-Anfal (8) : 61)

Menurut Imam Ismail Ibnu Kathir ayat di atas menerangkan bahwa jika dalam suatu pertempuran, salah satu pihak ingin mengajukan damai atau gencatan senjata, maka harus menerima hal tersebut.

Redaksi al-Silm pada ayat di atas memiliki makna keselamatan (al-Musalamah) dan perbaikan (al-Mushalahah). Ayat ini berkaitan erat dengan peristiwa Hudaybiyah ketika terjadi perundingan antara kaum Muslim dengan kaum Quraisy yang terjadi di Hudaybiyah. Kaum Quraisy meminta kepada Rasulullah Saw. untuk melakukan gencatan senjata juga berdamai selama 6 tahun.

Walaupun isi perjanjian tersebut merugikan kaum Muslim, namun Rasulullah Saw. tetap mematuhi isi perjanjian tersebut demi kemaslahatan umat. Masih menurut Ibnu Kathir dengan mengutip pendapat ‘Abd Allah bin Abbas, Mujahid, Zayd ibn Aslam dan Qatadah bahwa ayat di atas telah dinasakh (dibatalkan) dengan ayat lain sebagai berikut:

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صٰغِرُوْنَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Surat At-Taubah ayat 29)

Keberadaan ayat tersebut dikarenakan pada surat At-Taubah terdapat perintah untuk memerangi orang-orang kafir yang telah memerangi Rasulullah Saw. Akan tetapi, jika musuh meminta damai sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Hudaybiyah, maka kaum Muslim harus menerima tawaran tersebut. (Ismail ibn Kathir, Tafsir al-Qur`an al-‘Azim, Jilid 4, hal. 84)

Akan tetapi menurut Imam al-Mawardi  mengutip pendapat al-Hasan, Qatadah dan bin Zayd bahwa secara umum surat Al-Anfal ayat 61 ini telah dinasakh dengan surat At-Taubah ayat 5 sebagai berikut

فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۚ فَاِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”(QS. At-Taubah ayat 5)

Kemudian masih menurut Imam al-Mawardi, ayat 61 ini dikhususkan bagi Ahlul Kitab yang melaksanakan pembayaran jizyah. Maksudnya, kaum Non-Muslim tersebut menginginkan hidup damai dengan kaum Muslim, sehingga jaminannya dengan membayar pajak atau jizyah terhadap penguasa Muslim.

Selain itu, ayat di atas menjelaskan jika ada sekelompok yang memerangi Islam, lalu musuh menyerah juga meminta damai, maka harus diterima. Apalagi musuh tersebut menyatakan diri masuk Islam, maka tidak boleh diperangi meskipun hanya secara lahiriah saja. (‘Ali ibn Muhammad ibn Habib al-Mawardi, an-Nukat wal ‘Uyun Tafsiril Mawardi, Juz 2, Hal. 331)

Pada redaksi selanjutnya terdapata redaksi Wa Tawakkal ‘Ala Allah (Dan bertawakallah kepada Allah) menurut Imam Ibn Jarir al-Tabari bahwa hal tersebut merupakan perintah kepada Nabi Muhammad Saw.. untuk menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt. Dialah dzat yang Maha agung yang melindungi hamba-Nya dari hal berbahaya.

Penutup ayat terdapat redaksi Innahu Huwa as-Sami’ al-‘Alim (Sungguh Dia maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Redaksi ini memiliki maksud bahwa Allah Swt. Maha Mendengar apa yang diucapkan oleh Hamba-Nya baik secara lahir maupun batin. Begitu juga jika dikaitkan dalam konteks perang. Ketika musuh meminta untuk mengadakan perjanjian damai, bisa saja secara lahir mereka menerima perdamaian, namun secara batin tidak dapat diketahui oleh manusia dan hanya Allah lah yang Maha mengetahui pikiran dan isi hati manusia. Maka disinilah maksud dari redaksi al-‘Alim atau yang Maha Mengetahui khususnya sesuatu yang tersembunyi. (Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami’ul Bayan ‘an Ta`wilil Ayil Qur`an, Jilid 4, Hal. 60-61)

Dengan demikian Allah Swt. mengajarkan kepada kita agar menyerukan perdamaian dalam konteks perang. Hal ini bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia. Perang hanyalah sarana penghancur peradaban dan kehidupan, maka perdamaian merupakan langkah utama dalam membangun kehidupan. Wallahu a’lam.

Kepada Semua yang Ingin Mempelajari Al Quran….

0
Saya tidak ingin berkata bahwa apa yang saya sampaikan ini nasihat dari saya, kita mestinya saling nasihat menasihati, tetapi juga apa yang saya sampaikan ini adalah nasihat dari para pakar, orang tua kita dalam konteks Alquran.
Kepada semua yang ingin mempelajari Alquran…

Pertama, hormatilah Alquran. Menghormatinya karena dia kalamullah, dia firman-firman Allah. Ketika membacanya kita dituntut untuk Nastanthiq al-Qur’an (minta Alquran yang berbicara). Ini berarti bahwa kita memohon agar Allah berbicara kepada kita. Seperti ungkapan ‘Kalau anda ingin berbicara dengan Allah, berdoalah. Siapa yang ingin Allah berbicara kepadanya, bacalah Alquran’. Jadi, hormati dia sebagai kalamullah.

Selanjutnya, hormati dia karena dia adalah Qur’an. Ada perbedaan pendapat ulama tentang asal kata Qur’an, pendapat yang populer mengatakan bahwa kata Qur’an adalah bentuk masdar dari kata قَرَأَ (membaca) yang diakhiri oleh alif dan nun, قُرْأنًا . Akhiran alif dan nun (dibaca –an) itu dalam bahasa Arab antara lain menunjukkan kesempurnaan. Demikian ini berarti Qur’an adalah bacaan yang sempurna. Sedemikian sempurnanya sehingga ia mudah dibaca, mudah dipahami bagi orang yang akan paham, mudah dipahami dan dapat dijangkau oleh semua orang, baik cerdik maupun biasa-biasa saja, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qamar وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ (Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?)

Dia adalah bacaan sempurna, karena itu dia dibaca oleh anak kecil dan orang tua, orang yang mengerti artinya maupun tidak mengerti artinya. Bahkan mereka yang membaca tanpa mengerti artinya itu biasanya lebih baik bacaannya daripada yang mengerti artinya. Bacaan sempurna, karena bisa dihafal dengan begitu mudah, dari belakang ke depan, dari depan ke belakang, dan juga dihitung huruf-hurufnya.

Tidak ada bacaan yang sesempurna itu. Tidak ada satu bacaan yang diatur tata cara membacanya melalui satu ilmu khusus yaitu ilmu tajwid. Tidak ada satu bacaan yang ditafsirkan maknanya, dikemukakan kesan-kesan yang ditimbulkannya seperti al-Qur’an. Ini adalah bacaan sempurna, yang terpelihara, tidak hanya dalam bentuk tulisan, tetapi juga terpelihara dalam berbagai bentuk, termasuk hafalan dari para penghafal. Jadi, agungkan dia karena dia kalamullah dan karena dia Qur’an.

Karena dia kalamullah dan Qur’an, maka anggaplah dia turun kepada anda. Oleh karena itu, kalau ada kalimat pertanyaan maka jawablah, kalau ada kalimat yang mengandung permohonan, maka ikutlah bermohon, kalau memohon pada perlindungan, mohonlan perlindungan, hormatlah kepadanya, ada adab at-tilawah (adab membaca), dan sebagainya.

Kedua, Bersahabatlah dengan Alquran. Ketika membaca, ketika menafsirkan jangan menggerutu. Bersahabatlah, semakin bersahabat anda dengan Alquran, semakin banyak rahasianya yang akan disampaikan kepada anda, baik melalui pemikiran dan upaya anda maupun melalui pengilhaman Allah kepada anda. Seorang yang bersahabat dengan orang lain tidak akan segan menyampaikan rahasia-rahasianya. Dan kalau tidak bersahabat, ia tidak akan menyampaikan rahasianya. Jadi, kalau ingin memperoleh penafsiran yang baik dan benar, bersahabatlah!

Ketiga, Alquran adalah ma’dubatullah (hidangan Allah). Bermacam-macam hidangannya. Jangan bertengkar kalau ada seseorang yang mengambil kopi dan anda mengambil teh, selama itu terhidang. Hormati semua pendapat walaupun anda tidak sependapat dengan dia, selama dia mengambil dari hidangan ilahi.

Memang Alquran hammalatun lil wujuh, bisa melahirkan aneka pendapat yang kesemuanya bisa benar, karena itu jangan saling mempersalahkan walaupun anda berbeda penafsiran dengan orang lain selama penafsiran itu diambil dari teks-teks Alquran.

Oleh karena itu, hormati pendahulu. Boleh jadi anda berpikir bahwa pendapat mereka salah. Itu dari sisi tinjauan anda masa kini, tapi boleh jadi tinjauan masa lalu ketika para ulama itu hidup, pendapat atau penafsiran merekalah yang benar. Di sini ada uraian Abbas Mahmud Al Aqqad “memang seandainya mereka hidp di masa kita, boleh jadi mereka mengubah pendapatnya, karena ada perkembangan ilmu, adanya perbedaan budaya, tetapi kendati kita berbeda dengan mereka, mereka telah berjasa memberi tuntunan kepada masyarakatnya yang mengantar mereka melaksanakan tuntunan-tuntunan agama.” Jadi, hormatilah mereka.

Keempat, jangan menafsirkan Alquran dengan kira-kira, karena anda akan salah. Memang kita tidak bisa menafsirkan Alquran dan mengatakan bahwa penafsiran kita pasti benar. Ada yang pasti benar kalau argumentasi yang digunakan banyak yang mendukung. Seperti itu yang dikatakan Qat’iyy ad-dilalah (petunjuk kandungannya jelas), akan tetapi penafsiran pada umumnya masih dhanniy ad-dilalah (petunjuk tentang kandungannya masih belum jelas). Meskipun demikian, dhanniy di sini berbeda dengan kira-kira. Anda boleh menafsirkan Alquran, tetapi harus punya pijakan yang kuat walaupun belum sampai tingkat keyakinan. Tafsirkan Alquran berdasarkan dhan, bukan berdasarkan syak. Jangan malu berkata saya tidak tahu, karena orang yang lebih pandai dari saya dan anda, orang yang lebih pandai dari Imam Syafii dan Imam malik, lebih pandai dari At Tabari atau Ibnu Katsir tidak malu berkata saya tidak tahu. Sayyidina Umar RA. ketika membaca ayat وَفَاكِهَةً وَأَبًّا ia tidak tahu apa arti أَبًّا, maka ia berkata ‘sudah yang penting ini berbicara tentang anugerah Allah, saya tidak tahu, saya tidak akan menafsirkan.’

Kelima, kalau Alquran adalah ma’dubatullah, aneka makanan sudah tersedia di sana, maka jangan bawa makanan pribadi anda ke tengah hidangan Allah, akan tersinggung sang Tuan rumah. Maksudnya, jangan bawa ide anda untuk dibenarkan oleh Alquran, jangan paksakan ide anda dengan mengatas namakan Alquran, jangan mencari pembenaran dari Alquran terhadap ide-ide anda, tetapi carilah kebenaran itu melalui Alquran walau dengan mengorbankan pendapat anda, karena pendapat anda itu adalah pendapat yang belum didukung oleh firman-firman Allah.

(Pesan dan nasihat ini disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab pada acara launching website tafsiralquran.id) Semoga kita istiqamah menjalankan pesan dan nasihat beliau. Amin

Tafsir Surah al-Isra’ Ayat 36: Larangan Berkomentar Tanpa Ilmu

0
ilustrasi akibat ulah berkomentar tanpa ilmu (medanindonesia.com)

Pada dasarnya setiap manusia dilarang sembarangan berbicara dan berbuat sesuatu tanpa didasari ilmu dan kebenaran informasi. Tidak semua yang terdengar di telinga, terlintas di benak fikiran, dan semua yang sampai kepada kita harus kita terima. karena dalam retorika berbicara, termasuk etikanya adalah tidaklah semua yang diketahui itu harus disampaikan (sekalipun benar), dan setiap perkataan itu mempunyai maqam (tempat) masing-masing. Apalagi sesuatu yang tidak jelas kebenaranya.

Munculnya fenomena di tengah masyarakat, yakni maraknya orang-orang yang gercep men-share berita viral sekaligus memberi komentar di media sosial, yang mana tidak jarang komentar-komentar tersebut adalah komentar yang bukan bersumber dari ahlinya, sebetulnya hal itu hanya akan memperkeruh suasana saja.

Allah swt. telah berfirman di dalam QS. al-Israa’: [36]

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa terkait makna La Taqfu pada ayat di atas, sebagian ulama ahli ta’wil memaknainya: ‘janganlan berbicara sesuatu yang tidak kamu ketahui’. Sebagian lainnya mengartikan, ‘janganlah menuduh seseorang atas sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya.

Dan penduduk Kufah berpendapat bahwa asal kata القفو adalah القيافة،  yang mempunyai makna ‘mengikuti jejak’. Namun dari beberapa pendapat di atas, makna yang paling utama adalah yang pertama, karena makna tersebut yang sering dipakai oleh bangsa Arab. (Tafsir at-Thabari,  jilid 17 hlm. 448 )

Dalam menjelaskan ayat di atas al-Maraghi memberi komentar tentang pentingnya ayat tersebut  untuk dijadikan prinsip hidup:

وذلك دستور شامل لكثير من شؤون الحياة، ومن ثم قال المفسرون فيه أقوالا كثيرة

“Dan demikian adalah pedoman yang mencakup banyak aspek dalam kehidupan, maka dari itu para mufassir banyak memberikan pendapat-pendapatnya pada ayat ini”. (Tafsir al-Maraghi, jilid 15. Hlm. 45)

Apa Bahaya Berkomentar Tanpa Ilmu?

Pada Jumlah (susunan) kedua dari ayat di atas merupakan peringatan bagi siapa pun yang berbicara dan menyikapi sesuatu di luar batas pengetahuannya atau tanpa berdasar ilmu. Hal ini merupakan suatu kedzaliman yang tentu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Yaitu pertanggungjawaban yang amat berat, karena sekecil apapun kejahatan akan dapat diketahui. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. al-Zalzalah [99]: 7-8).

Selain itu, menurut al-Ghazali, perselisihan di tengah masyarakat dipicu oleh banyaknya komentar-komentar orang yang bukan ahlinya. Akibanya dunia menjadi gaduh dan bising.

لأجل الجهال كثر الخلاف بين الناس لو سكت من لا يدري لقل الخلاف بين الخلق

“Karena orang-orang dungulah maka terjadi banyak kontroversi di antara manusia, seandainya orang-orang yang tidah berilmu berhenti bicara, niscaya akan berkurang pertentangan antar sesama.” (al-Ghazali, Faishal at-Tafriqah baina Islam wa Zandaah, hlm. 37)

Padahal sejatinya manusia berada dalam keterbatasan, dan mustahil menguasai semua bidang keilmuan. Seperti orang yang ahli bidang ekonomi belum tentu ahli pandai bidang kedokteran, orang yang ahli bidang politik belum tentu pandai bidang agama. Begitu pula sebaliknya.

Namun akhir-akhir ini sering dijumpai orang-orang yang mendadak ahli di semua permasalahan, karena semangat ekspresi yang tinggi, tapi tidak seimbang dengan keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya. Lebih-lebih di era serba medsos saat ini, semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk men-share dan berkomentar tanpa batatasan. Sehingga, dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kesadaran diri sendiri akan kapasitas masing-masing.

Sebagai pengguna medsos, hendaknya kita berhati-hati ketika men-share dan mengomentari berita. Rasulullah saw. telah memberi label dusta kepada siapa pun yang menyampaikan segala sesuatu yang didengarnya, karena bisa jadi informasi yang disampaikan hoax.

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

“cukcuplah seseorang dikatakan pendusta bila ia menceritakan segala hal yang ia dengar”. (HR. Muslim)

Tafsir Tarbawi: Beruntunglah Bagi Mereka yang Menjadi Pakar di Bidangnya

0
republika

Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt sebagaimana yang dilukiskan dalam firman-Nya (Q.S. al-Mujadalah [58]: 11). Dalam pengertian yang lebih luas, orang yang berilmu adalah mereka yang menjadi pakar di bidangnya.

Fenomena the death of expertise (matinya kepakaran) di era disrupsi teknologi menjadi hal yang tak terbantahkan. Karenanya Al-Qur’an menyoroti hal ini sebagaimana dalam firman-Nya di bawah ini (Q.S. al-Baqarah [2]: 5) dan Rasul saw pun telah mewanti-wanti bahwa suatu perkara jika tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. al-Baqarah [2]: 5)

Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 5

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan kata ulaaika dengan al-muttashifuna bima taqaddama (orang-orang yang memiliki ciri-ciri terdahulu) yakni mereka yang beriman kepada hal yang gaib, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menegakkan shalat dan menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah swt, dan yakin adanya kehidupan akhirat.

Sedangkan redaksi ‘ala hudan dimaknai sebagai nur wa bayan wa bashirah (cahaya, bukti yang nyata dan penglihatan). Maksudnya adakah mereka yang mendapat cahaya kebenaran dan petunjuk dari Allah swt. Dan redaksi wa ulaika humul muflihun, dimaknai dengan mereka lah orang-orang yang beruntung di mana memperoleh apa yang mereka minta dan selamat dari kejahatan.

Lain halnya dengan Ibnu Katsir, al-Qurthuby memiliki penafsiran berbeda. Ia mengkhususkan penafsiran pada redaksi muflihun di situ. Muflihun menurutnya berasal dari kata falah, bermakna syaqqun wa qath’un (membelah dan memotong). Sebab muflih (petani) membelah dan memotong tanah untuk bercocok tanam. Dalam konteks ayat ini, muflihun diartikan sebagai qad qatha’a al-masha’iba hatta naala mathulubuhu (memotong atau membelah kesukaran sehingga mendapatkan apa yang dicarinya).

Dalam Tafsir Jalalain misalnya, sifat muflihun (orang-orang yang beruntung) telah disebutkan pada ayat sebelumnya (Q.S. al-Baqarah ayat 3-4). Sedangkan mereka yang beruntung pada ayat ini adalah mereka yang mendapat surga dan selamat dari api neraka. Al-Baghawy menambahkan, bahwa kata hudan bermakna kebenaran, keterangan, dan hujjah yang nyata. Sedangkan al-muflihun berasal dari kata al-falah yang berarti al-baqa’ (kekal).

Artinya, mereka kekal dalam kenikmatan yang abadi. Adapun makna dasar al-falah adalah al-qath’u dan al-syaqqu, yang berarti putus atau pecah. Dari sini kemudian petani disebut sebagai al-falah karena petani selalu membelah tanah dan memotong semak belukar guna bercocok tanam.

Keberuntungan Bagi Mereka yang Menjadi Pakar di Bidangnya

Ayat di atas menyiratkan satu pesan yang sekaligus dapat dimaknai bahwa beruntung lah mereka yang menjadi pakar atau ahli di bidangnya. Menjadi pakar memang tidaklah mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Ada beberapa tahapan yang harus ia tempuh untuk mendapat predikat sebagai seorang pakar yang mempunyai otoritas berbicara tentang suatu ilmu yang dikuasainya.

Di era disrupsi dan pandemi ini, kepakaran adalah menjadi hal yang urgent. Bagaimana tidak, misalnya dalam urusan wabah covid-19, dokter yang mempunyai otoritas untuk berbicara kesehatan sangat diperlukan dalam hal ini. Begitu pula ulama yang ‘alim sangat dibutuhkan untuk berbicara dan mendakwahkan kepada masyarakat dalam hal keagamaan.

Dalam hal ini saya ingin menyatakan, orang yang menjadi pakar dalam keilmuan tertentu, baik pakar kesehatan, ekonomi, pendidikan, olahraga dan lainnya itulah sesungguhnya yang disebut dalam ayat ini sebagai muflihun, orang-orang yang beruntung mendapat petunjuk dari-Nya, surga-Nya bersiap untuk menyambutnya kelak dan berbagai benefit lain yang ia dapatkan. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 56-60

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 56

Allah menerangkan bahwa orang-orang Yahudi yang mendustakan Nabi Muhammad akan disiksa dengan siksaan yang pedih baik di dunia maupun di akhirat.

Siksaan dunia yang akan menimpa mereka ialah, mereka akan dibunuh dan ditawan serta dikuasai oleh bangsa-bangsa lain. Sedang siksaan akhirat ialah siksaan Allah di hari pembalasan yang sangat pedih. Pada waktu itu mereka tidak akan mendapatkan pertolongan dari siapa pun.

Ayat 57

Allah, menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan orang-orang yang melakukan amal saleh, adalah orang yang membenarkan Nabi Muhammad serta mengakui kenabiannya, mengakui Kitab yang dibawanya (Alquran), mengamalkan segala perintah Allah, serta meninggalkan semua larangan-Nya. Allah akan menyempurnakan pahala mereka, tanpa ada kekurangan sedikit pun.

Selanjutnya dijelaskan bahwa orang yang mempunyai sifat sebaliknya, berarti mereka telah menganiaya diri sendiri, mereka tidak dicintai Allah dan akan mendapat siksaan yang sangat pedih.

Ayat 58

Allah menerangkan bahwa berita yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, tentang Nabi Isa, Maryam, Zakaria dan putranya Yahya, dan kisah-kisah orang-orang kaum Hawariyµn dan orang Yahudi dari keturunan Israil, itulah kisah yang benar dan sebagai koreksi terhadap berbagai kepercayaan yang tersiar di kalangan Ahli Kitab pada waktu itu.

Dalam kisah ini terdapat berbagai macam teladan dan butir-butir hikmah yang sangat berharga, sehingga orang yang beriman dapat mengambil petunjuk daripadanya dan memahami syariat Allah serta prinsip-prinsip tentang kehidupan bermasyarakat.

Dalam kisah tersebut terdapat bukti-bukti yang nyata yang menolak pendapat utusan-utusan Nasrani dari penduduk Najran dan pendapat orang-orang Yahudi yang mendustakan risalah Muhammad, dan kebenaran agama yang dibawanya.

Ayat 59

Ayat ini diturunkan sehubungan dengan kedatangan utusan Nasrani Najran yang berkata kepada Rasulullah saw, “Mengapa engkau mencela Nabi kami?” Rasulullah bersabda, ”Apakah yang telah saya katakan?” Mereka menjawab, “Engkau berkata bahwasanya Isa adalah seorang hamba Allah”. Nabi Muhammad bersabda, “Ya, benar dia adalah seorang hamba Allah, rasul dan kalimat-Nya yang telah disampaikan kepada Maryam, seorang perawan suci.”

Kemudian mereka menjadi marah dan berkata, “Pernahkah engkau melihat manusia dilahirkan tanpa ayah? Maka apabila engkau benar tunjukkanlah kepada kami contohnya.” Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Pada ayat ini dijelaskan bahwa sebenarnya kejadian Isa yang menakjubkan itu adalah seperti penciptaan Adam, yang dijadikan dari tanah, keduanya diciptakan Allah dengan cara yang lain dari penciptaan manusia biasa. Segi persamaan itu ialah Isa diciptakan tanpa ayah, dan Adam diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu.

Keingkaran orang terhadap kejadian Isa tanpa ayah, sedang ia mengakui kejadian Adam tanpa ibu dan bapak, termasuk sesuatu yang bertentangan dengan logika.

Allah menciptakan Adam sebagai manusia dengan memberi roh ke dalam jasadnya, semata-mata karena kehendak-Nya dan bila Allah berfirman: “Jadilah maka jadilah ia.” (Ali Imran/3: 59) pada ayat yang lain Allah berfirman :

 ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ

… Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. … (al-Mu′minun/23: 14).

  

Ayat di atas (59) merupakan satu rangkaian dengan dua ayat berikutnya, turun pada tahun perutusan, tahun ke-10 Hijri.

Ayat 60

Dimaksud dengan “Itulah yang benar yang datang dari Tuhan” ialah bahwa apa yang telah diberitakan Allah kepada Muhammad saw, tentang Nabi Isa dan Maryam itulah yang benar bukan apa yang telah dikatakan oleh orang-orang Nasrani bahwa Al-Masih adalah putra Tuhan; dan bukan pula seperti anggapan orang-orang Yahudi bahwa Nabi Isa itu hasil perzinaan antara Maryam dengan Yusuf an-Najjar (Yusuf tukang kayu atau Yusuf adik Eli). Dengan demikian Muslimin telah mendapat pengetahuan yang meyakinkan mengenai Isa dan Maryam.

Larangan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad agar tidak ragu, padahal tidak mungkin terjadi bahwa Nabi Muhammad akan ragu terhadap ayat Allah. Hal ini mempunyai dua pengertian:

  1. Bahwasanya Nabi Muhammad pada saat mendengar ayat ini bertambah keyakinannya dan ia merasa puas dengan keyakinannya itu.
  2. Kalau Nabi Muhammad yang mempunyai kedudukan yang tinggi dilarang merasa ragu terhadap kebenaran kisah itu, maka umatnya lebih terkena larangan ini.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 51-55

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 51

Pada ayat ini dijelaskan ucapan Nabi Isa kepada kaumnya, bahwa Allah swt adalah Tuhan mereka bersama-sama yang harus disembah, dengan pernyataan keesaan Allah dan pengakuan bahwasanya Allah itu adalah Tuhan alam semesta, karena itu sembahlah Dia.

Inilah di antara perintah Nabi Isa kepada kaumnya, agar mereka mempunyai kepercayaan yang benar yaitu tauhid, selalu menunaikan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya lahir dan batin. Itulah jalan yang lurus dan lapang yang digariskan oleh para rasul, yaitu jalan yang menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat”.

Ayat 52

Pada ayat ini dan ayat berikutnya diterangkan hubungan Nabi Isa, dengan kaumnya, dan apa yang telah dijalaninya dari mereka; baik berupa hambatan-hambatan, tantangan, kekerasan, serta rencana-rencana untuk membunuhnya. Selain itu Allah juga menerangkan pertolongan-pertolongan yang telah diberikan kepada golongan orang yang mengakui keesaan Allah, serta ancaman-ancaman-Nya yang disampaikan kepada orang-orang kafir, dan siksaan yang menimpa mereka di dunia dan di akhirat.

Tatkala Isa a.s. meyakini bahwa kaumnya Bani Israil tetap dalam kekafiran dan menemui penolakan yang keras dari mereka, bahkan bermaksud menyakitinya, bertanyalah dia “Siapakah penolong-penolongku kepada Allah?” Isa benar-benar menemui tantangan yang keras dari orang Yahudi, mereka mengerumuninya dan memperolok-oloknya. Mereka berkata, “Apakah yang telah dimakan oleh si anu tadi malam, apa yang disimpannya di rumahnya untuk besok pagi?” Walaupun Isa a.s. dapat menjawabnya, namun mereka tetap memperolok-oloknya.

Pada cerita ini terdapat pelajaran bagi Nabi Muhammad saw, dan sekaligus menjadi penghibur baginya. Di sini terbukti bahwa walaupun banyak dikemukakan mukjizat-mukjizat para nabi, tidaklah dengan sendirinya membawa kepada iman. Keimanan itu tergantung kepada manusia yang diajak apakah bersedia untuk menerimanya.

Pada saat meningkatnya tantangan dan ancaman itulah Isa mengatakan kepada kaum Hawari, siapa yang bersedia menyerahkan jiwanya kepada Allah dan menolong rasul-Nya. Hawariyµn menjawab, “Kamilah penolong agama Allah”, mereka menyediakan tenaga mereka untuk memperteguh dakwah Rasul Allah dan bersedia memegang teguh ajaran-ajarannya serta meninggalkan ajaran-ajaran yang lalu yang salah. Pertolongan yang diminta Isa a.s. ini tidak menuntut mereka mengikuti peperangan tapi cukup dengan mengamalkan ajaran agama dan dakwahnya.

Hawariyµn adalah segolongan orang di antara Bani Israil yang beriman kepada Almas³¥, dan bersedia membantu, menolongnya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya (As-Saff/61:14). Mereka menyatakan kepada Isa a.s. bahwa mereka beriman kepada Allah dan memohon kesaksian bahwa mereka adalah orang-orang yang berserah diri”. Pernyataan ini merupakan faktor yang membawa kemenangan dalam menghadapi perlawanan musuh-musuhnya. Mereka memohon agar mereka dimasukkan ke dalam golongan orang yang mengakui keesaan Allah.

Ayat 53

Sesudah mereka menjadi saksi atas kerasulan Isa a.s. dan menjadi saksi atas kekuasaan Allah yang memerintahkan agar beriman kepada Kitab yang diturunkan kepadanya, dan taat kepada segala perintah-Nya, maka mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan”.

Pernyataan ini adalah suatu sikap merendahkan diri kepada Allah, dan mengungkapkan ihwal mereka kepada Allah, sesudah menyatakan kepada rasul-Nya untuk lebih menjelaskan pendirian mereka. “Kami telah mengikuti rasul”, dan mematuhi segala perintah yang dibawanya dari Allah.

Menempatkan kata “mengikuti” sesudah kata “beriman” dalam ayat ini menunjukkan bahwa iman orang Hawariyµn ini telah mencapai tingkat yakin, yang memberi arah kepada jiwa mereka dalam melakukan setiap tindakan. Ilmu yang benar ialah ilmu yang menuntut perbuatan yang sesuai dengan ilmu itu, sedang ilmu yang tidak mempengaruhi perbuatan, itulah ilmu yang kabur dan kurang, tidak memberikan keyakinan dan ketenangan.

Banyak orang mengira bahwa dia sudah berilmu tetapi bila dia melakukan sesuatu perbuatan ternyata perbuatannya itu tidak dapat dikuasai dan dikendalikannya, setelah itu barulah ia sadar bahwa ia keliru dalam pengakuannya.

Sesudah kaum Hawariyµn ini menyatakan kepada Allah kesaksian mereka atas kebenaran kitab dan rasul-Nya, maka mereka pun memohon kepada Allah agar memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang mengakui keesaan Allah swt.

Ayat 54

Sesudah Allah menerangkan tentang kaum Hawariyµn, maka dalam ayat ini Allah menerangkan sikap Bani Israil terhadap Isa a.s., mereka membuat tipu daya dan bermaksud membinasakannya dengan jalan melaporkan dan memfitnah Isa kepada raja mereka. Tetapi Allah memperdayakan dan menggagalkan tipu daya mereka itu dan mereka tidak berhasil membunuhnya. Isa a.s., diangkat ke langit oleh Allah dan diganti dengan orang yang serupa dengannya, sehingga orang-orang yakin bahwa yang disalib itu adalah Isa a.s.

Balasan Allah mengatasi tipu muslihat mereka, dan menimpakan kesengsaraan kepada orang-orang kafir itu, tanpa mereka perkirakan. Rencana Allah yang tidak diketahui oleh hamba-hamba-Nya, sebenarnya adalah untuk menegakkan sunnah-Nya dan menyempurnakan hikmah-Nya.

Ayat 55

Allah membalas tipu daya orang kafir dengan mengangkat Isa a.s. kepada-Nya. Dalam hal ini terdapat berita gembira untuk Nabi, tentang datangnya bantuan Allah untuk menyelamatkan dirinya dari tipu daya orang-orang kafir sehingga mereka dalam usahanya melaksanakan tipu daya itu tidak akan berhasil.

Allah akan mengangkat Nabi Isa kepada-Nya dan akan mewafatkannya pada saat ajalnya tiba, sesudah turun dari langit pada waktu yang ditentukan sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ اَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ اِبْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيْضَ الْمَالَ حَتىَّ تَكُوْنَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

(رواه البخاري)

“Demi (Allah), yang jiwaku di tangan-Nya, Isa putra Maryam akan turun di antaramu sebagai hakim yang adil, kemudian ia akan memecah salib, membunuh babi, menghentikan peperangan, dan membagi-bagikan harta, sehingga tak seorang pun yang akan menerimanya (karena tidak membutuhkan lagi) dan merasa bahwa sujudnya (ibadahnya) lebih utama dari dunia dan semua isinya.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah)

“Allah membersihkan Isa a.s. dari orang-orang kafir”, dengan menyelamatkannya dari kejahatan, cercaan serta nistaan dan tuduhan, yang akan mereka lakukan, dan akan menjadikan pengikut-pengikutnya yang beriman itu percaya bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, percaya akan kata-kata Isa bahwa beliau diutus untuk memberi kabar gembira (as-Saff/61:6) tentang kedatangan seorang utusan Allah, yang akan datang sesudahnya, yang bernama Ahmad (Nabi Muhammad) (as-Saff/61:6).

Allah akan mengangkat mereka yang percaya itu kepada derajat yang tinggi, tidak seperti orang-orang Yahudi yang menipu dan mendustakan Nabi Isa, yang direndahkan martabatnya oleh Allah. Ketinggian derajat itu ada kalanya di bidang keimanan yang bersifat rohaniah, dan dalam bidang akhlak dan kesempurnaan sopan santun serta dekatnya mereka pada yang hak dan jauhnya dari yang batil. Adakalanya kelebihan yang bersifat duniawi yaitu mereka akan memegang tampuk pimpinan di dunia.

Kemudian semua manusia akan dikembalikan kepada Allah yaitu pada hari kebangkitan, dan Allah akan memutuskan perkara yang mereka perselisihkan dalam urusan agama termasuk di dalamnya perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara pengikut-pengikut Isa a.s. dan orang-orang yang tidak percaya kepadanya.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 2: Tidak Ada Keraguan Padanya

0
Surat al-Baqarah ayat 2
behance.net

() ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِين

“Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi ‎mereka yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 2)‎

Berpagi-pagi Alquran menegaskan tentang siapa dirinya. Tidak ada ‎keraguan padanya. Tidak ada syak wa sangka di dalam dirinya. Dialah kalam ‎Allah yang haqq. Yang dengannya terbantahkanlah argumen-argumen para ‎penentangnya. Dengannya pula, semakin kuat dan mantaplah keyakinan ‎orang yang mengimaninya.‎

‎“Di dalam kitab yang agung ini,” demikian tegas Al-Sa’di dalam ‎tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, “terkandung ‎apa-apa yang tidak dikandung oleh kitab-kitab sebelumnya, berupa ilmu ‎pengetahuan yang agung (al’-ilm al-‘adhim), serta kebenaran (al-haqq) yang ‎nyata (al-mubin). Tidak ada keraguan di seluruh aspeknya, menepis segala ‎syak wa sangka, menghadirkan keyakinan yang kuat, serta membawa ‎petunjuk yang jelas.”‎

Alquran, kitab suci terakhir yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi ‎Muhammad Saw. melalui perantara malaikat Jibril a.s., sejak awal ‎kehadirannya di tengah masyarakat Arab jahili, diragukan, disangsikan dan ‎dianggap sebagai mantra-mantra sihir yang diucapkan oleh Muhammad Saw.‎

Suatu ketika, para pemuka Quraisy sepakat untuk mengutus Abul ‎Walid, seorang sastrawan Arab yang tiada tanding tiada banding untuk ‎menghadap Nabi Muhammad Saw., dengan tujuan agar beliau meninggalkan ‎dakwah menyeru ajaran Islam, dengan kompensasi diberi kedudukan, harta ‎dan apa saja yang diinginkannya.‎

Setelah menyimak penuturan Abul Walid, Rasulullah Saw. kemudian ‎membacakan surat Fushshilat dari awal hingga akhir. Abul Walid takjub penuh ‎kagum mendengar ayat-ayat yang dibacakana Rasulullah Saw. tersebut. Ia ‎termenung beberapa saat menghayati keindahan gaya bahasa serta susunan ‎kalimat al-Qur’an itu. Kemudian ia pun kembali ke kaumnya tanpa sepatah ‎kata pun ia ucapkan kepada Rasulullah Saw.‎

Setibanya di tengah kaumnya, Abul Walid segera menyampaikan ‎kepada mereka akan keterpesonaannya terhadap ayat-ayat suci Alquran. Dia ‎katakan kepada kaumnya bahwa Alquran bukanlah syair, bukan pula mantra-‎mantra sihir. Ianya bagaikan pohon yang rindang, akarnya menghunjam kuat ‎ke tanah. Gaya bahasanya sangat indah, susunan kalimatnya sangat ‎memukau. Ia bukan kata-kata manusia, dan tidak mungkin ditandingi oleh ‎syair mana pun.‎

Demikianlah, bahkan seorang sastrawan ternama di zaman al-Qur’an ‎turun pun mengakui kehebatan al-Qur’an. Ia sama sekali tidak meragukannya, karena memang tidak ada keraguan padanya.

Adalah Abdul Halim Mahmud, mantan Syeikh Al-Azhar menegaskan, ‎‎“Para orientalis yang dari waktu ke waktu berusaha menunjukkan kelemahan ‎al-Qur’an, tidak mampu mendapat celah sedikit pun untuk meragukan al-‎Qur’an”.‎

Al-Qur’an, sampai kapan pun, hingga kiamat tiba, akan selalu terjaga. ‎Karena itulah janji Allah Swt. Siapa pun yang meragukannya akan tumbang. ‎Siapa pun yang mengingkarinya akan binasa.‎